SILSILAH QAWA’IDUL ARBA’

HSI Abdullah Roy Silsilah Qawa’idul arba’ Halaqah 01 – 25

“BISMILLAH”

————————————————————-

HALAQAH 01 – PENGANTAR DAN PENJELASAN

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

Halaqah yang pertama penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’, karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitāb yang ringkas akan tetapi telah memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin yang dikarang oleh seorang ulamā

√ Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah (kurang lebih 300 tahun yang lalu)

√ Beliau meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyyah.

⇛Beliau adalah :

“Al Imām Adda’wat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At-tamīmiy”

⇛ Kitāb yang akan kita pelajari adalah Al Qawā’idul Arba’ (Kaidah-kaidah yang 4 (empat)/4 Kaidah).

Kitāb ini adalah Kitāb yang ringkas, telah banyak diantara ulamā dan para penuntut ilmu yang telah mengambil pelajaran dan mengambil manfaat dari kitāb yang mulia ini.

Syaikh Muhammad At-tamīmiy adalah :

√ Seorang ulamā Jazirah Arab

√ Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah

√ Beliau telah mulai menuntut ilmu semenjak beliau kecil

√ Beliau mengambil ilmu dari bapak beliau sendiri

√ Dan dari ulamā -ulamā besar dizamannya.

Diantaranya adalah :

⇛ Syaikh Muhammad Hayah As Sindi dan juga yang lain.

√ Beliau telah melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu agama pergi ke daerah-daerah yang ada di hijaz ini, ke kota Madīnah, Mekkah dan mengambil ilmu dari banyak ulamā.

Demikian pula pergi ke Bashrah dan hampir-hampir beliau pergi ke Syām, akan tetapi karena suatu halangan beliau tidak bisa kesana.

Dizaman beliau banyak kerusakan-kerusakan didalam agama, daerah beliau sendiri dan juga daerah-daerah tetangga tersebar yang dinamakan dengan kesyirikan (penyembahan terhadap selain Allāh ‘Azza wa Jalla) diantaranya :

√ Ada diantara mereka yang mengagung-agungkan kuburan para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum

√ Ada diantara mereka yang mengagung-agungkan pohon yang besar, meminta kepadanya, meminta manfaat dari pohon tersebut.

Oleh karena itu beliau rahimahullāh selama hidupnya menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan mengajak orang-orang yang ada disekitar beliau baik orang yang awam, anak kecil, orang yang sudah besar bahkan para petinggi kerajaan tidak lepas dari dakwah beliau.

Diantara usaha beliau adalah mengarang beberapa Kitāb diantaranya adalah kitāb yang akan kita pelajari dan beliau rahimahullāh memiliki banyak karangan yang sangat bermanfaat diantaranya adalah:

√ Kitābut Tauhīd

√ Kasyfusy Syubuhāt

√ Al Ushūluts Tsalātsah

√ Fadhlul Islām

√ Ushūlul Imān

√ Dan kitāb lain yang kaum muslimin sudah mengambil manfaat dari beliau

⇛ Beliau meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyyah

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima amal ibadah beliau, keta’atan beliau dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dari apa yang sudah beliau sampaikan.

Kitāb ini (Al Qawā’idul Arba’) berisi tentang 4 (empat) kaidah supaya seseorang bisa memahami apa itu tauhīd, mungkin ada diantara kita atau banyak diantara kita sudah mendengar dan pernah mendengar apa itu tauhīd dan apa itu As syirik.

Dan didalam kitāb ini beliau berusaha untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang tauhīd dan syirik dengan kalimat-kalimat yang ringkas dan beliau meringkas nya menjadi 4 (empat) kaidah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

“Aku Mencintaimu Karna Allah”

Kamir.zakiyyah@gmail.com

@Produksi2022

HALAQAH 02 – PENJELASAN KALIMAT 

 بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyah Al Qawā’idul Arba’ yang dikarang oleh seorang ulamā Al Imām Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-Tamimiy

Beliau mengatakan بسم اللّه الرحمن الرحيم mengawali kitāb beliau dengan basmallāh mengikuti apa yang Allāh lakukan didalam Al Qurān.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai kitābNya (Al-Qur’ānul Karīm) dengan basmallāh.

Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau mengirim risalah ke sebagian para penguasa yang ada dizaman beliau, beliau memulai risalahnya (suratnya) yang isinya adalah dakwah kepada Islām, Tauhīd , dengan basmallāh.

Diantaranya ketika beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengirim surat kepada Heraclus, beliau memulai suratnya dengan basmallāh (بسم اللّه الرحمن الرحيم )

Dan disini Syaikh Muhammad At-tamimiy memulai risalah beliau (memulai kitāb beliau) dengan basmallāh.

Dan basmallāh, bi disini adalah(ب) isti’ānah yaitu (ب) yang fungsinya adalah memohon pertolongan.

Orang yang mengatakan (بسم اللّه الرحمن الرحيم ) maka maknanya “Aku memohon pertolongan kepada Allāh Ar-rahmān Ar-rahīm”

Orang yang mengucapkan basmallāh maka pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Isim artinya adalah nama, Ismillāh artinya nama Allāh.

Dan sebuah kalimat yang mufrad apabila disandarkan maka ini maknanya adalah umum, sehingga makna Bismillāh adalah seluruh nama Allāh jadi bukan hanya satu nama akan tetapi mencakup seluruh nama Allāh.

⇛ Bismillāh dengan nama Allāh maksudnya adalah dengan nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki al Asmā-ul husnā.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki nama-nama yang Husnā, maka hendaklah kalian berdo’a dengannya”

(QS Al-A’rāf : 180)

⇛ Orang yang mengatakan Bismillāh, berarti telah beristi’ānah (memohon pertolongan dengan seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla)

Allāh adalah lafdzul Jalalah diambil dari kata Al uluhah yang artinya adalah Al ma’luh, Al ma’bud yang disembah dan lafdzul Jalallah adalah nama Allāh yang paling agung, disandarkan nama-nama yang lain kepada nama ini.

Seseorang mengatakan,

√ Ar-rahmān adalah diantara nama Allāh

√ Ar-rahīm adalah diantara nama Allāh

√ Al-Azīz adalah diantara nama Allāh

Nama-nama yang lain kembalinya kepada lafdzul Jalalah yang artinya adalah Al ma’bud, Al ma’luh yang disembah.

Ar-rahmān adalah salah satu diantara nama-nama Allāh yang berasal dari Ar-rahmah yang artinya yang Maha Penyayang.

Ar-rahīm juga demikian berasal Ar-rahmah yang artinya Maha Penyayang.

· Perbedaan Ar-rahmān dan Ar-rahīm

Perbedaan antara Ar-rahmān dan Ar-rahīm disebutkan oleh para ulamā, diantaranya bahwasanya :

⑴ Ar-rahmān adalah Allāh Maha Penyayang dan kasih sayang disini mencakup seluruh makhluk, baik yang mukmin maupun yang kāfir, baik ta’at kepada Allāh maupun yang berbuat maksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semuanya mendapatkan rahmat dari Allāh.

Orang Kāfir meskipun dia adalah orang yang kāfir mendapatkan rejeki dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mendapatkan makanan, minuman, diberikan kesempatan hidup dan ini adalah bagian dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑵ Ar-rahīm maka rahmatnya disini adalah rahmat untuk orang-orang yang beriman, tidak diberikan kepada orang-orang kāfir.

Dan diantara rahmat yang Allāh berikan kepada orang-orang yang beriman adalah :

⑴ Imān itu sendiri

⑵ Hidayah kepada agama Islām

⑶ Dibuka hatinya untuk berimān dan percaya kepada Allāh, Rasūl Nya, Malāikat-malāikat, kitāb-kitāb, taqdir.

Dan ini adalah bagian dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Allāh khususkan untuk orang-orang yang berimān.

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat yang sangat penyayang kepada orang-orang yang berimān”

(QS Al-Ahzāb : 43)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 03 – PENJELASAN KALIMAT 

 أسأل الله

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh, beliau mengatakan :

ٲَسْٲَلُ اللَّهَ الكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Beliau mengatakan :

Aku berdo’a kepada Allāh, Al Karīm yang Maha Pemurah, Rabbal ‘Arsyil adzim, Rabb yang memiliki/menguasai ‘Arsy yang besar, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjagamu di dunia dan juga di ākhirat.

Setelah beliau mengucapkan basmallāh, beliau mendoakan untuk (kita) setiap yang membaca kitāb beliau dengan beberapa do’a diantara nya adalah :

ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjagamu,menolongmu didunia dan juga di ākhirat.

Dan ini adalah adab yang sangat baik, seorang yang mengajari orang lain, mendo’akan muridnya dengan do’a-do’a yang baik.

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalam Al Qurān diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk :

⑴ Mendo’akan orang lain.

⑵ Mendo’akan para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

“Dan hendaklah engkau Muhammad mendo’akan mereka, karena sesungguhnya do’a yang engkau panjatkan, yang engkau tunjukan, yang engkau berikan kepada mereka ini adalah ( سَكَنٌ لَهُمْ ) memberikan ketenangan kepada mereka.”

(QS At-Tawbah :103)

Do’a nya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam do’a yang berupa kebaikan untuk para shahābat beliau, menjadikan ketenangan didalam hati para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.

Oleh karena itu disini beliau rahimahullāh mendo’akan kepada setiap yang mendengar dan mendo’akan kepada setiap yang membaca kitāb beliau ini, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menolong menjaga di dunia maupun di ākhirat.

Dan ini adalah do’a yang agung, seseorang dijaga didunia baik agamanya maupun dunianya, dijaga dari musibah, dijaga dari kecelakaan.

Demikian pula didalam agamanya dijaga dari kesesatan dari kerancuan-kerancuan, dari keraguan-keraguan.

Dan dijaga di ākhirat semenjak seseorang meninggal dunia, dijaga dari adzāb kubur, dijaga dari kegagalan didalam menjawab pertanyaan malāikat, dijaga ketika dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika manusia dalam keadaan takut menghadapi dan melihat kejadian-kejadian besar pada hari kiamat. Dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari ketakutan tersebut.

Dan seterusnya dijaga ketika melewati ashirāt, dijaga dari neraka.

Maka ini adalah do’a yang sangat agung, beliau mengatakan :

ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 04 – PENJELASAN DOA PENGARANG

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh, beliau mengatakan :

ِ وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ

Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau wahai pembaca, wahai pendengar, (mubārakan) menjadi orang berbārakah dimanapun engkau berada, dan ini juga do’a yang sangat agung.

Beliau mendo’akan untuk kita, supaya kita menjadi orang yang berbārakah.

Berbārakah artinya adalah :

√ Banyak kebaikan

√ Bisa memberikan manfaat

√ Memiliki banyak kebaikan

√ Kebaikan tersebut langgeng dan terus menerus bersama kita.

Orang yang berbārakah maka ini adalah orang yang banyak kebaikannya, memberikan kebaikan tersebut kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Ketika dia memiliki ilmu dan dia adalah orang yang berbārakah, bermanfaat ilmu yang dia miliki, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keluasan didalam masalah rejeki, bermanfaat rejeki tersebut untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada disekitarnya.

Apabila dia seorang penguasa (seorang pejabat) bermanfaat kekuasaannya, jabatannya untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada disekitarnya.

Dia memiliki kebaikan yang banyak dan kebaikan tersebut adalah kebaikan yang langgeng.

Beliau mengatakan:

ِ وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ،

Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau berbārakah dimanapun engkau berada.

Baik didalam rumah, ketika keluar rumah, baik ketika bersama keluarga maupun bersama orang lain, baik bersama bawahannya maupun dengan teman-temannya.

Menjadikan seseorang menjadi orang yang berbārakah, tidak ada orang yang duduk dengannya (dekat dengannya) kecuali dia mengambil faedah dari dirinya ِ(وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ)

Kemudian beliau mengatakan :

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ

Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau termasuk orang yang apabila di beri maka dia bersyukur.

وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ

Dan apabila diberikan ujian, menjadi orang yang bersabar.

وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ

Dan apabila dia berdosa maka dia beristighfār.

فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ

Karena sesungguhnya 3 (tiga) perkara ini adalah termasuk tanda-tanda kebahagiaan.

Ini adalah do’a yang lain, yang beliau panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk kita.

Beliau berdo’a supaya kita termasuk orang yang apabila diberi bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Diberikan kenikmatan, diberikan karunia, sekecil apapun kenikmatan tersebut.

Beliau berdo’a kepada Allāh, supaya kita termasuk orang-orang yang bersyukur apabila diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan beliau berdo’a supaya,

√ Apabila kita terkena musibah maka kita termasuk orang yang bersabar.

√ Apabila kita berdosa atau melakukan maksiat kepada Allāh (melakukan dosa) maka kita termasuk orang-orang yang beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beliau menyebutkan 3 (tiga) perkara dan tidak terlepas keadaan kita dari salah satu diantara 3 (tiga) perkara ini.

Seorang manusia di dalam kehidupannya terkadang mendapatkan kenikmatan, maka kewajiban dia saat itu adalah bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seorang yang tidak bersyukur, maka cepat atau lambat Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengambil kenikmatan tersebut.

Tapi orang yang bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menambah kenikmatan diatas kenikmatan.

Allāh berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Apabila engkau bersyukur, mengakui bahwasanya kenikmatan ini dari Allāh bersyukur dengan lisannya, menggunakan kenikmatan ini, didalam perkara yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh menjanjikan akan menambah kenikmatan tersebut.

(QS Ibrāhim : 07)

Ditambah kenikmatan diatas kenikmatan.

وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan apabila engkau kufur kepada Allāh, mendapatkan kenikmatan akan tetapi mengingkari bahwasanya itu dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menganggap bahwasanya kenikmatan itu berasal dari dirinya, dari ilmu yang dia miliki, dari usaha yang dia kerjakan, lupa bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kenikmatan tersebut dan memudahkan dia untuk mendapatkan kenikmatan tersebut.

Wa lain kafartum (وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ) apabila engkau kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka ketahuilah bahwasanya adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah adzab yang sangat pedih.

Ini adalah akibat dari orang yang kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seseorang ketika diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan maka kewajibam dia adalah bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan apabila mendapatkan musibah maka hendaklah dia bersabar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Seseorang tidak lepas didalam kehidupannya terkadang mendapatkan kenikmatan dan terkadang dia mendapatkan musibah, maka kewajiban dia ketika mendapatkan musibah adalah bersabar.

Berimān bahwasanya ini semua adalah takdir dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahkan sudah sejak lama, 50 ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi.

Langit dan bumi telah diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam waktu yang sudah cukup lama dan ditulisnya takdir sebelum diciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun.

Telah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan yang akan diterima oleh seseorang, umurnya, rejekinya termasuk diantaranya adalah musibah.

Dan tidak mungkin apa yang sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla luput dari seseorang.

Oleh karena itu seseorang ketika ditimpa musibah baik didalam dirinya, hartanya, keluarganya maupun yang lain, maka hendaknya ingat dan beriman bahwasanya ini semua sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan harus terjadi.

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allāh, beriman dengan takdir, dan mengetahui bahwasanya ini adalah termasuk takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika terjadi musibah maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah.

Memberikan hidayah kepada hatinya, memberikan ketenangan didalam menghadapi musibah tersebut, bagaimanapun besarnya musibah tersebut.

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah (petunjuk) kepada hatinya”.

(QS At-Taghābun :11)

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH 05 – MAKNA ISTIGHFAR DAN KETAATAN

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh.

Beliau mengatakan :

وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ

Dan apabila dia berdosa maka dia beristighfār.

Beristighfār kepada Allāh memohon ampun kapada Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas dosa yang telah dilakukan.

Makna istighfār mengandung dua perkara :

⑴ Memohon kepada Allāh supaya, ditutupi dosa tersebut.

Karena istighfāra berasal dari kata (غفر) yang artinya adalah menutupi.

Ketika seseorang mengatakan ‘Astaghfirullāh’ berarti dia telah memohon kepada Allāh, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menutupi dosanya.

Ditutupi kemaksiatan yang dia lakukan dari mata manusia sehingga tidak diketahui, sehingga tidak terbongkar kemaksiatan tersebut.

Seseorang yang mengatakan astaghfirullāh maka dia telah memohon kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya dosa nya ditutupi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑵ Memohon supaya dosanya dihapus.

Sehingga dosa yang telah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta supaya catatan tersebut dihapus dari catatan amalnya.

Sehingga kelak dihari kiamat tidak akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan sebab dosanya.

فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ

Karena sesungguhnya 3 (tiga) perkara ini adalah alamat/ciri-ciri dari kebahagiaan.

Orang yang bahagia adalah :

“Orang yang apabila diberi bersyukur dan apabila mendapatkan musibah dia bersabar dan apabila dia berdosa dia beristighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Kemudian beliau mengatakan :

اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِه

“Ketahuilah semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepadamu, kepada keta’atan”

Beliau (Semoga Allāh merahmati beliau) kembali mendo’akan kepada kita :

Supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepada kita, kepada keta’atan’ (yaitu) mengilmui kebenaran dan mengamalkan kebenaran tersebut.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 06 – MAKNA AL HANIFIAH DAN TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan :

أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،

Ketahuilah kata beliau:

Wahai pembaca, wahai pendengar bahwasanya Al Hanīfīyyah agamanya Nabi Ibrāhīm adalah engkau menyembah Allāh semata, mengikhlāskan untuknya agama ini.

Beliau ingin memberikan pengertian kepada kita tentang makna Al Hanīfīyyah (agamanya Nabi Ibrāhīm) kenapa demikian, karena didalam Al-Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang millāhnya Nabi Ibrāhīm dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mewajibkan semua manusia baik orang Yahūdi maupun Nashrāni, kaum muslimin untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām.

Mengikuti agamanya Nabi Ibrāhīm, karena millah maknanya adalah agama.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِين

“Kemudian kami wahyukan kepadamu wahai Muhammad (أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا) supaya engkau mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang hanīf”

(QS An Nahl: 123)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mewahyukan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan diantara wahyunya adalah supaya beliau mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm.

Orang-orang Yahūdi dan Nashrāni mengatakan,

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Orang-orang Yahūdi mendakwahi orang lain supaya ikut masuk didalam agamanya,

كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا

“Hendaklah kalian menjadi orang Yahūdi atau menjadi orang Nashrāni niscaya kalian mendapatkan petunjuk”

(QS Al Baqarah : 135)

Kemudian Allāh mengatakan:

قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Katakanlah wahai Muhammad justru/bahkan kami mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang hanīf”

Menunjukan kepada kita bahwasanya kita diperintahkan untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang dinamakan dengan Al Hanīfīyyah.

Al Hanīfīyyah berasal dari Al Hanīf yang artinya adalah Mustaqīm (lurus).

Artinya agama Al Hanīfīyyah adalah agama yang lurus hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla berpaling dari selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beliau mengatakan:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،

Yang dimaksud dengan millahnya Ibrāhīm, yang kita diperintahkan untuk mengikuti millahnya ini adalah engkau beribadah kepada Allāh ( وَحْدَهُ) hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla ( مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ) mengikhlāskan agama ini hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak ada yang lain.

Jadi kita diperintahkan untuk mengikuti milahnya Nabi Ibrāhīm (artinya) menjadi orang yang hanya mengikhlāskan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menyerahkan setitikpun/sedikitpun dari ibadah-ibadah yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Siapapun dia, baik itu orang yang agung, orang yang rendah, seorang nabi seorang malāikat, seorang wali selain Allāh adalah makhluk dan ibadah adalah hak istimewa hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيعَ النَّاسِ، وَخَلَقَهُم لَهَا

Dan dengan hal ini pula Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia, dengan ibadah ini (yaitu) dengan mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”

(QS Al Baqarah : 21)

Ini adalah perintah pertama didalam Al Qurān yang disebutkan didalam surat Al Baqarah.

Perintah pertama didalam Al Qurān yang Allāh sebutkan adalah perintah untuk bertauhīd, menyembah Allāh semata, menyerahkan ibadah hanya kepada Allāh semata ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ)

Wahai manusia hendaklah kalian menyembah kepada Rabb kalian.

Siapakah Rabb kalian?

Yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian, dialah Rabb yang berhak untuk disembah.

Kemudian beliau mengatakan:

وَخَلَقَهُم لَهَا

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan mereka untuk ibadah ini.

Manusia dan juga jin diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksudnya bukan diciptakan begitu saja tanpa ada maksud, tanpa ada hikmah.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menyebutkan hikmahnya.

كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan tidaklah aku ciptakan jinn dan juga manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.

(QS Adz dzariāt: 56)

Ini adalah hikmah diciptakan jinn dan manusia tidak lain dan bukan kecuali untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

============================================

HALAQAH 07 – TIDAK DINAMAKAN IBADAH KECUALI DENGAN TAUHID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-7 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan :

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ

Beliau mengatakan:

Apabila engkau wahai pembaca, wahai pendengar mengetahui bahwasanya Allāh menciptakan dirimu untuk beribadah kepada Nya ( فَاعْلَمْ) maka ketahuilah kata beliau bahwasanya ibadah tidak dinamakan ibadah kecuali dengan tauhīd.

Seseorang tidak dinamakan beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kecuali apabila dia mentauhīdkan Allāh, mengesakan Allāh didalam ibadah tersebut.

Apabila seseorang mengaku beribadah kepada Allāh tetapi dia tidak mengEsakan Allāh didalam ibadah tersebut (artinya) selain dia beribadah kepada Allāh juga menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh ‘Azza wa Jalla maka ini tidak dinamakan dengan ibadah.

Oleh karena itu beliau mengatakan,

Ibadah dinamakan ibadah apabila kita bertauhīd hanya mengEsakan Allāh didalam beribadah.

Kemudian beliau mengatakan :

كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلَاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ

Sebagaimana shalāt tidak dinamakan shalāt kecuali apabila ada thahārah (bersuci).

Apabila seseorang apabila misalnya melakukan shalāt, ruku, sujud, berdiri, tetapi dia tidak melakukan thahārah, apakah ini dinamakan shalāt?

Secara dzahir orang menyangka bahwasanya dia shalāt tapi karena tidak melakukan thahārah, tidak bersuci, melalukan shalāt tersebut dalam keadaan tidak suci maka ini tidak dinamakan dengan shalāt.

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menerima shalāt salah seorang diantara kalian apabila di berhadats sampai dia berwudhu.”

Berthahārah adalah termasuk syarat syahnya shalāt, orang yang shalāt tanpa berthahārah maka tidak dinamakan melakukan shalāt.

Ini adalah perumpamaan yang beliau bawakan untuk kita supaya kita mudah memahami ucapan beliau.

Demikian pula ibadah apabila seseorang tidak bertauhīd didalam ibadah tersebut maka ini tidak dinamakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagaimana shalāt apabila tidak berthahārah (bersuci) maka tidak dinamakan dengan shalāt.

Kemudian beliau mengatakan:

فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ

“Maka apabila kesyirikan masuk didalam sebuah ibadah, ibadah tersebut akan menjadi rusak.”

كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِةِ

Sebagaimana hadats kecil maupun besar apabila masuk didalam thahārah maka akan merusak thahārah tersebut.

Orang yang dalam keadaan suci apabila ada hadats baik yang kecil maupun yang besar maka kesucian dia menjadi rusak.

Syirik apabila masuk didalam ibadah seseorang, ibadah tersebut akan menjadi rusak akan menjadi gugur.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُون

“Tidaklah orang-orang musyrikin mereka memakmurkan masjid-masjid Allāh dalam keadaan mereka bersaksi bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kāfir, mereka lah orang-orang yang gugur dan terhapus amalan-amalan mereka dan mereka akan kekal didalam neraka.”

(QS At-Tawbah : 17)

Orang-orang musyrikin (Quraysh) yang ada dizaman nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka mengaku bahwasanya mereka memakmurkan masjidil Harām, memakmurkan ka’bah, menghormati orang-orang yang datang kesana, memberikan minum kepada jama’ah haji yang datang kesana, ini adalah pengakuan orang-orang musyrikin.

Allāh mengatakan tidaklah orang-orang musyrikin mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allāh sedangkan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri, bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kufur.

Dan Allāh mengabarkan bahwasanya amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan-amalan yang batal (terhapus)

أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُون

Mereka adalah orang-orang yang batal amalan-amalannya dan mereka kekal didalam neraka.

Kenapa batal ? Padahal mereka melakukan amalan yang besar, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang datang untuk beribadah kesana.

Karena Ibadah haji ini sudah ada semenjak zaman dahulu bahkan sebelum datangnya Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ibadah haji termasuk peninggalan dari nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām yang merupakan nenek moyang dari orang-orang Quraysh itu sendiri, meskipun sudah dirubah caranya oleh orang-orang Quraysh.

Jadi mereka mengaku memakmurkan masjid-masjid Allāh akan tetapi mereka orang-orang yang kufur sehingga Allāh batalkan amalan-amalan mereka.

Menunjukan bahwasanya kesyirikan dan kekufuran bisa membatalkan amalan sebagaimana hadats ini bisa membatalkan thahārah seseorang.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

============================================

HALAQAH 08 – SYIRIK BERCAMPUR IBADAH AKAN MERUSAK IBADAH

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.

Beliau mengatakan :

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةَ أَفْسَدَهَا، وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ، وَصَارَ صَاحِبُهُ، مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ؛ عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ

Kalau engkau sudah tahu bahwasanya syirik apabila bercampur dengan ibadah maka akan merusak ibadah tersebut dan akan membatalkan amalan dan menjadikan pemiliknya termasuk orang-orang yang kekal didalam neraka.

Beliau mengatakan, “maka engkau tahu sekarang bahwasanya perkara yang paling wajib engkau lakukan adalah mengetahui apa itu syirik.”

Kalau kita sudah tahu tentang bahaya syirik dan demikian bahayanya sampai membatalkan amalan.

Orang yang melakukan amalan sebesar apapun apabila dia melakukan kesyirikan (al Syirku Akbar) yang besar maka ini bisa membatalkan amalan dia dari awal sampai akhir.

Seandainya seseorang beribadah semenjak dia baligh (shalātnya, puasanya, bersadaqah, bersilaturahim) kemudian ketika dia berumur 50 tahun melakukan sebuah syirik besar maka amalan yang sudah dia kumpulkan sedikit demi sedikit meskipun sebesar gunung seluas lautan maka akan dihapuskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menjadi debu yang berterbangan tidak dianggap oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagaimana firman Allāh :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Seandainya engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu”

وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi”.

(QS Az Zummar : 65)

Bagaimana selama puluhan tahun dengan capek yang sangat dengan lelah yang sangat kemudian dibatalkan amalan tersebut dengan sebuah syirik besar.

Dan ini adalah sebuah bahaya, bahaya yang besar bagi seorang muslim didalam agamanya.

Kemudian beliau mengatakan :

وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ

Dan orang yang berbuat syirik bahayanya adalah apabila dia meninggal dunia maka dia termasuk orang yang kekal didalam neraka.

Sekejab didalam neraka adalah musibah, bagaimana seseorang kekal didalam neraka dan tidak keluar dari neraka tersebut.

Syirik ini adalah perkara yang sangat bahaya, oleh karena itu beliau mengatakan,

“Sekarang engkau tahu bahwasanya perkara yang paling penting yang hendaklah engkau pelajari adalah tentang mengetahui apa itu kesyirikan”

لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla (kata beliau) melepaskan dirimu dari jaringan ini

وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ

Yaitu kesyirikan kepada Allāh

وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ

Dan untuk mengetahui apa itu kesyirikan maka caranya adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al-Qurān.

Kemudian setelah itu beliau mengucapkan 4 kaidah yang in syā Allāh akan kita pelajari satu persatu.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

HALAQAH 09 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mengatakan :

القَاعِدَةُ الأُولَي

Kaidah yang pertama :

أَنْ تَعلَمَ : أَنَّ الكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمْ رَسُولُ اللّهِ

Beliau mengatakan :

مُقِرُّونَ أَنَّ اللّهَ هُوَ الخَالِقُ الرَّازِقُ، المُحيِي المُمِيتُ، المُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ،

Beliau mengatakan, kaidah yang pertama :

Engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka menyatakan, mereka menyakini, mengakui, bahwasanya Allāh dia lah.

√ Al Khāliq (Maha pencipta)

√ Ar rāziq (Yang Maha memberikan Rejeki)

√ Al Muhyī Al Mumīt (Yang menghidupkan dan mematikan)

√ Al Muddabbiru Lijamī’il umūr ( Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mengatur seluruh perkara ini)

Ini adalah kaidah yang pertama, yang ingin beliau sampaikan kepada kita semua.

Apa itu?

Hendaknya kita mengetahui sebagai seorang muslim bahwasanya orang-orang kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Siapa mereka?

Yaitu orang-orang musyrikin dizaman beliau diantaranya adalah orang-orang Quraysh (kaum beliau sendiri).

Engkau mengetahui bahwasanya mereka yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersama para shahābat perlu diketahui bahwasanya mereka (orang-orang musyrikin tersebut) muqiṝun ( مُقِرُّونَ) mereka menyatakan, mereka mengakui, mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Dialah yang menciptakan. Ini diyakini oleh orang-orang Quraysh (orang-orang musyrikin)

Ar rāziqu dan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla dialah yang memberikan rejeki.

Kemudian beliau mengatakan :

المُحيِي المُمِيت

Mereka meyakini bahwasanya yang menghidupkan dan mematikan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

ُالمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ

Yang mengatur seluruh perkara ini, yang mengatur alam semesta

ُالمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ

Yang mengatur seluruh perkara ini.

Orang-orang Quraysh juga meyakini dan mengakui bahwasanya yang mengatur alam semesta ini tidak ada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan

وَلَمْ يُدخِلْهُم ذَلِكَ فِي الإسلَامِ

Akan tetapi keyakinan dan aqidah orang-orang musyrikin Quraysh yang mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta menghidupkan dan mematikan ternyata ini kata beliau tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.

Keyakinan tersebut tidak memasukan mereka kedalam agama Islām, seandainya keyakinan ini memasukan mereka kedalam agama Islām tentunya tidak akan di perangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Seandainya keyakinan bahwasanya Allāh itu mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan ini memasukan mereka kedalam agama Islām.

Menjadikan mereka Islām seperti yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentunya tidak akan diperangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para shahābat, namun ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para shahābat tetap memerangi mereka menunjukan bahwasanya keyakinan ini tidak memasukan mereka kedalam agama Islām dan ini pengetahuan yang tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita.

Mereka mendengar dari gurunya, mendengar dari orang tuanya bahwasanya orang-orang Quraysh, mereka adalah orang yang menyembah berhala, menyembah ini dan itu seakan-akan mereka tidak mengenal siapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu disini beliau ingin memberikan nasehat, memberikan pengetahuan kepada kita yang mungkin tidak kita ketahui.

Ketahuilah bahwasanya orang-orang musyrikin ternyata mereka juga mengakui bahwasanya Allāh yang menciptakan seperti kita dan bahwasanya Allāh yang memberikan rejeki dan bahwasanya Allāh yang mengatur alam semesta namun yang demikian tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.

Berarti disana harus ada sesuatu yang memasukan mereka kedalam agama Islām ternyata keyakinan ini tidak cukup untuk memasukan mereka kedalam agama Islām, lalu apa yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari mereka nanti, in syā Allāh akan kita sebutkan.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

HALAQAH 10 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 2

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Beliau mengatakan dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

قُل مَن يَرْزُقُكُم مِنَ اُلسَّمَآءِ وَاُلأَرض

“Katakanlah wahai Muhammad, Katakanlah wahai Muhammad, sebagai seorang rasūl, katakan kepada mereka, tanyakan kepada mereka, (kaummu).”

مَن يَرْزُقُكُم مِنَ اُلسَّمَآءِ وَاُلأَرض

Wahai kaumku(orang-orang Quraysh) siapakah yang menciptakan? siapakah yang memberikan rejeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi?

Siapa yang memberikan rejeki kepada kalian, menurunkan hujan? memberikan rejeki kepada kalian dengan perdagangan? dan juga memberikan rejeki kepada kalian dari bumi berupa tanam-tanaman? siapakah yang memberikan rejeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi?

أَمَّنَ يَملِكُ اُلسَّمْعَ وَ اُلْأَبْصَرَ

Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan juga penglihatan? siapakah yang telah memberikan kalian pendengaran dan juga penglihatan sehingga kalian bisa mendengar, sehingga kalian bisa melihat?

وَمَنْ يُخْرُِ اُلحَىَّ مِنَ اُلمَيِّتِ

Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati?

و يُخْرِجُ المَيِّتِ من الحَىِّ

Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, tanyakan kepada kaummu, siapa kah yang menghidupkan mereka dan siapakah yang mematikan mereka?

و من يُدَبِّرُ الأَمْرَ

Dan tanyakan kepada mereka siapakah yang telah mengatur alam semesta? Yang menggerakan matahari,membuat siang? membuat malam?

فَسَيَقُولُوا اللّهُ

Niscaya mereka akan mengatakan Allāh.

Ini adalah jawaban dari orang-orang Quraysh.

Seandainya kaummu wahai Muhammad ditanya tentang beberapa pertanyaan ini, niscaya mereka akan menjawab dengan satu jawaban dan tidak ada diantara mereka yang menjawab dengan jawaban lain, semuanya akan mengatakan Allāh.

√ Allāh yang telah memberikan rejeki kepada kami.

√ Allah yang telah menciptakan kami.

√ Allāh telah menghidupkan kami dan mematikan orang-orang yang sudah mati dan telah mengatur alam semesta.

Ini adalah jawaban orang-orang Quraysh.

Mereka tidak mengatakan yang telah menciptakan kami adalah Latta, salah satu sesembahan mereka atau mengatakan yang menciptakan kami adalah Udza, salah satu sesembahan mereka, atau mengatakan bahwasanya yang memberikan rejeki kepada kami adalah Hubbal, mereka memiliki sesembahan-sesembahan yang banyak tetapi tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya yang menciptakan mereka adalah sesembahan-sesembahan tersebut.

Menunjukan kepada kita kebenaran apa yang dikatakan oleh pengarang disini.

Beliau mengatakan, engkau mengetahui bahwasanya orang-orang Kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka meyakini bahwasanya Allāh yang mencipta memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta.

Apa yang beliau ucapkan memiliki dasar (dalīl) didalam Al Qurān bahkan dalam hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Maka katakanlah wahai Muhammad, apakah kalian tidak bertaqwa? wahai kaumku seandainya kalian mengakui ini semua Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki, mengatur alam semesta ( أَفَلَا تَتَّقُونَ ) kenapa kalian tidak takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

kenapa kalian masih berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menunjukan bahwasanya keyakinan mereka ini tidak menjaga mereka dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena disini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan ( أَفَلَا تَتَّقُونَ ) kenapa kalian tidak menjaga diri kalian dari adzab Allāh? Menunjukan bahwasanya keyakinan mereka bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta, ini tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah kaidah yang pertama yang beliau sampaikan dan ini adalah kaidah yang sangat bermanfaaat.

Dengan kaidah ini, kita bisa memahami banyak perkara, banyak fakta yang bisa kita pahami dari kaidah ini, karena sebagian kita, sekali lagi meyakini bahwasanya orang-orang musyrikin yang ada dizaman nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu, mereka tidak mengenal Allāh sama sekali, seakan-akan mereka meyakini yang menciptakan mereka adalah berhala mereka, patung yang mereka sembah, pohon yang mereka sembah, jin yang mereka sembah.

Ternyata didalam masalah ini, masalah penciptaan,masalah pengatur alam semesta, masalah rejeki, keyakinan mereka sama dengan keyakinan kita yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang melakukan ini semua.

Jadi ini kata beliau, “Tidak memasukan mereka kedalam agama islam”.

Oleh karena itu, ketika kita melihat dizaman kita apabila kita melihat orang musyrik ternyata dia juga mengenal Allāh maka ini bukan sesuatu yang menakjubkan dan bukan sesuatu yang mengherankan kalau ada seorang musyrik ternyata dia juga mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meyakini bahwasanya Allāh yang telah menciptakan mereka dan ini bisa kita buktikan ketika kita melihat orang-orang disekitar kita yang mereka mungkin adalah orang-orang yang tidak menisbatkan dirinya kepada agama Islām, tetapi ternyata dia ketika ditanya siapa yang menciptakan dia, dia akan menjawab yang telah menciptakan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla (atau) terkadang memberikan isyarat mengatakan yang menciptakan saya adalah yang diatas atau dengan kalimat-kalimat yang lain yang intinya dia mengakui yang menciptakan dia adalah Allāh.

Padahal dalam kehidupan dia sehari-hari, dia banyak mengagungkan selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bermuamalah dengan Jin, menyembah kepada Jin meyakini selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi ketika ditanya tentang siapa yang mengatur alam semesta, siapa yang memberikan rejeki ternyata mereka juga mengakui bahwasanya itu adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan ini tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH 11 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-11 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

√ Apa yang memasukan seseorang kedalam agama Islām?

√ Apa yang membedakan antara orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut?

Apabila dalam masalah penciptaan, masalah pengaturan rejeki sama antara kita dengan mereka, lalu apa yang membedakan antara diri kita dengan mereka.

Apa yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari orang-orang musyrikin tersebut.

Yang beliau inginkan bukan hanya mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tetapi yang di inginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dari orang-orang musyrikin tersebut (adalah) supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya.

Allāh dan Rasūl Nya menginginkan dari orang-orang musyrikin tersebut selain mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, mengatur alam semesta dan memberikan rejeki,yang diinginkan dari mereka supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh.

Orang-orang musyrikin tidak mengEsakan Allāh didalam ibadahnya, inilah yang membedakan antara kita dengan mereka, terkadang mereka melakukan ibadah untuk Allāh seperti ketika hajian karena ibadah haji ini sudah ada sejak zaman nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām kemudian dilanjutkan nabi Ismāil dan seterusnya dan orang-orang Quraysh mereka adalah keturunan nabi Ismāil ibnu Ibrāhīm.

Ibadah haji masih mereka pegang sampai dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam oleh karena itu setiap tahun mereka senantiasa melakukan ibadah haji dan ini dilakukan untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita membaca didalam kitāb-kitāb sirah tentang perjanjian ‘Aqabah yang pertama maupun yang kedua, bai’at antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan kaum Anshār.

Kapan terjadi, ketika musim-musim haji, ketika orang-orang Arab (orang-orang Quraysh) dan orang-orang Arab yang ada disekitarnya mereka melakukan ibadah haji menuju ke Mekkah.

Disanalah pertemuan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan orang-orang Anshār, terkadang mereka beribadah kepada Allāh dan terkadang mereka beribadah kepada selain Allāh, sehingga ketika terjadi musibah misalnya :

↝Diantara mereka ada sebagian yang datang kepada Jin, atau

↝Ada diantara mereka ketika ingin berperang dan ingin menang menaruh senjata-senjata mereka digantungkan disebuah pohon tertentu dengan keyakinan bahwa senjata itu akan membawakan barakah.

↝Terkadang mereka menyembah kepada Allāh, beribadah kepada Allāh semata dan

↝Terkadang mereka serahkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allāh.

Inilah yang membedakan antara diri kita orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut.

Kalau meyakini bahwasanya;

√Allāh yang mencipta satu-satunya,

√ Memberikan rejeki satu-satunya,

√ Mengatur alam semesta satu-satunya.

Seharusnya keyakinan ini menjadikan mereka hanya menyembah kepada Allāh.

√ Bagaimana kita menyembah sesuatu yang tidak mencipta?

√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak memberikan rejeki baik, dari langit maupun dari bumi sedikitpun?

√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak mengatur alam semesta?

Bahkan mereka diciptakan, mereka diberikan rejeki, mereka diatur oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kenapa mereka tidak menyembah saja dzat yang telah menciptakan benda-benda tersebut yang telah menciptakan makhluk-makhluk tersebut.

Oleh karena itu Allāh mengatakan,

فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُون

“Lalu katakan kepada mereka, kenapa mereka tidak takut dan taqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS Yūnus : 31)

Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dan ini ditolak dan di ingkari oleh orang-orang Quraysh, ketika mereka di dakwahi ” ‘Lā ilāha illallāh ” tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh.

Mereka semuanya memahami bahwasanya makna kalimat ini berarti saya harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allāh yang selama ini aku sembah dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang-orang kāfir Quraysh (orang-orang musyrikin) mereka semua memahami kalimat ini karena mereka adalah orang-orang Arab dan sangat mengenal makna kalimat ‘Lā ilāha illallāh ada diantara mereka yang menerima dan langsung masuk Islām dan ada diantara mereka yang menolak dan tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh bahkan mereka sombong.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُون * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون

“Sesungguhnya mereka, kata Allāh, apabila dikatakan kepada mereka, diajak untuk mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh( يَسْتَكْبِرُون ) mereka sombong (menolak kebenaran) tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh karena mereka tahu tentang tuntutan dari kalimat ini.

(QS As Shaffat : 35-36 )

Kalau saya mengucapkan kalimat ini berarti saya harus masuk Islām, sesembahan yang begitu banyak aku tinggalkan dan hanya menyembah kepada Allāh yang satu.

Tidak boleh lagi aku berdo’a kepada selain Allāh dan tidak boleh aku beristi’ānah /beristiqhasah kepada selain Allāh.

Oleh karena itu mereka (يَسْتَكْبِرُون) sombong dan tidak mau mengucapkan kalimat ini( وَيَقُولُونَ ) dan mereka mengatakan,

َ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون

“Apakah kami harus meninggalkan ( آلِهَتِنَا ) sesembahan- sesembahan kami hanya karena seorang tukang syair yang gila”.

(QS As Shaffat : 36 )

Selain mereka menolak mereka juga menghina Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tukang syair padahal beliau adalah orang yang tidak mengetahui tentang syair dan mengatakan bahwasanya beliau adalah seorang yang gila.

Semuanya ini adalah menunjukan Kesombongan mereka, selain menolak dakwah beliau mereka juga berusaha untuk merendahkan beliau supaya manusia tidak mengikuti dakwah beliau.

Didalam ayat yang lain mereka mengatakan:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini hanya menjadi tuhan yang satu. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan (kata mereka)”.

(QS Shād : 5)

Ini adalah kesombongan orang-orang Quraysh (orang-orang musyrikin Quraysh) mereka tidak mau mengucapkan kalimat ‘Lā ilāha illallāh karena ini lah yang akan memasukan mereka kedalam agama islam.

Inti dari kaidah yang sudah kita sampaikan ini bahwasanya :

⑴ Orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sama dengan kita mengakui bahwasanya Allāh yang telah menciptakan mereka, memberikan rejeki kepada mereka, mengatur alam semesta ini dan sesungguhnya ini tidak memasukan mereka kedalam agama islam.

⑵ Apa sebenarnya yang memasukan seseorang kedalam agama Islām yaitu apabila seseorang hanya mengesakan Allāh didalam beribadah, hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh adapun seseorang hanya meyakini Allāh yang mencipta, Allāh yang memberi rejeki, Allāh yang mengatur alam semesta, maka ini belum membedakan antara dia dengan orang musyrikin.

⑶ Hendaknya seseorang didalam berdakwah atau mendakwahi manusia kedalam agama Islām tidak mencukupkan diri hanya mengenalkan mereka bahwa Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki dan juga mengatur alam semesta.

Karena ini tidak membedakan antara kita dengan yang lain karena sebagian ketika berdakwah dan mengajak orang kepada Islām hanya mengingatkan tentang perkara-perkara ini padahal disana ada sesuatu yang lebih penting dari itu atau yang setelahnya yang harus disampaikan.

Bukan hanya menyampaikan tentang rubūbiyyah (keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tapi juga harus disampaikan bahwasanya keyakinan ini menuntut kita, mengharuskan kita hanya untuk mengesakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.

Dan in syā Allāh kaidah ini akan diperjelas pada kaidah-kaidah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

HALAQAH 12 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 1

🎙Ustadz dr. Abdullah Roy, MA

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

Damai, Rahmat dan Berkat Tuhan

segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Halaqah yang ke-12 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

set kedua

mereka berkata: Mereka tidak mengundang kami dan kami mendatangi mereka, kecuali untuk meminta kibble.

Kaidah yang ke-2

beliau berkata,

set kedua

Kaidah yang ke-2

Mereka berkata: Mereka tidak mengundang kami dan kami berpaling kepada mereka, kecuali untuk meminta kurban dan syafaat.

Mereka (orang-orang musyrikin/orang-orang musyrik) dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka berkata, diantara ucapan mereka:

Kami tidak menyeru mereka, tidak pula kami menghadap mereka, kecuali untuk meminta kurban dan syafaat.

Kami (kata mereka) kami memuji sesembahan-sesembahan kami seperti Lāta, ‘Uzzā, Manāh, Hūbal dan juga sesembahan-sesembahan yang lain.

Mereka berkata kepada mereka kami berdo’a kepada mereka sesembahan-sesembahan tersebut (Dan Kami menghadapkan mereka) dan kami menghadapkan peribadatan kepada kami (kecuali) panjang kecu

Tujuan adlah untuk mencari :

Al-Qurbah/ kekeluargaan

As-Syafā’ah/ syafaat

Tujuan mereka didalam berdo’a kepada sesembahan-sesembahan mereka adalah untuk dua tujuan ini yaitu :

Al-Qurbah | Mereka ingin dekat dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla

Bagaimana mereka dekat dengan Allāh, bahwasanya orang-orang Musyrikin mereka juga mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Didalam kaidah yang pertama dan bahwasanya mereka yakin :

Allāh yang menciptakan mereka

Allāh yang memberikan rejeki kepada mereka

Allāh yang mengatur alam semesta

Allāh yang menghidupkan dan juga mematikan

Yang menunjukan bahwasanya orang-orang musyrikin mereka juga mengenal Allāh akan tetapi terbatas :

Allāh yang mencipta

Allāh memberikan rejeki dan

Allāh mengatur alam semesta

Dan disini beliau mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin diantara ucapan mereka “Tidaklah kami berdo’a kepada patung-patung tersebut (sesembahan-sesembahan tersebut) kecuali untuk dekat dekat”.

Mereka merasa dirinya adalah :

Orang yang jauh dari Allāh

Terlalu banyak kemaksiatan

Terlalu banyak dosa yang dilakukan

Oleh karena itu banyak mereka mendekat untuk mendekatkan mereka kepada Allāh dengan cara sebagian ibadah kepada sembahan-sesembahan tersebut adalah orang-orang yang shālih agar sembahan-sesembahan tersebut mendekat diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

. As-Syafa’ah | Ingin mendapatkan Syafā’at dari sesembahan-sesembahan tersebut.

Syafa’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ucapan beliau rahimahullāh disini, ini adalah ucapan yang berdasarkan dalīl.

Dan setelah ini beliau akan menyebutkan dalīl nya.

Dan semoga shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya , dan semoga shalawat

, salam, dan rahmat Allah tercurah atas Anda.

============================================

CATATAN :

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

HALAQAH 13 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 2

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-13 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Beliau mengatakan :

فَدَلِيلُ القُربَةِ

Dalīl yang menunjukan bahwasanya orang-orang musyrikin mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah supaya mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Dan sesungguhnya orang-orang yang telah menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan maksudnya (orang-orang kāfir Quraysh/orang-orang musyrikin Quraysh) dan sesungguhnya orang-orang yang menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan.

Mereka mengatakan,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Tidaklah kami menyembah mereka, tidaklah kami menyembah sesembahan-sesembahan tersebut kecuali (لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ ) supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh dengan sebenar-benar pendekatan.

Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh mengabarkan kepada kita tentang sebagian ucapan orang-orang musyrikin Quraysh.

Apa ucapan mereka?

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Tidaklah kami menyembah mereka, Memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut kecuali tujuannya baik.

Apa tujuan mereka?

إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Supaya orang-orang tersebut/makhluk-makhluk tersebut mendekatkan diri kami kepada Allāh.

Ucapan mereka ( إِلَى اللَّهِ) menunjukan bahwasanya mereka mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini jelas menunjukan kepada kita tentang tujuan orang-orang musyrikin tersebut beribadah kepada berhala-berhala tersebut yaitu untuk mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Kemudian Allāh mengatakan :

ٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Sesungguhnya Allāh akan menghukumi mereka, mengadili diantara mereka didalam apa yang mereka perselisihkan pada hari kiamat.

Apakah benar ucapan orang-orang musyrikin tersebut. Apakah ucapan mereka (مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى) ini adalah ucapan yang haq atau hanya sekedar persangkaan dari mereka.

Maka nanti di hari kiamat Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghukumi dan mengadili diantara mereka.

Siapa diantara mereka yang benar, apakah orang-orang musyrikin tersebut ataukah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada setiap orang yang berdusta dan dia sangat kufur.

Ini menunjukan bahwasanya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin tersebut.

Yang pertama adalah kedustaan

Allāh mengatakan (إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ) Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta.

Kemudian Allāh mengatakan ( كَفَّارٌ) yang sangat kufur, kaffār adalah shighah mubalaghah dari kāfir.

Kāfir artinya orang yang kāfir tapi orang kaffār berarti orang yang sangat kāfir.

Menunjukan bahwasanya apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin tersebut ini adalah perbuatan yang sangat kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Selain kedustaan itu adalah sangat kufur disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jadi ayat ini (QS Az-Zumar : 3) adalah dalīl yang jelas bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin didalam menyembah sesembahan-sesembahan mereka diantaranya mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bukan meyakini bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut yang memberikan rejeki kepada mereka atau menciptakan mereka atau mengatur alam semesta, tidak! dan sudah disebutkan dalīl mereka apabila ditanya siapa yang memberikan rejeki kepada mereka? Mereka mengatakan Allāh.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 14 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 3

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-14 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Kemudian beliau mengatakan :

ودَلِيلُ الشَّفَاعَةِ

Dalīl bahwasanya mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah untuk mencari Syafā’at.

Apa dalīl nya?

Dalīlnya firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Yūnus :18

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ,مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka (orang-orang Quraysh) menyembah kepada selain Allāh,( مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ) sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat. Dan mereka menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka, dan juga tidak memberikan manfaat.

Seharusnya seseorang apabila ingin menyembah, menyembah sesuatu yang memberikan manfaat dan memberikan mudharat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ditangannyalah manfaat dan juga mudharat namun orang-orang musyrikin menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang sama sekali tidak memberikan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudharat.

Dan mereka mengatakan:

هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Ketika mereka ditanya kenapa mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka mengatakan (هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا)

Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafā’at kepada kami disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah tujuan kedua mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, supaya sesembahan-sesembahan tersebut memberikan syafā’at kepada mereka disisi Allāh.

Menunjukan sekali lagi bahwasanya mereka mengenal Allāh dan bahwasanya tujuan mereka adalah tujuan yang baik, akan tetapi apakah cara yang dilakukan oleh mereka adalah cara yang di ridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dengarkanlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelahnya

قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ

Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka

 ( أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ) apakah kalian, wahai orang-orang musyrikin. mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui dilangit maupun dibumi.

Artinya apa yang dia katakan oleh orang-orang musyrikin adalah sesuatu yang tidak berdasar, seakan-akan mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang tidak Allāh ketahui dilangit maupun dibumi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak pernah mengabarkan yang demikian, dari mana mereka tahu bahwasanya orang-orang shālih yang sudah meninggal tersebut yang mereka sembah memberikan syafā’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka.

Apakah mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui dilangit maupun dibumi.

Kemudian Allāh mengatakan:

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.

Disini Allāh mengatakan ( عَمَّا يُشْرِكُونَ) dari apa yang mereka sekutukan, menunjukan bahwasanya apa yang mereka perbuat, apa yang mereka lakukan adalah termasuk jenis kesyirikan.

Oleh karena itu Allāh mengatakan:

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan, perbuatan mereka menyembah kepada selain Allāh menyerahkan ibadah kepada selain Allāh dengan tujuan supaya selain Allāh tersebut memberikan syafā’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka maka ini adalah termasuk bagian dari kesyirikan.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 15 – QA’IDAH YANG KEDUA

BAGIAN 4

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-15 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Muallif (pengarang) ingin menunjukan kepada kita tentang ucapan beliau di awal bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin menyembah berhala-berhala mereka adalah untuk meminta kedekatan kepada Allāh dan juga meminta syafā’at.

Dan ini bukan berarti bahwasanya muallif (pengarang) meningkari apa yang dinamakan dengan syafā’at.

Syafā’at dihari kiamat adalah haq dan kewajiban bagi seorang mukmin maupun mukminah yang laki-laki maupun wanita untuk berimān dengan adanya syafā’at.

Berdasarkan dalīl-dalīl didalam Al Qurān maupun didalam As Sunnah wajib bagi seorang muslim untuk berimān dengan adanya syafā’at dihari kiamat.

Syafā’at dihari kiamat bermacam-macam,ada diantara syafā’at tersebut yang merupakan kekhususan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Diantaranya adalah Syafā’atul ‘Udzma, syafā’at yang paling besar yang terjadi di padang mashyar dan diantara syafā’at yang khusus bagi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah syafā’at untuk masuk kedalam surga.

Dibukanya pintu surga,demikian pula syafā’at beliau kepada paman beliau abū Thālib dan disana ada syafā’at yang umum dimiliki oleh beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) demikian pula dilakukan oleh yang lain seperti malāikat, para nabi, orang-orang yang berimān, seperti syafā’at bagi orang-orang yang berdosa diantara orang-orang yang berimān yang mereka diadzāb oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam neraka.

Dan disana ada syafā’at mengangkat derajat didalam surga dan ini semua berdasarkan dalīl-dalīl yang shahīh bukan berarti apa yang beliau ucapkan disini bahwasanya beliau mengingkari syafā’at-syafā’at tersebut. Tidak !

Beliau menjelaskan setelahnya bahwasanya syafā’at yang ada didalam Al-Qurān maupun hadīts ini ada 2 (dua) macam.

Beliau mengatakan :

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ

Syafā’at itu ada dua :

⑴ Syafā’atun Manfīyyah (شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّة)

⑵ Syafā’atun Musybatah( وَشَفَاعَةٌ مُشْبَتَةٌ)

· Syafā’atun Manfīyyah

Syafā’atun Manfīyyah adalah syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

· Syafā’atun Musybatah

Syafā’atun Musybatah dalah syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Disana ada syafā’at yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla berdasarkan dalīl-dalīl didalam Al-Qurān dan disana ada syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Kemudian beliau mengatakan :

فَا الشَّفَاعَةُ المَنْفِيَّةُ : مَا كَانَتْ تُطْلَبُ من غَيْرِ اللّهِ فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيهِ إِلَّا اللّهُ

Apa yang dimaksud dengan syafā’at yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Yang dimaksud dengan syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah syafā’at yang diminta dari selain Allāh, didalam perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allāh.

Apabila syafā’at ini diminta dari selain Allāh maka inilah yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dihari kiamat.

Tidak akan bermanfaat yang seperti ini (contohnya) yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh karena mereka meminta syafā’at bukan dari Allāh tetapi meminta syafā’at dari sesembahan-sesembahan selain Allāh.

Oleh karena nya itu tadi mereka mengatakan

هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Mereka mengharap kepada sesembahan-sesembahan tersebut, takut kepada sesembahan-sesembahan tersebut, berdo’a kepada sesembahan-sesembahan tersebut, tujuannya supaya mereka memberikan syafā’at bagi mereka disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat.

Apabila syafā’at diminta dari selain Allāh maka inilah yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 16 – QA’IDAH YANG KEDUA

BAGIAN 5

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-16 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Kemudian beliau mengatakan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

(QS Al-Baqarah : 254)

Beliau mengatakan dan dalīl nya firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dalīl apa?

Dalīl bahwasanya dihari kiamat, ada syafā’at yang tidak bermanfaat dan ada Syafā’at yang diingkari

Allāh berfirman yang artinya :

Wahai orang-orang yang beriman, (yang mengaku berimān kepada Allāh kepada Rasūl Nya, kepada hari akhir, kepada Malāikat, kepada takdir).

Wahai orang-orang yang berimān, infāqkanlah dari apa yang telah kami rejekikan kepada kalian, infāqkanlah (bershadaqahlah) dari sebagian apa yang telah kami rejekikan kepada kalian.

Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla bagi orang-orang yang beriman untuk berinfāq, bukan dengan seluruh hartanya tapi dari sebagian apa yang Allāh berikan kepada mereka.

مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ

Sebelum datang suatu hari (kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dimana hari tersebut tidak ada perdagangan disana, tidak ada jual beli disana demikian pula tidak ada kekasih dan juga tidak ada Syafā’at.

Kita diperintahkan untuk berinfāq, bershadaqah dari apa yang Allāh diberikan kepada kita sebelum datang suatu hari dimana disana tidak ada jual beli, tidak ada menjual barang, tidak ada membeli barang dan juga tidak ada kekasih, tidak bermanfaat adanya kasih sayang disana, seorang bapak mengurusi dirinya sendiri, seorang anak mengurusi dirinya sendiri, seorang teman tidak menanyakan teman yang lain, masing-masing memperhatikan dirinya, dan juga tidak ada syafā’at kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh mengatakan, “Tidak ada syafā’at dihari kiamat”, disini Allāh mengingkari adanya syafā’at dihari kiamat.

Apa yang Allāh ingkari ? Syafā’at yang diminta dari selain Allāh.

Tadi kita sebutkan bahwasanya Syafā’at dihari kiamat ada, tapi disini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan “Tidak ada syafā’at ” yang dimaksud “Tidak ada syafā’at yang diminta dari selain Allāh”.

⇒ Contohnya seperti yang dilakukan orang-orang Musyrikin.

Ini yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan orang-orang yang kāfir, mereka lah orang-orang yang zhālim .

Ini adalah termasuk ayat yang menunjukan tentang bahwasanya dihari kiamat ada syafā’at yang di ingkari dan tidak bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

CATATAN :

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

HALAQAH 17 – QA’IDAH YANG KEDUA

BAGIAN 6

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-17 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Dan ayat yang lain contohnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al-Muddatsir : 48 :

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak akan bermanfaat pada hari itu syafā’at orang-orang yang memberikan syafā’at.”

Siapa mereka?

Mereka adalah orang-orang yang didunianya meminta syafā’at kepada selain Allāh.

Maka syafā’at dihari kiamat saat itu bagi mereka adalah syafā’at yang diingkari.

Tidak ada syafā’at bagi mereka, dan didalam ayat yang lain Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerangkan tentang bagaimana keadaan orang-orang yang dahulu didunia mencari syafā’at dari selain dari Allāh dan bagaimana akhir nasib mereka dihari kiamat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al-An’ām : 94

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

“Dan sungguh kalian sekarang telah datang kepada Kami dalam keadaan sendiri-sendiri (pada hari kiamat)

Sebagaimana kami telah ciptakan kalian pada saat pertama kali (yaitu ketika pertama mereka lahir) datang dalam keadaan sendiri.

Dan kalian telah meninggalkan dunia yang dahulu kami berikan kepada kalian dibelakang kalian, kalian tinggalkan harta kalian kemudian kalian datang pada hari ini dalam keadaan sendiri-sendiri.

Dan kami tidak melihat bersama kalian orang-orang atau makhluk-makhluk yang akan memberikan syafā’at bagi kalian.

Syufa’ā- syufa’ā yang kalian menyangka bahwasanya mereka adalah syurakā (sekutu-sekutu) bagi kalian.

Allāh mengatakan, kami tidak melihat mereka bersama kalian mana makhluk-makhluk sesembahan-sesembahan yang dahulu kalian anggap mereka adalah orang-orang yang akan memberikan syafā’at bagi kalian di sisi kami (yaitu) disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan sungguh telah terputus diantara kalian, sekarang tidak ada hubungan antara kalian dengan mereka kalian adalah makhluk, mereka adalah makhluk dan masing-masing dari kalian akan mempertanggung jawabkannya amalannya disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Terputus antara diri kalian dengan orang-orang tersebut.

Dan telah tersesat, telah hilang dari kalian apa yang dahulunya kalian sangka.”.

Ini adalah nasib dihari kiamat bagi orang-orang yang didunianya mencari syafā’at bukan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dari selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan inilah yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jadi beliau (rahimahullāh) menerangkan tentang kaidah ini bukan berarti beliau mengingkari syafā’at secara keseluruhan dihari kiamat.

Tapi beliau ingin menerangkan bahwasanya disana ada syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan disana ada syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah ilmu yang sangat penting yang hendaknya diketahui oleh seorang muslim, karena apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin ternyata itu bukan hilang begitu saja dan masih dipraktekan oleh sebagian manusia setelah mereka.

Sebagian meminta syafā’at kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta kedekatan kepada Allāh dengan cara menyembah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Meskipun namanya berbeda dengan yang disembah oleh orang-orang musyrikin. Mereka meminta syafā’at kepada orang yang shālih yang sudah meninggal dunia, berharap kepada mereka, berdo’a kepada mereka dan ketika ditanya, mengatakan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang memberikan syafā’at kepada kami disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan ini adalah sesuatu yang perlu diluruskan dan apa yang dilakukan ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH 18 –` QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 7

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-18 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Perlu diketahui bahwasanya Lāta, salah satu sesembahan orang-orang Quraysh, ini dahulunya adalah orang yang shālih.

Dan diantara amalannya dahulu sering apabila datang musim haji memberi makan kepada para jama’ah haji, setelah dia meninggal dunia (karena dia adalah orang yang shālih) oleh orang-orang Quraysh disembah dan diminta syafā’atnya di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Demikian pula apa yang diceritakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā di dalam surat Nūh 23 dan 24, bagaimana kesyirikan pertama kali terjadi di permukaan bumi.

Siapa yang disembah oleh orang-orang (kaumnya) Nabi Nūh ‘alayhissalām?

Yang disembah, tidak lain kecuali orang-orang yang shālih.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّاوَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا…

Mereka (kaumnya nabi Nūh) berkata: “Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian…”

Ketika nabi Nūh ‘alayhissalām mengajak mereka untuk bertauhīd menyembah kepada Allāh semata, mereka mengatakan:

“Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, bersabarlah, jangan mengikuti dakwahnya Nabi Nūh”.

(QS Nūh : 23-24)

(Mereka) saling berwasiat untuk berpegang teguh dengan kebathilan.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّاوَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا…

Mereka menyebutkan 5 nama:

⑴ Wadd

⑵ Suwā’

⑶ Yaghūts

⑷ Ya’ūq

⑸ Nasr

Ini adalah 5 nama orang-orang yang shālih yang ada di zaman Nabi Nūh ‘alayhissalām, sebagaimana dikabarkan oleh ‘Abdullāh bin ‘Abbās (anak dari paman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau adalah mufassirnya para shahābat radhiyallāhu ‘anhum).

Beliau (‘Abdullāh bin ‘Abbās) mengatakan ketika menafsirkan ayat ini:

هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح

“Ini adalah nama-nama dari orang-orang yang shālih yang ada di zaman nabi Nūh ‘alayhissalām.”

فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي يجلسون فيها أنصابا وسموها بأسمائهم

“Ketika mereka (orang-orang shālih) tersebut meninggal dunia, datanglah syaithān kepada kaum nabi Nūh ‘alayhissalām, dan mewahyukan kepada mereka supaya mereka membuat gambar-gambar (patung-patung) yang merupakan simbol bagi mereka dan dipasang patung-patung tersebut di majelis-majelis kalian kemudian kalian namai patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka;

√ Ini adalah patung Suwā’

√ Ini adalah patung Wadd

√ Ini adalah patung Yaghūts

√ Ini adalah patung Ya’ūq

√ Ini adalah patung Nasr

Tujuannya adalah supaya ketika suatu saat mereka lemah/malas di dalam beribadah kemudian mereka melihat patung-patung tersebut dan ingat tentang giatnya orang-orang shālih tersebut di dalam beribadah, maka ini diharapkan bisa menambah semangat mereka untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Ini adalah termasuk langkah syaithān menyesatkan manusia.

Kemudian beliau (‘Abdullah Ibnu ‘Abbās) mengatakan:

فلم تعبد فلما هلك أولئك ونسي العلم عبدت

“Tetapi saat itu belum disembah, ketika generasi itu meninggal dunia kemudian ilmu dilupakan, maka setelah itu baru sesembahan-sesembahan tersebut disembah.”

Ketika generasi tersebut meninggal dunia semuanya datang syaithān dan mengatakan bahwasanya “Bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini adalah untuk disembah (dimintai syafā’at).”

Baru setelah itu عُبِدَتْ (disembahlah) patung-patung tersebut.

Ini dilakukan oleh kaumnya nabi Nūh ‘alayhissalām dan dilakukan oleh orang-orang Quraysh sebagaimana yang disampaikan oleh para ulamā; orang-orang musyrikin membuat patung-patung tersebut baik dari kayu maupun dari batu, bukanlah tujuannya untuk menyembah batu atau kayu tersebut tapi kayu dan batu tersebut adalah simbol dari apa yang mereka sembah.

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nashrāni yang mereka membuat salib dan menyembahnya. Ini adalah simbol dari Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, yang menurut keyakinan mereka adalah mati dalam keadaan disalib.

Mereka sebenarnya adalah menyembah nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, adapun salib yang mereka sembah itu adalah hanyalah sekedar simbol.

Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh, patung yang mereka buat itu adalah sekedar simbol dari sesuatu yang mereka sembah.

Mereka juga menyembah orang-orang shālih sebagaimana kaum nabi Nūh ‘alayhissalām mereka juga menyembah orang-orang shālih yang sudah meninggal dunia.

Oleh karena itu hal ini perlu diwaspadai karena apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraysh bukan berarti sudah mati dan tidak ada, tetapi masih dilakukan oleh sebagian manusia.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

HALAQAH 19 – QA’IDAH YANG KEDUA

BAGIAN 8

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Kemudian beliau mengatakan:

وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللهِ

Adapun syafā’at yang ada yang ditetapkan, yang akan bermanfaat di hari kiamat adalah syafā’at yang diminta dari Allāh.

Seseorang di dunia mengatakan:

“Yā Allāh, aku meminta syafā’at para malāikat di hari kiamat.”

Atau mengatakan:

“Yā Allāh, aku meminta syafā’at Nabi Muhammad di hari kiamat.”

Berarti dia telah meminta syafā’at dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Berbeda dengan sebagian, yang dia datang, misalnya ke sebuah kuburan seorang wali atau Nabi,

kemudian dia mengatakan:

“Wahai Nabi, aku meminta syafā’atmu di hari kiamat.”

Atau mengatakan:

“Berilah aku syafā’atmu pada hari kiamat.”

Lain antara yang pertama tadi dengan yang kedua.

• Yang pertama | memohon kepada Allāh. “Ya Allāh, aku meminta syafā’at NabiMu pada hari kiamat”.

• Adapun yang kedua | dia mengatakan “Wahai Nabi, aku meminta syafā’atmu pada hari kiamat”.

✓Yang pertama meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan ini cara yang benar dan ini syafā’at yang bermanfaat pada hari kiamat.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengatakan:

قُلْ لِّلَّـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah wahai Muhammad, bahwasanya syafā’at semuanya hanya milik Allāh.”

(QS Az-Zumār: 44)

Apabila syafā’at semuanya adalah milik Allāh maka seseorang tidak meminta syafā’at tersebut kecuali kepada yang memiliki yaitu Allāh, adapun selain Allāh, maka tidak memiliki.

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

“Apakah mereka menjadikan selain Allāh sebagai pemberi syafā’at-pemberi syafā’at? Katakanlah: ‘Apakah kalian tetap meminta syafā’at kepada mereka padahal mereka tidak memiliki sesuatu dan mereka tidak berakal’.”

(QS Az-Zumār : 43)

Kita meminta syafā’at dari dzat yang memiliki.

قُلْ لِّلَّـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah bahwasanya syafā’at semuanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

Maka inilah syafā’at yang akan bermanfaat di hari kiamat (yaitu) orang yang di dunia meminta syafā’atnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Kemudian beliau mengatakan:

وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ

“Orang yang memberikan syafā’at di hari kiamat berarti dia telah diutamakan/dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dengan syafā’at tersebut.”

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā pada hari kiamat mampu untuk mengeluarkan seseorang yang berdosa dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga tanpa adanya orang atau Malāikat atau Nabi atau orang shālih yang memberikan syafā’at.

Namun kenapa Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjadikan adanya syafā’at di hari kiamat?

Di sini beliau mengatakan:

وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ

Karena tujuannya adalah untuk memuliakan orang yang memberikan syafā’at tersebut, ingin menunjukkan kemuliaan dia di sisi Allāh di hadapan makhluk-Nya.

Bagaimana keutamaan para Nabi, kemuliaan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemuliaan orang-orang yang berimān, Allāh ingin menunjukkan keutamaan dan kemuliaan mereka di sisi makhluk-Nya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

HALAQAH 20 – QA’IDAH YANG KEDUA

BAGIAN 9

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-20 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Kemudian beliau mengatakan:

وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ

Siapakah yang berhak untuk mendapatkan syafā’at di hari kiamat?

Mereka adalah, (kata beliau):

مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ

Orang yang Allāh ridhāi amalannya dan juga ucapannya.

Inilah orang yang akan mendapatkan syafā’at di hari kiamat.

Adapun orang yang tidak Allāh ridhāi ucapan dan amalannya maka Allāh tidak akan mengizinkan siapapun untuk memberikan syafā’at kepada dirinya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla meridhāi dari diri kita tauhīd dan Allāh tidak ridhā kesyirikan, (artinya) orang yang akan mendapatkan syafā’at di hari kiamat adalah orang yang bertauhīd, yang mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam ibadahnya, tidak menyerahkan ibadah sedikitpun kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah orang yang akan mendapatkan ridhā Allāh dan merekalah yang berhak untuk mendapatkan syafā’at.

Suatu hari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya oleh Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang siapa yang paling berbahagia mendapatkan syafā’at dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di hari kiamat.

Abū Hurairah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟

“Yā Rasūlullāh, siapa orang yang paling berbahagia mendapatkan syafā’atmu di hari kiamat?”

Maka beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَبْلِهِ

“Barangsiapa yang mengatakan, ‘Lā ilāha illallāh’ ikhlash dari hatinya.”

Orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illallāh berarti dia telah berikrar tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh dan di amalkan di dalam kehidupan dia.

خَالِصًا مِنْ قَبْلِهِ

Ikhlās dari hatinya, bukan karena dipaksa, bukan karena sebagai seorang munāfiq yang hanya mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ di lisannya, bukan dengan hatinya, (tetapi) dia yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ ikhlash dari hatinya dan diamalkan di dalam kehidupan dia sehari-hari.

√ Tidak berdo’a kecuali kepada Allāh,

√ Tidak menyembelih kecuali hanya untuk Allāh,

√ Tidak bernadzar kecuali untuk Allāh,

√ Tidak beristighātsah, isti’ānah, isti’ādzah kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

√ Dan seluruh ibadah, satupun ibadah tidak ada yang diserahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah orang yang akan berbahagia dengan syafā’atnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam hadīts yang lain, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لكل نبي دعوة مستجابة فتعجل كل نبي دعوته ، وإني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي إلى يوم القامة

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki dakwah yang mustajab (do’a yang mustajab dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dan masing-masing Nabi telah menyegerakan do’anya (yaitu di dunia). Dan sesungguhnya aku telah menyembunyikan (mengakhirkan) do’aku pada hari kiamat sebagai syafā’at dariku untuk umatku.”

Jadi do’a mustajab yang beliau miliki yang Allāh karuniakan kepada beliau, beliau simpan dan ditunda sampai hari kiamat dengan maksud sebagai syafā’at bagi umatnya pada hari kiamat.

Kemudian beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

فهي نائلة إن شاء الله من مات من أمتي لا يشرك بالله شيئا

“Syafā’atku ini akan di terima/didapatkan in syā Allāh oleh setiap yang meninggal di antara umatku, yang dia meninggal tanpa menyekutukan Allāh sedikitpun.”

Menunjukkan bahwasanya orang yang berhak untuk mendapatkan syafā’at Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, syafā’at malāikat dan juga syafā’at yang lain pada hari kiamat adalah orang yang tidak menyekutukan Allāh.

Inilah orang yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Kemudian beliau mengatakan: بَعۡدَ الۡإِذۡنِ

 “Setelah diizinkan (oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla).”

Para Nabi, para malāikat, para syuhadā dan orang-orang yang beriman pada hari kiamat mereka tidak akan bisa memberikan syafā’at kepada oranglain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Kalau Allāh mengizinkan maka mereka memberikan syafā’at, tapi kalau Allāh tidak mengizinkan maka mereka tidak bisa memberikan syafā’at (dan) tidak mungkin mereka bisa memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan dan dibolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

“Dan tidak ada yang memberikan syafā’at di sisiNya (Allāh) kecuali dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla .”

(QS Al-Baqarah : 255)

Menunjukkan bahwa syafā’at di hari kiamat berbeda dengan syafā’at di dunia.

Di hari kiamat seorang Nabi tidak mungkin memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Berapa banyak malāikat di langit yang tidak akan bermanfaat syafā’at mereka di sisi Allāh kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS An-Najm : 26)

Menunjukkan bahwasanya malāikatpun tidak bisa memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, sekali lagi, seorang Muslim apabila ingin mendapatkan syafā’at di hari kiamat maka:

✓Hendaklah dia meminta kepada Allāh, dzat yang akan mengizinkan syafā’at tersebut dan dialah yang memiliki syafā’at tersebut.

Dan hendaklah dia menghindari cara mendapatkan syafā’at yang tidak dibenarkan dan ini adalah cara orang-orang musyrikin yang ada di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, demikian pula cara yang dilakukan orang-orang musyrikin di zaman nabi Nūh ‘alayhissalām, yaitu mereka mencari syafā’at dengan cara meminta kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH 21 – QA’IDAH YANG KETIGA

BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-21 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Beliau berkata :

القا عدة الثالثة

Kaidah yang ketiga :

أنّ النبي – صلى اللّه عليه و سلم -ظَهَرَ عَلَى أُنًّاسٍ مُتَفَرِّقِين فِي عِبَادَاتِهم

Kaidah yang ketiga kata beliau, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam muncul dan diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda didalam ibadahnya.

Artinya bukan satu, bukan satu sesembahan.

Beliau mengatakan:

مِنهُم مَن يَعْبُدُ الشَّمسَ والقَمَر

Diantara orang-orang musyrikin ada yang menyembah matahari dan juga bulan.

Ada sebagian manusia dizaman beliau yang menyembah matahari dan juga bulan

ومنهم من يعبُد الملاءكة،

Dan diantara mereka ada yang menyembah malāikat.

ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين،

Dan ada diantara mereka yang menyembah para nabi dan juga orang-orang shālih.

ومنهم من يعبدالأحجار والأشجار،

Dan ada diantara mereka yang menyembah pohon-pohonan demikian pula batu-batuan.

Ini semua nya termasuk orang-orang musyrikin.

Menyembah kepada selain Allāh namun apa yang disembah selain Allāh tersebut adalah sesuatu yang berbeda-beda.

Ada diantara mereka yang menyembah matahari, bulan, nabi, orang shālih, pohon, batu.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang berbeda didalam ibadahnya.

Kemudian beliau mengatakan :

وقاتلهم رسول الله – صلى اللّه عليه و سلم

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerangi mereka.

ولم يفرِّق بينهم،

Dan beliau tidak membedakan diantara mereka.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang musyrikin tersebut mengajak mereka bertauhīd (mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dan beliau memerangi mereka semuanya tidak membedakan satu dengan yang lain.

Bahkan diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk memerangi semua orang musyrikin dengan berbagai jenisnya.

Dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Anfāl : 39 :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ,وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka (orang-orang musyrikin) sampai kapan? حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ sehingga tidak terjadi fitnah dipermukaan bumi”

Yang dimaksud dengan fitnah disini adalah kesyirikan.

Perangilah mereka sampai tidak terjadi kesyirikan dipermukaan bumi ini.

وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

Dan sehingga agama ini semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para shahābat radhiyallāhu ‘anhum untuk memerangi orang-orang musyrikin yang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksud supaya tidak lagi terjadi fitnah (tidak terjadi kesyirikan) dibumi ini.

Sehingga agama ini /ibadah ini, semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan untuk memerangi mereka semua tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 22 – QA’IDAH YANG KETIGA

BAGIAN 2

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-22 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

▪ Dalīl Menyembah Matahari dan Bulan

Kemudian beliau mengatakan :

وَدَلِيلُ الشَّمْسِ والقَمَرِ

Dan dalīl bahwasanya dizaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada orang yang menyembah matahari dan bulan.

قَولُهُ تَعَالَى

Adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Fushshilat : 37

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dalīl yang menunjukan bahwasanya dizaman nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada yang menyembah matahari dan bulan adalah firman Allāh yang artinya:

” Dan di antara ayat-ayat Allāh yang menunjukan kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah malam siang dan matahari dan juga bulan (ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh )

Menunjukan tentang kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menjadikan malam, yang menjadikan siang tidak ada yang menjadikan itu semua kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak ada selain Allāh yang bisa merubah malam menjadi siang, atau merubah siang menjadi malam.

Demikian pula termasuk matahari dan juga bulan, ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian Allāh mengatakan,

لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ

“Janganlah kalian bersujud Kepada matahari dan juga bulan”

Karena matahari dan bulan adalah termasuk makhluk dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh.

Allāh mengatakan لَا تَسْجُدُوا janganlah kalian bersujud kepada matahari dan juga bulan.

Larangan Allāh supaya manusia jangan bersujud kepada matahari dan bulan, menunjukan bahwasanya pada saat itu ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah matahari dan juga bulan.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang mengatakan لَا تَسْجُدُوا Janganlah kalian bersujud, menunjukan bahwasanya pada saat itu ada diantara manusia yang ada dizaman nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menyembah kepada matahari dan bulan.

Dan didalam Al Qurān beberapa kisah yang menunjukan bahwasanya disana ada sebagian manusia yang menyembah matahari dan juga bulan.

⇒ Seperti Ratu Sabā yang didakwahi oleh Nabi Sulaimān ‘alayhissalām.

Dan dizaman sekarang ada orang yang menyembah matahari menunjukan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau diutus bukan hanya memerangi orang-orang yang menyembah berhala (patung) tapi beliau juga diutus untuk memerangi semua orang-orang musyrikin dengan berbagai jenis peribadatan mereka.

Termasuk diantaranya yang menyembah matahari maupun bulan.

وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan hendaklah kalian bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan mereka semua, kalau kalian benar-benar beribadah dan menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

√ Melarang bersujud kepada matahari dan bulan, bagaimanapun dia memberikan manfaat bagi manusia, bagaimanapun besarnya dimata manusia.

√ Kemudian Allāh menyuruh kita untuk bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan matahari dan bulan dan semua makhluk.

⇒ Yang menciptakan makhluk-makhluk tersebutlah yang berhak untuk disembah.

▪ Dalīl Menyembah Malāikat

Kemudian beliau mengatakan :

وَدَلِيلُ المَلَإِكَةِ قَولُهُ تَعَالَى

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا. يَعْبُدُونَ

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

Dalīl yang menunjukan bahwasanya dizaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada orang-orang musyrikin yang menyembah para malāikat.

Dalīl nya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla surat Sabā 40-41 yang artinya :

“Dan pada hari ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengumpulkan mereka semua (dipadang mahsyar) dikumpulkan manusia dari awal sampai akhir, dikumpulkan para Jinn dari awal sampai akhir dan dikumpulkan para malāikat, bahkan dikumpulkan hewan-hewan pada hari dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengumpulkan mereka semua.

ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

Kemudian Allāh berkata kepada para malāikat (disana ada manusia baik yang mukmin maupun yang kāfir, yang musyrik, yang munāfiq, ada jinn dan disana ada malāikat)

Maka Allāh berkata kepada para malāikat.

أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

“Apakah mereka dahulu menyembah kalian?”

Allāh berkata kepada para malāikat yang sebagian manusia telah menyembah mereka.

Maka Allāh saat itu bertanya kepada para malāikat, “Apakah mereka dahulu mereka menyembah kalian, wahai para malāikat ?”

Pertanyaan ini menunjukan bahwasanya memang didunia ada diantara manusia yang menyembah kepada malāikat.

Para malāikat menjawab :

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

“Maha Suci Engkau Yā Allāh, Engkau adalah wali kami selain mereka, bahkan mereka menyembah para Jin, sebagian besar mereka beriman dengan Jinn -jinn tersebut”.

Ayat ini menunjukan kepada kita ada diantara manusia yang menyembah kepada malāikat dan ada diantara mereka yang menyembah kepada Jinn.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=============================================

HALAQAH 23 – QA’IDAH YANG KETIGA

BAGIAN 3

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-23 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

▪Dalīl Menyembah Para Nabi

Kemudian beliau mengatakan,

وَدَلِيلُ الأَنْبِيَاء قوله تعالى:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Maidāh ayat 116

Dan ketika Allāh berkata kepada Īsā ibnu Maryam (dan ini juga terjadi dipadang mahsyar)

√ Allāh akan bertanya kepada Malāikat (hamba-hamba Allāh yang shālih, yang diagungkan dan disembah oleh sebagian manusia)

√ Allāh akan bertanya kepada nabi Īsā ‘alayhissalām (yang disembah dan diagungkan oleh sebagian manusia)

يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Wahai Īsā ibnu Maryam, “Apakah engkau dahulu ketika didunia berkata kepada manusia,

اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Apakah engkau dahulu berkata kepada mereka wahai manusia jadikanlah aku dan juga ibuku sebagai dua sesembahan selain Allāh?

Apakah engkau dahulu ketika didunia pernah mengajak mereka (mendorong mereka, memerintahkan mereka) untuk menjadikan kamu sebagai seorang Tuhan dan juga menjadikan ibumu sebagai seorang Tuhan?

Pertanyaan ini kelak akan ditanyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada nabi Īsā ‘alayhissalām.

Apa jawaban beliau (nabi Īsā ‘alayhissalām)

قَالَ سُبْحَانَكَ

Maha Suci Engkau Yā Allāh, sebagaimana para malāikat tadi ketika ditanya mereka juga mengatakan سُبْحَانَكَ.

Kemudian beliau mengatakan,

مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

Tidak pantas bagiku, tidak boleh bagiku untuk mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak untuk mengatakannya. Aku adalah seorang hamba, seorang manusia, seorang makhluk tidak pantas bagiku untuk mengatakan kepada manusia, “Wahai manusia jadikanlah aku sebagai Tuhan”.

Artinya pada hari itu nabi Īsā ‘alayhissalām berlepas diri dari apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembah beliau di dunia.

Dan ini menunjukan kepada kita bahwasanya ada diantara manusia yang mereka menyembah para nabi, diantaranya adalah nabi Īsā ‘alayhissalām,

Dan ini juga diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau memerangi orang-orang yang menyembah atau mengaku menyembah nabi Īsā ‘alayhissalām, meskipun yang disembah adalah seorang nabi sekalipun, seorang yang paling shālih sekalipun tapi karena dia menyembah kepada selain Allāh dan ini adalah bentuk kesyirikan maka diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau tidak mengatakan apabila menyembah seorang nabi maka tidak masalah akan tetapi beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetap memerangi mereka meskipun mereka menyembah para nabi dan tidak membedakan antara orang yang menyembah berhala, yang menyembah matahari maupun para nabi.

▪Dalīl Menyembah Orang Shālih

Kemudian beliau mengatakan :

وَدَلِيلُ الصَالِحِين قوله تعالى

Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Isrā’ ayat 56 -57

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

Katakanlah wahai Muhammad, berdo’a lah kalian kepada orang-orang yang kalian sangka sebagai Tuhan (selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla)

فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

Niscaya mereka tidak akan mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian dan tidak bisa memindahkan kesusahan tersebut kepada yang lain.

Ini adalah ancaman bagi mereka, silahkan kalian berdo’a kepada orang-orang yang kalian sangka itu adalah tuhan-tuhan selain Allāh, niscaya mereka tidak akan mampu memiliki, tidak akan mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian.

Kalau Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghendaki kesusahan bagi kalian maka tidak akan ada yang bisa menghilangkan kesusahan tersebut kecuali dia.

Sekalipun segala sesuatu yang disembah selain Allāh menginginkannya tapi kalau Allāh ingin menghilangkan kesusahan tersebut niscaya akan terjadi.

Kemudian Allāh mengatakan :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

Mereka orang-orang yang mereka berdo’a kepadanya maksudnya adalah orang-orang shālih.

Orang-orang shālih yang mereka beribadah kepada orang shālih tersebut

يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

Ternyata mereka juga mencari wasīlah kepada Allāh.

Yang dimaksud dengan wasīlah dalam ayat ini adalah Al Qurbah (kalau kita melihat buku-buku atau kamus-kamus bahasa Arab dan kita mencari makna Al Wasīlah didalam bahasa Arab) kita akan mendapatkan bahwasanya maknanya adalah Al Qurbah.

Allāh mengabarkan didalam ayat ini bahwasanya orang-orang shālih tersebut yang diagung-agungkan dan disembah oleh orang-orang musyrikin ternyata mereka pun sendiri berusaha untuk mencari Wasīlah kepada Allāh.

Mereka sendiri ingin mencari kedekatan kepada Allāh.

أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

Siapa diantara mereka yang lebih dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang-orang yang menyembah mereka menyangka apabila menyembah orang-orang shālih tersebut maka orang-orang shālih tersebut akan mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Padahal disini Allāh menyebutkan mereka sendiri (orang-orang shālih tersebut sebenarnya juga mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Siapa diantara mereka yang lebih dekat dengan Allāh?

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

Dan mereka mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan takut dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mereka sendiri juga keadaannya demikian dalam keadaan mengharap dan dalam keadaan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mengatakan:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Dan sesungguhnya adzab Rabb mu adalah sesuatu yang harus diwaspadai.

Ayat ini menunjukan bahwasanya ada diantara orang-orang musyrikin yang mereka mengagung-agungkan orang-orang yang shālih.

Padahal orang-orang shālih tersebut saling berlomba untuk mendekatkan dirinya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mereka juga takut dengan adzab Allāh dan mereka juga mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 24 – QA’IDAH YANG KETIGA

BAGIAN 4

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

▪Dalīl Menyembah Pohon dan Batu

Dan dalīl bahwasanya disana ada yang menyembah pohon dan batu adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat An-Najm 19-20 :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ * وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

Apa pendapat kalian tentang,

⑴. Al Lāta

⑵. Al’Uzzā

⑶. Manāh

Ini adalah 3 diantara sesembahan-sesembahan-sesembahan orang-orang Musyrikin Quraysh.

① Al Lāta

Al Lāta adalah orang yang shālih yang dahulu diantara amalan shālihnya adalah memberi makan orang-orang yang sedang berhaji.

Ketika dia meninggal dunia maka diagung-agungkan oleh orang-orang Musyrikin Quraysh.

② Al’Uzzā

Al’Uzzā bentuknya adalah sebuah pohon.

Sebuah pohon yang besar yang diagung-agungkan oleh orang-orang Quraysh.

③. Manāh

Manāh adalah sebuah batu besar

Menunjukan bahwasanya disana ada yang mengagungkan pohon demikian pula batu.

Ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah :

√ Orang shālih

√ Menyembah batu dan pohon

Diantara dalīlnya adalah dari Abī Wāqid Al laytsiy Radhiyallāhu ‘anhu :

وَحَدِثُ أَبِي وَاقِد اللَيثِي رضي الله عنه قَال :

خَرَجْنَا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حُنَين و نحنُ حُدَثَا ءَ عِهدٍ بِكُفرِ, وَ لِلْمُشِّكِينَ سِدْرَةٌ

Kami keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kearah Hunain dan ini terjadi setelah dibuka nya kota Mekkah pada tahun 8 Hijriyyah, banyak diantara orang-orang musyrikin Quraysh yang mereka masuk kedalam agama Islām.

Yang sebelumnya musyrik ketika dibuka kota Mekkah mereka masuk kedalam agama Islām.

Setelah dibukanya kota Mekkah maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menuju ke kota Hunain dan bersama beliau orang-orang Islām,baik yang lama maupun yang baru dan disini Abū Wāqid Al laytsiy dia menceritakan (kami keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke arah Hunain)

و نحنُ حُدَثَا ءَ عِهدٍ بِكُفرِ

Dan kami baru saja masuk kedalam agama Islām artinya bekas-bekas Jāhilīyah (bekas kesyirikan) sebagian masih ada di dalam diri mereka.

وَ لِلْمُشِّكِينَ سِدْرَةٌ

Dan orang-orang musyrikin memiliki sebuah pohon.

يَعْكُفُونَ عِندَهَا و يَنُوطُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُم

Yang mereka ber ‘itiqaf disekitar pohon tersebut dan menaruh senjata-senjata mereka dipohon tersebut.

Abū Wāqid menceritakan bahwasanya orang-orang musyrikin dahulu mereka memiliki sebuah pohon yang mereka sering ber ‘itiqaf di pohon tersebut (berdiam diri disana) mengagungkan pohon tersebut, mengagungkan selain Allāh disamping itu mereka juga menaruh senjata-senjata mereka dipohon tersebut.

Tujuannya mencari bārakah supaya senjata-senjata tersebut ketika digunakan untuk berperang membawa bārakah dan kemenangan, dan ini menunjukan bahwasanya perilaku seperti ini adalah termasuk perilaku orang-orang musyrikin.

Kemudian beliau mengatakan :

يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاطٍ

Pohon tersebut dinamakan Dzātu Anwāth dikenal dikalangan orang-orang musyrikin dengan nama Dzātu Anwāth.

فَمَرْرَنَا بِسِدْرَةٍ

Maka ketika kami menuju Hunain menemui sebuah pohon

فَقُلْنَا يا رسلو الله اِجعَل لنَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ كما لهم ذَاتُ

أَنْوَاطٍ

Yā Rasūlullāh, buatkanlah untuk kami sebuah Dzātu Anwāthin sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki Dzātu Anwāth.

Mereka meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya dibuatkan pohon dijadikan sebuah pohon yang disitu mereka ber’itiqaf dan mereka menaruh dan meletakan senjata-senjata mereka disitu.

Ucapan ini diucapkan oleh mereka karena mereka baru saja masuk kedalam agama Islām.

Tentunya lain antara orang yang sudah lama masuk dan belajar agama Islām dengan orang yang baru saja masuk kedalam agama Islām.

Oleh karena itu tidak heran apabila disini sebagian shahābat yang baru saja masuk Islām mereka meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya dibuatkan Dzātu Anwāth.

Kemudian beliau mengatakan:

وَقَالُ رَسُول الله ﷺ الله أكبر

Allāh Maha Besar, Allāh Maha Besar dari apa yang kalian ucapkan, kalian telah mengucapkan sesuatu yang besar syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

إِنَهَا السُنَّن قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ كما قَالَتْ بَنُو إِسرَاءِيل لِمُوسَى, اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ

Ini adalah jalan-jalan orang-orang sebelum kalian

Kemudian beliau mengatakan:

قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ

Kalian telah mengatakan Demi Allāh, yang jiwaku ada ditangannya, kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Banu Isrāil kepada Mūsā ‘alayhissalām.

Ucapan kalian ini persis dengan yang dikatakan oleh Bani Isrāil kepada Mūsā dalam surat Al-A’rāf 138

Apa yang mereka katakan?

اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ

Bani Isrāil ketika diselamatkan oleh nabi Mūsā ‘alayhissalām dari cengkraman Fir’aun dan tentaranya, dikeluarkan dari Mesir dan Allāh menyelamatkan mereka dari laut setelah menyeberang lautan, mereka mengatakan

اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ

Wahai Mūsā buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.

Mereka ingin memiliki sesembahan yang bisa dilihat, yang bisa mereka sentuh sebagaimana mereka melihat ini diantara orang-orang musyrikin.

Orang-orang Bani Isrāil tinggal bersama orang-orang Musyrikin, melihat orang-orang musyrikin yang mereka menyembah sesuatu yang bisa dilihat sehingga mereka disini meminta kepada nabi Mūsā untuk membuatkan tuhan yang mereka akan sembah sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki tuhan.

اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ

Jadikanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana mereka orang-orang musyrikin memiliki Tuhan.

Persis dengan yang dikatakan oleh Bani Isrāil kepada nabi Mūsā ‘alayhissalām oleh karena itu Mūsā mengatakan

الله أكبر إِنَهَا السُنَّن قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ

كما قَالَتْ بَنُو إِسرَاءِيل لِمُوسَى

Demi Allāh, Apa yang kalian katakan sama dengan yang dikatakan oleh bani Isrāil kepada nabi Mūsā.

Hadīts ini menunjukan kepada kita bahwasanya ada diantara orang-orang musyrikin yang mereka menyembah kepada pohon.

Sehingga dengan ini kita mengetahui apa yang dikatakan oleh Al Mualif/pengarang ( Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh) semuanya berdasarkan dalīl.

Ketika beliau mengatakan.

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمۡ

Bahwasanya nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam muncul dan diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda didalam ibadahnya.

Kenapa hal ini beliau kemukakan kepada kita?

Supaya kita tahu bahwasanya seseorang yang menyembah orang shālih sekalipun maka ini termasuk kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini termasuk kesyirikan karena sebagian menganggap yang dilarang adalah apabila kita menyembah berhala atau menyembah batu, matahari tapi kalau kita berdo’a kepada orang-orang shālih /menyembah orang shālih maka ini tidak masalah.

Kita katakan ucapan ini adalah ucapan yang tidak benar dan bertentangan dengan dalīl dari Al Qurān dan juga sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH 25 – QA’IDAH YANG KEEMPAT

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

📗 Silsilah Qawa’idul Arba’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh

Kaidah yang keempat (terakhir) dari 4 kaidah yang dengannya kita bisa memahami apa itu kesyirikan.

Beliau mengatakan:

الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ

Ketahuilah (kata beliau) bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita ini (dan beliau hidup 200 tahun yang lalu) أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِين lebih keras/lebih dahsyat kesyirikannya daripada orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Kata beliau orang-orang musyirikin dizaman sekarang(zaman beliau) itu lebih dahsyat lebih keras kesyirikannya lebih besar kesyirikannya daripada orang-orang musyikin zaman dahulu. Ini ucapan beliau pada kaidah yang ke-4

Apa kata beliau?

لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشَّدَّةِ

Kenapa demikian?

Kata beliau:

Karena orang-orang musyrikin yang terdahulu mereka menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang/bahagia/tenteram tetapi ketika mereka susah, mereka mengikhlāskan ibadah kepada Allāh.

Ini adalah sifat orang-orang musyrikin zaman dahulu, ketika mereka senang/bahagia mereka menyekutukan Allāh tetapi ketika mereka susah/terkena musibah mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ

“Adapun orang-orang musyrikin di zaman kita kesyirikan mereka senantiasa dan selalu, baik ketika mereka dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.”

Adapun orang-orang musyrikin yang dahulu mereka menyekutukan (Allāh) hanya keadaan senang tetapi dalam keadaan susah mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Tentunya, orang yang melakukan kesyirikan baik dalam keadaan susah maupun senang ini lebih keras, lebih dahsyat dan lebih besar daripada orang yang menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang dan tidak dalam keadaan susah.

Oleh karena itu beliau mengatakan orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat kesyirikannya, susah senang mereka berbuat syirik.

Adapun zaman dahulu melihat keadaan :

√ Keadaan senang menyekutukan Allāh.

√ Keadaan susah baru mereka ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Dalīlnya apa?

Beliau mengatakan:

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

“Kata Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dalam firmanNya: ‘Apabila mereka berada di dalam kapal (artinya mereka sedang dalam perjalanan di laut) mereka berdo’a kepada Allāh dalam keadaan mengikhlāskan agama ini hanya kepada Allāh.”

(QS Al-Ankabut : 65)

Ini yang mengabarkan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, mengabarkan tentang keadaan orang-orang musyrikin ketika mereka melakukan berpergian memakai kapal, di tengah-tengah lautan, Allāh mengabarkan:

دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Mereka berdo’a kepada Allāh dalam keadaan mengikhlaskan agamanya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

Kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā tentang keadaan orang-orang musyrikin saat itu, kita tidak pernah mendengar tidak pernah melihat apa yang mereka lakukan di tengah lautan, tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’ālā melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan.

Allāh mengabarkan ternyata mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh.

Di dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan ketika mereka berada di tengah lautan kemudian datang angin yang keras dan ombak yang sangat besar, mereka mengikhlāskan ibadahnya kepada Allāh dan mengatakan:

لَئِنْ أَنجَيْتَنَ مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Yā Allāh, seandainya Engkau menyelamatkan kami dari ini semua niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

(QS Yūnus: 22)

Berjanji kepada Allāh di tengah lautan apabila mereka selamat sampai ke daratan dan diselamatkan oleh Allāh niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur.

Lupa mereka dengan Lāta, ‘Uzzā, Manāh dan sesembahan-sesembahan lain selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Yang mereka ingat saat itu adalah Allāh, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā yang hanya bisa menyelamatkan mereka dari kesusahan saat itu.

Oleh karena itu Allāh mengatakan:

دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dalam keadaan susah tersebut mereka mengikhlāskan ibadahnya karena Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Tapi apa kata Allāh?

فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

“Ketika Allāh menyelamatkan mereka ke daratan tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”

Lupa dengan apa yang sudah dikatakan oleh mereka ketika mereka berada di tengah lautan, yaitu tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Ayat ini adalah dalīl , sebagaimana disebutkan oleh pengarang bahwasanya orang-orang musyrikin mereka mengikhlāskan ibadahnya ketika susah dan menyekutukan Allāh ketika mereka dalam keadaan senang.

Adapun orang-orang musyrikin di zaman beliau dan ini juga masih ada di zaman kita dalam keadaan susah dan senang mereka tetap menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Tidak jarang di antara mereka ketika datang musibah, bukan kembali dan meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, akan tetapi justru meminta kepada selain Allāh.

Ketika gunung merapi akan meletus atau ketika terjadi tsunami, kembalinya bukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan meminta perlindungan dan penjagaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, akan tetapi kembali kepada benda-benda, menaruh ini dan itu di rumah atau datang kepada orang yang dinamakan dengan paranormal atau orang yang sakti dengan harapan mereka bisa menyelamatkan dari musibah-musibah tersebut.

Dalam keadaan susahpun mereka masih bergantung kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, dalam keadaan senang juga.

Oleh karena itu apa yang dikatakan beliau pada kaidah yang keempat ini adalah sesuatu yang berdasar dan bukan sesuatu yang mengada-ada, bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat daripada orang musyrikin yang ada di zaman dahulu.

@Produksi2022

Kemudian beliau mengatakan:

وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā lebih mengetahui.”

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan sebuah kitāb yang sangat bermanfaat yang ringkas yang dikarang oleh Syaikh Muhammad At-Tamīmiy dan beliau adalah ulama besar yang meninggal pada tahun 1206 H dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā memberikan manfaat dari apa yang kita baca.

Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat.

وبالله التوفيق والهداية

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

CATATAN :

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

Kamir.Zakiyyah@gmail.com

01 Agusus 2022

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

HSI Abdullah Roy Beriman Kepada Hari Akhir, Halaqah 51 – 75

HALAQAH – 51 KEADAAN ORANG-ORANG KAFIR DI DALAM NERAKA

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir

“Keadaan Orang-orang Kafir Ketika Digiring dan Dikumpulkan ke Neraka”

• Pertama | Mereka akan digiring dengan kasar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَـٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِى كُنتُم بِہَا تُكَذِّبُونَ (١٤)

“Pada hari mereka akan didorong ke neraka jahannam dengan keras

Dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kalian dustakan.”

(QS Ath-Thūr: 13-14)

Kedua | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malāikat penjaga neraka, di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Orang-orang kāfir akan digiring ke neraka jahannam secara berkelompok-kelompok, sehingga apabila mereka telah sampai ke ambang neraka dibukalah pintu-pintunya.

Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka:

“Bukankah telah datang kepada kalian, Rasūl-rasūl yang berasal dari kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Rabb kalian, dan mengingatkan kalian pertemuan dengan hari ini?”.

Mereka menjawab: “Benar telah datang”.

Namun telah tetap adzab bagi orang-orang kāfir.

Dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian melalui pintu-pintu neraka jahannam tersebut, sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.

(QS Az-Zumar: 71-72)

Ketiga | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ شَرٌّ۬ مَّكَانً۬ا وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬

“Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka jahanam dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka, mereka itulah orang-orang yang paling jelek kedudukan mereka dan paling sesat jalan mereka.”

(QS Al-Furqān: 34)

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

“Wahai Nabi Allāh, bagaimana orang kafir dikumpulkan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang telah menjadikan dia berjalan di atas kedua kakinya mampu untuk menjadikan dia berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Keempat | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.”

(QS Al-Isrā’: 97)

Ada sebagian ulamā yang mengatakan bahwasanya mereka buta, bisu dan tuli tidak dalam semua keadaan.

Kelima | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahan-sesembahan mereka.

Dan akan saling menyalahkan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka.

( Lihat QS Ash-Shāffāt: 22-32)

Keenam | Sebelum mereka sampai ke neraka, mereka akan mendengar suara neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٍ۬ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظً۬ا وَزَفِيرً۬ا

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara neraka yang bergemuruh karena marah.”

(QS Al-Furqān: 12)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dan keluarga kita dari neraka jahanam dan memasukkan kita ke dalam surganya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 52 TINGGALNYA ORANG-ORANG BERIMAN DAN ORANG MUNAFIQ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Tinggalnya Orang-orang Berimān Dan Orang-orang Munāfiq”

                Di dalam hadīts Abū Said Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kāfir baik musyrikin maupun ahlul kitāb digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allāh, yang shālih maupun yang fajir.

Dikatakan kepada mereka:

“Apa yang menghalangi kalian untuk pergi, sedangkan manusia sudah pergi?

Dalam riwayat Muslim,

“Apa yang kalian tunggu?

Mereka berkata:

“Kami berbeda dengan mereka di dunia. Padahal kami dahulu butuh dengan mereka.”

⇒Maksudnya dahulu mereka bertauhīd tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kāfir. Meskipun mereka membutuhkan orang-orang kāfir tersebut dalam beberapa hal.

Mereka berkata:

“Sungguh kami telah mendengar penyeru menyeru supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah. Dan kami sekarang sedang menunggu Rabb kami.

Maka datanglah Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali.

⇒Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang berimān akan melihat Allāh di Padang Mahsyar.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allāh darimu. Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” Mereka mengatakan perkataan ini dua atau tiga kali.

⇒Maksudnya Allāh akan menguji mereka dengan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang lain.

Ketika mereka melihat Allāh dalam bentuk yang lain, maka mereka berlindung kepada Allāh , supaya tidak terfitnah di dalam ujian ini.

Dan ucapan mereka, “Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” menunjukkan tentang keutamaan tauhīd.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka tidak berbicara kepada Allāh saat itu kecuali para Nabi.”

Maka Allāh berkata:

“Apakah kalian memiliki tanda sehingga kalian mengetahui bahwa Dia adalah Rabb kalian?

Mereka berkata, “Betis”

Maka disingkaplah betis Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

                Para ulamā mengatakan bahwasanya ini adalah termasuk hadīts yang berisi sifat Allāh, Kewajibah kita berimān bahwasanya Allāh memiliki betis sesuai dengan keagungan-Nya.

                Tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan dengan mahluk, tidak boleh kita takwil, dan tidak boleh kita bertanya tentang bagaimananya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka sujudlah setiap mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Tidak tersisa orang yang dahulu sujud untuk Allāh , ikhlās dari dirinya kecuali Allāh akan mengijinkan dia bersujud. Kemudian tidaklah tersisa orang yang dahulu sujud karena hanya ingin melindungi diri dan riya’ kecuali Allāh akan menjadikan punggungnya menjadi rata.

Setiap akan sujud dia jatuh tersungkur di atas tengkuknya.

                Maksudnya dia tidak bisa sujud karena punggungnya yang semula memiliki beberapa ruas tulang yang memudahkan dia untuk membungkuk, menjadi hanya memiliki satu ruas tulang yang rata.

                Demikianlah keadaan orang-orang yang dahulu menipu Allāh dan orang-orang yang berimān di dunia

Maka Allāh menipu mereka.

                Mereka mengira bahwasanya mereka akan selamat dengan tinggalnya mereka saat itu bersama orang-orang yang berimān.

Namun ternyata perkiraan mereka adalah perkiraan yang salah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian orang-orang yang berimān mengangkat kepala mereka dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah kembali kepada bentuk-Nya yang semula.

Kemudian Allāh berkata:

“Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka pun berkata:“Engkau adalah Rabb kami”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini

والسلم عليكم ورحمة الّ وبركاته

HALAQAH – 53 PERPISAHAN ORANG-ORANG BERIMAN DAN ORANG MUNAFIK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”

                Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

                Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”

√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.

Dan apabila padam, dia berdiri.

⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.

Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .

⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

                Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.

                Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.

                Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).

                Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.

                Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

                Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .

                Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.

                Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

                Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.

Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”

( QS At-Tahrim : 8)

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

                Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 54 ASH-SHIRAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 54 dari silsilah ‘ilmiyah berimān kepada hari akhir adalah tentang”as shirath”

                Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath

(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)

                Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.

⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.

                Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”

(QS Maryam: 71-72)

Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.

⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.

Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.

“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”

Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:

√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,

√ Ada yang seperti kilat,

√ Ada yang secepat angin,

√ Ada yang secepat burung,

√ Ada yang secepat larinya kuda,

√ Ada yang secepat larinya unta,

√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)

⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.

⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.

⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.

                Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”

Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”

Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,

Beliau berkata:

“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”

⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.

⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.

⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

                Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.

Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.

Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.

                Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.

                Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. Āmīn

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH – 55 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”

                Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.

⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”

(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)

Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.

                Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.

                Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.

(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.

                Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.

                Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.

                Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:

⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.

⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd

⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl

⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama

⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.

Dantara cirinya:

√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.

√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.

√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.

                Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.

                Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.

                Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.

Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.

                Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.

                Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.

                Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH – 56 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Beberapa Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang kedalam Neraka Bagian ke-2″

                Di antara dosa yang membahayakan seseorang yang berimān dan bisa menjadi penyebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka ketika melewati sirāth adalah berdusta atas nama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia menyiapkan tempatnya di dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Hendaknya seseorang berhati-hati di dalam menyampaikan hadīts dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menjauhi hadīts-hadīts dhaif dan palsu, baik dalam masalah aqidah, fadhail’amal, maupun masalah yang lain.

Dan bagi yang tidak mampu menghukumi sebuah hadīts, maka hendaknya dia taqlid dengan ulamā atau ustadz yang ia anggap paling ahli di dalam hadīts.

⇒Di antara dosa tersebut adalah “dosa lisan dan kemaluan”

Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia di dalam neraka.

Maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ

“Mulut dan kemaluan”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah).

Dosa yang dilakukan mulut seperti:

√ Dusta

√ Membicarakan kejelekan orang lain

√ Mengadu domba

√ Berfatwa tanpa ilmu

√ Menuduh tanpa hak

√ Makan dan minum yang haram dan lain-lain.

Dosa yang dilakukan kemaluan seperti:

√ Berzina,

√ Liwath, dan lain-lain.

⇒Dan di antara dosa tersebut adalah sombong.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrahpun dari kesombongan”

Seorang laki-laki bertanya:

Sesungguhnya seseorang senang apabila bajunya bagus dan sandalnya bagus.

                Maka beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Sesungguhnya Allāh adalah indah dan mencintai keindahan.”

⇒ Yang dimaksud dengan kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (Hadīts Riwayat Muslim)

                Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak akan masuk surga adalah ancaman bagi pelakunya, bahwasanya dia bukan termasuk orang-orang yang pertama-tama masuk surga. Dan balasan kesombongan dia adalah masuk neraka terlebih dahulu.

                Marilah kita belajar menerima kebenaran dari manapun datangnya. Karena pada hakikatnya kebenaran adalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla .

                Dan janganlah kita meremehkan orang lain, karena ilmu, harta, jabatan atau gelar yang kita miliki, Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan tersebut, mampu untuk memberikan kepada orang lain yang semisal atau yang lebih baik kapan Allāh kehendaki.

Semakin seseorang rendah hati karena Allāh , maka Allāh akan semakin mengangkat derajatnya.

Di antara dosa tersebut adalah dosa memakan makanan yang haram.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah tumbuh daging dari makanan yang haram, kecuali neraka lebih pantas bagi daging tersebut”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

Seorang muslim hendaknya sangat berhati-hati di dalam mencari rezeki untuk diri-sendiri dan keluarga.

                Tidak memakan dan memberi makan, kecuali setelah yakin itu halal.

                Hendaknya dia menjauhi riba, memakan harta orang lain tanpa hak, menjauhi uang suap, menjauhi kurang dalam menimbang dan segala jenis harta haram lainnya.

                Dan di antara dosa yang dapat menjadi sebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka adalah “tidak ikhlās di dalam menuntut ilmu” (Ilmu agama)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang menuntut ilmu, yang sebenarnya digunakan untuk mencari ridhā Allāh, Dia tidak menuntut ilmu tersebut kecuali untuk mencari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat”

(hadīts Riwayat Abū Dāwūd)

Di dalam hadīts yang lain beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Barangsiapa yang menuntut ilmu hanya untuk menyombongkan diri di hadapan para ulamā atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, maka ancamannya adalah neraka”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 57 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-57 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian ketiga”

Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah:

⑴ Dosa bunuh diri

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melempar dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya, maka dia berada di dalam neraka jahannam. Dilempar didalamnya kekal selamanya. Dan barang siapa meneguk racun untuk membunuh dirinya, maka di dalam neraka jahannam dia akan meletakan racun di tangannya, dia meneguknya selamanya di neraka. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besi tersebut di tangannya dia menusuk dengan besi tersebut perutnya di neraka jahannam kekal selamanya”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒Bunuh diri bukanlah cara untuk lepas dari masalah, namun justru akan mendatangkan masalah yang lebih besar.

Dan barang siapa yang berimān kepada Allāh,maka Allāh akan memberikan hidayah kepada hatinya.

⑵ Membunuh tanpa hak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنً۬ا مُّتَعَمِّدً۬ا فَجَزَآؤُهُ ۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدً۬ا فِيہَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ ۥ وَأَعَدَّ لَهُ ۥ عَذَابًا عَظِيمً۬ا

“Dan barang siapa yang membunuh orang yang berimān karena sengaja, maka balasannya adalah jahannam dia kekal di dalamnya. Allāh akan marah kepadanya dan melaknatnya, dan Allāh akan siapkan untuknya adzab yang besar.”

(QS An-Nissā’: 93)

                Para ulamā menjelaskan bahwasanya maksud kekal di neraka bagi orang yang membunuh orang yang berimān tanpa hak atau bunuh diri yaitu pada asalnya inilah balasan bagi orang tersebut.

                Namun dalīl lain menerangkan bahwasanya orang yang berimān sekecil apapun imānnya dan sebesar apapun dosanya dia akan keluar dari neraka baik dengan ampunan Allāh atau dengan Syafā’at.

⑶ Memakan riba.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَـٰفً۬ا مُّضَـٰعَفَةً۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (١٣٠) وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ (١٣١)

“Wahai orang-orang yang berimān, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda. Dan bertakwalah kalian kepada Allāh, supaya kalian beruntung. Dan takutlah dengan api neraka yang disediakan untuk orang-orang kāfir.”

(QS Āli-‘Imrān: 130-131)

Dan betapa banyak praktek riba di zaman sekarang, seseorang yang akan melakukan sebuah transaksi hendaknya mengetahui ilmunya.

Dan janganlah dia menganggap mudah perkara riba ini.

Dan barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allāh , maka Allāh akan mengganti dengan yang lebih baik.

⑷ Menggambar mahluk yang bernyawa.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allāh pada hari kiamat adalah para penggambar.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Dan maksud dari penggambar di sini adalah penggambar mahluk bernyawa, masuk di dalamnya orang yang membuat patung mahluk bernyawa dan orang yang melukis mahluk bernyawa.

                Banyak para ulamā yang memasukkan gambar fotografi didalam larangan ini.

                Tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan darurat seperti untuk surat-surat penting dan lain-lain.

                Perbedaan pendapat di antara para ulamā dan banyaknya manusia yang melakukan, janganlah menjadi alasan bagi seseorang untuk bermudah-mudahan di dalam gambar fotografi ini.

⑸ Dosa wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka, sebuah kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka gunakan untuk memukul manusia. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Berjalan lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian”

⇒Dan makna berpakaian tapi telanjang ada yang mengatakan menutupi sebagian aurat dan membuka sebagian yang lain untuk menampakkan keindahan. Atau memakai pakaian tetapi tidak sempurna seperti memakai pakaian yang tipis atau membentuk badan.

Seorang muslimah hendaknya bersungguh-sungguh di dalam menjaga hijabnya dan ikhlās karena Allāh .

Semoga kesabaran seorang muslimah atas rasa gerah, risih dan ribet yang mungkin dirasakan oleh sebagian.

Dan juga kesabaran menghadapi gunjingan orang lain, menjadi sebab selamatnya dia dari ancaman neraka.

                Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 58 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 4

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”

                Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah dosa wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

                Diperlihatkan kepadaku bahwa sebagian besar penduduk neraka adalah wanita. Mereka telah ingkar.

Dikatakan kepada beliau:

Apakah mereka ingkar kepada Allāh ?

Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suami-suami mereka, Mengingkari kebaikan-kebaikan mereka, Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sekian lama, kemudian dia melihat darimu sesuatu yang tidak membuat dia senang, maka wanita tersebut akan berkata, “Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang wanita yang shālihah hendaklah bersyukur kepada Allāh , kemudian bersyukur kepada suaminya, karena dengan sebabnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla

√ Menjaga dia sebagai seorang istri.

√ Menutupi kekurangannya.

√ Menunaikan hajatnya dan lain-lain.

                Dan secara umum, bersyukur kepada orang lain yang pernah berbuat baik kepada kita diperintahkan dalam agama Islām.

                Apabila seseorang tidak bisa membalas maka hendaknya dia mendo’akan dengan kebaikan, baik di hadapan orang tersebut maupun tidak di hadapannya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah. Kalau kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka do’akanlah dengan kebaikan sampai kalian merasa bahwasanya kalian telah membalas kebaikannya”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan An-Nasā’i)

                Dan di antara dosa yang membahayakan kehidupan seorang hamba di akhirat adalah tiga dosa yang tercantum didalam sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

◆ Tiga orang yang Allāh harāmkan masuk surga:

⑴ Pecandu khamr (minuman keras)

⑵ Anak yang durhaka

⑶ Dayyuts (laki-laki yang membiarkan kejelekan di dalam keluarganya)

(Hadīts Hasan Riwayat Imām Ahmad di dalam Musnadnya)

Seorang kepala keluarga yang membiarkan kemaksiatan di dalam keluarganya dan memfasilitasi, dikhawatirkan terkena ancaman ini.

Seorang kepala keluarga dituntut untuk tegas dan lembut dengan keluarganya.

Rasa sayang bukan berarti harus memberi semua yang diminta, Dan mendidik mereka untuk taat tidak identik denga kekerasan, Istri dan anak adalah ujian dan titipan Allāh.

                Kewajiban kita adalah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka, dan hidayah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

⇒Dan di antara dosa yang membahayakan adalah durhaka terhadap kedua orang tua.

Dan di antara bentuk durhaka adalah menyakiti orang tua dengan lisan, dengan sikap ataupun dengan tangan.

                Seorang muslim dan muslimah diperintah untuk berlemah-lembut kepada orang tua. Merendahkan diri di hadapan mereka, dan menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.

                Dan di antara bentuk bakti yang paling berharga kepada orang tua kita adalah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan menuju cahaya Tauhīd, Sunnah dan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

                Dan di antara dosa yang membahayakan adalah dosa seorang pejabat yang menipu bawahan atau rakyatnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba, Allāh berikan jabatan kemudian dia mati dalam keadaan menipu bawahan atau rakyatnya kecuali Allāh akan mengharamkan dia masuk ke dalam surga”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di antara bentuk menipu kepada rakyat adalah tidak menasehati mereka demi keselamatan dunia dan akhirat mereka, tidak memenuhi hak-hak mereka, tidak berbuat adil di antara mereka dan lain-lain(diharamkan masuk surga di sini bahwasanya pelakunya tidak bisa masuk surga secara langsung, namun dia berhak untuk diadzab di dalam neraka terlebih dahulu apabila Allāh menghendaki)

Ini adalah beberapa contoh dosa-dosa besar dan para ulama telah mengarang buku khusus tentang dosa-dosa besar, kita pelajari supaya kita bisa menjauhi.

                Keyakinan ahlusunnah bahwasanya pelaku dosa besar di bawah kehendak Allāh, Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengampuni, dan kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengadzabnya terlebih dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam surga.

                Dan adzab neraka bagi pelaku dosa besar, meski tidak selamanya namun bukan sesuatu yang ringan.

Satu menit dibakar dengan api dunia adalah perkara yang berat. Maka bagaimana dibakar dalam waktu yang lama dengan api akhirat yang jauh lebih panas.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari neraka jahanam”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Kesabaran di dalam menahan hawa nafsu di dunia, bagi seorang muslim jauh lebih ringan dan lebih mudah dari pada kesabaran di dalam menghadapi adzab neraka di akhirat.

                Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dan keluarga kita dari api neraka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=======================================

HALAQAH – 59 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”

                Setelah sebagian orang-orang yang beriman selamat melewati neraka, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan izin kepada mereka, untuk memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka, orang-orang yang beriman yang terjatuh ke dalam neraka.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda didalam hadīts Abū Said Al-Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim,

◆Ketika orang-orang yang beriman selamat dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada yang lebih gigih di dalam memohon kepada Allāh , hak saudara-saudara mereka yang jatuh ke dalam neraka dari pada orang-orang yang beriman di hari kiamat.

Mereka berkata, Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu mereka shalāt bersama kami, berpuasa bersama kami dan haji bersama kami.

◆ Ini menunjukkan tentang keutamaan berteman dengan orang-orang shālih dan melakukan ibadah-ibadah tersebut bersama mereka.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

                Maka Allāh berkata, “Keluarkanlah oleh kalian orang-orang yang kalian kenal. Maka diharamkanlah wajah-wajah mereka atas neraka (Maksudnya orang-orang yang beriman yang melakukan dosa besar dan disiksa di dalam neraka akan dilindungi wajah-wajah mereka dari api neraka, sehingga bisa dikenal)

                Mereka pun mengeluarkan banyak orang. Ada di antaranya yang api neraka sudah membakar sampai pertengahan kedua betisnya. Dan ada yang sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan?

Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dinar, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan”

Maka Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat setengah dinar, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan.

Maka Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dzarrah, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang.

Yang dimaksud dengan dzarroh adalah atom (bagian terkecil dari satu unsur, yang tidak bisa dibelah lagi)

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan di dalam neraka seorangpun yang memiliki kebaikan”

Allāh berkata,

Para malāikat telah memberikan syafā’at, para nabi telah memberikan syafā’at dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafā’at . Dan tidak tersisa, kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.

Kemudian Allāh menggenggam satu genggaman dari neraka, dan mengeluarkan kaum yang tidak pernah beramal sedikitpun.

Keadaan mereka telah menjadi arang.

Kemudian mereka dilempar ke dalam sungai yang berada di mulut-mulut surga (yang dinamakan dengan sungai kehidupan).

Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya benih di dalam lumpur sisa banjir (Maksudnya akan dengan cepat tumbuh, karena benih yang berada di dalam lumpur sisa banjir akan lebih cepat tumbuh disebabkan banyaknya faktor yang mendukung, seperti tanah yang lembut, air yang memadai dan adanya unsur-unsur yang bermanfaat. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli)

Kemudian Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Apakah kalian pernah melihat benih yang tumbuh, ketika dekat dengan batu atau pohon? bagian yang dekat dengan matahari akan berwarna kuning dan hijau. Dan yang lebih dekat dengan bayangan maka akan berwarna putih.

Maksudnya ada yang mengatakan bahwasanya bagian badan yang terbakar yang lebih dekat dengan surga akan lebih cepat sempurna dari pada bagian badan yang lebih dekat dengan neraka.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian mereka akan keluar seperti mutiara. Dan di leher-leher mereka ada khawatim, yang dikenal oleh para penduduk surga.”

Sebagian mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan

khawatim (beberapa barang yang terbuat dari emas yang dikalungkan di leher mereka)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Maka berkatalah para penduduk surga, “Mereka adalah orang-orang yang Allāh bebaskan”Allāh telah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa sebab amalan yang mereka amalkan dan tanpa sebab kebaikan yang mereka lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 60 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk umatnya, para pelaku dosa besar yang disiksa di dalam neraka.

                Di dalam hadīts Anas bin Mālik Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, bahwasanya Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan meminta izin kepada Allāh untuk memberi syafā’at dan beliau diizinkan.

                Maka Allāh akan mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian yang sebelumnya tidak pernah diajarkan kepada beliau di dunia.

                Dan beliau bersujud, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. engkau akan didengar perkataanmu,

Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang didalam hatinya ada iman sebesar biji gandum.

                Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan sujud kepada-Nya, maka dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah……. maka akan didengar perkataanmu.

Mintalah….. maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman sebesar dzarrah atau qardalah yaitu biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh dan sujud kepada-Nya, dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. niscaya akan didengar perkataanmu.

Mintalah…… niscaya akan diberi permintaanmu dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman yang lebih kecil dan lebih kecil dari sebuah biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian keempat kalinya beliau datang dan kembali memuji dan sujud kepada Allāh, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu” Berkatalah…….. niscaya akan didengar perkataanmu.

Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafaat, niscaya akan diterima syafaatmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, izinkan aku untuk memberikan syafā’at kepada setiap orang yang mengatakan

 ” لا إله إلّا الله “.

Maka Allāh berkata:

Demi keperkasaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, dan kemuliaan-Ku sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengatakan ” لا إله إلّا الله “.

Maksudnya adalah orang yang mengatakan لا إله إلّا الله ikhlās dari hatinya dan tidak membatalkannya dengan kesyirikan.

Di dalam shahīh Bukhāri disebutkan bahwasanya di antara amalan yang bisa menjadi sebab kita mendapatkan syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam di akhirat adalah membaca doa setelah mendengar ādzān, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Dan di antara amalan tersebut adalah bersabar atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh, kemudian meninggal di dalamnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

“Tidaklah bersabar seseorang atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh kemudian dia meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafā’at untuknya atau pemberi saksi untuknya di hari kiamat, apabila dia adalah orang islam.”

(Hadīts Riwayat Muslim )

Ada dua golongan dari umat Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang tidak akan mendapatkan syafā’at beliau

Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Beliau bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ

“Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafa’atku, pemimpin yang dzalim dan setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam agama”

(Hadīts Hasan Riwayat At-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabiir ).

Kita memohon kepada Allāh semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=========================================

HALAQAH – 61 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang”

(Hadīts Shahīh Riwayat Al-Bazzar)

⇒Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang yang mati syahīd akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd)

Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberi syafa’at untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan.

Ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Taamim dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku,

Dikatakan kepada beliau,

“Yā Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”

Beliau menjawab:

“Iya, dia adalah orang lain selain diriku.”

(Hadīts Riwayat At-Tirmidzi)

⇒Bani Taamim adalah kabilah yang terkenal besar di zaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Semakin besar imān seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain.

Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberikan syafa’at di hari kiamat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Anak-anak orang yang berimān yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Anak-anak kecil dari orang-orang yang berimān akan menjadi daanish surga”

⇒Arti daanish adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.

Maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan pernah meninggalkannya.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini, Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa.

Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba” Puasa berkata,

Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Al Qurān berkata:

Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Maka diterimalah syafa’at keduanya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau).

                Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. Dan dorongan untuk membaca Al Qurān karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.

                Orang-orang yang bertauhīd sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.

Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ

“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”

(QS Al-Mudatsir : 48)

                Orang-orang yang berdo’a kepada nabi atau malāikat atau Orang-orang yang shālih dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan imān mereka dengan menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 62 AL-QONTOROH DAN QISOS ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 62 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Qantharah Dan Qishāsh Diantara Orang-orang Yang Berimān”

◆ Secara bahasa

Al-Qantharah secara bahasa adalah jembatan.

◆ Secara syar’iat

Al-Qontoroh adalah jembatan lain setelah sirāth yang terletak antara neraka dan surga (tempat berkumpulnya orang-orang yang berimān setelah melewati neraka sebelum masuk ke dalam surga).

⇒Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya Al-Qantarah ini.

Tempat akan dibersihkan hati-hati orang yang berimān dengan di qishāsh di antara mereka.

⇒Dan ini menunjukkan keadilah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

“Orang-orang yang berimān yang selamat dari neraka, mereka akan ditahan di Al-Qantharah (antara surga dan neraka) Kemudian di qishāsh kezhāliman-kezhāliman yang terjadi di antara mereka di dunia.

Sehingga apabila sudah dibersihkan dan disucikan, mereka akan diizinkan untuk masuk surga.

Dan demi dzat Yang Jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Yang akan dibersihkan di sini adalah ghill yang ada di dalam hati orang-orang yang berimān (hasad, dendam, kebencian dan lain-lain) yang kadang terjadi di antara mereka.

                Semakin bersih hati seseorang di dunia dari ghill maka akan semakin sebentar qishāsh-nya dan akan semakin cepat dia masuk ke dalam surga.

                Sebaliknya, semakin banyak ghill (hasad, dendam dan kebencian kepada sesama orang yang berimān) maka akan semakin lama qishāshnya dan semakin lama dia masuk ke dalam surga.

⇒Qishāsh di Al-Qantharah ini terjadi di antara orang-orang berimān saja, dengan maksud pembersihan hati.

                Adapun qishāsh di Padang Mahsyar, maka untuk semua makhluk (kāfir maupun yang mukmin) Yang mencakup qishāsh karena kezhāliman harta, fisik maupun kehormatan.

Apabila sudah bersih dari ghill barulah mereka bisa masuk surga, Karena tidak masuk surga kecuali orang yang sudah benar-benar bersih dan baik keadaannya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَزَعۡنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٲنًا عَلَىٰ سُرُرٍ۬ مُّتَقَـٰبِلِينَ

“Dan Kami akan hilangkan ghill dari dada-dada mereka”.

(QS Al-Hijr : 47)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla membersihkan hati kita dan saudara-saudara kita dari hasad, dendam dan kebencian yang tidak dibenarkan dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mudah untuk memaafkan orang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

===========================================

HALAQAH – 63 MASUKNYA ORANG-ORANG YANG BERIMAN KE DALAM SURGA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimā Kepada Hari Akhir adalah tentang “Masuknya Orang-orang Yang Berimān Ke Dalam Surga Bagian Pertama”

                Setelah dibersihkan hatinya, maka orang-orang yang berimān akan digiring menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan.

                Allāh akan kembali memuliakan Nabi-Nya di hadapan orang-orang yang berimān.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) akan diizinkan untuk memberikan syafa’at bagi calon penduduk surga, supaya dibukakan pintu surga.

Syafa’at ini juga termasuk syafa’at khusus bagi beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Beliaulah (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Dan akulah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga bersabda:

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat, Kemudian aku minta untuk dibuka.

Berkatalah penjaga surga, siapa kamu?

Aku menjawab, “Muhammad”

Penjaga pintu surga berkata:

“Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Dibukalah pintu surga dan masuklah penduduk surga dengan disambut oleh para malāikat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan digiring ke surga secara berombongan, Sehingga apabila mereka sampai ke surga, dan pintu-pintunya telah dibuka, dan berkatalah penjaga-penjaga pintu surga kepada mereka,”Salam atas kalian”.

Kalian telah baik, maka masuklah kalian ke dalam surga, sedang kalian kekal di dalamnya.

Dan mereka mengucapkan:

“Segala puji bagi Allāh yang telah memenuhi janjinya untuk kami dan telah memberi kami tempat ini, Kami diperkenankan menempati tempat di dalam surga dimana saja kami kehendaki, Maka surga itulah sebaik-baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal.”

(QS Az-Zumar: 73-74)

Umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, merekalah yang pertama kali masuk surga sebelum umat yang lain.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Kita adalah umat terakhir tapi akan menjadi yang pertama di hari kiamat. Dan kita yang pertama kali akan masuk surga.”

(Hadīts riwayat Bukhāri Muslim)

Rombongan pertama dari umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan masuk surga, wajah-wajah mereka terang seperti bulan di malam bulan purnama

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu )

Di dalam hadīts Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga dari umatku 70.000 atau 700.000 (keraguan dari perawi hadīts), Mereka saling bergandengan tangan di antara mereka sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga, Wajah-wajah mereka seperti cahaya bulan di malam bulan purnama. Ada yang mengatakan merekalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisāb dan tanpa azab.

Dan sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

⇒Sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya mereka akan masuk ke dalam surga dalam keadaan satu shaf secara serentak, Dan ini menunjukkan sangat besarnya pintu surga.

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya orang-orang faqīr muhajirin akan lebih dahulu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya muhajirin.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

===========================================

HALAQAH – 64 MASUKNYA ORANG-ORANG YANG BERIMAN KE DALAM SURGA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Masuknya orang-orang Yang Berimān Kedalam Surga Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyebutkan di dalam hadīts Abdullah bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim tentang orang yang terakhir masuk surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan paling terakhir masuk ke dalam surga. Seorang laki-laki keluar dari neraka dalam keadaan merayap.

Maka berkata kepadanya:

“Pergilah dan masuklah ke dalam surga”

Diapun mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka dia mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku, aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka sungguh untukmu semisal dengan dunia dan sepuluh kali lipat dari dunia, Atau bagimu sepuluh kali lipat dari dunia.

Maka hamba tersebut berkata,

Apakah Engkau mengejekku? Atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja?

Berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu:

“Sungguh aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.”

Dikatakan bahwa orang ini adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.

⇒Pintu-pintu surga ada delapan

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ

“Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya sebuah pintu yang bernama arrayyan, tidak memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dari Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu )

⇒Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama dari pintu-pintu surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang menginfāqkan dua unta di jalan Allāh , maka akan dipanggil dari Pintu-pintu surga, Wahai ‘Abdullāh ini adalah baik, Maka barang siapa yang termasuk ahli shalāt, dia akan dipanggil dari pintu shalāt. Dan barang siapa yang termasuk ahli jihād , maka akan dipanggil dari pintu jihād. Dan barang siapa yang termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu arrayyan, Dan barang siapa yang termasuk ahli shadaqah, maka akan dipanggil dari pintu shadaqah”

Berkata Abū Bakar Radhiyallāhu ‘anhu:

Tebusanku bapak dan ibuku ya Rasūlullāh, Tidak ada yang rugi dipanggil dari pintu manapun. Apakah ada yang dipanggil dari semua pintu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, Iya….. dan aku berharap engkau termasuk mereka.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Orang yang memperbaiki wudhunya kemudian membaca dua kalimat syahadat, maka akan dibuka untuknya 8 pintu surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya kemudian berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Kecuali akan dibuka untuknya 8 pintu surga, silakan dia memasuki dari mana saja yang ia kehendaki”

(Hadīts Riwayat Musim)

⇒Delapan pintu surga ini dibuka setiap tahun di bulan Ramadhān.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhān, maka akan dibuka Pintu-pintu surga dan akan ditutup pintu-pintu Jahanam dan akan dibelenggu syaithān-syaithān.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepi seperti jarak antara kota Mekkah dan kota Busra atau kota Mekkah dan kota Hajar.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Hajar adalah kota masyhur di Bahrain.

⇒Busra adalah kota masyhur di Suria.

Apabila diukur maka jarak antara kota Mekkah dengan kedua kota tersebut kurang lebih 1200 km.

Di dalam hadits yang lain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepinya 40 tahun perjalanan.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan jalan kita menuju surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 65 DERAJAT-DERAJAT AL-JANNAH ATAU SURGA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Derajat-derajat Al Jannah atau Surga”

Al-Jannah memiliki derajat yang banyak dan para penduduknya memiliki derajat yang berbeda, sesuai dengan kadar imān dan taqwa mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنً۬ا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَـٰتُ ٱلۡعُلَىٰ

“Dan barang siapa yang datang kepada Allāh dalam keadaan berimān dan telah mengamalkan amal-amal yang shālih, maka merekalah yang akan mendapatkan derajat-derajat yang paling tinggi.”

(QS Thāhā : 75)

Dan yang paling tinggi derajatnya adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila kalian mendengar muādzin, maka katakan seperti yang ia katakan, kemudian bershalawatlah untukku, karena barang siapa bershalawat untukku sekali, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan bershalawat untuknya sepuluh kali.

Kemudian mintalah kepada Allāh untukku Al-wasilah, Karena sesungguhnya Al-wasilah adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak pantas kecuali untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh.

Dan aku berharap akulah hamba tersebut.

Maka barang siapa yang memintakan untukku Al-Wasilah, dia berhak untuk mendapatkan syafa’at.”

(Hadīts riwayat Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan bagaimana ketinggian derajat sebagian orang-orang yang beriman, dibandingkan penduduk surga yang lain.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

▪ Sesungguhnya penduduk surga akan melihat Ahlul Ghurf (penduduk surga yang memiliki kedudukan paling tinggi) yang ada di atas mereka seperti kalian melihat bintang yang masih tersisa di ufuk timur maupun barat.

Yang demikian karena jauhnya perbedaan kedudukan di antara mereka.

Mereka berkata, “Yā Rasūlullāh, bukankah itu adalah kedudukan para Nabi yang tidak dicapai oleh yang lain?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Iya….. demi dzat Yang Jiwaku ada di tangan-Nya mereka adalah orang-orang yang berimān dan membenarkan para Rasūl.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di antara orang-orang yang berimān yang akan mendapatkan kedudukan yang paling tinggi adalah Abū Bakar dan ‘Umar Radhiyallāhu ‘anhumā

                Sesungguhnya orang-orang yang memiliki derajat (kedudukan) yang paling tinggi akan dilihat oleh orang-orang yang ada di bawah mereka seperti kalian melihat bintang yang baru terbit di ufuk langit.

                Dan sesungguhnya Abū Bakar dan ‘Umar termasuk mereka, dan mereka berdua akan mendapatkan nikmat.”

(Hadīts riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishāhihkan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh).

Para mujahidin fī sabilillāh, mereka termasuk orang-orang yang akan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

▪Sesungguhnya di dalam surga ada seratus derajat yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang berjihād di jalan Allāh, Setiap dua derajat seperti antara langit dan bumi, Maka apabila kalian meminta kepada Allāh mintalah Al-Firdaus. Karena sesungguhnya Al-Firdaus adalah surga yang paling afdhāl dan surga yang paling tinggi.

Di atasnya ada arsyurrahman, Dan dari sanalah terpancar sungai-sungai surga (Hadits riwayat Bukhāri )

                Orang yang memberikan nafkah kepada janda dan orang miskin, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang berjihad di jalan Allāh atau seperti orang yang berpuasa di siang hari dan shalāt di malam hari, Sebagaimana di dalam hadīts yang riwayat Bukhāri dan Muslim.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang memberi nafkah dua orang anak wanita sampai dia bāligh, maka dia akan datang pada hari kiamat, aku dan dia (kemudian) beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggenggam jari-jari beliau”

(Hadīts riwayat Muslim)

Menunjukkan ketinggian derajat orang tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang yang menanggung anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia di surga seperti dua jari ini” (Hadīts riwayat Muslim).

Dan ini menunjukkan ketinggian derajat orang tersebut, Karena yang dimaksud dengan dua jari di sini adalah jari telunjuk dan jari tengah.

Dan dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya termasuk orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekatku majelisnya denganku dihari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian”

⇒Orang tua bisa ditinggikan derajatnya di dalam surga karena sebab istighfār anaknya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka dia berkata,

Dari mana ini?

Dikatakan kepadanya,

Ini semua karena istighfār anakmu untukmu”

(Hadīts shahīh riwayat Ibnu Mājah)

Ini adalah dorongan bagi orang tua untuk mendidik anaknya dengan baik.

Dan penghuni surga yang paling rendah derajatnya telah kita sebutkan didalam halaqah sebelumnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

Halaqah – 66 Al-Jannah dan Kenikmatannya Bagian 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Al Jannah dan Kenikmatannya bagian pertama”

◆ Secara bahasa

Al Jannah adalah kebun.

◆ Secara syari’at

Al Jannah adalah negeri di akhirat yang penuh dengan kenikmatan yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Kenikmatan yang tidak pernah terbetik didalam hati manusia, Bagaimanapun besar kenikmatan didunia, maka tidak akan menyamai kenikmatan didalam surga.

Dan bagaimanapun kita berusaha mengkhayal sebuah kenikmatan, maka tidak akan setara dengan kenikmatan didalam surga.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ۬ مَّآ أُخۡفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ۬ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang tersimpan untuknya, berupa kenikmatan yang menyejukkan mata. Sebagai balasan atas apa yang sudah mereka amalkan.”

(QS As-Sajdah : 17)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّه: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيْ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allāh Ta’āla berkata, Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shālih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengabarkan kepada kita sebagian dari kenikmatan surga.

                Nama-nama kenikmatan di dalam surga yang Allāh kabarkan kepada kita sama dengan nama-nama kenikmatan yang ada di dunia.

                Namun memiliki sifat yang berbeda. Rumah di surga lain dengan rumah di dunia, meskipun namanya sama-sama rumah.

Demikian pula buah-buahan di surga jauh lebih nikmat dari pada buah-buahan di dunia, meski sama namanya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ

“Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari surga mereka berkata,

Inilah rezeki yang telah diberikan kepada kami dahulu di dunia.

Mereka diberi buah-buahan yang serupa”.

(QS. Al-Baqarah : 25)

Ada yang mengatakan serupa warna, bentuk dan namanya. Namun berbeda rasa dan kelezatannya.

Orang yang masuk surga dan merasakan sedikit dari kenikmatan surga akan merasa bahwa dia tidak pernah susah di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Dan akan didatangkan seorang penduduk surga yang paling susah di dunia. Kemudian dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanya, “Wahai anak Adam, pernahkah engkau merasakan kesengsaraan? Apakah pernah engkau tertimpa kesusahan?”

Dia menjawab, “Tidak pernah, demi Allāh Wahai Rabb-ku tidak pernah aku sengsara dan tidak pernah aku melihat kesusahan.”    (Hadīts riwayat Muslim)

Dan di antara kesempurnaan kenikmatan surga, bahwa apa yang kita inginkan akan diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَّهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خَـٰلِدِينَ‌ۚ

“Bagi merekalah apa yang mereka inginkan, di dalam surga mereka kekal di dalamnya.”

(QS Al-Furqan : 16)

Oleh karena itu, di antara nama-nama surga adalah Jannatun Na’im (Jannah yang penuh dengan kenikmatan) ⇒ Lihat Surat Luqmān:8

                Dan di antara nama-nama surga adalah Darussalam (Negeri yang selamat) Maksudnya selamat dari semua kekurangan dan kejelekan (Lihat Surat Al-An’am:127)

                Dan di antara nama surga adalah Maqam Amiin (Tempat tinggal yang aman) Yaitu aman dari segala musibah dan kejelekan (Lihat Surat Ad-Dukhan:51)

Dan di antara nama-nama surga adalah Daarul Muqamah (Negeri yang terus menerus ditempati) (Lihat Surat Faathir :35)

                Demikianlah kesempurnaan kenikmatan di dalam surga, negeri yang penuh dengan kenikmatan, selamat dari semua kekurangan, aman dari segala musibah dan kekal selama-lamanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 67 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-67 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatan nya Bagian Kedua”

Luas surga adalah seluas langit dan bumi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ

“Dan hendaklah kalian berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian. Dan berlomba untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

(QS Āli-‘Imrān : 133)

⇒Para penduduk surga akan mendapatkan rumah-rumah yang mewah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَـٰكِنِ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّہُمۡ لَهُمۡ غُرَفٌ۬ مِّن فَوۡقِهَا غُرَفٌ۬ مَّبۡنِيَّةٌ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡہَـٰرُ‌ۖ

“Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Allāh, bagi mereka kamar-kamar di dalam surga, yang di atasnya ada kamar-kamar yang dibangun”.

(QS Az-Zumar : 20)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan tentang bangunan dan tanah di surga.

Ketika beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh para shahābat tentang bangunan surga, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkata:

“Batu bata dari perak dan batu bata dari emas, lumpurnya berbau wangi kasturi yang sangat harum. Kerikilnya mutiara dan batu mulia. Tanahnya elok seperti warna za’faran”.

(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi)

Di dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan, “bahwasanya orang yang shalāt 12 raka’at setiap hari, maka akan dibangunkan rumah di surga”. (Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Maksud dari 12 raka’at adalah shalāt rawatib yang terdiri dari:

√ 4 raka’at sebelum Dhuhur,

√ 2 raka’at setelah Dhuhur,

√ 2 raka’at setelah Maghrib,

√ 2 raka’at setelah Isya’ dan

√ 2 raka’at sebelum Shubuh.

⇒Di dalam surga juga ada kemah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemah didalam surga terbuat dari mutiara-mutiara yang berongga di dalamnya, tinggi kemah tersebut 30 mil ke atas”

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan dalam Surat Al-Baqarah : 25 dan juga ayat-ayat yang lain bahwasanya surga di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan dalam ayat yang lain bahwa di dalam surga,

√ Ada sungai dari air yang tidak akan payau,

√ Ada sungai-sungai dari susu yang tidak akan berubah rasanya,

√ Ada sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya.

√ Ada sungai-sungai dari madu yang tersaring lagi bersih (Lihat Surat Muhammad:15)

Dan di antara sungai-sungai yang ada adalah Al-Kautsar, sungai yang Allāh berikan untuk Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ

“Sungguh Aku telah memberimu wahai Muhammad, Al-Kautsar”

(QS Al-Kautsar : 1)

⇒Di dalam surga juga ada mata air-mata air yang mengalir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam kebun-kebun dan mata air-mata air yang mengalir.”

(QS Adz-Dzariyat : 15)

⇒Dan di antara nama mata air surga adalah salsabil (Lihat Al-Insan : 18).

⇒Di dalam surga juga ada pohon-pohon.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan di dalam sebuah hadīts:

“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan menuruti bayangannya, yaitu bayangan pohon tersebut, niscaya 100 tahun dia tidak akan selesai”.

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Dan di antara pohon surga adalah Sidratul Muntaha yang Allāh sebutkan dalam Surat An-Najm : 14.

Adapun bau wanginya maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan di dalam sebuah hadits yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ

“Sungguh bau wangi surga tercium dari jarak perjalanan 70 tahun.”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 68 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Ketiga”

Di antara makanan penduduk surga adalah daging burung dan buah-buahan.

Mereka akan meminum arak di dalam surga yang tidak memabukkan dan tidak membuat pening kepala.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَطُوفُ عَلَيۡہِمۡ وِلۡدَٲنٌ۬ مُّخَلَّدُونَ (١٧) بِأَكۡوَابٍ۬ وَأَبَارِيقَ وَكَأۡسٍ۬ مِّن مَّعِينٍ۬ (١٨) لَّا يُصَدَّعُونَ عَنۡہَا وَلَا يُنزِفُونَ (١٩) وَفَـٰكِهَةٍ۬ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ (٢٠) وَلَحۡمِ طَيۡرٍ۬ مِّمَّا يَشۡتَہُونَ (٢١) وَ

“Mereka akan dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan seloki atau piala yang berisi arak yang diambil dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.

(QS Al-Wāqi’ah:17-21)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Di dalam surga ada burung yang lehernya seperti leher unta, Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

Yang memakannya lebih baik dari padanya”

(Hadīts hasan riwayat Tirmidzi)

Makanan pertama penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus (Hadīts riwayat Bukhāri ).

⇒Maksudnya adalah sepotong daging yang menggantung pada hati ikan paus dan dia adalah bagian yang paling lezat dari hati ikan paus.

Di dalam hadīts Tsauban Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh seorang ulamā Yahūdi, Apa yang mereka makan setelah itu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Akan disembelih bagi mereka sapi jantan dari surga yang akan dimakan oleh semua penduduk surga”

Ulamā Yahūdi tersebut berkata,

Apa yang mereka minum setelahnya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Mereka akan minum dari mata air di dalam surga yang dinamakan salsabil”

Para penduduk surga makan bukan karena lapar, dan minum bukan karena haus. Dan mereka tidak mengeluarkan kotoran.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum, dan tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak membuang ingus.

Mereka bertanya, Lalu ke mana makanannya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Menjadi sendawa dan keringat, seperti keringat minyak kasturi”

(Hadīts riwayat Muslim)

⇒Bejana-bejana mereka seperti piring, cangkir, gelas dan teko terbuat dari emas dan perak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua surga terbuat dari perak, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya. Dan Dua surga terbuat dari emas, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒Pakaian penduduk surga terbuat dari sutra, memakai perhiasan dari emas, perak dan mutiara.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ۬ وَلُؤۡلُؤً۬ا‌ۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٌ۬

“Mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan perhiasan mutiara, dan pakaian mereka dari sutra”

(QS Al-Hajj : 23)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

عَـٰلِيَہُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٌ۬ وَإِسۡتَبۡرَقٌ۬‌ۖ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ۬ وَسَقَٮٰهُمۡ رَبُّہُمۡ شَرَابً۬ا طَهُورًا

“Mereka akan memakai pakaian dalam dari sutra halus yang berwarna hijau dan memakai pakaian luar dari sutra tebal dan dihiasi dengan gelang dari perak dan Rabb mereka memberi minum kepada mereka dengan air yang sangat bersih.

(QS Al-Insān : 21)

Mereka akan bersandar di atas permadani yang dalamnya terbuat dari sutra tebal

(Lihat Ar-Rahman:54)

Dan akan bersandar di atas sofa yang tersusun (Lihat At-Thur:20)

Para penduduk surga akan saling bertemu dan bertegur sapa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَقۡبَلَ بَعۡضُہُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ يَتَسَآءَلُونَ (٢٥) قَالُوٓاْ إِنَّا ڪُنَّا قَبۡلُ فِىٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ (٢٦) فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَوَقَٮٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ (٢٧) إِنَّا ڪُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُ‌ۖ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ (٢٨)

“Dan mereka akan saling berhadapan dan saling bertanya. Mereka berkata,

Sesungguhnya kita dahulu di dunia sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kita merasa takut dengan adzab. Maka Allāh memberikan karunia kepada kita. Dan memelihara kita dari adzab neraka. Sesungguhnya kita dahulu menyembahnya sejak dahulu dan Dia-lah yang Maha Melimpahkan Kebaikan dan Maha Penyayang.

(QS At-Thur :25-28)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 69 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 4

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-69 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Keempat”

Para penduduk surga akan masuk ke dalam surga seperti manusia yang berumur 33 tahun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ

“Penduduk surga akan masuk ke dalam surga dalam keadaan kulit tidak berambut, tidak berjenggot, bercelak matanya seperti manusia yang berumur tiga puluh atau tiga puluh tiga tahun”

(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

⇒Tiga puluh atau tiga puluh tiga adalah keraguan dari rawi.

Dan di dalam hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya:

“Mereka akan masuk surga dalam keadaan kulit berwarna putih, berumur tiga puluh tiga tahun dengan tinggi enam puluh hasta”

⇒Satu hasta adalah dari satu siku ke ujung jari.

Allāh akan menikahkan para laki-laki penduduk surga dengan

bidadari yang sempurna kecantikannya.

Allāh berfirman:

وَزَوَّجۡنَـٰهُم بِحُورٍ عِينٍ۬

“Dan Kami akan menikahkan mereka dengan bidadari-bidadari”

(QS Ath-Thūr : 20)

Dan yang dimaksud dengan Khūr adalah ‘wanita-wanita yang putih matanya sangat putih, Dan bagian hitam matanya sangat hitam’.

Dan ‘Iin adalah ‘wanita-wanita yang lebar matanya’.

Allāh menyebutkan bahwasanya bidadari-bidadari tersebut besar payudaranya dan sebaya umurnya (QS An-Naba’:33)

                Mereka diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla secara langsung dalam keadaan perawan dan penuh rasa cinta kepada suaminya ⇛(QS Al-Waqi’ah:35-37)

                Sangat cantik seperti mutiara yang tersimpan, yang tidak berubah warnanya ⇛(QS Al-Wāqi’ah : 23)

                Dan ada yang seperti batu mulia dan mereka menjaga pandangan mereka hanya untuk suaminya⇛ (QS Ar-Rahman:56-58)

Para bidadari tersebut tidak pernah haid dan mereka bersih dari segala kotoran⇛(QS Al-Baqarah : 25)

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasanya seandainya salah seorang bidadari muncul dan melihat ke bumi, niscaya dia akan menyinari apa yang ada di antara surga dan bumi.

Dan niscaya akan memenuhi antara surga dan bumi dengan bau wangi.

Dan sungguh khimar atau kerudung seorang bidadari lebih baik dari pada dunia dan seisinya (Hadīts Riwayat Bukhāri)

                Para bidadari tersebut akan cemburu bila suaminya yang sedang di dunia disakiti oleh istrinya di dunia, sebagaimana tersebut dalam hadīts yang shahīh riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

Lelaki penduduk surga akan diberi kekuatan seratus kali lipat dalam makan, minum, syahwat dan mendatangi istrinya.

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani didalam Al-Mu’jamul Kabiir).

Istri di dunia akan menjadi istri di akhirat apabila istri tersebut berimān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

جَنَّـٰتُ عَدۡنٍ۬ يَدۡخُلُونَہَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآٮِٕہِمۡ وَأَزۡوَٲجِهِمۡ وَذُرِّيَّـٰتِہِمۡ‌ۖ

“Surga-surga yang mereka akan masuk ke dalamnya dan juga orang-orang yang shālih dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka”.

(QS Ar-Ra’ad: 23)

Para penduduk surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang Allāh ciptakan di dalam surga, mereka akan sangat indah dipandang dan banyak seperti mutiara-mutiara yang bertebaran ⇛(Lihat QS Al-Wāqi’ah:17 dan QS Al-Insān:19)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 70 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 5

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-70 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Kelima”

Sebagian besar penduduk surga adalah orang-orang lemah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ

“Maka sebagian besar orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama penduduk surga, di antaranya; Abū Bakr, Umar, Utsman, ‘Āli Radhiyallāhu ‘anhum

Sebagaimana di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Kenikmatan paling besar bagi penduduk surga di atas segala kenikmatan surga yang mereka rasakan adalah memandang wajah Allāh yang mulia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila penduduk surga masuk ke dalam surga maka Allāh Tābaraka wa Ta’āla akan berkata:

“Apakah kalian menginginkan aku tambah kenikmatan kepada kalian?”

Mereka berkata:

“Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga? Dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Allāh pun menyingkap hijab, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Rabb mereka ‘Azza wa jalla”

(Hadīts riwayat Muslim)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik adalah surga dan tambahan”

(QS Yūnus : 26)

⇒Tambahan didalam ayat di atas adalah memandang wajah Allāh.

Sebagaimana datang tafsirnya dari para shahābat seperti Abū Bakr, Abū Mūsā Al-Asy’ari dan Hudzaifah Radhiyallāhu ‘anhum.

                Para penduduk surga akan sangat berbahagia dan wajah mereka berseri-seri ketika melihat Allāh ‘Azza wa jalla, Dzat yang selama di dunia mereka imani dan mereka sembah, padahal mereka tidak pernah melihat-Nya.

                Mereka taati perintah-Nya, mereka jauhi larangan-Nya, mereka benarkan kabar-kabar-Nya, bersabar atas ujian-Nya, mereka baca dan dengarkan firman-Nya, mereka ikuti Nabi-Nya, menyeru kepada jalan-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya, Meskipun dengan segala kekurangan yang mereka miliki.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وُجُوهٌ۬ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ نَّاضِرَةٌ (٢٢) إِلَىٰ رَبِّہَا نَاظِرَةٌ۬ (٢٣)

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Rabb mereka”

(QS Al-Qiyāma :22-23)

Saudaraku, jalan ke surga adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Tidak sampai ke sana kecuali orang yang bersabar.

Ada perintah yang harus dikerjakan, ada larangan yang harus dijauhi, dan ada ujian yang harus kita sabar menghadapinya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi perkara-perkara yang dibenci dan neraka dikelilingi perkara-perkara yang menyenangkan”

(Hadīts riwayat Muslim).

Kesenangan dunia adalah kesenangan yang sedikit, Sebentar dan banyak kekurangan.

Sedangkan kesenangan akhirat adalah kesenangan yang sangat banyak, kekal selamanya dan tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (١٦) وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰٓ (١٧)

“Akan tetapi kalian mendahulukan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”

(QS Al-A’lā : 16-17)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Ketahuilah, bahwasanya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, saling memperbanyak harta dan juga anak-anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian melihat warnanya menjadi kuning kemudian hancur. Dan di akhirat ada adzab yang keras dan ampunan dari Allāh serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

(QS Al-Hadīd : 20)

Untuk mendapatkan surga bukan berarti seseorang harus meninggalkan seluruh kesenangan dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan dunia dan kenikmatannya supaya kita manfaatkan dengan baik untuk mencari ridha Allāh dan surga-Nya.

Orang yang tercela adalah orang yang menjadikan kebahagiaan di dunia sebagai tujuan dan melupakan kebahagiaan akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 71 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-71 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Naar (Neraka) Dan Adzabnya Bagian pertama”

An-Nār secara bahasa adalah api, Secara syariat, An-nār adalah negeri di akhirat yang penuh dengan adzab, yang Allāh sediakan bagi orang-orang kāfir.

Adzab yang sangat pedih dan menghinakan.

Bagaimanapun pedihnya manusia menyiksa manusia yang lain di dunia, maka adzab Allāh di neraka lebih pedih.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَيَوۡمَٮِٕذٍ۬ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ ۥۤ أَحَدٌ۬

“Maka pada hari itu, tidak ada yang mengadzab seperti adzab Allāh”

(QS Al-Fajr : 25)

Orang yang masuk ke dalam neraka akan lupa dengan segala kenikmatan dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan didatangkan seorang penghuni neraka yang paling banyak mendapat kenikmatan di dunia pada hari kiamat.

Kemudian dicelupkan sekali celupan di dalam neraka, Kemudian ditanya, “Wahai anak Ādam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Apakah engkau pernah mendapatkan kenikmatan?

Dia menjawab, “Tidak demi Allāh wahai Rabb-ku”.”

(Hadīts riwayat Muslim)

Karena sangat pedihnya, mereka akan menebus adzab di neraka dengan orang-orang yang sangat mereka cintai di dunia dan seluruh manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ۚ يَوَدُّ ٱلۡمُجۡرِمُ لَوۡ يَفۡتَدِى مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِٮِٕذِۭ بِبَنِيهِ (١١)وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَأَخِيهِ (١٢) وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـٔۡوِيهِ (١٣) وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّ يُنجِيهِ

“Orang kāfir berangan-angan seandainya bisa menebus adzab saat itu dengan anak-anak laki-lakinya, istrinya dan saudara laki-lakinya dan keluarganya yang menaunginya. Dan semua yang ada di permukaan bumi, kemudian tebusan itu bisa menyelamatkan dia”

(QS Al-Ma’ārij : 11-14)

Di dunia seseorang rela berkorban demi keselamatan orang-orang yang dia cintai.

Namun di neraka justru dia akan mengorbankan orang-orang yang dia cintai demi keselamatan dirinya.

Di antara nama-nama neraka adalah Hāwiyyah yang artinya jurang yang dalam (Al-Qāri’ah : 9)

Di antara namanya adalah Al-Khutamah yang artinya yang menghancurkan apa yang ada di dalamnya (Al-Humazah : 4)

Dan di antara namanya adalah Jahīm yaitu api yang menyala-nyala (Al-Infithār :14)

Dan di antara namanya adalah Saqar yang artinya yang menghanguskan (Al-Mudatsir: 26)

Penjaga neraka adalah 19 malāikat yang keras dan kejam, yang mereka menyiksa sesuai dengan perintah Allāh (At-Tahrim: 6 dan Al-Mudatsir:30).

Penduduk neraka sangat banyak jumlahnya.

Setiap 1000 orang, satu orang akan masuk surga, 999 orang akan masuk kedalam neraka.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Imām Al-Bukhāri , Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada Nabi Ādam:

“Keluarkanlah dari setiap seribu, 999 orang”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda di dalam hadīts ini, “Bergembiralah kalian, sesungguhnya dari kalian 1 orang dan dari Ya’juj dan Ma’juj 1000 orang”

Orang-orang kāfir yang jumlahnya sangat banyak tersebut badannya akan dibuat besar.

Satu gigi geraham akan sebesar gunung Uhud. Dan jarak antara dua ujung pundak salah seorang di antara mereka sejauh tiga hari perjalanan bagi pengendara cepat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Antara dua ujung pundak orang kāfir di dalam neraka perjalanan orang yang naik kendaraan dengan cepat selama tiga hari”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim).

Dan (beliau) Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

“Sesungguhnya tebal kulit orang kafir 42 hasta dan satu gigi geraham dia seperti gunung Uhud, Dan sesungguhnya tempat duduk dia di jahannam seperti antara Mekkah dan Madināh”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

⇒Empat puluh dua hasta kurang lebih 19 meter.

⇒Tinggi gunung uhud kurang lebih 128 meter.

⇒Dan jarak Mekkah dan Madināh kurang lebih 450 km.

Jumlah penghuni neraka yang

sangat banyak dengan ukuran tubuh masing-masing yang sangat besar, menunjukkan tentang sangat besarnya neraka.

Meskipun demikian masih ada tempat yang tersisa di dalam neraka.

Dan neraka masih akan terus bertanya,

Apakah masih ada tambahan?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٍ۬

“Pada hari di mana Kami berkata kepada jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dan jahannam berkata, Apakah masih ada tambahan?”

(QS Qāf :30)

Di dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Senantiasa jahannam berkata,

“Apakah masih ada tambahan?”

Sampai Rabbul ‘izzah (Allāh) meletakkan telapak kakinya di neraka, kemudian barulah neraka berkata, “Cukup, cukup, demi keperkasaan-Mu”

Maka neraka-pun saling melipat sebagian ke sebagian yang lain.

(Hadīts riwayat Bukhāri )

Di antara yang menunjukkan besarnya neraka suatu hari para sahabat Radhiyallāhu ‘anhum sedang bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tiba-tiba mereka mendengar suara sesuatu yang jatuh.

Maka Nabi bertanya:

“Tahukah kalian apa ini?”

Mereka menjawab:

“Allāh dan Rasul-Nya lebih tahu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Ini adalah batu yang telah dilempar ke dalam neraka semenjak 70 tahun yang lalu. Maka dia jatuh melesat ke dalam neraka sehingga sekarang sampai di dasarnya”

(Hadīts riwayat Muslim)

Dan di antara yang menunjukkan besarnya neraka, bahwa 4,9 miliar malāikat akan menyeret neraka jahannam pada hari kiamat, sebagaimana telah berlalu hadītsnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 72 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Nār (Neraka) Dan Adzabnya Bagian kedua”

Neraka akan dinyalakan dihari kiamat dan apabila sudah dinyalakan dia tidak akan padam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ

“Dan apabila neraka dinyalakan”

(QS At-Takwīrr : 12)

Dan Allāh berfirman,

ڪُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَـٰهُمۡ سَعِيرً۬ا

“Setiap kali neraka akan padam, maka Kami akan menambah nyala apinya”.

(QS Al-Isrā’ :97)

⇒Neraka bisa melihat, mendengar dan berbicara.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Akan keluar potongan dari neraka yang berbentuk leher pada hari kiamat, Dia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar dan lisan yang berbicara.

Dia berkata: “Aku diberi tugas untuk mengadzab tiga golongan”

⇒Setiap orang yang sombong dan keras kepala (maksudnya dalam menentang kebenaran)

⇒Orang yang berdo’a kepada selain Allāh bersama Allāh

⇒Dan orang-orang yang menggambar (Yaitu menggambar mahluk hidup yang bernyawa)

(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi).

⇒Pintu-pintu neraka ada tujuh

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٲبٍ۬ لِّكُلِّ بَابٍ۬ مِّنۡہُمۡ جُزۡءٌ۬ مَّقۡسُومٌ

“Neraka memiliki tujuh pintu. Setiap pintu ada bagiannya”

(QS Al-Hijr : 44)

⇒Maksudnya, akan dimasuki penghuni neraka sesuai dengan amalannya.

Pintu-pintu tersebut akan dibuka langsung ketika penduduk neraka sampai di depan pintu neraka tanpa adanya syafa’at (Lihat Az-Zummar : 71).

Di bulan Ramadhān, tujuh pintu ini akan ditutup (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Setelah masuk orang-orang kāfir ke dalam neraka, maka pintu-pintu tersebut tidak akan dibuka untuk mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

عَلَيۡہِمۡ نَارٌ۬ مُّؤۡصَدَةُۢ

“Bagi mereka neraka yang tertutup”.

(QS Al-Balad : 20)

Neraka memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan kedahsyatan adzabnya.

⇒Orang-orang munāfiq berada di tingkat paling bawah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munāfiq berada di tingkat paling bawah dari neraka”

(QS An-Nisā :145)

Dan orang yang paling ringan adzabnya adalah yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan adzabnya adalah orang yang memakai dua sandal dan dua tali sandal dari api, Akan mendidih otaknya oleh sebab keduanya. Seperti mendidihnya periuk, Dia tidak melihat ada orang yang lebih keras adzabnya dari pada dia, Padahal sesungguhnya dialah orang yang paling ringan adzabnya”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Bahan bakar neraka adalah orang-orang kāfir, batu dan segala sesuatu yang disembah selain Allāh dan dia ridhā.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ

“Maka hendaklah kalian takut dengan neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kāfir ”

(QS Al-Baqarah : 24)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّڪُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٲرِدُونَ

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allāh adalah bahan bakar jahannam. Kalian akan memasukinya”

(QS Al-Anbiyā : 98)

⇒Api neraka adalah api yang sangat panas.

Dan telah berlalu bahwasanya api di dunia adalah satu dari tujuh puluh bagian api neraka.

Tidak ada kesejukan sama sekali di dalam neraka. Benda-benda sekitar yang diharapkan memiliki kesejukan, ternyata merupakan adzab tersendiri bagi penghuninya.

Angin yang sangat panas, air yang mendidih dan teduhan atau naungan dari asap yang hitam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَصۡحَـٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلشِّمَالِ (٤١) فِى سَمُومٍ۬ وَحَمِيمٍ۬ (٤٢) وَظِلٍّ۬ مِّن يَحۡمُومٍ۬ (٤٣) لَّا بَارِدٍ۬ وَلَا كَرِيمٍ (٤٤) إِ

“Dan golongan kiri, betapa sengsaranya golongan kiri, Di dalam siksaan angin yang sangat panas, air yang mendidih dan teduhan asap yang hitam, Teduhan yang tidak dingin dan tidak menyenangkan untuk dipandang”

(QS Al-Wāqi’ah :41-44)

Dan Allāh berfirman yang artinya,

“Pergilah kalian kepada teduhan yang memiliki tiga cabang, Yang tidak menaungi dan tidak melindungi dari api neraka, Sungguh neraka akan melemparkan percikan api sebesar istana (Maksudnya tinggi dan besar) Percikan api tersebut seperti unta-unta hitam yang condong ke warna kuning”.

(QS Al-Mursalāt :30-33)

Penghuni neraka adalah orang-orang kafir yang terdiri dari orang-orang musyrik, ahlul kitāb (Yahūdi dan Nashrāni) dan orang-orang munāfiq.

Allāh berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ‌ۚ

“Sesungguhnya orang-orang kāfir dari ahlul kitāb dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka jahannam, kekal di dalamnya”.

(QS Al-Bayyinah : 6)

Dan Allāh berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ وَٱلۡكَـٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Sesungguhnya Allāh akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kāfir di dalam jahannam semuanya”.

(QS An-Nisā :140)

Di antara penghuni neraka adalah Fir’aun yang ada di zaman Nabi Musa (Lihat Surat Hūd : 98)

Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth (At-Tahrim : 10)

Serta Abū Lahab dan istrinya (Lihat Surat Al-Massad :1-5)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 73 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-73 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Nār (Neraka) Dan Adzabnya Bagian ketiga”

Di antara makanan penduduk neraka adalah dzarī’.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ۬ (٦) لَّا يُسۡمِنُ وَلَا يُغۡنِى مِن جُوعٍ۬ (٧)

 “Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dzarī’ yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar”.

(QS Al-Ghāsiyah : 6-7)

Ada yang mengatakan dzarī’ adalah nama tumbuhan berduri.

Dan di antara makanan mereka adalah buah dari pohon zaqqūm.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ (٤٣) طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ (٤٤) كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِى فِى ٱلۡبُطُونِ (٤٥) كَغَلۡىِ ٱلۡحَمِيمِ (٤٦)

“Sesungguhnya pohon zaqqūm adalah makanan orang yang sangat berdosa. Dia seperti cairan logam yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas”

(QS Ad-Dukhān : 43-46)

Dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan bahwasanya zaqqūm adalah pohon yang keluar dari dasar neraka.

Mayangnya seperti kepala-kepala syaithān dan para penghuni neraka akan memakannya dan memenuhi perutnya dengan buah tersebut (Lihat As-Sāffāt: 62-66)

                Allāh juga menyebutkan bahwasanya setelah penuh perut mereka dengan buah zaqqūm,

maka mereka akan meminum dari air yang mendidih seperti unta yang sangat kehausan (Lihat Al-Wāqi’ah : 51- 55)

Di dalam surat Al-Kahfi : 29, disebutkan bahwasanya setiap kali mereka meminta air minum, maka mereka akan diberi air minum seperti cairan logam yang mendidih yang akan menghanguskan wajah-wajah mereka, (Maksudnya) ketika air tersebut mendekat ke mulut mereka.

Dan ketika meminumnya, maka air panas tersebut akan memotong-motong usus mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمً۬ا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ

“Dan mereka akan diberi air minum yang sangat panas, maka air panas tersebut akan memotong-motong usus-usus mereka”

(QS Muhammad : 15)

Dan di antara makanan penghuni neraka adalah ghislīn, yaitu nanah penduduk neraka yang sangat busuk baunya dan sangat tidak enak rasanya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَـٰهُنَا حَمِيمٌ۬ (٣٥) وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٍ۬ (٣٦) لَّا يَأۡكُلُهُ ۥۤ إِلَّا ٱلۡخَـٰطِـُٔونَ (٣٧)

“Maka tidak ada baginya pada hari ini teman dekat di sini. Dan tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari ghislin. Tidak memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”

(QS Al-Hāqqah : 35-37)

⇒Pakaian mereka dari api dan tembaga panas.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٌ۬ مِّن نَّارٍ۬

“Maka orang-orang kāfir akan dipotongkan bagi mereka pakaian-pakaian dari api”

(QS Al-Hajj :19)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٍ۬ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ

“Pakaian mereka dari tembaga panas dan api akan menutupi wajah-wajah mereka”

(QS Ibrāhīm: 50)

⇒Kulit penghuni neraka yang begitu tebal akan matang.

Namun setiap matang Allāh akan mengembalikan seperti semula, supaya dia merasakan adzab kembali (Lihat Surat An-Nisā :56)

Isi perut mereka akan meleleh dan kulit mereka akan hancur setelah disiram dengan air panas.

Dan mereka akan dipukul dengan palu-palu dari besi setiap kali mereka berusaha untuk keluar dari siksa (Lihat Surat Al-Hajj :19-22)

Di dalam neraka mereka akan diseret di atas wajah-wajah mereka.

Allāh berfirman,

يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِى ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ

“Pada hari di mana mereka akan diseret di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka”

(QS Al-Qamar :48)

Wajah mereka akan menjadi hitam (Lihat Surat Āli-Imrān : 106)

Leher mereka akan dibelenggu dan kaki mereka akan dirantai kemudian diseret di dalam air yang mendidih dan dibakar dengan api (Lihat Surat Ghāfir : 71-72)

Demikianlah pedihnya adzab bagi penghuni neraka.

Mereka berteriak meminta kepada Allāh supaya dikeluarkan dari neraka dan beramal shalih.

Allāh berfirman:

وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيہَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِى ڪُنَّا نَعۡمَلُۚ

“Dan mereka berteriak dari dalam neraka, Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami maka kami akan beramal shalih, amalan yang lain dari apa yang sudah kami amalkan”

(QS Fāthir : 37)

Namun permintaan mereka tidak berarti. Mereka juga meminta kepada para penjaga neraka supaya mereka berdo’a kepada Allāh agar meringankan adzab bagi mereka, meskipun hanya satu hari, supaya mereka bisa istirahat (Lihat Surat Ghāfir : 49)

                Namun permintaan mereka tidak membawa hasil. Mereka juga berkata kepada malāikat Mālik, malāikat penjaga neraka, supaya Allāh mematikan mereka saja.

Allāh berfirman:

وَنَادَوۡاْ يَـٰمَـٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَ‌ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّـٰكِثُونَ

Dan mereka memanggil, Wahai Mālik hendaklah Rabb-mu mematikan kami. Malik berkata, “Sesungguhnya kalian akan terus tinggal di neraka”

(QS Az-Zukhruf : 77)

Mereka tidak akan keluar dari neraka, tidak akan diringankan adzabnya dan tidak akan dimatikan.

Balasan bagi orang-orang yang kāfir kepada Allāh Rabbul’alāmin.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 74 PERCAKAPAN PENGHUNI SURGA DAN PENGHUNI NERAKA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-74 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Percakapan Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka”

Akan terjadi percakapan antara penghuni surga, penghuni neraka dan Ashabul A’rāf, mereka adalah orang-orang yang berada di sebuah tempat yang tinggi antara surga dan neraka.

                Yang Dinamakan dengan Al A’rāf dan mereka adalah orang-orang yang timbangan kebaikan dan kejelekannya sama.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya,

                Dan para penghuni surga memanggil para penghuni neraka dengan mengatakan Sesungguhnya kami telah memperoleh apa yang Rabb kami janjikan kepada kami dengan hak, apakah kalian telah memperoleh apa yang Rabb kalian janjikan kepada kalian dengan hak? “Maka para penghuni neraka menjawab” betul.

Kemudian seorang penyeru, menyeru diantara kedua golongan itu seraya mengatakan laknat Allāh atas orang-orang yang zhalim (orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allāh dan menginginkan agar jalan tersebut menjadi bengkok dan mereka mengingkari kehidupan akhirat)

                Dan diantara keduanya (antara penghuni surga dan penghuni neraka) ada batas dan diatas Al A’rāf, ada orang-orang yang mereka mengenal masing-masing dari dua golongan tersebut dengan tanda-tanda mereka (maksudnya) mengenal penghuni surga dan penghuni neraka dengan tanda -tanda mereka.

                Dan para Ashabul A’rāf menyeru penghuni surga seraya mengatakan salamun ‘alaikum (keselamatan atas kalian) mereka belum memasuki surga sedang mereka ingin segera memasukinya.

Dan apa bila pandangan mereka dipalingkan kearah penghuni neraka mereka berkata, “Yaa Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama-sama dengan orang-orang yang zhalim”.

Kemudian Ashabul A’rāf memanggil beberapa pemuka orang kafir yang mereka kenal dengan tanda-tanda mereka, seraya mengatakan harta yang kalian kumpulkan dan apa yang kalian sombongkan tidaklah bermanfaat bagi kalian.

Apakah mereka ini (para penghuni surga) adalah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwasanya mereka tidak akan mendapat rahmat Allāh? Maka dikatakan kepada ashabul A’rāf masuklah kalian kedalam surga tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih.

                Kemudian penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami air atau makanan yang telah Allāh berikan kepada kalian ” Para penghuni surga menjawab,” Sesungguhnya Allāh telah mengharamkan keduanya atas orang-orang kafir (orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan sebagai senda gurau dan kehidupan dunia telah menipu mereka).

Maka pada hari ini kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu telah melupakan pertemuan mereka dengan hari ini.

Mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.”

(QS Al A’rāf: 44 – 51)

Dan akan didatangkan al maut (kematian).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Akan didatangkan kematian (al maut) dalam bentuk domba jantan yang amlah (maksudnya) yang berwarna putih dan hitam, dan warna putihnya lebih banyak.

                Maka menyerulah penyeru, “Wahai para penghuni surga, para penghuni surgapun menjulurkan leher-leher mereka dan melihat, kemudian penyeru tersebut berkata, “apakah kalian mengenal ini?” Mereka berkata iyaa, ini adalah kematian dan mereka semua nya sebelumnya sudah pernah melihat kematian.

Kemudian penyeru berkata, ” Wahai penghuni neraka, maka para penghuni neraka menjulurkan leher-leher mereka dan melihat kemudian penyeru berkata, apakah kalian mengenal ini?” Mereka menjawab iyaa , ini adalah kematian dan mereka semua sebelumnya sudah pernah melihat kematian tersebut.

                Maka disembelihlah kematian, berkatalah penyeru tersebut, “Wahai penghuni surga kekekalan dan tidak ada kematian dan wahai penghuni neraka kekekalan dan tidak ada kematian”.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Para penghuni surga akan bergembira karena merekaakan kekal didalam kenikmatan dan tidak akan meninggal dunia .

                Adapun para penghuni neraka maka mereka akan bersedih karena mereka akan kekal didalam adzab dan tidak akan meninggal dunia.

Ketika penghuni surga telah masuk kedalam surga dan penghuni neraka telah masuk kedalam neraka, maka syaithān yang telah menyesatkan para penghuni neraka akan berlepas diri dari mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

Dan berkatalah syaithān tatkala perkara telah diselesaikan, sesungguhnya Allāh telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar dan aku telah menjanjikan kepada kalian akan tetapi aku menyalahinya.

Sekali-kali aku tidak memiliki kekuasaan atas kalian,melainkan sekedar aku mengajak kalian lalu kalian mematuhi seruan ku.

Oleh sebab itu, janganlah kalian mencelaku akan tetapi cela lah diri kalian sendiri.

Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku.

Sesungguhnya aku mengingkari perbuatan kalian,ketika sebelumnya kalian mempersekutukan aku dengan Allāh.

Sesungguhnya orang-orang yang zhalim akan mendapatkan siksaan yang pedih.

(QS Ibrāhīm : 22)

Demikianlah akhir yang buruk bagi syaithān dan para pengikut mereka mereka akan kekal didalam neraka selama-lamanya.

Dan demikian lah akhir yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, mereka akan kekal selama-lamanya didalam surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 75 MANFAAT MEMPELAJARI IMAN KEPADA HARI AKHIR

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-75 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Percakapan Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka” Manfaat Mempelajari Imān Kepada Hari Akhir ”

Berimān kepada hari akhir memiliki manfaat yang banyak dan pengaruh yang baik bagi seorang muslim.

Diantaranya,

⑴ Mengingatkan seorang Muslim bahwa dunia hanyalah sebentar,dan bahwasanya hari kiamat dan hisāb mereka sudah dekat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat bagi manusia hisāb mereka sedang mereka dalam kelalaian berpaling”

(QS Al Anbiyā : 1)

⑵ Mengingatkan seorang muslim supaya tidak tertipu dengan kenikmatan dunia.

Dan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepada orang-orang kāfir didunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu tertipu dengan kegiatan orang-orang kāfir dinegeri-negeri. Kesenangan yang sedikit kemudian tempat kembali mereka adalah jahannam, dan jahannam adalah sejelek-jelek alas”

(QS Āl Imrān:196-197)

⑶ Mengingatkan seorang muslim bahwa kesuksesan yang sebenarnya adalah kesuksesan di akhirat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga maka sungguh dia telah beruntung dan tidaklah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu”

(QS Āl Imrān:185)

⑷ Mengingatkan seorang muslim bahwa kehinaan dan kerugian yang sebenarnya adalah apabila seseorang masuk kedalam neraka.

Allāh berfirman menceritakan ucapan orang-orang yang berimān:

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Wahai Rabb kami Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukan kedalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zhālim”

(QS Āl Imrān:192)

⑸ Menguatkan kesabaran seorang muslim didalam menghadapi musibah-musibah dunia yang menimpanya.

Dia menyadari bahwasanya dirinya dan apa yang dia miliki adalah milik Allāh,dan akan kembali kepada Allāh.

⑹ Berimān kepada hari akhir mendidik seorang muslim supaya senantiasa ikhlās dalam beramal karena dia menyadari bahwasanya amalan yang ikhlās lah yang dapat bermanfaat dihari kiamat.

⑺ Mengingatkan seorang muslim tentang pentingnya bersegera dalam bertaubat dan beristighfār dari dosa.

Karena dosa adalah sebab bencana di akhirat.

⑻ Mengingatkan seorang muslim untuk senantiasa bersabar diatas ketaatan kepada Allāh dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

Dan semua itu jauh lebih ringan daripada adzab di akhirat.

⑼ Mengingatkan seorang muslim akan besarnya nikmat islām dan imān yang Allāh berikan kepadanya

Karena dengan sebab itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan kebahagiaan kepadanya didunia dan di akhirat.

⑽ Mengingatkan seorang muslim akan bahaya nya kekāfiran, kesyirikan, dan kemunāfiqkan.

Dimana ketiganya adalah penyebab kekekalan didalam neraka

⑾ Mendorong seorang muslim untuk semanggat berdakwah dijalan Allāh, mengajak saudara seislām untuk berpegang teguh dengan agamanya dan mengajak orang kāfir untuk masuk islām, supaya terhindar dari adzab yang kekal.

⑿ Menginggatkan kita tentang pentingnya berdo’a kepada Allāh, meminta kebahagiaan akhirat.

Diantara do’a didalam Al Qurān adalah:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami,berikanlah kepada kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari adzab neraka”

(QS Al Baqarah : 201)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berdo’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَل

“Yā Allāh aku meminta kepadamu surga dan apa mendekatkan kepada surga, baik ucapan ataupun perbuatan,dan aku berlindung kepadamu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepada neraka, baik ucapan ataupun perbuatan”

(Hadīts Shahīh riwayat Ibnu Mājah)

Akhirnya kita berdo’a kepada Allāh, Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menetapkan hati kita diatas agamanya, mengumpulkan kita semua didalam surga dan menjaga kita semua dari api neraka, Āmīn

Dan sampai bertemu kembali pada silsilah yang lain

وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

HSI Abdullah Roy Beriman Kepada Hari Akhir, Halaqah 26 – 50

HALAQAH – 26 DITIUPNYA SANGKAKALA YANG PERTAMA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-26 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Ditiupnya Sangkakala”

Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan akan ditiupnya Sangkakala.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya apa itu sangkakala, maka beliau mengatakan, Tanduk yang ditiup (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmizi dan Nasai).

Beberapa ayat menyebutkan bahwa sangkakala akan ditiup sebanyak 2 kali. Diantaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri, menunggu” (Az Zumar : 68)

Tiupan sangkakala pertama, dengannya meninggal semua yang ada di langit dan di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Tiupan ini terjadi di hari jum’at sebagaimana dalam Shahih Muslim.

Dan setiap hari jum’at, hewan-hewan, mereka senantiasa memasang telinga antara waktu subuh sampai terbit matahari, karena takut bila ditiup sangkakala pada hari tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).

Bila terdengar maka semua akan mencondongkan lehernya dan mengangkatnya. Dan yang pertama kali mendengar adalah seorang laki-laki yang sedang memperbaiki penampungan air untuk minum ontanya maka diapun mati dan matilah semua manusia (HR. Muslim).

                Waktu tersebut sangat singkat sehingga seseorang tidak akan sempat berwasiat dan tidak ada waktu kembali ke keluarganya. Mereka meninggal di tempatnya masing-masing. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةً۬ وَٲحِدَةً۬ تَأۡخُذُهُمۡ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ (٤٩) فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةً۬ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ (٥٠

“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat satu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya.” (Yasiin: 49-50)

                Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa ada sebagian yang sudah mengangkat makanan ke mulutnya namun tidak sempat memakannya karena sudah ditiup sangkakala. Meninggallah seluruh manusia dan kerajaan hari itu adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Ketahuilah bahwa malaikat yang akan meniup sangkakala, sekarang telah menuruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya menunggu sewaktu-waktu diperintah oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (Hadits Shahih Riwayat Tirmizi).

Rasulullah ﷺ ketika mengabarkan para sahabat dengan kabar ini, beliau menyuruh para sahabat mengatakan:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا

Cukuplah Allah bagi kita, dan Dialah sebaik-baik wakil, hanya kepada Allah kita bertawakal (HR.Ahmad).

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 27 DITIUPNYA SANGKAKALA YANG KEDUA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-27 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Tiupan Sangkakala Yang Kedua ”

                Setelah tiupan yang pertama dan meninggal semua manusia, maka akan ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya. Dan jarak antara dua tiupan adalah 40. Allahu a’lam, apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun. Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Abu Hurairah:

مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ

Jarak antara dua tiupan, empat puluh.

Mereka bertanya kepada Abu Hurairah, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, 40 hari atau 40 bulan atau apakah 40 tahun? Maka beliau (yaitu Abu Hurairah) enggan menjawabnya. Para ulama mengatakan karena tidak mengetahui ilmunya. Dan hadits ini Shahih riwayat Bukhari dan juga Muslim.

Dan diantara dua tiupan inilah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menurunkan hujan yang ringan, yang dengan sebabnya akan tumbuh jasad manusia di dalam kuburnya.

Sebagaimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Tulang ekor manusia yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ bahwasanya dia tidak akan hancur, akan tumbuh seperti tumbuhnya tunas setelah hujan. Sehingga terbentuklah manusia kembali dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً . فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menurunkan hujan dari langit maka mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya tunas, tidak ada dari badan manusia sesuatu, kecuali akan rusak. Kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Dan darinyalah akan akan dibentuk manusia pada hari kiamat

(Hadits Shahih diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4554 dan Muslim, no. 5253).

Saudara sekalian, Allah lah yang telah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Dan Dialah yang akan membangkitkan manusia setelah matinya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

“Dan dialah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian akan mengembalikan (menghidupkan kembali). Dan menghidupkannya itu adalah lebih mudah bagi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.” (Ar Rum: 27)

Setelah terbentuknya jasad semua manusia maka malaikat akan meniup sangkakala untuk yang kedua kalinya dan akan dikembalikan ruh-ruh kepada jasadnya dan hiduplah manusia serta akan dibangkitkan dari kuburnya. Allah berfirman

ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Kemudian akan ditiup sangkakala yang kedua kalinya maka tiba-tiba mereka bangkit dalam keadaan menunggu.” (Az Zumar: 68)

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 28 KEBANGKITAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-28 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Kebangkitan ”

                Yang dimaksud dengan kebangkitan adalah dikembalikannya arwah kepada jasad, sehingga manusia kembali hidup. Akan digoncangkan Bumi dengan segoncang-goncangnya dan terbuka kuburan manusia. Kemudian keluarlah semua manusia dari kuburnya dalam keadaan hidup. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا (١) وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا (٢) وَقَالَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مَا لَهَا

“Apabila Bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya. Dan Bumi mengeluarkan beban-bebannya. Dan berkatalah manusia, “Mengapa Bumi menjadi begini?” (Az-Zalzalah : 1-3)

Dan orang yang pertama kali terbuka kuburannya adalah Rasulullah ﷺ (HR. Bukhari dan Muslim).

Manusia akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan dia ketika meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

Akan dibangkitkan setiap hamba sesuai keadaan dia ketika meninggal dunia (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya orang yang meninggal dalam keadaan ihram, haji atau umroh, maka akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiyah (HR. Bukhari dan juga Muslim).

Orang yang memakan riba akan bangkit seperti bangkitnya orang-orang yang kesurupan yaitu dalam keadaan sempoyongan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ

“Orang-orang yang memakan riba, tidak bangkit dari kuburnya, kecuali seperti bangkitnya orang-orang yang kerasukan setan.” (Al-Baqarah : 275)

Inilah hari kebangkitan yang diingkari oleh orang-orang kafir dan dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْ‌ۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ

“Orang-orang kafir menyangka bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Bahkan demi Rabb-ku, kalian akan dibangkitkan”.

(At-Taghabun : 7)

Hari yang sangat sulit dan sangat berat. Pada hari itu, manusia akan menyesal. Orang kafir akan menyesal karena tidak beriman. Dan orang beriman menyesal karena tidak maksimal di dalam beramal di Dunia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan kita dan orang-orang yang kita cintai, kemudahan dalam menghadapi hari yang sangat besar ini.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 29 KEJADIAN YANG DAHSYAT DI HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-29 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Kejadian Yang Dahsyat Di Hari Kiamat ”

                Pada hari kiamat setelah bangkitnya manusia dari kubur akan terjadi kejadian-kejadian dahsyat di alam semesta yang kita lihat. Baik alam atas maupun alam bawah. Tidak ada yg mengetahui hakikat kedahsyatannya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

                Gunung yang sedemikian besar dan kokoh menancap di bumi akan dijalankan oleh Allah sehingga menjadi fatamorgana dan dihancurkan menjadi berkeping-keping seperti tumpukan pasir yang berterbangan. Atau seperti bulu yang dihamburkan. Lihat :

Surat Al-Waaqi’ah : 5-6

Surat Muzzammil : 14

Surat An-Naba’ : 20

Surat At-Takwiir : 3

Surat Al-Qaari’ah : 5

Bumi yang sebelumnya tenang akan digoncangkan dengan segoncang-goncangnya dan dibentangkan. Kemudian diganti sifatnya sehingga menjadi jelas, rata, tanpa gunung, tanpa lembah, tanpa pohon. Lihat:

Surat Thaaha : 105-107

Surat Al-Waaqi’ah : 4

Surat At-Takwir : 3

Surat Al-Zalzalah : 1

Laut-laut akan meluap sehingga menjadi lautan yang satu dan akan menjadi lautan api. Lihat :

Surat Al-Infithaar : 3

Surat At-Takwiir : 6

Langit yang tujuh yang sangat tinggi dan sangat besar, yang Allah tinggikan tanpa tiang, pada hari itu akan menjadi sangat lemah, akan bergetar dan pecah, dan akan berubah warnanya menjadi warna merah seperti mawar. Lihat :

Surat Al-Haaqqah : 16

Surat Al-Infithar : 1

Surat Al-Insyiqaq : 1

Surat Ar-Rahman : 37

Surat At-Thur : 9

Surat At-Takwiir : 11

Surat Al-Furqan : 25.

Matahari akan digulung dan lenyap cahayanya (Surat At-Takwiir : 1).

Bulan akan hilang cahayanya dan akan dikumpulkan dengan matahari

(Surat Al-Qiyamah : 8-9).

Rasulullah ﷺ bersabda,

الشمس والقمر مكوران يوم القيامة

Matahari dan bulan akan digulung pada hari kiamat (HR.Bukhari)

Bintang yang sedemikian banyaknya, akan berjatuhan dan lenyap cahayanya. Lihat :

Surat Al-Infithaar : 2

Surat At-Takwiir : 2

Ada sebagian ulama kita yang mengatakan bahwasanya ini terjadi diantara dua tiupan. Allahu a’lam, Allah yang lebih mengetahui mana yang benar. Dan yang penting bagi kita semua, bahwasanya kita diperintahkan takut dan supaya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari tersebut.

itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 30 KEADAAN MANUSIA KETIKA MELIHAT KEDAHSYATAN HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-30 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Manusia Ketika Melihat Kedahsyatan Hari Kiamat ”

                Ketika manusia bangkit dari kuburnya dan melihat kedahsyatan hari kiamat dan juga kehancuran alam semesta, mereka tercengang dan bergerak tidak tahu arah. Seperti Laron atau anai-anai yang berhamburan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ ڪَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ

“Hari di mana manusia seperti laron. yang berhamburan” (Al-Qari’ah : 4)

Manusia sangat takut. Seandainya ada ibu yang menyusui, niscaya dia akan lupa dengan anak yang dia susui. Seandainya ada ibu yang sedang hamil, niscaya dia akan langsung melahirkan anaknya. Dan seandainya ada anak kecil, niscaya dia akan menjadi tua. Semua itu adalah karena mereka sangat takut.

Manusia sempoyongan seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Lihat:

Surat Al-Hajj : 1-2

Surat Al-Muzzammil : 17

Manusia akan lari dari orang-orang yang sangat mereka cintai di dunia. Lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan juga anak-anaknya, masing-masing memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Lihat Surat ‘Abasa : 34-37

Kemudian terdengar seruan, mereka pun bersegera menuju penyeru tersebut. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

يَوۡمَ يَدۡعُ ٱلدَّاعِ إِلَىٰ شَىۡءٍ۬ نُّڪُرٍ (٦) خُشَّعًا أَبۡصَـٰرُهُمۡ يَخۡرُجُونَ مِنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ كَأَنَّہُمۡ جَرَادٌ۬ مُّنتَشِرٌ۬ (٧) مُّهۡطِعِينَ إِلَى ٱلدَّاعِ‌ۖ يَقُولُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٌ۬ (٨

“Pada hari di mana penyeru akan menyeru kepada sesuatu yang mengerikan. Pandangan-pandangan mereka tertunduk hina, keluar dari kuburan seperti belalang yang bertebaran. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru tersebut, seraya berkata orang-orang kafir, “Ini adalah hari yang sangat sulit.” (Al-Qamar : 6-8)

Adapun orang-orang yang beriman kepada hari akhir dan takut kedatangan hari tersebut, kemudian dia beramal untuknya, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan memberikan rasa aman di dalam menghadapi hari tersebut. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَڪۡبَرُ وَتَتَلَقَّٮٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ هَـٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِى ڪُنتُمۡ تُوعَدُونَ

“Mereka tidak ditimpa rasa takut karena kedahsyatan hari kiamat dan mereka disambut malaikat yang berkata, “Inilah hari yang dijanjikan untuk kalian.” (Al-Anbiya : 103)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 31 AL-HASYR (PENGUMPULAN) BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-31 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian 1”

                Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman bahwasanya semua manusia setelah dibangkitkan akan dikumpulkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla. Setelah gunung dijalankan dan Bumi dirubah oleh Allah ﷻ menjadi dataran yang luas terbentang, tidak ada yang tinggi dan tidak ada yang rendah. Tidak ada sesuatu yang merupakan penunjuk arah atau penunjuk jalan, seperti bangunan, pohon dan lain-lain. Maka manusia semuanya akan memenuhi seruan penyeru menuju padang Mahsyar dan dikumpulkan di sana.

                Allahu A’lam apakah Bumi tersebut atau padang mahsyar tersebut adalah bumi kita sekarang yang diubah sifatnya saja, atau diganti dengan bumi yang lain. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَـٰوَٲتُ‌ۖ وَبَرَزُواْ لِلَّهِ ٱلۡوَٲحِدِ ٱلۡقَهَّارِ

“Yaitu pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain. Dan demikian pula langit dan mereka semuanya di padang mahsyar berkumpul menghadap kepada Allah, Zat Yang Maha Esa lagi Maha Menguasai segala sesuatu.” (Ibrahim : 48)

Rasulullah ﷺ bersabda,

ُحْشَرُالنَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِعَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَعَفْرَاءَكَقُرْصَةِنَقِيٍّ قَالَ سَهْلٌ أَوْغَيْرُهُ لَيْسَ فِيْهَامَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

Akan dikumpulkan manusia pada hari kiamat di atas bumi yang berwarna putih kemerahan, seperti roti bundar pipih yang datar, yang terbuat dari gandum yang bersih, tidak ada tanda bagi seseorang (HR. Bukhari dan Muslim).

Dikumpulkan manusia semuanya dari Nabi Adam sampai manusia yang terakhir. Dan tidak ada seorangpun yang ketinggalan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَيَوۡمَ نُسَيِّرُ ٱلۡجِبَالَ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ بَارِزَةً۬ وَحَشَرۡنَـٰهُمۡ فَلَمۡ نُغَادِرۡ مِنۡہُمۡ أَحَدً۬ا

“Dan pada hari di mana Kami akan jalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat Bumi dalam keadaan nampak jelas dan Kami akan kumpulkan mereka semuanya, maka tidak ada di antara mereka yang Kami tinggalkan.” (Al-Kahfi : 47)

                Dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki dan tidak berkhitan, manusia akan dikumpulkan. Keadaan yang mencekam, menjadikan masing-masing sibuk memikirkan keselamatan diri dan tidak memikirkan aurat orang lain. Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. (HR Bukhari dan Muslim).

                Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya wanita yang meratapi mayat dan dia tidak bertobat sebelum matinya, maka akan memakai baju dari tembaga panas dan baju yang berkudis atau yang terbuat dari kudis. (Hadits shahih riwayat Muslim).

                Bahkan di padang mahsyar ini, akan dikumpulkan semua jin dan akan dikumpulkan seluruh hewan hewan. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman dalam Surat Al-An’am : 38 ketika menyebutkan hewan hewan yang melata di bumi dan juga menyebutkan burung-burung, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya mereka akan dikumpulkan kepada Allah. Allah berfirman

ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّہِمۡ يُحۡشَرُونَ

Kemudian mereka akan dikumpulkan kepada Robb mereka.” (Al-An’am : 38)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=======================================

Halaqah – 32 Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-32 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian yang ke 2”

                Di padang Mahsyar akan didekatkan Matahari sejarak satu mil, sehingga manusia mendapatkan kesusahan yang sangat. Mereka berkeringat sesuai dengan kadar amalannya, yaitu kadar dosanya. Ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, dan ada sampai ke dua lututnya, pinggangnya. Bahkan ada yang sampai mulutnya (Hadits Shahih Riwayat Muslim).

                Salah seorang rawi Sulaim Ibnu ‘Amir mengatakan,

                Demi Allah saya tidak tahu apa yang Beliau ﷺ maksud dengan satu mil di sini. Apakah jarak atau mil yang berarti alat pencelak mata. Dan Allah ‘Azza Wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.

Di dalam waktu yang sangat lama, di Padang Mahsyar mereka menunggu hari keputusan. Satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia. Namun Allah ‘Azza Wa Jalla akan meringankan hari tersebut bagi orang-orang yang beriman. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ۬ كَانَ مِقۡدَارُهُ ۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٍ۬

Para Malaikat dan Jibril akan naik kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada waktu di mana satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia.” (Al-Ma’arij : 4)

                Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan bahwasanya orang yang tidak membayar zakat hartanya, dia akan tersiksa dengan hartanya tersebut sampai hari keputusan. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwasanya satu hari di situ seperti 50.000 tahun di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,

يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَ

Manusia akan berdiri untuk Allah Rabbul ‘Alamin pada saat itu selama setengah hari dari 50.000 tahun di dunia. Dan akan diringankan bagi orang yang beriman. setengah hari tersebut seperti waktu antara menjelang tenggelamnya matahari sampai tenggelamnya matahari

(Hadits Shahih Riwayat Ibnu Hibban).

Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakan,

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبراني

Allah akan mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan yang akhir pada waktu yang diketahui. dalam keadaan berdiri selama 40 tahun, dalam keadaan tajam pandangan mereka memandang ke langit menunggu waktu keputusan dari Allah ‘Azza Wa Jalla (Hadits Shahih Riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir).

Ada yang mengatakan bahwa perbedaan waktu tersebut, tergantung amalan seseorang di dunia. Wallahu A’lamu Bisshawwab dan saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sesaat saja. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً۬ مِّنَ ٱلنَّہَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيۡنَہُمۡ‌ۚ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

“Dan pada hari di mana Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengumpulkan mereka. Mereka merasa seakan-akan mereka tidak tinggal di dunia kecuali sekejap saja di siang hari dan pada saat itu mereka saling mengenal di antara mereka.” (Yunus : 45)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 33 ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN TEDUHAN DI HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-33 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Orang-orang yang Mendapatkan Teduhan di Hari Kiamat”

                Ketika manusia dalam keadaan panas dan susah, Allāh ﷻ memuliakan sebagian orang-orang yang beriman dengan memberikannya teduhan yaitu berada di bawah bayangan ‘Arsy Allāh ﷻ Rasulullah ﷺ bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Tujuh golongan yang Allah ﷻ akan memberikan teduhan kepada mereka didalam teduhan-Nya pada hari dimana tidak ada teduhan kecuali teduhan Allāh ﷻ.

Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan 7 golongan:

Pemimpin yang adil yaitu seorang pemimpin yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan syariat Allāh ﷻ.

                Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah ﷻ. Yaitu tidak menggunakan masa mudanya untuk berhura-hura atau mengikuti hawa nafsu seperti kebanyakan pemuda.

                Laki-laki yang hatinya bergantung dengan masjid, maksudnya sangat mencintai masjid, diantaranya adalah menjaga sholat 5 waktu secara berjamaah bagi laki-laki.

                Dua orang yang saling mencintai karena Allah ﷻ, bersatu karena Allāh ﷻ dan berpisah karena Allah ﷻ. Maksudnya bukan mencintai karena dunia atau karena kerabat semata tetapi karena ketaatan saudaranya kepada Allah ﷻ.

                Laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan kemudian laki-laki tersebut berkata “aku takut kepada Allah ﷻ”, maksudnya dia meninggalkan perzinahan tersebut karena takut kepada Allāh ﷻ.

                Seseorang yang bershadaqah kemudian menyembunyikan shadaqah tersebut sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya. Maksudnya dia menyembunyikan shadaqah tersebut sehingga jauh dari pandangan manusia dan pendengaran mereka.

                Seseorang yang mengingat Allāh ﷻ dalam keadaan sendiri kemudian matanya meneteskan air mata karena takut kepada Allāh ﷻ. (Hadits Shahih Riwayat Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712).

Tujuh golongan diatas bukanlah pembatasan, di dalam hadits yang lain, Rasululllah ﷺ bersabda :

من أنظر معسرا أو وضع عنه أظله الله في ظله

Barangsiapa yang memberikan tempo kepada orang yang kesusahan, (maksudnya adalah seorang yang miskin yang kesulitan dalam membayar hutang) atau memaafkan hutangnya (maksudnya sebagian atau seluruhnya) maka Allāh ﷻ akan memberikan ia teduhan” (HR Muslim).

Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ bersabda:

Allāh ﷻ akan memberikan dia teduhan di bawah bayangan ‘Arsy-Nya” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu).

Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ bersabda :

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dari orang mukmin di dunia, maka Allāh ﷻ akan menghilangkan satu kesusahan baginya di hari kiamat (HR. Muslim).

                Bertaubatlah dari segala dosa, perbanyaklah istighfar, manfaatkan waktu dan potensi yang kita miliki untuk bisa mengamalkan amalan-amalan diatas dan perbanyaklah menghilangkan kesusahan orang lain. Semoga Allāh ﷻ memudahkan kita dan menghilangkan kesusahan-kesusahan kita di hari kiamat.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=======================================

HALAQAH – 34 KEADAAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN BERTAKWA DI HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-34 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Orang-orang Yang Beriman dan Bertakwa di Hari Kiamat”

                Secara umum, orang-orang yang beriman dan bertakwa mereka di hari tersebut akan mendapatkan rasa aman, tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi di hari kiamat. Dan mereka tidak bersedih yaitu dengan dunia yang telah mereka tinggalkan. Rasa aman ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berikan sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan mereka.

                Barang siapa yang sempurna iman dan juga takwanya, maka dia akan mendapatkan rasa aman yang sempurna. Dan barang siapa yang kurang iman dan juga takwanya maka akan berkurang pula rasa aman yang akan dia dapatkan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ (٦٢) ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَڪَانُواْ يَتَّقُونَ (٦٣)لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ‌ۚ لَا تَبۡدِيلَ لِڪَلِمَـٰتِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ (٦٤

“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak akan bersedih. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi merekalah kabar gembira di dunia dan juga di akhirat.” (Yunus : 62-64)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzaliman, yaitu dengan kesyirikan, merekalah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An’am : 82)

Yang demikian itu karena mereka selama di dunia takut kepada Allah dan takut adzab di hari kiamat, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan rasa aman kepadanya di hari kiamat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman menceritakan tentang ucapan orang-orang yang beriman

إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوسً۬ا قَمۡطَرِيرً۬ا (١٠) فَوَقَٮٰهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَٲلِكَ ٱلۡيَوۡمِ وَلَقَّٮٰهُمۡ نَضۡرَةً۬ وَسُرُورً۬ا (١١

“Sesungguhnya kami takut dari Robb kami, pada hari di mana orang bermuka masam penuh dengan kesulitan, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjaga mereka dari kesusahan pada hari tersebut dan memberikan kepada mereka kecerahan wajah dan kegembiraan hati.” (Al-Insan : 10-11)

Umat Nabi Muhammad ﷺ akan memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh umat Nabi yang lain.

                Wajah, tangan dan kaki mereka akan berwarna putih bekas wudhu mereka di dunia (HR. Bukhari dan Muslim).

                Orang yang mengumandangkan adzan di dunia adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat (HR. Muslim).

                Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah kepalanya lebih jauh dari genangan keringat dari pada yang lain.

                Orang-orang yang berbuat adil ketika memberikan keputusan baik bagi dirinya, keluarganya maupun orang-orang yang di bawah kekuasaannya, maka dia akan berada di atas mimbar dari cahaya (HR. Muslim).

                Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang mewujudkan iman dan juga takwa. Beriman artinya membenarkan dan mempercayai dengan hati. Bertakwa artinya mengamalkan kepercayaan tersebut dan keyakinan tersebut.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 35 KEADAAN ORANG BERIMAN YANG BERDOSA DI HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-35 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Orang Beriman Yang Berdosa Di Hari Kiamat”

                Iman dan amal shaleh adalah sebab seseorang mendapatkan keamanan di hari kiamat. Sebaliknya dosa-dosa dan maksiat bagi seorang mukmin akan menjadi sebab kesusahan di hari kiamat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

أَمْ حَسِبَ الَّذينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَواءً مَحْياهُمْ وَ مَماتُهُمْ ساءَ ما يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang melakukan dosa menyangka bahwasanya Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh? Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka tersebut.” (Al-Jaatsiah : 21)

Orang yang tidak membayar zakat emas dan perak, maka akan diseterika dahi, lambung dan punggung mereka dengan lempengan emas dan perak yang dipanaskan di Neraka Jahanam. Orang yang memiliki Unta dan dia tidak membayar zakatnya, maka dia akan ditelentangkan di tempat yang rata kemudian unta-unta tersebut akan menginjak-injaknya dan menggigitnya. Orang yang memiliki sapi dan kambing kemudian dia tidak membayar zakatnya, maka hewan-hewan tersebut akan menginjak-injaknya dan menanduknya, demikian dilakukan terhadap mereka sampai hari keputusan

(HR. Muslim).

Orang-orang yang meminta kepada orang lain bukan dengan alasan yang dibenarkan secara syariat, tapi hanya karena ingin memperbanyak hartanya maka akan datang pada hari tersebut dalam keadaan wajah tidak berdaging.

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Senantiasa seseorang meminta kepada manusia, sampai datang kepada hari kiamat dalam keadaan tidak ada di wajahnya sepotong dagingpun (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim).

Orang yang pernah melakukan ghulul yaitu mengambil sebagian harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi, maka dia akan membawa harta tersebut pada hari kiamat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَن يَغۡلُلۡ يَأۡتِ بِمَا غَلَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۚ

“Dan barang siapa yang melakukan ghulul, maka dia akan membawa harta ghulul tersebut pada hari kiamat.” (Ali-Imran : 161)

Orang yang berkhianat di dunia, maka akan diberikan bendera di hari kiamat. Kemudian dikatakan ini adalah pengkhianatan fulan bin fulan (HR. Muslim).

                Sehingga manusia saat itu di Padang Mahsyar mengetahui bahwasanya dia adalah seorang pengkhianat. Dan masuk dalam makna pengkhianatan adalah pengkhianatan rakyat terhadap penguasa yang sah dan pengkhianatan penguasa terhadap rakyatnya, dan juga pengkhianatan di dalam perjanjian dan lain-lain. Semakin besar pengkhianatan seseorang, maka akan semakin tinggi benderanya.

                Orang-orang yang sombong di dunia, maka akan dikumpulkan di Padang Mahsyar sebesar semut-semut kecil dalam bentuk manusia. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya,

                Akan dikumpulkan orang-orang yang sombong di hari kiamat sebesar semut-semut kecil berbentuk manusia, mereka diselimuti kehinaan dari semua arah (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi).

Orang yang meludah ke arah kiblat, maka ludahnya akan berada di antara dua matanya (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).

                Demikianlah keadaan sebagian orang-orang yang beriman yang berdosa di Padang Mahsyar. Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim di dunia, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menutup aibnya di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibnya di hari kiamat (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim).

itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 36 ASY-SYAFA’ATUL UDZMA (SYAFAAT YANG PALING BESAR)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Beriman Kepada Hari Akhir

Halaqah yang ke-36 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Asy-Syafa’atul Udzma (Syafaat Yang Paling Besar)”

Asy-Syafa’atul Udzma adalah syafaat yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ untuk para penduduk Padang Mahsyar. Yang isinya adalah permintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, supaya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyegerakan hari keputusan. Dinamakan Asy-Syafa’atul Udzma atau syafaat yang paling besar karena syafaat ini diperuntukkan bagi seluruh manusia, yang mukmin maupun yang kafir.

                Ketika sudah memuncak kesusahan di Padang Mahsyar, terik matahari, keringat yang menggenang, waktu yang sangat lama dalam keadaan takut yang sangat menunggu hari keputusan, maka manusia ingin disegerakan hari keputusan tersebut. Mereka mendatangi orang-orang yang memiliki kedudukan mulia. Supaya memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى agar menyegerakan hari keputusan. Dan membebaskan mereka dari kesusahan yang berkepanjangan di Padang Mahsyar.

                Pertama-tama, mereka mendatangi Nabi Adam ‘Alaihissalam bapak mereka, manusia yang pertama. Namun beliau enggan, meminta uzur dan merasa tidak berhak, karena beliau ‘Alaihissalam pernah memaksiati Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan memakan sesuatu yang dilarang. Kemudian Nabi Adam ‘Alaihissalam menyuruh manusia mendatangi Nabi Nuh, Rasul yang pertama yang diutus kepada manusia.

                Beliau juga enggan dan merasa tidak berhak karena pernah meminta kepada Allah sesuatu yang tidak dibenarkan. Kemudian Nabi Nuh menyuruh manusia mendatangi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Kekasih Allah. Beliau juga enggan dan merasa tidak berhak, karena merasa pernah berdusta. Kemudian Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menyuruh manusia mendatangi Nabi Musa ‘Alaihissalam, seorang Nabi yang pernah diajak bicara oleh Allah ﷻ.

                Namun beliau enggan dan merasa tidak berhak karena pernah membunuh manusia tanpa diperintah oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Nabi Musa menyuruh manusia mendatangi Nabi Isa ‘Alaihissalam. Beliau juga enggan dan merasa tidak berhak, akhirnya Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam menyuruh manusia mendatangi Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian mereka mengatakan,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلَا تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا

Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah, penutup para Nabi, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Lakukanlah syafa’at, mintalah kepada Rabb-mu untuk kami. Bukankah kamu telah melihat bagaimana keadaan kami? Bukankah kamu melihat kesusahan kami?

                Maka Beliau ﷺ menuju bawah ‘Arsy Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan bersujud kepada Allah, kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian kepada Allah yang belum pernah diajarkan sebelumnya kepada seorangpun. Kemudian dikatakan kepada Beliau ﷺ,

يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَرْفَعُ رَأْسِي

Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah maka kamu akan diberi, lakukanlah syafaat, maka kamu akan dikabulkan syafaatmu

(HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah yang dimaksud dengan Maqomun Mahmud, yaitu kedudukan yang dipuji. Di mana beliau ﷺ akan dipuji oleh seluruh manusia yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan untuk beliau ﷺ sebagaimana di dalam Al-Quran

عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامً۬ا مَّحۡمُودً۬ا….

“….Semoga Rabb-mu membangkitkan dirimu pada kedudukan yang dipuji. (Al-Isra : 79)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 37 DATANGNYA ALLAH ﷻ UNTUK MEMBERI KEPUTUSAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-37 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Datangnya Allāh ﷻ Untuk Memberi Keputusan ”

                Setelah Nabi ﷺ diizinkan untuk melakukan syafa’at dan diterima syafa’atnya oleh Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan datang untuk memberi keputusan bagi penduduk Mahsyar. Dan menghisab amalan-amalan mereka. Allāh ﷻ datang dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Tidak mengetahui bagaimananya kecuali Allāh ﷻ. Kewajiban kita adalah Beriman bahwasanya Allāh ﷻ akan datang, tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan datangnya Allāh ﷻ dengan datangnya makhluk. Dan tidak boleh kita takwil dengan mengatakan bahwasanya yang datang adalah perintah-Nya atau urusan-Nya atau Adzab-Nya.

                Langit akan pecah dengan awan putih, wallahu a’lam dengan hakikatnya. Akan diturunkan para Malaikat dan mereka akan datang dengan bershaf-shaf. Allāh ﷻ berfirman

وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفًّ۬ا صَفًّ۬ا

“Dan datanglah Rabb-Mu dan para Malaikat bershaf-shaf.” (Al-Fajr : 22)

Allah ﷻ juga berfirman

وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَـٰمِ وَنُزِّلَ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ تَنزِيلاً

“Dan hari di mana langit akan pecah dengan awan putih dan diturunkan para Malaikat.”

(Al-Furqan : 25)

Ketika Allāh ﷻ datang, bersinarlah Bumi dengan cahaya Allāh ﷻ dan didatangkan para Nabi dan para Malaikat pencatat amal yang baik maupun yang jelek, yang mereka akan dijadikan saksi.

وَأَشۡرَقَتِ ٱلۡأَرۡضُ بِنُورِ رَبِّہَا وَوُضِعَ ٱلۡكِتَـٰبُ وَجِاْىٓءَ بِٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَقُضِىَ بَيۡنَہُم بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

“Dan Bumi akan menjadi terang dengan cahaya Rabb-Nya dan diletakkan kitab-kitab dan didatangkan para Nabi dan juga para syuhada’, yaitu para Malaikat dan akan diputuskan di antara mereka dengan haq dan mereka tidak akan didzolimi.” (Az-Zumar : 69)

Allah ﷻ akan melipat langit,

يَوۡمَ نَطۡوِى ٱلسَّمَآءَ ڪَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡڪُتُبِ‌ۚ

“Hari di mana kami akan menggulung langit, seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.”

(Al-Anbiya : 104)

Allah ﷻ akan menggenggam Bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya kemudian berkata, Aku adalah Raja, di mana raja-raja Bumi? (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan juga Muslim)

Suara Allāh ﷻ didengar penduduk Mahsyar yang jauh maupun yang dekat sebagaimana di dalam Shahih Bukhari. Dialah Allāh ﷻ

مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

Yaitu Raja yang menguasai hari pembalasan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=========================================

HALAQAH – 38 KEADAAN MANUSIA KETIKA DATANGNYA ALLAH ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-38 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah ﷻ”

                Kedatangan Allah تَعَالَى di hari tersebut adalah kejadian yang sangat besar bagi semua makhluk. Allah تَعَالَى yg telah menciptakan mereka supaya beribadah kepada-Nya semata, mengutus para Rasul supaya ditaati, menurunkan kitab supaya diamalkan, memberikan kenikmatan supaya digunakan dengan baik, akan datang untuk menanyakan itu semua dan menghitung amalan-amalan mereka.

                Semua manusia merasa takut atas apa yang mereka lakukan di dunia, orang yang kafir akan takut atas kekafirannya kepada Allah تَعَالَى dan orang yang beriman akan takut atas kemaksiatannya kepada Allah ﷻ dan amalannya yang penuh dengan kekurangan. Dan akan didatangkan jahannam yg akan semakin menambah rasa takut manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,

يؤتي بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها

Akan didatangkan Jahannam pada hari tersebut. Jahannam tersebut memiliki 70.000 tali pengikat. Pada setiap tali pengikat ada 70.000 malaikat yg akan menyeretnya (HR. Muslim).

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكًّ۬ا دَكًّ۬ا (٢١) وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفًّ۬ا صَفًّ۬ا (٢٢) وَجِاْىٓءَ يَوۡمَٮِٕذِۭ بِجَهَنَّمَ‌ۚ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَذَڪَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (٢٣) يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى (٢٤) فَ

“Sekali-kali tidak, apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya dan datang Rabbmu dan malaikat dengan berbaris dan didatangkan pada hari tersebut jahannam. Pada hari tersebut manusia akan sadar dan apa manfaat kesadaran pada hari tersebut, dia mengatakan “Seandainya aku beramal untuk kehidupanku ini”. (Al-Fajr : 21-24)

Dan akan dipisahkan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir. Allah Ta’ala berfirman

وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَفَرَّقُونَ

“Dan ketika datang hari kiamat pada hari tersebut mereka akan saling berpisah.” (Ar-Rum : 14)

Masing-masing umat akan duduk di atas lututnya karena rasa takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada hari tersebut. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ۬ جَاثِيَةً۬‌ۚ كُلُّ أُمَّةٍ۬ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَـٰبِہَا ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan kamu akan melihat setiap umat akan duduk di atas lututnya dengan gelisah. Setiap umat akan dipanggil kepada kitab amalannya dan dikatakan kepada mereka hari ini akan dibalas amalan kalian.” (Al-Jatsiyah : 28)

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ

Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala apabila datang hari kiamat, akan turun kepada hamba-hamba untuk memutuskan di antara mereka dan masing-masing umat akan duduk diatas lututnya dengan gelisah (HR. Tirmidzi).

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 39 KEADILAN ALLAH ﷻ KETIKA HISAB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-39 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Keadilan Allāh ketika Hisab”

                Yang dimaksud dengan hisab adalah perhitungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap amalan para hamba didunia.

Hisab Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah hisab yang sangat sempurna keadilannya.

Tidak ada kezhāliman sedikitpun di dalamnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬‌ۖ

“Sesungguhnya Allāh tidak akan menzhālimi meskipun sebesar Zarrah sekalipun”

(QS An-Nisā’: 40)

Zarrah artinya adalah semut, itu yang dikenal oleh orang Arab, mereka mengatakan semut kecil itu dengan Zarrah. Jangan diartikan dengan biji sawi atau yang semisalnya, Zarrah menurut orang Arab adalah semut.

                Bahkan rahmat dan kelebihan karunia serta anugerah yang Allāh berikan kepada para hamba adalah sangat banyak.

                Seandainya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengazab semua makhluk, maka bukanlah hal itu sebuah kezhāliman. Dan seandainya Allāh merahmati, niscaya rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih baik dari pada amalan mereka. (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah).

                Yang demikian karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Pencipta mereka, Raja yang memiliki kerajaan, semua makhluk adalah milik-NYA dan dalam kerajaan-NYA. Dan Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki di dalam Kerajaan-NYA.

Di antara yang menunjukkan Keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah:

⑴ Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memfitrahkan di dalam hati semua manusia bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Rabb mereka dan mereka mengakui bahkan sebelum mereka dilahirkan. (Lihat Surat Al-A’rāf: 172)

⑵ Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus para Rasūl, para Utusan kepada manusia yang telah mengingatkan mereka dengan fitrah ini dan mengajak mereka untuk berimān dengan hari akhir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رُّسُلاً۬ مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِ‌ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمً۬ا

“Para Rasūl yang datang untuk memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan supaya tidak ada hujjah bagi manusia atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah kedatangan para Rasūl. Dan sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”

(QS An-Nisā’: 165)

⑶ Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menugaskan para Malāikat untuk mencatat semua amalan manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَـٰفِظِينَ (١٠) كِرَامً۬ا كَـٰتِبِينَ (١١)يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ (١٢)

“Dan sesungguhnya pada diri kalian ada Malāikat-malāikat yang menjaga atau mengawasi yang mereka mulia, dan menulis, mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Infithār: 10-12)

Di antara keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisab,

⑷ Bahwasanya kebaikan dan kejelekan sekecil apapun yang disembunyikan di dalam hati maupun yang dinampakkan akan didatangkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak ada manusia yang dizhālimi karena kebaikan yang terlupakan atau karena kejelekan yang tidak dia lakukan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرً۬ا يَرَهُ ۥ (٧) وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ شَرًّ۬ا يَرَهُ ۥ (٨)

“Maka barang siapa yang mengamalkan kebaikan seberat Zarrah sekalipun dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengamalkan sebuah kejelekan seberat Zarrah sekalipun akan melihatnya.”

 (QS Az-Zalzalah: 7-8)

⑸ Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۚ

“Dan sebuah jiwa tidak akan menanggung dosa jiwa yang lain” (QS Al-An’ām: 164)

Kecuali apabila seseorang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya dalam kesesatan orang tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثَمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya.Tidak berkurang dari dosa mereka sedikitpun.” (Hadīts Riwayat Muslim)

⑹ Masing-masing kita akan dipersilahkan melihat sendiri isi kitābnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣)ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤)

“Dan Kami akan keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitāb dalam keadaan terbuka. Bacalah kitābmu, cukuplah dirimu pada hari ini yang menghisab dirimu sendiri” (QS Al-Isrā’: 13-14)

⑺ Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mendatangkan para saksi supaya tidak ada alasan bagi manusia.

Didatangkan para Rasūl yang akan bersaksi atas umatnya,bahwasanya mereka sudah menyampaikan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٍ۬ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ شَہِيدً۬ا

“Maka bagaimana jika Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami akan datangkan dirimu sebagai saksi atas mereka” (QS An-Nisā’: 41)

Malāikat akan menjadi saksi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّعَهَا سَآٮِٕقٌ۬ وَشَہِيدٌ۬

“Dan akan datang setiap jiwa bersamanya para malāikat yang menuntun dan malāikat yang menjadi saksi” (QS Qāf: 21)

Bahkan anggota badan manusia akan menjadi saksi di hari kiamat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيہِمۡ وَتَشۡہَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

“Pada hari ini akan Kami tutup mulut-mulut mereka dan tangan-tangan mereka akan berbicara dengan Kami. Dan kaki-kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang sudah mereka lakukan” (QS Yāsin: 65)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 40 MEMPERBANYAK AL-HASANAH DAN MENGHILANGKAN AS-SAYYI’AH

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) Dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa)”

                Seorang yang berimān kepada hari akhir dan berimān bahwasanya kelak akan dihisab maka hendaklah dia memohon rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al-Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin.

Di antara caranya adalah:

⑴ Menjaga tauhīd yang merupakan hasanah atau kebaikan yang paling besar.

Dan merupakan pondasi bagi Hasanah yang lain. Dan merupakan sebab diampuninya dosa seseorang.

⑵ Mencari amalan yang paling afdhāl.

Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan hasanah yang banyak. Yang demikian karena kita sangat butuh dengan hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas. Amalan yang paling afdhāl setelah Rukun Islām dan kewajiban-kewajiban agama yang lain adalah tiga amalan, yaitu:

⑴ Menuntut ilmu agama

⑵ Jihād Fīsabilillāh sabilillah

⑶ Dzikrullāh yang dilakukan dengan khusyu’ di sebagian besar waktunya.

                Amalan yang wajib lebih afdhāl dan lebih besar pahalanya dari pada amalan yang sunnah.

Amalan yang wajib ‘ain yaitu yang wajib atas semuanya lebih afdhāl dari pada amalan yang wajib kifayyah yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain.

                Kewajiban yang berkaitan dengan hak Allāh lebih afdhāl dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak mahluk.

Amalan yang lebih afdhāl adalah amalan yang dilakukan dengan lebih ikhlās dan lebih mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

                Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhāl dari pada amalan yang banyak tapi terputus.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit” (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim).

Terkadang sebuah amalan afdhāl bagi sebagian, namun belum tentu afdhal bagi yang lain.

Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhāl dari pada amalan yang manfaatnya hanya untuk diri-sendiri.

Contohnya seperti:

√ Shadaqah dan

√ Dakwah Fīsabilillāh

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun” (Hadīts Riwayat Muslim)

Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhāl, Seperti:

√ Amalan yang dikerjakan di Bulan Ramadhān.

√ Amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di Bulan Dzulhijjah.

Sebagian amalan lebih afdhāl dikerjakan di tempat mulia tertentu. Seperti:

√ Shalāt dimasjidil Harām,

√ Shalāt dimasjid Nabawī dan

√ Shalāt dimasjidil Aqsa

Di antara cara memperbanyak Al-Hasanah dan menghilangkan As-Sayyi’ah (dosa) adalah:

⑶ Memanfaat kenikmatan Allāh yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin.

                Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara dan lain-lain.

                Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan niat yang benar, yaitu untuk mencari pahala Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya ,

“Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang”

 (Hadīts Riwayat Bukhāri )

Dalam hadīts yang lain Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang -orang yang sedikit hasanahnya pada hari kiamat. Kecuali orang yang Allāh berikan kekayaan kemudian bershadaqah kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⑷ Dengan memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan syarat diterimanya amalan ada dua, yaitu:

√ Ikhlās

√ Sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

⑸ Bertaubat dari dosa yang diiringi dengan imān dan amal shālih.

Karena barang siapa yang melakukan yang demikian itu, maka dosanya akan diganti dengan hasanah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan bahwasanya,

√ Orang yang menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

√ Membunuh jiwa tanpa hak,

√ Berzina,

Maka mereka akan mendapatkan azab yang pedih di hari kiamat.

Kecuali,

√ Apabila dia bertaubat,

√ Berimān,

√ Mengerjakan amal shālih.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan. (QS Al-Furqān: 68-70)

⑹ Memperbanyak istighfār setiap melakukan dosa atau kurang bersyukur atas nikmat, atau kurang dalam melakukan kewajiban atau lalai dalam mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا

“Tūbā bagi orang yang menemukan di dalam kitābnya istighfār yang banyak” (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Tūbā ada yang mengatakan maknanya adalah surga, ada juga yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.

⑺ Tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya,

“Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung thihamah. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang sifat mereka. Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita. Shalāt malam sebagaimana kita shalāt malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharāmkan, mereka pun melanggarnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Di antara cara untuk memperbanyak Al-Hasanah dan mengurangi As-Sayyi’ah adalah,

⑻ Bersabar atas musibah dan ujian.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa ujian menimpa seorang mu’min dan mu’minah, di dalam dirinya, anaknya dan juga hartanya sampai dia bertemu Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak memiliki dosa”

 (Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Ketika orang-orang yang terkena musibah di dunia mendapatkan pahala di hari kiamat, maka ahlul ‘afiah (orang-orang yang tidak banyak terkena musibah) akan berkeinginan seandainya kulit-kulit mereka digunting di dunia” (Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Yang demikian karena mereka melihat besarnya pahala orang-orang yang bersabar

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Sesungguhnya akan disempurnakan pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas” (QS Az-Zumar: 10)

⑼ Beramal shālih secara umum berdasarkan dalīl-dalīl yang shahīh, seperti membaca Al-Qurān, puasa dan lain-lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullāh (Al-Qurān), maka setiap huruf dia akan mendapatkan satu hasanah. Dan satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah.” (Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

                Di dalam sebuah hadīts disebutkan bahwasanya setiap amalan anak Ādam, satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah sampai tujuh ratus. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan Dia-lah yang akan membalasnya. (Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Mintalah senantiasa kepada Allāh pertolongan di dalam beramal, beramallah sebaik mungkin dan mohonlah kepada Allāh supaya diterima.

                Dan ketahuilah bahwasanya amal kita hanyalah sebab dan bukan pengganti kenikmatan surga dan keselamatan dari neraka.

                Seandainya seseorang beramal semaksimal mungkin, sebaik-baiknya selama hidupnya, niscaya tidak cukup untuk membalas kenikmatan Allāh di dunia.

Maka bagaimana dengan kenikmatan di akhirat?

Rahmat atau kasih sayang dan anugerah Allāh-lah yang lebih kita harapkan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Amalan seseorang tidaklah memasukkan dia ke dalam surga.

Para shahābat berkata, “Tidak juga engkau ya Rasūlullāh?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Tidak juga saya”, kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla melimpahkan kepadaku anugerah dan rahmatnya”

(Hadīts Shahīh Riwayat Bukhāri Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah – 41 Pertanyaan Ketika Hisab

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisāb”

                Ketika hisāb, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allāh.

                Allāh akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidaklah di antara kalian kecuali Rabbnya akan berbicara kepadanya. Tidak ada antara dia dengan Allāh penerjemah. Dia akan melihat di sebelah kanannya, maka dia tidak akan melihat kecuali amalan yang sudah ia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya, maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma” (Hadīts Bukhāri dan Muslim)

                Adapun hadīts yang berisi bahwasanya ada tiga golongan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat.

⑴ Orang yang mengungkit-ungkit pemberian

⑵ Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu

⑶ Orang yang musbil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki, yaitu bagi laki-laki

(Hadīts Riwayat Muslim)

                Maka yang dimaksud dalam hadīts ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulamā bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridhā. Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

                Di antara hal yang ditanyakan di hari kiamat, yang pertama adalah tentang tauhīd kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

“Maka sungguh kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka para Rasūl. Dan sungguh kami akan tanya para Rasūl” (QS Al-A’rāf: 6)

Kita akan ditanya, bagaimana kita akan menjawab ajakan Rasūl dan ajakan Rasūl yang paling besar adalah Tauhīd.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah kenikmatan yang Allāh berikan kepada kita di dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu, tentang kenikmatan”.

(QS At-Takatsur: 8)

Di antara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman bagaimanapun sederhananya di pandangan manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankan Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?”

(Hadīts Riwayat Tirmidzi)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ditanya,

√ Tentang umurnya untuk apa dia gunakan,

√ dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan,

√ dan akan ditanya tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan

√ dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan”

(Hadīts shahīh Riwayat Tirmidzi)

Orang yang mensyukuri nikmat tersebut, dialah yang akan selamat. Mensyukuri dengan hati, lisan maupun perbuatan.

                Hatinya mengakui kenikmatan tersebut, bahwasanya itu adalah dari Allāh.

Lisannya bersyukur dan memuji kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

                Di antara hal yang akan ditanyakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika hisāb adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al-Isrā’: 36)

Dengan demikian hendaklah seorang muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allāh harāmkan.

Di antara yang Allāh tanyakan adalah perjanjian.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬

“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan”

(QS Al-Isrā’: 34)

                Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allāh dan kepada makhluk. Seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah tentang amanat yang telah Allāh berikan kepada kita.

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang imām atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang ibu adalah seorang penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga. Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut .” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allāh untuk menegakkan hukum-hukum Allāh atas rakyatnya dan berbuat adil.

                Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

                Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami dan lain-lain.

Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allāh perintahkan.

                Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin.

Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi.

Baik sebagai suami maupun seorang istri.

Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak.

Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain, masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

                Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

====================================

HALAQAH – 42 KEADAAN MANUSIA KETIKA HISAB

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Keadaan Manusia Ketika Hisāb”

Ada di antara manusia yang kelak akan sulit hisābnya, ada yang mudah, dan ada di antara mereka yang sama sekali tidak dihisāb.

                Orang-orang kāfir menurut pendapat yang lebih kuat meskipun amalan mereka adalah amalan yang sia-sia namun mereka akan dihisāb dan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagai celaan kepada mereka dan untuk menunjukkan keadilan Allāh serta menegakkan hujjah atas mereka.

Hisāb terhadap orang-orang kāfir akan sangat teliti.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكْ

“Barang siapa yang diperiksa dengan teliti hisābnya, maka dia akan binasa”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Adapun orang-orang yang berimān maka mereka akan dihisāb dengan hisāb yang mudah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨)

“Adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya,maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah”. (QS Al-Insyiqaq: 7-8)

Dan yang dimaksud dengan hisāb yang mudah disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts yang artinya:

“Sesungguhnya Allāh akan mendekatkan seorang mu’min kemudian menutupinya, kemudian Allāh berkata kepadanya,

“Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?”

Maka orang mu’min tersebut akan berkata, “Iya wahai Rabbku”.

Sehingga ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla sudah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan hamba tersebut melihat bahwasanya dirinya binasa yaitu karena dosa-dosanya tersebut, maka Allāh berkata aku telah menutupi dosa-dosamu ini di dunia dan aku mengampuninya untukmu hari ini.

Maka diapun diberi kitāb kebaikan-kebaikannya”. (Hadits Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada 70 ribu orang dari umatnya yang kelak tidak dihisāb sama sekali.

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasannya mereka adalah:

⑴ Orang-orang yang tidak pernah minta diobati dengan besi panas

⑵ Tidak minta diruqyah oleh orang lain

⑶ Tidak bertathayyur yaitu menganggap sial dengan melihat burung ataupun semisalnya

Dan mereka hanya bertawakal kepada Allāh.

                Di antara mereka adalah seorang sahabat Ukasyah Ibnu Mihshan (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 43 ORANG, AMALAN DAN HAL YANG PERTAMA KALI DIHISAB

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Orang yang pertama dihisāb, amal yang pertama dihisāb dan hal yang pertama dihisāb”

Orang yang pertama kali akan dihisāb pada hari kiamat ada tiga orang.

Yaitu:

⑴ Orang yang berjihad karena riyā’

Dia akan didatangkan dan akan diperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata: “Aku gunakan untuk berperang di jalanmu sampai aku mati syahīd”

                Allāh berkata kepadanya, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani dan manusia sudah mengatakan engkau adalah pemberani”

⑵ Orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur’ān

Akan tetapi melakukan itu semua karena riyā’.

Kemudian diperlihatkan kenikmatan yang Allāh berikan kepadanya maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla bertanya :

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Dia berkata, “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur’ān karenamu”

Allāh berkata, “Kamu dusta, kamu mempelajari ilmu, mengajarkannya supaya dikatakan ‘alim”

Dan membaca Al Qur’ān supaya dikatakan Qari’.

Dan manusia sudah mengatakan demikian.

⑶ Orang yang Allāh luaskan hartanya dan telah diberikan berbagai macam harta benda

Maka Allāh memperlihatkan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepadanya, maka diapun mengenalnya.

Kemudian Allāh bertanya,

Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?

Ia pun menjawab,”Tidaklah aku tinggalkan satu jalan yang engkau cinta. Aku berinfāq di dalamnya, kecuali aku infāq di dalamnya”

Allāh berkata, “Kamu dusta, akan tetapi engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan”

Dan sungguh manusia telah mengatakan demikian (Hadīts Riwayat Muslim)

                Amal ibadah yang pertama kali akan dihisāb adalah shalāt lima waktu.

Apakah seorang hamba menyempurnakan shalātnya atau tidak.

Jika sempurna, maka akan ditulis sempurna.

                Dan apabila kurang, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memerintahkan malāikat untuk melihat shalāt-shalāt sunnahnya.

                Apabila dia memiliki shalāt-shalāt sunnah, maka akan digunakan untuk menambal kekurangan yang dilakukan ketika shalāt fardhu (Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Mājah)

                Adapun hal pertama yang berkaitan dengan hak antar manusia yang akan dihisāb adalah tentang darah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Hal yang pertama kali akan dihisāb yang berkaitan dengan hak antar manusia pada hari kiamat adalah tentang darah”. (Hadīts Riwayat Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

=========================================

HALAQAH – 44 PEMBERIAN KITAB

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Pemberian Kitāb”

                Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghisāb seorang hamba, maka hamba tersebut akan diberi kitāb.

                Orang yang berimān dengan hisāb dan hari perhitungan dan dia beramal maka dia akan menerima kitāb yang berisi hasanah dengan tangan kanannya.

Dan kelak akan kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan yang sangat bahagia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورً۬ا (٩)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisāb dengan hisāb yang mudah dan akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan bahagia”.

(QS Al-Insyiqāq: 7-9)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَـٰبِيَهۡ (١٩) إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَـٰقٍ حِسَابِيَهۡ (٢٠) فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)

“Maka adapun orang yang diberi kitāb dengan tangan kanannya dia akan berkata kepada orang lain,

“Silahkan bacalah kitābku ini, Sesungguhnya aku dahulu di dunia yakin bahwa aku akan menemui hisāb”.

Maka dia akan berada di dalam kehidupan yang diridhai di surga yang tinggi yang buah-buahannya rendah (maksudnya mudah dipetik), dikatakan kepada mereka:

“Makanlah kalian dan minumlah dengan nikmat karena amal-amal yang kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

(QS Al-Hāqqah: 19-24)

Adapun orang kāfir dan munāfiq maka dia akan menerima kitāb dengan tangan kiri dari arah belakang.

Pertanda bahwasanya mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dia pun berteriak dengan kecelakaan.

Tidak bermanfaat bagi mereka, harta mereka yang melimpah dan jabatan mereka yang tinggi di dunia.

Mereka menyesal dan berangan-angan seandainya tidak diberi kitāb.

Dan berangan-angan seandainya tidak dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ (١٠) فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورً۬ا (١١) وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا (١٢) إِنَّهُ ۥ كَانَ فِىٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا (١٣) إِنَّهُ ۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (٤١)َ

“Dan adapun orang yang diberikan kitābnya dari belakangnya, maka dia akan berteriak dengan kecelakaan. Dan akan masuk kelak di dalam neraka. Sesungguhnya dahulu dia bergembira ria bersama keluarganya. Dan sesungguhnya dahulu dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

(QS Al-Insyiqāq: 10-14)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (٢٦) يَـٰلَيۡتَہَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (٢٧)مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡۜ (٢٨) هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَـٰنِيَهۡ (٢٩)خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ۬ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعً۬ا فَٱسۡلُكُوهُ (٣٢)

“Adapun orang-orang yang diberi kitāb dari sebelah kiri, maka dia akan berkata, “Seandainya aku tidak diberi kitābku ini dan seandainya aku tidak mengetahui hisābku. Seandainya kematian yang menyudahi segalanya. Hartaku tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku”. Maka Allāh berkata, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta”

(QS Al-Hāqqah: 25-32)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

==========================================

HALAQAH – 45 PENEGAKAN QISHOS ATAU HUKUMAN BAGI ORANG-ORANG YANG ZHALIM

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Penegakan Qishas atau Hukuman Bagi Orang-orang Yang Zhālim”

Termasuk keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah menegakkan qishas di antara makhluk di hari kiamat.

Tidak ada makhluk yang dizhālimi di dunia oleh yang lain kecuali akan Allāh kembalikan haknya di hari kiamat, bahkan diantara hewan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء

“Sungguh akan diberikan hak-hak ini kepada pemiliknya di hari kiamat sampai akan di qishas seekor kambing yang bertanduk karena kezhāliman yang dia lakukan terhadap kambing yang tidak bertanduk.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Akan didatangkan orang yang dzalim dan di zhālimi sekecil apapun kezhāliman tersebut.

Baik kezhāliman berupa harta seperti:

√ Pencurian

√ Perampokan

√ Penipuan

√ Hutang

Atau kezhāliman kehormatan seperti:

√ Umpatan

√ Ghibāh yaitu membicarakan kejelekan orang lain, tuduhan palsu

Atau kezhāliman fisik seperti:

√ Pemukulan

√ Pembunuhan, dan lain-lain.

Penegakan keadilan saat itu adalah dengan hasanah dan sayyiah.

Orang yang zhālim akan diambil hasanahnya dan diberikan kepada orang yang dizhālimi.

                Apabila orang yang zhālim tersebut tidak memiliki hasanah, maka sayyiah orang yang dizhālimi akan diberikan kepada orang yang zhālim tersebut.

Orang yang bangkrut di hari tersebut adalah orang-orang yang terlalu banyak kezhālimannya di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan ummatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalāt, pahala puasa dan pahala zakāt. Dia datang pada hari tersebut dan dahulu di dunia dia telah mencela si Fulān, menuduh si Fulān berzinah, memakan harta si Fulān, menumpahkan darah si Fulān dan memukul si Fulān. Maka hasanah atau pahala kebaikan orang tersebut akan diberikan kepada si Fulān, lalu si Fulān. Sehingga apabila habis hasanah orang tersebut sebelum dia melunasi hak orang lain maka akan diambil dosa-dosa orang yang pernah dia zhālimi tersebut dan dipikulkan kepadanya, kemudian akhirnya dia dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Oleh karena itu seorang muslim di dunia apabila berbuat zhālim maka hendaknya bersegera untuk minta maaf dan mengembalikan hak orang yang pernah dia zhālimi.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang memiliki kezhāliman kepada orang lain baik berupa kehormatan atau sesuatu yang lain maka hendaklah dia meminta dihalalkan darinya pada hari ini. Sebelum datangnya hari yang di situ tidak ada lagi dinar maupun dirham.”

(Hadīts Riwayat Bukhari)

Orang yang dizhālimi di dunia boleh membalas dengan balasan yang setimpal. Akan tetapi tidak boleh dia membalas dengan berlebihan, karena dengan demikian justru dia menjadi orang yang zhālim yang akan diambil kebaikannya.

Dan apabila dia memaafkan maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan pahala yang besar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَجَزَٲٓؤُاْ سَيِّئَةٍ۬ سَيِّئَةٌ۬ مِّثۡلُهَا‌ۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan balasan sebuah kejelekan adalah kejelekan yang setimpal. Dan barang siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya atas Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai orang-orang yang zhālim.” (QS Asy Syūrā: 40)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام-عليكم-ورحمة-اللّه-وبركاته

==========================================

HALAQAH – 46 MIZAN (TIMBANGAN) DAN PENIMBANGAN AMAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang”Mizān (timbangan) dan penimbangan amal

Di antara berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya mizān dan penimbangan amal.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئ

“Dan Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidak ada seorangpun yang akan dizhālimi sedikitpun.”

(QS Al Anbiyā: 47)

Sebagian ulamā berpendapat bahwasanya penimbangan amal dilakukan setelah hisāb.

Karena:

√ Hisāb adalah untuk menghitung amalan.

√ Penimbangan adalah untuk menampakkan hasil dari perhitungan tersebut dan menunjukkan keadilan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Akan ditimbang hasanah dan sayyiah dengan timbangan yang hakiki.

Memiliki dua kiffah yaitu piringan timbangan.

Memiliki sifat berat dan ringan dan bisa miring karena amalan.

Allāhu a’lam tentang tentang hakikatnya dan bagaimananya.

Allāh berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون.

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُون.

“Dan barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, di dalam Jahannam mereka akan kekal.”

(QS Al Mu’minun: 102-103)

Dalam hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah disebutkan bahwasanya catatan dosa-dosa akan ditaruh di kiffah dan bitaqah (kartu yang bertuliskan ‘Lā ilāha illallāh) akan ditaruh di kiffah yang lain.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ،

“Akan diletakkan mizān pada hari kiamat, seandainya langit dan bumi di timbang didalamnya niscaya akan cukup,

Bertanyalah para Malāikat wahai Rabb untuk siapakah timbangan ini?

Maka Allāh berfirman, “untuk orang yang aku kehendaki dari para makhluk ku.”

(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Al mustadrak)

Para ulamā berbeda pendapat tentang berapakah jumlah mizān di hari kiamat.

Apakah satu timbangan atau banyak, karena masing-masing manusia memiliki timbangan atau masing-masing amalan ada timbangan khusus. Allāhu a’lam.

                Amalan yang paling berat di dalam timbangan pada hari kiamat adalah dua kalimat syahadah.

                Dari Abdullāh ibnu ‘Amr ibnul Ash Radhiyallāhu ‘anhuma, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allāh akan memilih seseorang dari umatku di hadapan makhluk-makhluk yang lain pada hari kiamat.”

Maka dibukalah di hadapannya 99 sijil.

⇒Makna sijil adalah kitāb besar

Dan maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah kitāb yang berisi dosa-dosa hamba tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Setiap sijil besarnya sejauh mata memandang.”

Kemudian Allāh bertanya kepada hamba tersebut, “Apakah ada di antara isi kitāb tersebut yang engkau ingkari?”

Apakah para malāikat penulis telah menzhālimimu ?

Hamba tersebut menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Allāh bertanya, Apakah kamu memiliki alasan? Dia kembali menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku”

Maka Allāh pun berkata, “Sesungguhnya engkau memiliki hasanah di sisi kami”

Dan sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi pada hari ini.

Maka dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan “Asyhaduallā ilā ha illallāh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasūluh”.

Allāh pun berkata, Lihatlah timbanganmu,

Hamba tersebut mengatakan,

Wahai Rabb-ku apa arti sebuah kartu ini dibandingkan dengan sijjil yang begitu banyak?

Maka Allāh berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhālimi.

Diletakkanlah sijjil yang banyak tersebut, di satu piringan timbangan dan diletakan kartu di satu piringan timbangan yang lain.

Maka ringanlah sijjil yang banyak dan beratlah kartu tersebut.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

Tidak ada sesuatu yang mengalahkan beratnya nama Allāh

(Hadīts Shahīh Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Mājah).

                Di antara amalan yang sangat memberatkan timbangan pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan dari pada akhlak yang baik.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan Tirmidzi).

Di antara akhlak yang baik adalah

• Menyambung orang yang memutus kita

• Memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepada kita

• Memaafkan orang yang menzhālimi kita.

Di antara amalan yang berat adalah ucapan “Subhanallāhi wa bihamdih subhanallāhil ‘azhīm”.

Sebagaimana didalam hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

Di antara amalan yang memenuhi timbangan adalah ucapan “Alhamdulillah”

Sebagaimana dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim senantiasa memperbaiki dua kalimat syahadat yang dia ucapkan.

Berusaha untuk memahami maknanya dan mengamalkan isinya dan istiqamah di atas keduanya sampai meninggal dunia.

Di samping itu hendaknya dia memperbaiki ibadahnya kepada Allāh dan akhlaknya kepada manusia.

Melakukan itu semua karena Allāh dan untuk memperberat timbangannya di hari kiamat.

                Orang yang berbahagia adalah orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Dan orang yang celaka adalah orang yang lebih ringan timbangan kebaikannya dari pada kejelekannya.

Sebagaimana disebutkan oleh Allāh di dalam Surat Al-Qariah.

Orang kāfir tidak memiliki sesuatu yang memberatkan timbangan mereka, Karena amalan mereka batal dengan kesyirikan dan kekufuran

(Lihat Surat Al-Kāhfi : 103-106)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya akan datang seseorang yang besar lagi gemuk pada hari kiamat akan tetapi beratnya di sisi Allāh tidak lebih berat dari satu sayap dari seekor nyamuk.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dalīl-dalīl di atas menunjukkan bahwasanya nya ada tiga perkara yang akan ditimbang pada hari kiamat.

⑴ Amalan

⑵ Orang yang mengamalkan

⑶ Kitāb catatan amalan

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 47 TELAGA RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-47 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”

Diantara berimān kepada hari akhir adalah Berimān tentang Adanya Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada Hari Kiamat.

Hadīts -hadīts yang datang di dalam masalah ini mencapai derajat mutawwatir.

Diantaranya adalah sabda beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga dan sesungguhnya mereka akan saling berbangga siapa di antara mereka yang telaganya paling banyak didatangi. Dan aku berharap akulah yang telaganya akan paling banyak didatangi.”

(Hadīts ini dishahīhkan oleh Tirmidzi)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ، مَا ؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ اْلمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَ فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang 1 bulan perjalanan, airnya lebih putih dari pada susu dan baunya lebih wangi dari minyak kesturi dan kiizān-nya yaitu sejenis teko sebanyak bintang di langit. Barangsiapa meminum darinya maka dia tidak akan harus selama-lamanya.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya seandainya dia masuk ke dalam neraka setelah itu karena dosa yang dia lakukan maka dia tidak akan diazab dengan rasa haus.

Umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan mendatangi telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan meminum darinya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

• Dan aku akan menolak manusia dari telagaku sebagaimana seseorang menolak unta orang lain dari telaganya

Maka para shahābat bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasūlullāh , apakah engkau mengenal kami pada hari tersebut?”

Beliau menjawab:

“Iya….Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki umat-umat yang lain. Kalian akan mendatangi telagaku dalam keadaan putih wajah, tangan dan kaki kalian dari bekas berwudhu”.

(Hadīts Riwayat Muslim)

Orang yang berimān ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup kemudian dia murtad sepeninggal beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan dijauhkan dari telaga beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadīts, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:

“Aku akan mendahului kalian diatas telaga dan akan dinampakkan beberapa orang diantara kalian kemudian tiba-tiba dijauhkan dariku.

                Akupun bertanya, “Wahai Rabb-ku, Bukankah mereka adalah para sahabatku?” Maka dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah dirimu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, dari ‘Abdullāh bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu)

Di dalam hadīts yang lain dikatakan kepada beliau:

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka rubah setelahmu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Sebagian ulamā mengatakan bahwasanya membuat bid’ah di dalam agama termasuk merubah yang dimaksud di dalam hadīts ini.

Dikhawatirkan dia tidak bisa meminum dari telaga Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam Namun, bukan berarti apabila dia masuk ke dalam neraka dia kekal di dalamnya.

Karena yang kekal di neraka hanyalah orang-orang kāfir.

                Dua hadīts terakhir menunjukkan bahwa setelah meninggal dunia, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan umatnya.

                Semoga Allāh menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa meminum dari telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada hari dimana kita sangat membutuhkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 48 BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-48 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian pertama”

                Di antara kejadian di Padang Mahsyar adalah percekcokan antara para pembesar orang-orang kāfir dan para pengikutnya.

                Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 31-33 Bahwasanya orang-orang kāfir akan dihadapkan kepada Allāh.

                Berkatalah orang-orang yang dianggap lemah kepada pembesar-pembesar mereka, “Kalau bukan karena kalian tentulah kami dahulu menjadi orang-orang yang berimān”

                Pembesar-pembesar tersebut membantah dan mengatakan:

Apakah kami yang telah menghalangi kalian dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepada kalian?

Tidak!

                Sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa (maksudnya kalian sendirilah yang menginginkan kesesatan dan kami hanya mengajak).

                Orang-orang yang dianggap lemah balik membantah dan mengatakan:

Tidak! Sebenarnya tipu daya kalian malam dan siang itulah yang menghalangi kami, ketika kalian menyuruh kami untuk kāfir kepada Allāh dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.

Akhirnya semuanya menyesal tatkala melihat adzab.

                Demikianlah keadaan para pembesar dan tokoh masyarakat yang mengajak kepada kesyirikan dan menghalangi manusia dari tauhīd.

                Mereka berlepas diri dari para pengikut mereka dan tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

                Para pengikut akan celaka sebagaimana para tokoh tersebut dan para pembesar juga celaka.

Oleh karena itu seorang muslim hendaknya menyelamatkan dirinya dari neraka.

Jadilah seorang tokoh masyarakat yang mengajak kepada tauhīd.

                Dan apabila dia orang yang lemah maka janganlah dia mengikuti kemauan para pembesar ataupun orang banyak apabila dia menghalangi manusia dari tauhīd dan mengajak kepada kesyirikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita dan juga mereka.

                Menghilangkan rasa cinta dunia yang berlebihan dalam diri kita dan menghilangkan kesombongan dari dalam kita dan menjadikan rasa takut kita hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

                Dan di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada orang-orang musyrikin tentang sesembahan selain Allāh yang mereka sembah di dunia.

Dimanakah mereka pada hari tersebut.

                Dan Allāh akan bertanya kepada mereka tentang bagaimana sikap mereka terhadap ajakan para rasūl ‘alayhissalām.

Di dalam Surat Al-Qashash 62-66

Allāh akan memanggil orang-orang musyrikin dan menghina mereka dengan bertanya, “Di manakah sekutu-sekutu Ku yang dulu kalian sangka mereka adalah sekutu-sekutu Ku?

                Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan berkata kepada orang-orang musyrikin:

Berdo’alah kalian kepada sekutu-sekutu kalian.

Maka merekapun berdo’a kepada sesembahan-sesembahan mereka di dunia.

Meminta pertolongan kepada mereka dalam keadaan genting tersebut sebagaimana mereka dahulu meminta di dunia.

Maka sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa berbuat apapun dan tidak menjawab seruan mereka.

                Barulah mereka mengetahui bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut tidak bisa menolong mereka sedikitpun.

                Allāh juga akan bertanya kepada mereka, Apakah jawaban kalian terhadap ajakan para rasūl? (Yaitu) apakah kalian membenarkan mereka? Dan mengikuti ajakan mereka untuk bertauhīd?

                Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin sesembahan-sesembahan mereka di dunia tidak bisa mengabulkan do’a mereka ketika sangat dibutuhkan.

Tidak bisa menolong mereka di hadapan Allāh, bahkan mereka berlepas diri.

Allāh berfirman:

وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُ ۥۤ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآٮِٕهِمۡ غَـٰفِلُونَ (٥)وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءً۬ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِہِمۡ كَـٰفِرِينَ (٦)

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang-orang yang berdo’a kepada selain Allāh yang tidak bisa mengabulkan sampai hari kiamat. Dan mereka lalai dari do’a orang yang berdo’a kepada mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka akan menjadi musuh bagi orang-orang yang menyembah mereka. Dan mereka akan mengingkari ibadah yang dilakukan orang-orang musyrikin terhadap mereka.”

(QS. Al-Ahqāf : 5-6)

Adapun orang yang bertauhīd, maka Allāh akan menolong mereka di dunia maupun di akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==================================

HALAQAH – 49 BEBERAPA KEJADIAN DI PADANG MAHSYAR BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-49 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Kejadian Di Padang Mahsyar Bagian kedua”

Di antara kejadian di Padang Mahsyar bahwasanya Allāh akan bertanya kepada para malāikat dan Nabi ‘Īsā. ‘alayhissalām.

Allāh menyebutkan di dalam Surat Sabā’ 40-42 Bahwasanya di Padang Mahsyar Allāh akan bertanya kepada para malāikat yang disembah oleh sebagian manusia.

Sebagai penghinaan terhadap orang-orang musyrikin yang dahulu menyembah mereka.

Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?

Para malāikat menjawab:

“Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka. Akan tetapi sebenarnya mereka dahulu telah menyembah jinn. Kebanyakan mereka berimān kepada jin tersebut”

                Maksudnya bahwasanya orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allāh, baik orang shālih, benda mati dan lain-lain, maka pada hakikatnya mereka menyembah jinn, karena yang menyuruh mereka untuk menyekutukan Allāh adalah jinn.

⇒Apabila mereka menaati, berarti mereka telah menyembah jin tersebut.

                Para malāikatpun tidak berkuasa untuk memberikan manfaat, dan tidak pula mudharat kepada orang-orang yang telah menyembah mereka.

Para penyembah malāikat itu pun akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam Surat Al-Māidah : 116-117

Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh akan bertanya kepada Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām sebagai penghinaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap orang-orang nashrāni yang menjadikan beliau dan ibu-ibu beliau sebagai Tuhan.

Wahai ‘Īsā putra Maryam, Apakah engkau dahulu pernah mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allāh ?

‘Īsā ‘alayhissalām menjawab:

“Maha Suci Engkau tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku untuk mengatakannya”.

Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya.

                Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada dirimu.

                Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

                Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, yaitu “Sembahlah Allāh Rabb-ku dan Rabb kalian”.

Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku hidup, maka setelah Engkau wafatkan atau angkat aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.

Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Demikianlah keadaan para malāikat dan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām.

Mereka adalah mahluk yang taat beribadah kepada Allāh.

Senang apabila manusia hanya menyembah kepada Allāh dan mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah diri mereka.

Demikian pula orang-orang yang shālih dan wali-wali Allāh.

Manusia yang terlalu berlebih-lebihan terhadap mereka,

√ Mereka membuat patung mereka,

√ Mereka memajang gambar mereka,

√ Mereka membangun dan menghias kuburan mereka,

√ Mereka meyakini bahwasanya mereka mengetahui sesuatu yang ghaib,

√ Mereka berdo’a kepada mereka,

√ Mereka bepergian jauh untuk berziarah ke makam mereka,

√ Mereka beri’tikāf di kuburan mereka,

√ Mereka menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka,

√ Mereka membangun masjid di atas kuburan mereka, atau

√ Mereka memasukkan kuburan mereka di dalam masjid,

√ Mereka bertawassul dengan do’a mereka setelah mereka meninggal dunia atau menganggap orang-orang shālih tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allāh, ini semua termasuk berlebihan.

                Jangan sampai keadaan seseorang seperti keadaan kaum Nabi Nūh ”alayhissalām yang berlebihan terhadap lima orang shālih yang disebutkan dalam Surat Nūh : 23

                Atau seperti keadaan sebagian orang yang mengaku mencintai Ali bin Abi Thalib, Fātimah, Hasan, Husain dan sebagian keturunan beliau Radhiyallāhu ‘anhum, kemudian berlebih-lebihan terhadap mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 50 DIKUMPULKANNYA ORANG-ORANG KAFIR DI DALAM NERAKA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Dikumpulkannya Orang-orang Kāfir ke dalam Neraka”

Setelah hisāb di Padang Mahsyar selesai, maka mulailah dipisah antara penduduk Surga dan penduduk Neraka secara bertahap.

                Al-Imām Bukhāri dan Muslim meriwayatkan dalam shahīhnya dari Abū Said Al-Khudry Radhiyallāhu ‘anhu dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

                Bahwasanya kelak di hari kiamat akan ada yang memanggil dan memerintahkan setiap umat untuk mengikuti Tuhan yang dia sembah di dunia.

                Maka tidaklah ada manusia yang menyembah selain Allāh seperti patung dan batu, kecuali dia akan berjatuhan ke dalam neraka.

                Sehingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang berimān baik yang shālih maupun yang fasik dan sebagian kecil atau sisa ahlul kitāb yaitu orang Yahūdi dan Nasrani.

Dikatakan kepada orang Yahūdi:

                Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, ” Kami dahulu menyembah Uzair, anak Allāh”. Dikatakan kepada mereka, “Kalian telah berdusta. Allāh tidak memiliki istri dan anak.”

Lalu apakah yang kalian inginkan?

                Mereka berkata, “Kami haus”. Maka berilah kami air minum, Karena saat itu Allāh memperlihatkan kepada mereka Jahannam yang dari jauh seperti air.

                Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air tersebut, dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mau mendatanginya?

Maka mereka pun dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani:

                Apakah yang kalian sembah? Mereka berkata, “Kami dahulu menyembah ‘Īsā anak Allāh” Dikatakan kepada mereka,” Kalian telah berdusta” Allāh tidak memiliki istri dan anak. Lalu apakah yang kalian inginkan?

Mereka berkata, “Kami haus, maka berilah kami air minum” Maka ditunjukkanlah Jahannam yang dari jauh seperti air dan dikatakan kepada mereka,

Apakah kalian tidak mendatanginya? Akhirnya mereka pun juga dikumpulkan ke Jahannam dan berjatuhan di dalamnya.

                Dan di dalam hadīts Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu yang juga dikeluarkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya Allāh akan berkata kepada manusia:

“Barang siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya”.

                Maka penyembah matahari akan mengikuti matahari, penyembah bulan akan mengikuti bulan, penyembah thaghut akan mengikuti thāghut.

Dan thāghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

Kemudian tersisalah umat Islām dan bersama mereka orang-orang munāfiq.

                Di dalam hadīts ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya orang-orang yang dahulu menyembah Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām , maka akan mengikuti syaithān Nabi ‘Īsā yang diserupakan dengan beliau.

                Dan yang dahulu menyembah Uzair, maka akan mengikuti syaithān Uzair yang diserupakan dengan beliau

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir).

                Demikianlah keadaan orang-orang yang menyembah kepada selain Allāh baik orang-orang musyrikin maupun ahlul kitāb, orang Yahūdi dan Nasrani.

                Mereka akan dipisahkan dari orang-orang yang menyembah Allāh saja.

Yang mencakup orang-orang yang benar-benar menyembah Allāh , mereka lah orang-orang yang berimān maupun orang-orang yang pura-pura menyembah Allāh.

Dan mereka lah orang-orang munāfiq.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

HSI Abdullah Roy, Beriman Kepada Hari Akhir, Halaqah 01 – 25

HALAQAH – 01 MAKNA DAN DALIL BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah yang ke 5 Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang Makna dan Dalil Beriman Kepada Hari Akhir

                Hari akhir, dinamakan demikian, karena tidak ada hari setelahnya. Tidak ada lagi hari yang kita kenal yang dimulai dengan terbitnya matahari dan diakhiri dengan tenggelamnya. Makna beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan segala hal yang berkaitan dengan hari akhir tersebut, mulai dari kematian, fitnah kubur, nikmat dan adzab kubur, tanda-tanda hari kiamat, kebangkitan manusia, dikumpulkannya manusia, perhitungan dan penimbangan amal dan seterusnya sampai masuknya manusia ke dalam surga atau neraka.

                Beriman kepada hari akhir termasuk rukun iman, yang tidak sah iman seseorang bila tidak beriman dengannya. Allah ﷻ berfirman :

وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا

“Dan barang siapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” (An-Nisa’ : 136)

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang apa itu iman,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan juga hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk (HR. Muslim)

Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَٮٰهَا‌ۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّى‌ۖ لَا يُجَلِّيہَا لِوَقۡتِہَآ إِلَّا هُوَ‌ۚ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat kapan terjadinya, katakanlah sesungguhnya ilmunya di sisi Rabb-ku. Tidak mengetahui waktunya, kecuali Dia.” (Al-A’raf : 187)

                Malaikat Jibril ‘alaihissalam pernah menjelma menjadi seorang laki-laki dan datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang kapan hari kiamat terjadi. Maka beliau ﷺ menjawab,

مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui dari pada yang bertanya (HR. Muslim)

                Apabila Malaikat Jibril yang paling dekat dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Rasulullah ﷺ, Nabi yang paling dekat dengan Allah ﷻ tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, maka bagaimana selain keduanya bisa mengetahui.

                Yang lebih penting dari pada itu bagi seorang hamba yang berakal adalah mempersiapkan bekal yang cukup untuk menghadapi hari tersebut.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 02 BEKAL PERJALANAN MENUJU NEGERI AKHIRAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah yang ke 5 Beriman Kepada Hari Akhir adalah “Bekal Perjalanan Menuju Negeri Akhirat”

                Perjalanan menuju negeri akhirat adalah perjalanan yang sangat panjang. Seorang hamba membutuhkan bekal yang cukup agar sampai ke dalam surga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan selamat. Bekal tersebut adalah takwa kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman :

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ‌ۚ

“Dan hendaklah kalian berbekal, maka seseungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.” (Al-Baqarah : 197)

                Bertakwa kepada Allah adalah melaksanakan perintah Allah berdasarkan dalil yang shahih dengan niat mengharap pahala dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah berdasarkan dalil yang shahih karena takut dengan azab Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Orang yang berbahagia kelak adalah orang yang bersabar di dunia ini dan istiqomah untuk mengumpulkan bekal yang cukup bagi perjalanan yang sangat panjang tersebut.

                Mereka-lah orang-orang yang tidak akan takut dengan apa yang akan mereka hadapi dan mereka tidak akan bersedih dengan apa yang sudah mereka tinggalkan. Allah ﷻ berfirman

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka, dan mereka tidak akan bersedih.”

(Al-Ahqaf : 13)

Dan orang yang celaka di akhirat adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya ketika di dunia dan dia lalai dengan hari pembalasan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ يُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمۡ يَوۡمً۬ا ثَقِيلاً۬

“Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan hari yang berat yang ada di belakang mereka”. (Al-Insan : 27)

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

                Itulah halaqah yang kita sampaikan hari ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

HALAQAH – 03 MENJALANKAN PERINTAH ALLAH ﷻ BEKAL MENUJU AKHIRAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir berjudul Menjalankan Perintah Allah ﷻ Bekal Menuju Akhirat”

                Perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى apabila dijalankan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ maka akan menjadi hasanah atau pahala dan bekal menuju akhirat bagi seorang hamba. Perintah yang paling dicintai oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى adalah apa yang Allah ﷻ wajibkan. Rasulullah ﷺ bersabda, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berkata,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari pada apa yang sudah Aku wajibkan atasnya (HR. Bukhori)

                Oleh karena itu seorang muslim, hendaknya memperhatikan kewajiban-kewajiban yang telah Allah ﷻ wajibkan atasnya dan melaksanakan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban di sini ada yang berkaitan dengan hak Allah ﷻ seperti :

1. Tauhid,

2. Shalat lima waktu,

3. Puasa Ramadhan,

4. Haji bagi yang wajib dan lain-lain.

Dan juga ada yang berkaitan dengan hak makhluk seperti :

1. menafkahi orang yang menjadi tanggungan,

2. berbakti kepada kedua orang tua dan lain-lain.

                Kemudian apabila seorang hamba memiliki waktu dan kemampuan maka hendaknya dia menambah bekal dengan berbagai amal sholeh yang mustahab atau disunnahkan seperti :

1. Shalat-shalat sunnah,

2. Puasa-puasa sunnah,

3. Shadaqah sunnah,

4. Membaca Al-Qur’an dan lain-lain.

                Memilih di antara amalan tersebut yang bisa dia kerjakan dengan baik dan bisa dilakukan secara terus-menerus.

Di antara amalan yang besar pahalanya adalah :

1. Menuntut ilmu agama,

2. Dzikrullah,

3. Berjihad di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

4. Akhlak yang baik,

5. Berdakwah di jalan Allah ﷻ dan lain-lain.

                Orang yang sibuk dengan sesuatu yang menjadi kewajibannya sehingga tidak bisa mengerjakan sesuatu yang mustahab atau sunnah, maka dia mendapatkan uzur. Adapun orang yang sibuk dengan sesuatu yang mustahab kemudian dia lalai dengan kewajiban dia, maka orang tersebut adalah orang yang tertipu.

                Mintalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pertolongan di dalam beramal dan mintalah kepada-Nya supaya amalan tersebut diterima. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan sebab amal kita yang sedikit dan penuh dengan kekurangan ini dan rahmat serta kasih sayang Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى lebih kita harapkan dari pada amalan kita.

                itulah yang bisa disampaikan pada halaqah yang ketiga ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 04 MENINGGALKAN KEMAKSIATAN MERUPAKAN BEKAL MENUJU AKHIRAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah “Meninggalkan Kemaksiatan Merupakan Bekal Menuju Akhirat”

                Meninggalkan kemaksiatan apabila dilakukan karena takut kepada Allah ﷻ berdasarkan dalil yang shahih, maka ini akan menjadi pahala bagi seorang hamba. Sebaliknya kemaksiatan apabila dilakukan seorang hamba, maka itu akan menjadi sayyi-ah (dosa) yang membahayakan keselamatan dia di akhirat kelak.

                Dosa bertingkat-tingkat, dan dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang mengekalkan pelakunya di dalam neraka apabila dia mati dan tidak bertaubat dari dosa tersebut.

Yang pertama

                adalah kufur besar atau kekafiran, yaitu menentang apa yang dibawa oleh seorang utusan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى seperti menentang tauhid, mendustakan kenabian seorang Rasulullah ﷺ, mengingkari syariat yang beliau ﷺ bawa, padahal dia mengetahui bahwasanya itu adalah syariat-Nya, atau mengejek dan mengolok-olok Allah, Rasul-Nya dan juga ayat-ayat-Nya dan lain-lain.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah : 39)

Yang kedua

adalah syirik besar. Syirik ini lebih khusus dari kekufuran. Setiap syirik adalah kekufuran. Tapi tidak setiap kekufuran adalah syirik. Allah ﷻ berfirman :

إِنَّهُ ۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَٮٰهُ ٱلنَّارُ‌ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ۬

“Sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim.”

(Al-Maidah : 72)

Yang ketiga

adalah nifaq besar, yaitu menyembunyikan kekufuran di dalam hati dan menampakkan keimanan dengan lisan dan perbuatan. Orang munafik termasuk orang kafir, bahkan lebih besar dosanya dari orang kafir yang menampakkan kekafirannya. Dan di akhirat azab mereka lebih dahsyat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di lapisan paling bawah dari neraka. Dan engkau tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka.”

(An-Nisa : 145)

Alhamdulillah yang telah memberikan kita petunjuk kepada Islam, kalau bukan karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى niscaya kita tidak mendapatkan petunjuk. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan kita ketetapan hati di atas agama islam ini sampai kita bertemu dengan-Nya.

Itulah halaqah yang kita sampaikan hari ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

HALAQAH – 05 DOSA-DOSA BESAR DAN DOSA-DOSA KECIL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Dosa-dosa Besar dan Dosa-dosa Kecil”

Di antara dosa yang berbahaya bagi seorang hamba di akhirat

Yang pertama

adalah dosa bid’ah yang tidak sampai mengkafirkan pelakunya. Bid’ah secara istilah syariat adalah cara yang diada-adakan di dalam agama yang menyerupai syariat, dimaksudkan untuk berlebih-lebihan di dalam bertaqarrub kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Dan bid’ah adalah perkara yang paling jelek. Rasulullah ﷺ bersabda :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Muslim)

                Orang yang melakukan bid’ah seakan-akan menganggap agama yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ belum sempurna dan seakan-akan dia telah menuduh Rasulullah ﷺ mengkhianati risalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Pelaku bid’ah merasa dirinya di atas petunjuk, sehingga sulit dia untuk memperoleh hidayah kecuali orang yang Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى rahmati.

Yang kedua

di antara dosa-dosa yang berbahaya bagi seorang hamba adalah dosa-dosa besar. Yaitu semua dosa yang diancam pelakunya dengan hukuman di dunia atau laknat dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atau amarah dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atau diancam dengan neraka. Seperti berzina, mencuri, riba, durhaka kepada orang tua, membunuh tanpa hak dan lain-lain.

Kemudian , Yang ketiga

adalah dosa-dosa kecil yaitu dosa yang tidak sampai kepada dosa-dosa besar. Seperti melihat kepada aurat wanita yang tidak halal baginya dan lain-lain. Dosa kecil ini bisa menjadi besar karena beberapa sebab di antaranya adalah apabila dilakukan secara terus-menerus tanpa melakukan taubat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Rasulullah ﷺ bersabda :

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap ringan, karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut berkumpul pada diri seseorang sampai membinasakannya

(Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad)

Dosa berupa kedzaliman kepada orang lain baik harta, kehormatan maupun fisik akan menjadi penyesalan di hari kiamat, apabila tidak meminta dihalalkan di dunia ini.

HALAQAH – 06 PENGHAPUS DOSA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Penghapus Dosa”

                Setiap anak Adam pasti memiliki dosa. Untuk itu setiap muslim hendaknya mengetahui perkara-perkara yang bisa menghapus dosa tersebut, supaya dia keluar dari dunia ini dengan keadaan sebersih mungkin dari dosa. Empat perkara yang apabila diamalkan bisa menghapus dosa seseorang :

Yang pertama adalah taubat yang nasuha Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang nasuha, semoga Rabb kalian menghapus dosa-dosa kalian”. (At-Tahrim : 8)

                Taubat yang nasuha adalah taubat yang memenuhi tiga syarat : penyesalan yang mendalam, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan bertekad kuat untuk tidak melakukannya di masa yang akan datang. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain maka hendaklah segera menunaikan hak tersebut dan minta segera dihalalkan. Apabila berupa harta maka segera dikembalikan dan apabila berupa kehormatan maka segera meminta maaf.

Yang kedua memperbanyak memohon maghfirah dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan makna memohon maghfirah yang pertama adalah memohon supaya ditutupi dosanya dari manusia, kemudian memohon supaya dosa-dosanya tersebut dihapus oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sehingga tidak diazab dengan dosa yang sudah dilakukan. Rasulullah ﷺ bersabda :

وَاللَّهِ إِنِّي لأَسْتَغْفِرُاللَّه وَأَ تُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

Demi Allah, aku beristighfar kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan bertaubat kepada-Nya di dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali (HR. Bukhari)

Yang ketiga adalah beramal shaleh Allh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ‌ۚ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan-kejelekan.” (Hud : 114)

Yang ke empat adalah bersabar ketika tertimpa musibah Rasulullah ﷺ bersabda :

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا

Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa seorang muslim, kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menghapus dengan musibah tersebut dosanya sampai apabila dia terkena duri (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, janganlah seorang muslim berputus asa bagaimanapun besar dosa yang ia lakukan. Perbaikilah amal di sisa umur yang ada. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Al-Ghoffururrohiim mengampuni dan menutupi dosa-dosa kita yang telah lalu.

Itulah halaqah yang kita sampaikan hari ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 07 KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Kematian”

                Kematian adalah keluarnya nyawa seseorang dari jasadnya. Kematian adalah ciptaan Allah ﷻ untuk menguji siapa diantara kita yang paling baik amalannya. dia adalah sunnatullah bagi setiap jiwa, bagaimanapun dia berusaha untuk lari dari kematian tersebut. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian,”

(Ali Imran : 185)

                Seseorang tidak mengetahui kapan dan dimana dia akan meninggal. Dan apabila datang, maka kematian tersebut tidak bisa diundurkan. Sering mengingat mati adalah perkara yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ Diharapkan dengan mengingat mati seseorang lebih khusuk di dalam beribadah, bersegera bertaubat dan tidak lalai atas kenikmatan dunia yang fana ini. Rasulullah ﷺ bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Hendaklah kalian memperbanyak mengingat sesuatu yang memutus semua kelezatan

(HR. Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, berkata Syaikh Albani: Hasan Shahih)

                Harapan setiap muslim adalah meninggal dalam keadaan husnul khatimah, yaitu meninggal dalam keadaan taat kepada Allah ﷻ. Caranya adalah dengan berdo’a dan menjaga ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى selama hidupnya.

                Di dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى apabila menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka akan diberikan taufik untuk beramal shalih sebelum ia meninggal dunia.

                Dan diantara amal shalih tersebut adalah mengucapkan Laa ilaaha illallah. Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa ucapan terakhirnya adalah kalimat Laa ilaaha illallah maka dia akan masuk ke dalam surga. (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)

                Kecanduan melakukan dosa, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tanpa diiringi dengan taubat dikhawatirkan akan menjadi sebab su-ul khatimah. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى membersihkan hati kita dari ketergantungan dengan dosa.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 08 FITNAH KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Fitnah Kubur

                Di antara beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan adanya fitnah kubur. Fitnah secara bahasa artinya adalah ujian. Fitnah kubur adalah tiga pertanyaan yang akan diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir kepada mayit baik seorang mukmin, kafir maupun munafiq. Ditanya tentang siapa Rabb-nya? Siapa Nabi-nya? Dan apa agamanya?

                Suatu hari Rasulullah ﷺ pernah menguburkan mayat bersama para sahabat. Kemudian beliau ﷺ berkata kepada mereka :

اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

Hendaklah kalian memohon ampun untuk saudara kalian dan mintalah untuknya ketetapan hati karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)

                Yang akan menjawab pertanyaan dengan baik adalah orang yang Allah tetapkan hatinya. Yang dia dahulu di dunia mengenal Allah ﷻ, mengenal Rasul-Nya dan juga mengenal agama islam. Kewajiban seorang muslim adalah bersungguh-sungguh mempersiapkan jawaban yang benar untuk menghadapi ujian yang soal-soalnya sudah dibocorkan ini. Dan penjelasan tentang mengenal Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ dan agama islam telah kita sebutkan di dalam silsilah ilmiyyah nomor 2, 3, 4

                Ada beberapa orang yang mereka kelak tidak akan menghadapi fitnah kubur. Di antaranya adalah para syuhada yaitu orang-orang yang meninggal di dalam peperangan di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ : “Yaa Rasulullah, mengapa orang-orang yang beriman diuji di dalam kubur mereka kecuali orang yang syahid?” Maka Rasulullah ﷺ menjawab :

كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنُةً

Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian (Hadits Shahih Riwayat An-Nasa’i).

Di antara mereka adalah orang yang meninggal di hari jumat atau malam jumat. Rasulullah ﷺ bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari jumat atau malam jumat kecuali Allah ﷻ akan menjaganya dari fitnah kubur (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi)

Kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menetapkan hati kita dan orang-orang yang kita cintai di dalam menghadapi fitnah kubur.

itulah yang bisa disampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 09 NIKMAT DAN AZAB KUBUR BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Ni’mat dan Azab Kubur Bagian Yang Pertama”

                Diantara beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan adanya azab dan nikmat kubur. Kewajiban seorang mukmin adalah beriman meskipun belum atau tidak mengetahui hakekat caranya. Kata kubur di sini adalah kebanyakan atau keumuman dan bukan merupakan pembatasan. Artinya seseorang akan tetap mendapatkan azab atau nikmat kubur kalau memang dia berhak meskipun dia mati dalam keadaan tenggelam atau terbakar sehingga menjadi abu atau dimakan binatang buas atau yang lain. Tentunya dengan cara yang Allah ﷻ ketahui.

Dalil adanya azab kubur di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tentang orang-orang munafiqin

ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيم

“Kami akan mengazab mereka dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”

(At-Taubah : 101)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, azab yang pertama adalah di dunia dan azab yang kedua adalah di kubur. Di dalam hadits Albarra’ ibnu ‘Azib radhiallahu ‘anhu yang panjang yang menceritakan tentang fitnah, nikmat dan azab kubur, Rasulullah ﷺ bersabda :

إسْتَعِيذو بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari azab kubur

(Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan juga yg lain)

Hadits-hadits tentang azab kubur termasuk mutawatir menurut para ‘ulama.

itulah halaqah yang kita sampaikan hari ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 10 NIKMAT DAN AZAB KUBUR BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Nikmat dan Azab Kubur Bagian yang kedua”

                Di dalam hadits Al-Barra’ radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwasanya orang yang beriman apabila bisa menjawab fitnah kubur dengan baik akan diberi alas yang berasal dari surga, diberi pakaian dari surga, dibuka pintu menuju surga, sehingga dia diterpa angin surga dan mencium wanginya bau surga dan diluaskan kuburnya sejauh mata memandang. Kemudian ditemani amal shaleh yang selama ini dia lakukan di dunia, yang Allah ﷻ wujudkan berupa seorang yang berwajah bagus, berpakaian indah dan berbau wangi.

                Adapun orang yang kafir, maka ketika tidak bisa menjawab fitnah kubur dia akan diberi alas yang berasal dari neraka, pakaian dari neraka, dibuka pintu menuju neraka sehingga dia diterpa angin yang panas dari neraka. Kemudian disempitkan kuburnya, sehingga tulang rusuknya saling bersilangan. Kemudian ditemani dosa-dosa yang selama ini dia lakukan di dunia, yang Allah ﷻ wujudkan berupa seorang yang buruk rupa dan pakaian serta menyengat bau badannya.

                Secara umum kemaksiatan adalah sebab azab kubur. Rasulullah ﷺ telah menyebutkan beberapa kemaksiatan yang merupakan sebab azab kubur di antaranya adalah namimah yaitu mengadu domba dan juga tidak menjaga kesucian diri dan juga pakaian dari air kencing. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.

                Azab kubur bagi orang yang beriman bisa terhenti dan terputus dengan sebab tertentu di antaranya adalah doa orang yang berziarah. Menghindari kemaksiatan dan bertaubat dari kemaksiatan adalah cara untuk selamat dari azab kubur. Doa sebelum salam yang diajarkan Rasulullah ﷺ hendaknya jangan diremehkan, meskipun hukumnya sunnah.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka Jahanam, dan siksaan kubur, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semoga melindungi kita semua dari azab kubur.

itulah materi yang kami sampaikan pada hari ini dan sampai ketemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 11 TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG SUDAH TERJADI DAN TELAH BERLALU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Telah Berlalu”

Hari kiamat adalah hari akhir dunia ini. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwa hari tersebut sudah dekat, yaitu apabila dibandingkan dengan umur dunia ini secara keseluruhan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬ مُّعۡرِضُونَ

Telah dekat perhitungan bagi manusia, sedangkan mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling.

(Al-Anbiya :1)

Tanda-tanda terjadinya hari kiamat sudah mulai bermunculan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَہُم بَغۡتَةً۬‌ۖ فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَا‌ۚ

Maka mereka tidaklah menunggu kecuali hari kiamat yang akan datang dengan tiba-tiba maka sungguh telah datang tanda-tandanya. (Muhammad : 18)

                Di antara tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi dan telah berlalu adalah diutusnya Nabi kita Muhammad ﷺ Beliau ﷺ pernah bersabda :

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Diutusnya aku dan bangkitnya hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yaitu jari tengah dan jari telunjuk (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan di antara tanda-tanda hari kiamat yang sudah terjadi dan telah berlalu adalah terbelahnya bulan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ

Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan.

(Al-Qomar : 1)

Dan telah terbelah bulan menjadi dua di zaman Rasulullah ﷺ ketika orang-orang musyrikin di awal dakwah beliau meminta bukti kerasulan beliau ﷺ Kemudian beliau ﷺ mengatakan kepada mereka “Lihatlah, lihatlah!” (HR. Muslim).

                Dua tanda di atas sudah terjadi kurang lebih 1400 tahun yang lalu. Tentunya semakin dekatnya hari kiamat hendaklah membuat seorang muslim segera sadar dari kelalaian dia selama ini.

itulah materi yang kami sampaikan pada hari ini dan sampai ketemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 12 TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG SUDAH TERJADI DAN SEDANG TERJADI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Tanda-tanda Hari Kiamat Yang Sudah Terjadi Dan Sedang Terjadi”

Di antaranya :

Yang pertama

adalah keluarnya nabi-nabi palsu setelah Nabi Muhammad ﷺ Rasulullah ﷺ bersabda :

Tidak akan datang hari kiamat sampai datang para pendusta mendekati tiga puluh orang. Semuanya mengaku sebagai utusan Allah

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan nabi-nabi palsu di dalam hadits ini adalah orang-orang yang mengaku menjadi nabi setelah Rasulullah ﷺ dan mereka memiliki banyak pengikut. Seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Al-Aswad Al-Amsi, Muhtar Ats-Tsaqafi dan lain-lain. Adapun orang yang mengaku sebagai nabi dan diikuti oleh segelintir manusia, maka ini banyak dan lebih dari tiga puluh orang.

Yang kedua

berlombanya orang-orang yang dahulunya miskin dalam membangun bangunan. Rasulullh ﷺ ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang sebagian tanda-tanda hari kiamat maka beliau mengatakan:

Engkau akan melihat orang yang dahulunya tidak beralas kaki, tidak berpakaian, orang miskin, penggembala kambing, mereka saling berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan (HR. Muslim)

Kemudian di antara tanda-tanda hari kiamat yang sudah terjadi dan sedang terjadi

Yang ketiga

adalah disandarkannya pekerjaan kepada orang yang tidak berhak. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya

Apabila amanat sudah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat, Beliau ditanya : Yaa Rasulullah, Bagaimana menyia-nyiakan amanat? Maka beliau ﷺ mengatakan Apabila sebuah perkara sudah disandarkan kepada orang yang tidak berhak, maka tunggulah hari kiamat (HR. Bukhari)

                Dan betapa banyak di zaman kita, amanat diberikan kepada orang yang tidak berhak.

Kemudian,

Yang keempat

adalah salam hanya untuk orang yang dikenal. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

إن من أشراط الساعة أذا كانت تحية على للمعرفة

Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat, apabila salam itu hanya diberikan kepada orang yang dikenal (HR. Imam Ahmad)

                Petunjuk Nabi ﷺ adalah memberikan salam kepada orang yang dikenal maupun orang yang tidak dikenal. Benar apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ dan apa yang beliau sampaikan semuanya adalah wahyu dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Hal ini hendaknya menambah keimanan bagi seorang muslim dan hendaknya dia waspada dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi hari kiamat yang sudah semakin dekat ini.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 13 TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG BELUM TERJADI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Tanda-Tanda Dekatnya Hari Kiamat Yang Belum Terjadi”

Di antaranya adalah keluarnya Imam Mahdi. Rasulullah ﷺ bersabda :

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ – قَالَ زَائِدَةُ فِى حَدِيْثِهِ – لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ اليَوْمَ ثُمَّ اتَّفَقُوا حَتىَّ يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّي – أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِى. زَادَ فِي حَدِيْثِ فِطْرٍ: يَمْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

Seandainya tidak tersisa dunia ini kecuali satu hari saja niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan memanjangkan hari tersebut sehingga Allah mengutus seseorang yang berasal dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku dan nama bapaknya sama dengan nama bapakku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kedzoliman (Hadits hasan shahih riwayat Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain beliau ﷺ mengatakan :

الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ

Al-Mahdi adalah dari keluargaku. Luas dahinya, mancung hidungnya, akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah bumi ini penuh dengan kedzoliman dan akan berkuasa selama tujuh tahun (Hadits hasan shahih riwayat Abu Dawud)

Dan hadits-hadits yang shahih tentang keluarnya Iman Mahdi mutawatir diriwayatkan oleh 26 sahabat Nabi ﷺ

                Kewajiban seorang muslim adalah beriman dengan seyakin-yakinnya dengan keluarnya Imam Mahdi tersebut, sebagaimana disifatkan didalam hadits-hadits yang shahih. Dan waspadalah dengan orang-orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi atau diyakini pengkutnya sebagai Imam Mahdi. Imam Mahdi bukanlah yang sembunyi di gua selama lebih dari 1000 tahun. Beliau akan muncul kelak sebelum datangnya Dajjal dan sebelum turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau adalah imam yang shaleh yang muncul di tengah-tengah manusia, menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 14 TANDA-TANDA BESAR DEKATNYA HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-14 belas dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Tanda-Tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat”

Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah sepuluh tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul sepuluh tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain.

Suatu saat Nabi Muhammad ﷺ melihat para sahabat sedang saling berbicara. Maka beliau bertanya :

Apa yang sedang kalian bicarakan? Maka mereka menjawab “Kami sedang mengingat hari kiamat.” Kemudian beliau ﷺ berkata :

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ

Sesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut, sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda-tanda, Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sepuluh tanda tersebut, yaitu:

1. Asap

2. Dajjal

3. Daabbah (seekor hewan melata)

4. Terbitnya matahari dari barat

5. Turunnya Nabi Isa Ibnu Maryam

6. Ya’juj dan Ma’juj

7. Khosf di timur (terbenamnya sebagian tanah di timur)

8. Khosf di barat

9. Khosf di Jazirah Arab

10. Api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang pengumpulan

(HR. Imam Muslim).

Apa yang tersebut dalam hadis di atas bukanlah berurutan dan insya Allah akan kita pelajari satu persatu dari tanda-tanda tersebut pada halaqah-halaqah selanjutnya.

itulah yang bisa kita sampaikan, sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 15 DAJJAL BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Dajjal Bagian Yang Pertama”

Dajjal yang secara bahasa artinya pendusta besar merupakan seorang manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang di akhir zaman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menjadikan dia fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Rasulullah ﷺ bersabda :

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّال

Tidak ada fitnah antara penciptaan Adam sampai hari kiamat yang lebih besar dari pada fitnah Dajjal (HR. Muslim).

                Sebelum keluarnya Dajjal, Bumi dalam keadaan kemarau yang sangat panjang. Manusia sangat membutuhkan air dan juga makanan. Dajjal muncul dan mengaku sebagai tuhan rabbul ‘alamiin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan dia kemampuan untuk bergerak cepat, menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman. Dia membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka, sehingga orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى seperti orang-orang musyrik, kafir dan munafiq, mereka pun mengikuti Dajjal. Di antaranya adalah tujuh puluh ribu orang Yahudi Asbahan (HR. Muslim)

                Dan Asbahan adalah nama sebuah daerah. Sampai ada seseorang yang awalnya menyangka dirinya beriman setelah melihat perkara yang luar biasa pada diri Dajjal, akhirnya dia mengkuti Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

Setiap Nabi telah mengingatkan umatnya fitnah Dajjal ini. Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ

Sesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Dan tidaklah seorang Nabi kecuali dia telah memperingatkan kaumnya, dari Dajjal. Demikian pula Nuh ‘alaihissalam. (HR. Bukhari)

                Dajjal sekarang ada di sebuah pulau. Thammim Ad-Daari seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam saat masih beragama Nashrani, dia dan beberapa orang temannya pernah terdampar di pulau tersebut, mereka melihat Dajjal dalam keadaan terikat kuat. Bahkan sempat terjadi dialog antara mereka dengan Dajjal. Kemudian Thammim mengabarkan pertemuan dan dialog ini kepada Nabi ﷺ setelah masuk islam dan dibenarkan oleh Nabi ﷺ (Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim)

sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

HALAQAH – 16 DAJJAL BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Dajjal Bagian 2 ”

                Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi yang sangat menginginkan keselamatan bagi umatnya, telah menyebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih tentang ciri-ciri Dajjal. Di antaranya, bahwasanya Dajjal adalah orang yang gemuk badannya, kulitnya berwarna merah, rambuntya keriting, mata kanannya buta, mata kirinya seperti anggur, dan tertulis di antara kedua matanya tiga huruf Kaf, Fa dan Ra. Dalam riwayat lain disebutkan Kafir. Semua orang yang beriman bisa membaca, baik yang buta huruf maupun yang tidak buta huruf.

                Ciri-ciri di atas disebutkan dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim. Di dalam shahih Muslim disebutkan bahwasanya Dajjal tidak memiliki anak. Orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengetahui bahwasanya Dajjal bukanlah rabbul ‘alamin. Mereka tahu bahwasanya Allah ﷻ tidak dilihat di dunia dan Allah ﷻ tidak buta sebelah. Adapun kehebatan yang dimiliki oleh Dajjal, maka semuanya adalah dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى untuk menguji keimanan para hamba. Rasulullah ﷺ bersabda :

                Apabila samar bagi kalian Rab kalian, maka ketahuilah bahwa Rab kalian tabaroka wa ta’ala tidaklah buta sebelah matanya dan sesungguhnya kalian tidak akan melihat Rab kalian tabaroka wa ta’ala sampai kalian meninggal dunia (HR. Ahmad dan Abu Dawud dishahihkan oleh Albani rahimahullah)

Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari, satu hari pertama seperti satu tahun, satu hari kedua seperti sebulan, satu hari ketiga seperti seminggu dan hari-hari yang lain seperti hari-hari biasa (HR. Muslim)

Jadi kurang lebih apabila dihitung dengan hari-hari biasa, dia akan tinggal di bumi selama satu tahun dua setengah bulan.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah hari ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 17 DAJJAL BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Dajjal Bagian 3”

Seorang muslim hendaknya mencari jalan keselamatan dari fitnah Dajjal di antaranya,

Yang pertama

berusaha mengenal Allah ﷻ dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena orang-orang yang mengikuti Dajjal adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Yang kedua

menaati Rasulullah ﷺ Karena Dajjal ketika dikabarkan oleh Thamim Addaari radhiallahu ‘anhu dan juga kawan-kawannya, bahwasanya Muhammad ﷺ telah muncul dan menang serta menjadi orang yang ditaati, maka Dajjal mengatakan yang artinya,

Ketahuilah, bahwasanya menaati dia (yaitu Muhammad ﷺ) adalah lebih baik bagi mereka (HR. Muslim)

Yang ketiga

adalah memperbanyak doa ketetapan hati.

ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺛَﺒِّﺖْ ﻗَﻟْﺒِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻨِﻚَ

Kemudian, Yang keempat

adalah membaca doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ sebelum salam.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ، ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴْﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ

Sebagian pendahulu kita, dahulu menyuruh anaknya untuk mengulang sholat lagi apabila tidak membaca doa ini ketika sholat.

Yang kelima

adalah berusaha menjauh dari Dajjal apabila mendengar tentang kedatangannya. Karena Dajjal memiliki syubhat kerancuan yang bisa menggoyahkan iman seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :

Barang siapa yang mendengar tentang Dajjal maka hendaklah menjauh darinya karena demi Allah sesungguhnya seseorang mendatangi dajjal dan dia menyangka bahwasannya dia adalah beriman ternyata kemudian dia mengikuti dajjal tersebut karena melihat syubhat yang dimiliki oleh Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

Di dalam shahih muslim disebutkan bahwasannya manusia akan pergi ke gunung-gunung untuk menghindari dajjal.

Kemudian yang keenam

apabila mampu maka hendaklah dia pergi ke dua tanah haram Makkah dan juga Madinah. Karena keduanya tidak bisa dimasuki oleh Dajjal (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian yang ketujuh

apabila terpaksa bertemu dengan Dajjal maka hendaklah dia bersabar, tetap diatas kebenaran dan tidak menaati Dajjal tersebut dan hendaknya dia membaca 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :

Barang siapa di antara kalian yang menemui dajjal maka hendaklah dia membaca awal dari surat Al Kahfi (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Beliau mengatakan :

Barang siapa yang menghafal 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi maka dia akan terjaga dari Dajjal (HR.Muslim)

Yang kedelapan

apabila melihat Dajjal membawa dua sungai, sungai dari api dan sungai dari air maka petunjuk Nabi ﷺ hendaknya kita memejamkan mata, menundukkan kepala kemudian meminum dari sungai api karena sebenarnya itu adalah air yang dingin (HR. Muslim)

Dajjal muncul di masa Imam Mahdi sebelum turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan akan dibunuh oleh Nabi ‘Isa. Kewajiban seorang muslim adalah beriman dengan munculnya Dajjal sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits-hadits yang shahih. Dajjal bukanlah khayalan atau simbol kerusakan semata.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah Dajjal.

itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 18 TURUNNYA NABI ISA ‘ALAIHISSALAM BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam Bagian 1 ”

Ketika orang-orang Yahudi berusaha membuat makar untuk membunuh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan beliau dengan mengangkat beliau ke atas kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Turunnya beliau ‘alaihissalam ke Bumi, Allah jadikan sebagai salah satu tanda besar dekatnya hari kiamat. Allah berfirman

ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻌِﻠْﻢٌ ﻟِﻠﺴَّﺎﻋَﺔِ

“Dan sesungguhnya itu adalah tanda dekatnya hari kiamat.” (Az-Zukhruf : 61)

Berkata ‘Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, maksud dari hal itu adalah turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam (diriwayatkan oleh Ath-Thobari dalam tafsirnya)

                Beliau turun di saat kaum muslimin sedang di masa genting menghadapi dahsyatnya fitnah Dajjal. Turun di waktu shubuh dan sholat di belakang Imam Mahdi, imam kaum muslimin saat itu. Rasulullah ﷺ bersabda :

ﻛﻴﻒ ﺃﻧﺘﻢ ﺇﺫﺍ ﻧﺰﻝ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ ﻓﻴﻜﻢ ﻭﺇﻣﺎﻣﻜﻢ ﻣﻨﻜﻢ

Bagaimana kalian jika turun Ibnu Maryam di tengah-tengah kalian dan imam kalian saat itu adalah dari kalian (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal yang pertama kali yang beliau lakukan adalah membunuh Dajjal yang sedang mengepung sebagian kaum muslimin di Baitul Maqdis. Beliau membunuh dengan tombak kecil beliau setelah itu Dajjal hampir melarut habis seperti melarutnya garam karena melihat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

                Kemudian umat islam pun memerangi orang-orang yang bersama Dajjal, di antaranya adalah orang-orang Yahudi, sampai batu dan juga pohon-pohonan membantu umat islam memerangi orang-orang Yahudi.

                Setiap ada orang Yahudi yang berusaha untuk bersembunyi di belakang batu atau pohon maka berkatalah batu atau pohon tersebut :

Wahai muslim, ini Yahudi bersembunyi di belakangku, maka bunuhlah dia. Kecuali pohon Ghorqot (Hadits shahih HR.Muslim)

                Setelah itu keluarlah Ya’juj dan juga Ma’juj yang membuat kerusakan besar di permukaan Bumi maka Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan juga kaum muslimin berdoa kepada Allah supaya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى membinasakan mereka.

itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 19 TURUNNYA NABI ISA ‘ALAIHISSALAM BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2”

Setelah Ya’juj dan Ma’juj binasa, jadilah Nabi ‘Isa ‘alaihissalam seorang pemimpin yang adil yang menegakkan syariat islam. Rasulullah ﷺ bersabda :

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hampir-hampir turun ‘Isa Ibnu Maryam di antara kalian sebagai seorang penguasa yang adil. Maka dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menggugurkan atau membatalkan hukum jizyah, harta benda melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerima shadaqah. Sehingga sujud sekali saat itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya (HR. Bukhari dan Muslim)

                Beliau turun ‘alaihissalam, beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mengikuti syari’at beliau dan bukan untuk menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ Manusia saat itu dalam keadaan aman, tentram dan damai. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya kehidupan saat itu adalah kehidupan yang sangat indah. Langit di ijinkan untuk menurunkan hujan, Bumi di ijinkan untuk mengeluarkan tanaman, bahkan seandainya ada sebuah biji yang jatuh di atas batu yang keras niscaya dia akan tumbuh. Tidak ada saling bakhil, tidak ada saling hasad dan tidak ada saling benci.

                Sampai seandainya ada seseorang melewati seekor singa, niscaya singa tersebut tidak akan mengganggunya. Dan seandainya ada orang yang menginjak seekor ular niscaya ular tersebut tidak akan mengganggunya

(Hadits Shahih Riwayat Ad-Dailami).

Di dalam Shahih Muslim disebutkan

bahwasanya beliau akan melakukan haji dan umrah.

Dan di dalam hadits yang lain disebutkan

bahwasanya beliau akan tinggal di Bumi selama 40 tahun. Kemudian meninggal dan dishalatkan oleh orang islam (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).

itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah – 20 Ya’juj dan Ma’juj Bagian 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Ya’juj dan Ma’juj Bagian 1”

Ya’juj dan Ma’juj adalah nama dua umat manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka sudah ada di zaman Dzulqarnain dan membuat kerusakan di permukaan bumi. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan rahmat-Nya telah melidungi manusia dari mereka. Dzulqarnain telah membuat dinding raksasa dari besi dan tembaga untuk mencegah mereka keluar sampai waktu yang ditentukan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

                Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullah, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwasannya Ya’juj dan Ma’juj menggali setiap hari dan berusaha untuk keluar. Ketika hampir mereka melihat sinar matahari maka sebagian dari mereka mengatakan,

Kembalilah kalian, besok kita akan menggali kembali.

Dan mereka tidak mengatakan insya Allah. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengembalikan galian mereka seperti sedia kala, seakan-akan belum mereka gali. Demikian setiap hari sampai ketika sudah waktunya mereka keluar sebagian mereka mengatakan setelah selesai menggali :

Kembalilah kalian, besok insya Allah kita akan menggali lagi.

Maka pada esok harinya mereka mendapatkan galian mereka dan akhirnya mereka pun bisa keluar. Suatu hari Rasullulah ﷺ pernah mengabarkan bahwa di zaman beliau dinding tersebut telah terbuka sedikit, seperti lingkaran yang dibentuk ibu jari dengan jari telunjuk (HR. BukhAri)

                Kalo sudah mendekat hari kiamat, maka dinding tersebut akan hancur dan mereka pun akan keluar. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّى جَعَلَهُ ۥ دَكَّآءَ‌ۖ وَكَانَ وَعۡدُ رَبِّى حَقًّ۬ا وَتَرَكۡنَا بَعۡضَہُمۡ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَمُوجُ فِى بَعۡضٍ۬‌ۖ

“Dzulqarnain berkata, apabila datang janji Rab-ku maka Rab-ku akan menghancur leburkan dinding tersebut. Maka kami akan biarkan mereka pada hari itu bercampur antara satu dengan yang lain. ,”

(Al-Kahfi: 98-99)

Dan mereka akan dengan cepat keluar

sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتۡ يَأۡجُوجُ وَمَأۡجُوجُ وَهُم مِّن ڪُلِّ حَدَبٍ۬ يَنسِلُونَ

“Hingga apabila dibuka Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya : 96)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menjadikan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj sebagai salah satu tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Halaqah – 21 Ya’juj dan Ma’juj Bagian 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Ya’juj dan Ma’juj Bagian 2 ”

Ya’juj dan Ma’juj keluar setelah binasanya Dajjal. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mewahyukan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam

أَنِّيْ قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِيْ لاَ يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِيْ إِلَى الطُّوْرِ

Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku (yaitu Ya’juj dan Ma’juj) yang tidak seorangpun bisa melawan mereka. Maka kumpulkanlah hamba-hamba-Ku (yaitu kaum muslimin) ke Gunung Thur (HR. Muslim)

                Jumlah mereka sangat banyak. Ketika orang-orang yang di bagian depan melewati sebuah sungai dan meminumnya, maka yang di berada akhir tidak mendapatkan air tersebut. Dan mengatakan, dahulu di sini ada airnya (HR. Muslim)

Manusia lari dari Ya’juj dan Ma’juj dan bersembunyi di benteng-benteng mereka, setelah banyak membuat kerusakan di bumi, maka Ya’juj dan Ma’juj berkata “Kita telah membunuh penduduk Bumi, maka marilah kita membunuh penduduk langit”. Mereka pun mengarahkan anak panah mereka ke langit. Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengembalikan anak panah mereka tersebut ke Bumi dalam keadaan berlumuran darah. Mereka pun mengatakan Kita telah mengalahkan penduduk langit (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

                Ya’juj dan Ma’juj mengepung Nabi Isa ‘alaihissalam dan para sahabatnya di Gunung Thur. Akhirnya beliau berdoa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka Allah menurunkan ulat di leher-leher Ya’juj dan Ma’juj. Maka meninggallah mereka dalam satu waktu. Kemudian turunlah Nabi Isa ‘alaihissalam dan para pengikutnya dan mereka tidak mendapatkan satu jengkal tanah kecuali di situ ada bangkai Ya’juj dan Ma’juj. Mereka pun meminta kepada Allah supaya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى membersihkan. Akhirnya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengirimkan burung yang membawa bangkai-bangkai mereka. Kemudian, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan hujan yang membersihkan bumi (HR. Muslim)

Dalam hadits shahih yang lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda :

Kaum muslimin akan menggunakan bekas busur anak panah dan tameng kayu Ya’juj dan Ma’juj sebagai kayu bakar selama tujuh tahun.

Ini menunjukkan banyaknya jumlah Ya’juj dan juga Ma’juj.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 22 KEADAAN ISLAM SETELAH MENINGGALNYA NABI ISA ‘ALAIHISSALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Islam Setelah Meninggalnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam”

Setelah jaya di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, melemahlah islam kembali sedikit demi sedikit dan akan diangkat Al-Quran. Rasulullah ﷺ bersabda :

                Islam akan hilang sedikit demi sedikit, seperti hilangnya lukisan pada pakaian. Sehingga tidak diketahui apa itu puasa, sholat, menyembelih dan juga shadaqah. Akan pergi Alquran dalam satu malam, sehingga tidak tersisa satu ayat pun. Dan akan ada beberapa kelompok manusia, laki-laki tua dan wanita tua dan mengatakan “Kami mendapatkan nenek moyang kami dahulu di atas kalimat Laa ilaa ha illallah, maka kami pun mengatakannya.”

(Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah)

Akan datang masa di mana banyak perzinaan dilakukan secara terang-terangan di pinggir jalan (HR. Muslim)

Tidak ada haji ke Baitullah (HR. Bukhari).

Dan ka’bah akan dihancurkan oleh sebagian orang (HR. Muslim)

Manusia akan kembali ke zaman jahiliyyah bahkan lebih parah. Akan kembali tersebar penyembahan terhadap berhala dan merekalah orang-orang yang akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ، هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

Tidak akan bangkit hari kiamat kecuali atas orang-orang yang paling jelek yang mereka lebih jelek dari pada orang yang hidup di zaman jahiliah (HR. Muslim)

Urutan tanda-tanda besar hari kiamat sampai meninggalnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam jelas di dalam hadits-hadits shahih, demikian pula tanda terakhir, yaitu, keluarnya api yang menggiring manusia ke Mahsyar atau tempat pengumpulan.

Adapun 6 tanda yang lain,

1. terbitnya matahari dari barat,

2. keluarnya hewan melata dari Bumi,

3. keluarnya asap,

4. tiga khosf yaitu tenggelamnya sebagian tanah di barat,

5. tenggelamnya sebagian tanah di timur dan

6. tenggelamnya sebagian tanah di jazirah arab,

Maka wallahu a’lam tentang urutan yang benar, bagi 6 tanda ini. Hanya Rasulullah ﷺ telah mengabarkan :

bahwasanya antara terbitnya matahari dari barat dan keluarnya seekor hewan melata dari bumi, ini jaraknya sangat dekat. Apabila salah satu dari keduanya muncul, maka yang lain akan segera muncul (HR. Muslim)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 23 TERBITNYA MATAHARI DARI BARAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Terbitnya Matahari Dari Barat”

Matahari setiap harinya meminta izin kepada Allah ﷻ untuk terbit dari timur, sampai ketika sudah waktunya maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak mengizinkan matahari untuk terbit dari timur. Dan menyuruhnya kembali dari tempat dia datang, yaitu arah barat. Akhirnya terbitlah matahari dari barat (HR. Bukhari)

                Terbitnya matahari dari barat adalah termasuk tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Apabila manusia melihatnya, maka mereka akan beriman semuanya dan akan yakin bahwa kiamat memang sudah dekat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ أَوۡ يَأۡتِىَ رَبُّكَ أَوۡ يَأۡتِىَ بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ‌ۗ يَوۡمَ يَأۡتِى بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَـٰنُہَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِىٓ إِيمَـٰنِہَا خَيۡرً۬ا‌ۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

“Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan para malaikat yaitu malaikat maut atau kedatangan Allah atau kedatangan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Hari ketika datang sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhanmu, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau belum beramal kebaikan di dalam imannya. Katakanlah, “Tunggulah, sesungguhnya kita juga menunggu.” (Al-An’am :158)

                Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menafsirkan bahwa tanda kebesaran Allah ﷻ di dalam ayat ini adalah terbitnya matahari dari barat. Saat itu orang kafir bertaubat dari kekafirannya, orang yang beriman yang sebelumnya menyia-nyiakan amal shaleh maka dia akan bertaubat dan beramal shaleh, namun pintu taubat di kala itu sudah tertutup dan amal tidak akan diterima karena dilakukan di saat terpaksa.

                Kecuali orang mukmin yang sebelum munculnya matahari dari barat sudah beriman dan beramal shaleh, maka amalannya akan diterima. Oleh karena itu maka seorang muslim hendaknya segera bertaubat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dari segala dosa, bagaimanapun besar dosa yang dia miliki dan jangan menundanya.

Rasulullah ﷺ bersabda

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Barang siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menerima taubatnya (HR. Muslim)

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 24 KELUARNYA SEEKOR HEWAN MELATA DARI BUMI DAN KELUARNYA ASAP

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keluarnya Seekor Hewan Melata dari Bumi dan Keluarnya Asap”

Termasuk tanda besar dekatnya hari kiamat adalah keluarnya hewan melata yang aneh dari bumi yang bisa berbicara dengan manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

وَإِذَا وَقَعَ ٱلۡقَوۡلُ عَلَيۡہِمۡ أَخۡرَجۡنَا لَهُمۡ دَآبَّةً۬ مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ تُكَلِّمُهُمۡ أَنَّ ٱلنَّاسَ كَانُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا لَا يُوقِنُونَ

“Dan apabila telah datang keputusan atas mereka, maka Kami akan keluarkan untuk mereka seekor binatang melata dari bumi yang akan berbicara kepada manusia, bahwa manusia dahulu tidak yakin dengan ayat Kami.” (An-Naml : 82)

Hewan tersebut akan keluar di waktu dhuha sebagaimana di dalam shahih muslim dan dia akan menandai orang kafir di hidungnya sebagai tanda kekafirannya. Maka manusia masing-masing dengan jelas akan mengetahui siapa yang mukmin dan siapa yang kafir.

                Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya,

Akan keluar seekor hewan melata dan akan menandai manusia pada hidung-hidung mereka

Di antara tanda besar hari kiamat adalah keluarnya asap.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

(فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ۬ مُّبِينٍ۬ (١٠) يَغۡشَى ٱلنَّاسَ‌ۖ هَـٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ (١١

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad-Dukhan : 10-11)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah asap yang keluar di akhir zaman, sebagai salah satu tanda dekatnya hari kiamat. Dan asap ini merupakan adzab dan siksaan bagi orang-orang kafir.

itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 25 MENINGGALNYA ORANG BERIMAN SEBELUM HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Meninggalnya Orang-orang yang beriman sebelum hari kiamat terbenamnya tanah secara besar-besaran ketiga tempat dan keluarnya api dari yaman”

Sebelum terjadinya hari kiamat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengirim angin yang mencabut nyawa semua orang yang beriman. Sehingga tidak tersisa di dunia, kecuali sejelek-jelek manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,

                Kemudian Allah akan mengutus angin yang dingin dari arah Syam, maka tidak ada seorang pun di Bumi yang di dalam hatinya ada kebaikan atau iman meski sebesar biji sawi, kecuali akan dicabut nyawanya oleh angin tersebut. Sampai seandainya salah seorang dari mereka masuk ke dalam gunung, niscaya angin tersebut akan masuk bersamanya dan mencabut nyawanya. Maka tersisalah sejelek-jelek manusia yang ringan berbuat kerusakan, seperti ringannya burung dan mereka ganas dalam berbuat kedzaliman satu dengan yang lain, seperti ganasnya hewan buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran (HR. Muslim).

                Di dalam sebuah hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengutus angin tersebut dari Yaman. Sebagian ulama mengatakan bahwasanya angin tersebut, berasal dari dua arah, yaitu Yaman dan juga Syam.

                Dan di antara tanda-tanda besar hari kiamat adalah akan terbenamnya tanah secara besar-besaran di tiga daerah timur, barat dan jazirah arab, sebagaimana datang didalam hadits.

                Dan termasuk dalam tanda-tanda besar hari kiamat adalah munculnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke tempat pengumpulan. Dan tempat dikumpulkannya manusia saat itu adalah Syam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi di dalam Sha’abul Iman dan hadits ini shahih. Dan syam adalah daerah-daerah di sekitar Masjidil Aqsa. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya,

Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan kaki, sebagian naik kendaraan dan sebagian akan diseret di atas wajah-wajah mereka (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi)

Api ini akan senantiasa bersama mereka siang dan malam sehingga mereka sampai ditempat pengumpulan.Sebagaimana bisa disimpulkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dan yang terakhir kali akan dikumpulkan adalah dua orang penggembala dari Qobilah Muzailah (HR. Bukhari dan Muslim).

                Pengumpulan di sini berbeda dengan pengumpulan manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya. Pengumpulan di sini adalah di dunia untuk sebagian manusia. Sedangkan pengumpulan setelah dibangkitkannya manusia adalah di akhirat untuk semua manusia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan keselamatan kepada kita semua di dunia dan di akhirat.

Demikian yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu pada halaqah-halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber : hsi.abdullahroy.com

Edited : Abu Hafizh Abdurrahman, Email : Kamir.zakiyyah@gmail.com

MENGENAL AGAMA ISLAM

HSI Abdullah Roy, Mengenal Agama Islam, Halaqah 01 – 08

HALAQAH – 01 PENGERTIAN ISLAM SECARA BAHASA & SYARI’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Pengertian Islam Secara Bahasa dan Syari’at”.

  ======= ISLAM ========

◆ Secara bahasa: adalah penyerahan diri.

◆ Secara istilah syariat: adalah penyerahan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ semata.

                Orang Nashrani dikatakan masuk ke dalam agama Islam, apabila:

⑴ Meninggalkan penyembahan terhadap Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām dan juga ibunya, Maryam.

⑵ Hanya menyembah dan menyerahkan dirinya kepada Allāh ﷻ

Seorang yang beragama Islam adalah orang yang:

✓ Hanya menyerahkan ibadahnya kepada Allāh ﷻ semata.

✓ Tidak menyerahkan sebagian ibadah kepada siapa pun selain Allāh ﷻ, baik seorang nabi, seorang malaikat, jin, orang yang shalih, kepada batu, pohon dan lain-lain.

                Oleh karena itu syarat masuk ke dalam agama Islam adalah:

⑴ Syahadat lā ilāha illallāh.

⑵ Syahadat Muhammad Rasūlullāh.

                Syahadat lā ilāha illallāh artinya adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allāh ﷻ.

                Orang yang sudah mengucapkan lā ilāha illallāh, kemudian menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh ﷻ, maka berarti dia:

⑴ Belum memahami makna Islam, atau

⑵ Memahami akan tetapi melanggarnya.

Dan keduanya adalah musibah.

                Semoga Allāh ﷻ memudahkan kita semua dan orang-orang yang kita cintai untuk memahami agama Islam ini.

                Itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

==========================================

HALAQAH – 02 AGAMA PARA NABI ADALAH ISLAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Mengenal Agama Islam berjudul “Agama Para Nabi Adalah Islam”.

                Islam yang artinya penyerahan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ adalah agama para Nabi, agama mereka satu yaitu Islam.

Berkata Nabi Ibrāhīm ‘Alaihissalām:

أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

“Aku ber-Islam (menyerahkan diriku) kepada Rabbul ‘ālamīn.” (QS Al-Baqarah: 131)

Beliau dan juga Nabi Ya’qūb berwasiat kepada anak-anaknya.

يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allāh Subhānahu Wa Ta’āla telah memilih agama bagi kalian. Maka janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai orang Islam.”

(QS Al-Baqarah: 132)

Berkata murid-murid Nabi ‘Isa ‘Alaihissalām kepada beliau;

وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ

“Dan saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang Islam.” (QS Āli ‘Imrān: 52)

Nabi Mūsā ‘Alaihissalām, beliau pernah berkata kepada kaumnya;

فَعَلَيۡهِ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ

“Maka hendaklah kalian hanya bertawakal kepada Allāh kalau kalian benar-benar orang Islam.”

(QS Yūnus: 84)

Di dalam suratnya, Nabi Sulaiman ‘Alaihissalām berkata kepada Ratu Balqis dan juga para pengikutnya;

أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَىَّ وَأۡتُونِى مُسۡلِمِينَ

“Hendaklah kalian jangan sombong kepadaku dan datanglah kalian kepadaku dalam keadaan sebagai orang Islam.” (QS An-Naml: 31)

Inilah agama para Nabi dan juga para pengikut mereka. Dan Allāh ﷻ tidak menerima kecuali agama Islam.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

“Sesungguhya agama yang benar di sisi Allāh adalah Islam.” (QS Āli ‘Imrān :19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islam maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

(QS Āli ‘Imrān:85)

Rasūlullāh ﷺ bersabda di dalam hadits yang shahih:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka satu.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali pad halaqah selanjutnya.

HALAQAH – 03 APA YANG MEMBEDAKAN DI ANTARA PARA NABI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Apa Yang Membedakan Di Antara Para Nabi ‘Alayhimussalām?”

                Para Nabi beragama Islam, menyerahkan dirinya hanya kepada Allāh ﷻ.

◆ Yang membedakan antara agama Islam yang dibawa seorang Nabi dengan agama Islam yang dibawa Nabi yang lain adalah tentang:

⑴ Tata cara beribadah

⑵ Halal dan juga haram

⇒ Terkadang suatu ibadah yang memiliki nama yang sama, akan tetapi caranya berbeda.

⇒ Terkadang sesuatu yang diharamkan atas satu umat, dihalalkan bagi umat yang lain.

                Semuanya ini sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan dari Allāh ﷻ, Zat Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Allāh ﷻ berfirman :

لِكُلٍّ ﺟَﻌَﻠۡﻨَﺎ ﻣِﻨﻜُﻢۡ ﺷِﺮۡعَةً ﻭَﻣِﻨۡﻬَﺎجًا

“Kami telah jadikan masing-masing dari kalian syariat dan juga cara.” (QS Al Māidah: 48)

Rasūlullāh ﷺ bersabda :

الأﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺇِﺧْﻮَﺓٌ ﻣِﻦْ علّاﺕٍ ﻭَﺃﻣَّﻬَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺘَّﻰ ﻭَﺩِﻳﻨُﻬُﻢْ ﻭَﺍﺣِﺪ

“Para Nabi itu adalah saudara satu bapak, ibu-ibu mereka berbeda, akan tetapi agama mereka satu.” (HR Bukhāri dan Muslim)

⇒ Yang dimaksud dengan “ibu-ibu mereka berbeda” adalah syari’at mereka berbeda.

◆ Shalat dan zakat telah disyariatkan kepada umat sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Allāh ﷻ berfirman tentang Nabi Ismā’īl :

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄۡﻣُﺮُ ﺃَﻫۡﻠَﻪُ ۥ ﺑِﭑﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓِ ﻭَﭐﻟﺰَّﻛَﻮٰﺓ

“Dan dahulu Ismā’īl menyuruh keluarganya untuk shalat dan juga zakat.” (QS Maryam: 55)

Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, beliau berkata :

ﻭَﺃَﻭۡﺻَـٰﻨِﻰ ﺑِﭑﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓِ ﻭَﭐﻟﺰَّڪَﻮٰﺓِ ﻣَﺎ ﺩُﻣۡﺖُ ﺣَﻴًّ۬ﺎ

“Dan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah berwasiat kepadaku untuk shalat dan juga zakat selama aku masih hidup.” (QS Maryam: 31)

◆ Namun shalat di atas tanah terbuka, di luar tempat khusus beribadah, hanyalah disyari’atkan di dalam agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ

◆ Demikian pula rampasan perang diharamkan bagi umat-umat sebelum kita dan dihalalkan bagi kita.

Rasūlullāh ﷺ bersabda :

ﻭَﺟُﻌِﻠَﺖْ ﻟﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﻭَﻃَﻬُﻮﺭًﺍ ﻓَﺄَﻳُّﻤَﺎ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣﻦ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺃَﺩْﺭَﻛَﺘْﻪُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ ﻭَﺃُﺣِﻠَّﺖْ ﻟﻲ ﺍﻟْﻤَﻐَﺎﻧِﻢُ ﻭﻟﻢ ﺗَﺤﻞَّ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻗَﺒْﻠِﻲ

“Dan telah dijadikan bagiku tanah ini (bumi ini) sebagai masjid dan juga alat untuk bersuci. Maka siapa saja di antara umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka hendaklah dia shalat. Dan telah dihalalkan bagiku rampasan perang dan tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelumku.”

 (HR Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

==========================================

HALAQAH – 04 KEUTAMAAN ISLAM YANG DIBAWA OLEH NABI MUHAMMAD ﷺ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Keutamaan Islam Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad ﷺ”.

                Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad ﷺ memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki syari’at sebelumnya, di antaranya :

⑴ SYARI’AT BELIAU ﷺ ADALAH UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA

Allāh ﷻ berfirman:

قُلۡ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡڪُمۡ جَمِيعًا

“Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasūlullāh untuk kalian semuanya”

(QS Al A’rāf: 158)

Wajib bagi setiap orang yang mendengar diutusnya Rasūlullāh ﷺ untuk beriman dengan Beliau.

                Barangsiapa yang tidak beriman dengan Nabi Muhammad ﷺ setelah diutusnya Beliau maka dia kafir, meskipun dia mengaku mengikuti syariat seorang Nabi sebelum Rasūlullāh ﷺ.

Rasūlullāh ﷺ bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah mendengar tentang diriku seorang pun dari ummat ini, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali dia termasuk penduduk neraka.” (HR Muslim)

⑵ SYARI’AT BELIAU ﷺ ADALAH SYARIAT YANG PALING SEMPURNA

Rasūlullāh ﷺ bersabda :

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali sudah diterangkan kepada kalian.”

(Hadits shahih diriwayatkan oleh Ath Thabrāni di dalam Al Mu’jamil Kabīr)

Datang beberapa orang Yahudi kepada Salmān Al-Fārisi radhiyallāhu ‘anhu dan mengatakan:

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ

“Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai tata cara buang air kecil.”

(HR Muslim)

Apabila permasalahan yang dianggap sepele oleh manusia diajarkan oleh Islam maka bagaimana dengan permasalahan yang lain?

⇒ Islam mengajarkan:

• ‘Aqidah kepada Allāh

• Akhlaq kepada manusia

• Tatacara berdagang

• Makanan yang halal

• Makanan yang haram

• Dan lain-lain.

                Oleh karena itu seorang Muslim hendaknya bersyukur atas nikmat hidayah kepada Islam ini ketika banyak manusia yang tidak mendapatkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

===========================================

HALAQAH – 05 MARĀTIB (TINGKATAN-TINGKATAN) DI DALAM ISLAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Marātib (Tingkatan-tingkatan) Di Dalam Islam”.

Di dalam hadits ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan Imām Muslim; Datang Malaikat Jibrīl yang menjelma menjadi seorang laki-laki dengan ijin Allāh ﷻ, bertanya kepada Rasūlullāh ﷺ tentang beberapa pertanyaan, diantaranya tentang “Apa itu Islam, Iman dan juga Ihsan”.

                Maka Rasūlullāh ﷺ menjawab satu persatu dari pertanyaan tersebut. Kemudian di akhir hadits Rasūlullāh ﷺ berkata:

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya dia adalah Jibrīl yang datang kepada kalian, mengajarkan kepada kalian, agama kalian.”

                Di dalam hadits ini disebutkan 3 tingkatan dalam agama yaitu:

◆ Islam

◆ Iman

◆ Ihsan

Iman lebih tinggi daripada Islam & Ihsan lebih tinggi daripada Iman.

⇒Islam berkaitan dengan amalan zhahir.

⇒Iman berkaitan dengan amalan bathin.

⇒Ihsan adalah puncak dari amalan zhahir & bathin.

✓ Orang yang sampai derajat Ihsan berarti dia telah mencapai derajat yang paling tinggi dalam Islam dan juga Iman.

Setiap orang yang beriman dia adalah orang yang Islam, tetapi tidak semua orang yang Islam, dia beriman.

Allāh ﷻ berfirman :

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ

“Berkata orang-orang Arab Badui: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kalian belum beriman.’ Dan katakanlah oleh kalian: ‘Kami telah Islam.’ Dan belum masuk Iman di dalam hati-hati kalian.”

(QS Al Hujurāt: 14)

Mereka berkata di awal mereka masuk Islam bahwa mereka sudah sampai derajat keimanan.

Maka merekapun diperintahkan untuk mengatakan “Kami telah Islam” karena hakikat keimanan belum masuk di dalam hati-hati mereka.

Dan masing-masing dari tiga tingkatan tersebut memiliki rukun.

⇒Yang dimaksud dengan rukun adalah yang terpenting/terkuat dari sesuatu.

Itulah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

HALAQAH – 06 RUKUN ISLAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Arkānul Īslam / Rukun-Rukun Islam”.

                Syariat islam yang dibawa oleh Nabi kita ﷺ terdiri dari amalan yang dhahir dan batin. Amalan dhahir yang paling penting adalah rukun islam yang jumlahnya ada lima yang tercantum dalam sabda Nabi ﷺ,

اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

Islam adalah engkau bersyahadat Laa ilaaha illallahu dan bahwasanya Muhammad Rasulullah dan mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan haji apabila engkau mampu menuju ke sana (HR. Muslim).

                Pertama adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah ﷻ dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah ﷺ Maknanya telah diterangkan dalam silsilah nomor satu sampai dengan tiga.

                Yang kedua adalah mendirikan sholat lima waktu dan hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang dewasa dan berakal. Barang siapa yang mengingkari kewajiban sholat maka dia adalah kafir. Dan barang siapa yang meninggalkannya karena malas padahal mengakui kewajiban tersebut maka dia berada dalam bahaya yang besar, karena para ulama berselisih tentang kekafiran orang tersebut.

                Yang ketiga adalah membayar zakat hukumnya adalah wajib sebagaimana sholat lima waktu hukumnya juga wajib bagi orang yang terpenuhi syarat-syarat wajibnya. Dan hikmahnya adalah membersihkan jiwa dan harta seseorang.

                Yang keempat berpuasa di bulan Ramadhan wajib bagi seorang muslim yang dewasa, berakal, memiliki kemampuan dan tidak ada penghalang seperti haid dan nifas.

                Yang kelima adalah menunaikan ibadah haji hukumnya wajib sekali dilakukan seumur hidup bagi orang yang mampu pergi ke sana dan seorang muslim dan juga muslimah hendaknya memberikan perhatian yang besar kepada rukun islam ini.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH – 07 RUKUN IMAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Arkānul Īmān / Rukun-Rukun Iman”.

                Amalan bathin yang paling penting dalam syariat islam yang dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ adalah Rukun Iman yang jumlahnya ada enam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ ketika Beliau ditanya tentang “Apa itu iman?” :

ﺃَﻥْ ﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩِ ﻭَ شَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allāh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk”. (HR Muslim)

■ RUKUN IMAN KE-1 | Beriman kepada Allāh ﷻ.

Telah kita bahas dalam Silsilah ‘Ilmiah yang Pertama dan Kedua.

■ RUKUN IMAN KE-2 | Beriman kepada malaikat. Adalah:

✓Beriman dengan keberadaannya.

✓Beriman dengan nama-nama sebagian mereka.

✓Beriman dengan sifat-sifat malaikat.

✓Beriman dengan tugas-tugas mereka yang tersebut dalam Al Qurān dan juga hadits yang shahīh.

■ RUKUN IMAN KE-3 | Beriman kepada kitab-kitab Allāh ﷻ. Adalah:

✓Beriman bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari Allāh ﷻ berisi petunjuk bagi manusia.

✓Beriman dengan sebagian nama-nama dari kitab-kitab yang sudah Allāh ﷻ turunkan seperti shuhūf Ibrāhīm, Zabur, Taurāt, Injīl dan juga Al Qurān.

■ RUKUN IMAN KE-4 | Beriman kepada para Rasul. Adalah:

✓Beriman bahwa kerasulan adalah pilihan semata dari Allāh ﷻ.

✓Beriman bahwasanya para Rasul adalah sebaik-baik manusia.

✓Beriman dengan beberapa kekhususan para Rasul ‘alayhimussalām.

✓Beriman bahwasanya dakwah mereka satu.

✓Dan lain-lain.

■ RUKUN IMAN KE-5 | Beriman kepada hari akhir. Adalah beriman dengan segala hal yang berkaitan dengan hari akhir, seperti:

• Fitnah kubur

• Nikmat dan juga azab kubur

• Tanda-tanda dekatnya hari kiamat

• Ditiupnya sangkakala

• Kebangkitan manusia

• Sampai masuknya manusia ke dalam surga ataupun    neraka.

Kemudian yang terakhir,

■ RUKUN IMAN KE-6 | Beriman kepada takdir. Adalah beriman bahwasanya Allāh ﷻ

✓ Mengetahui segala sesuatu,

✓ Menulis segala sesuatu, dan

✓ Terjadi segala sesuatu dengan kehendak Allāh ﷻ, dan

✓ Dia-lah Allāh ﷻ yang menciptakan segala sesuatu.

                Hendaknya seorang Muslim dan juga Muslimah memberikan perhatian yang besar terhadap 6 Rukun Iman ini.

                Dan in syā Allāh akan kita bahas rukun iman ini secara lebih terperinci pada silsilah ilmiyyah berikutnya, dan sampai bertemu kembali.

=======================================

HALAQAH – 08 IHSAN DAN JUGA RUKUNNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Mengenal Agama Islam adalah tentang “Ihsan Dan Juga Rukunnya”.

Ihsan adalah tingkatan di dalam agama yang paling tinggi.

● Secara Bahasa, Ihsan adalah berbuat sebaik mungkin ketika melakukan sesuatu

● Secara Syari’at, Makna Ihsan adalah memperbaiki amal dan ibadah kepada Allāh ﷻ karena dia merasa diawasi dan dilihat oleh Allāh ﷻ

                Didalam hadist Jibrīl ‘alayhissalām, Rasūlullāh ﷺ bersabda ketika ditanya tentang “Apa itu Ihsan?”.

Beliau mengatakan:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allāh seakan-akan engkau melihatnya, maka apabila engkau tidak melihatnya, sesungguhnya dia melihatmu.”

Orang yang beribadah seakan-akan melihat Allāh ﷻ atau merasa di lihat Allāh ﷻ baik zhahir maupun bathinnya maka ia akan:

✓ Beramal seikhlas mungkin.

✓ Sesesuai mungkin dengan ajaran Nabi ﷺ

✓ Dia akan meninggalkan kemaksiatan baik kemaksiatan yang dilakukan hati, lisan maupun anggota badan yang lain.

Allāh ﷻ berfirman:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِين

“Dan tidaklah kamu dalam sebuah keadaan dan tidaklah kamu membaca Al Qurān dan tidaklah kalian mengamalkan sebuah amalan kecuali kami mengetahuinya ketika kalian mengamalkannya tidak ada yang luput dari Rabb-Mu sesuatu sebesar dzarah pun dibumi maupun dilangit. Dan tidak ada sesuatu yang lebih kecil daripada itu dan tidak ada yang lebih besar kecuali ada di dalam kitab yang jelas.”

(QS Yūnus: 61)

Dan Allāh ﷻ berfirman:

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: Seandainya kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada-dada kalian atau kalian menampakan nya maka Allāh mengetahuinya. Dan Allāh mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi dan Allāh Maha mampu melakukan segala sesuatu.” (QS Āli ‘Imrān: 29)

Semoga Allāh ﷻ menjadikan kita senantiasa merasa diawasi oleh Allāh ﷻ dan takut kepada Allāh ﷻ dimanapun kita berada.

Sumber : hsi.abdullahroy.com

CATATAN :

……………………………………………………………………….

………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………….

Taboneo 13/10/2022

Editor Abu Hafizh Abdurrahman, Email : Kamir.zakiyyah@gmail.com

@produksi2022

MENGENAL RASULULLAHﷺ

HSI Abdullah Roy, Mengenal Rasulullah Halaqah 01 – 07

HALAQAH – 01 MENGENAL RASŪLULLĀH ﷺ

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Mengenal Rasulullah ﷺ Sumber : hsi.abdullahroy.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Pertama dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah tentang “Pentingnya Mengenal Beliau ﷺ”.

Pertanyaan yang ke-2 yang setiap kita akan ditanya di alam kubur adalah tentang “Siapa Nabimu?”. Wajib atas setiap Muslim dan Muslimah untuk mengenal Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah

– Muhammad Ibnu ‘Abdillāh Ibnu ‘Abdil Muththalib.

– Termasuk keturunan Nabi Ismā’īl bin Ibrāhīm ‘alayhimāssalām.

– Lahir di Mekkah Diutus menjadi Nabi yang terakhir ketika berumur 40 tahun,

– Kemudian menyampaikan risalah Allāh ﷻ selama 23 tahun.

– Meninggal di kota Madīnah setelah Allāh ﷻ menyempurnakan agama ini bagi beliau ﷺ dan juga umatnya.

                Mengenal Nabi Muhammad ﷺ tidaklah cukup hanya mengenal nama dan nasab Beliau ﷺ, atau menghapal keluarga dan shahābat Beliau ﷺ

Mengenal Nabi Muhammad ﷺ adalah;

⑴ Mengenal tugas Beliau sebagai seorang utusan Allāh ﷻ kepada kita.

⑵ Dan mengetahui apa kewajiban kita terhadap Beliau ﷺ

Allāh ﷻ telah mengutus Beliau ﷺ kepada kita dengan membawa 4 perkara:

PERKARA 1, Membawa perintah dari Allāh ﷻ supaya kita jalankan.

PERKARA 2, Membawa larangan dari ﷻ supaya kita jauhi.

PERKARA 3, Membawa berita dari Allāh ﷻ supaya kita benarkan.

PERKARA 4, Membawa tatacara ibadah dari Allāh ﷻ supaya kita beribadah kepada Allāh ﷻ dengan cara tersebut.

                Kalau kita mena’ati Beliau ﷺ di dalam 4 perkara ini, berarti kita pada hakekatnya telah menaati Allāh ﷻ. Karena perintah, larangan, berita dan cara ibadah adalah dari Allāh ﷻ. Sedangkan tugas Beliau ﷺ hanyalah sekedar menyampaikan kepada kita.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ الله

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allāh.” (QS An Nisā: 80)

                Dan pada halaqah-halaqah selanjutnya, in syā Allāh akan kita bahas satu per satu dari perkara di atas.

HALAQAH-02 MEMBAWA PERINTAH DARI ALLAH ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah “Mengenal Beliau Sebagai Seorang Rasul Yang Diantara Tugasnya Adalah Membawa Perintah Dari Allāh ﷻ”.

                Rasūlullāh ﷺ sebagai seorang utusan, membawa perintah-perintah dari Allāh ﷻ Beliau ﷺ sampaikan perintah-perintah tersebut kepada kita supaya kita jalankan sesuai kemampuan kita. Beliau ﷺ bersabda:

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka kerjakan sesuai kemampuan kalian”.

(HR Muslim)

Dan perintah Allāh ﷻ ada 2 macam:

⑴ Wajib

⑵ Sunnah (dianjurkan)

■ WAJIB : Amalan yang wajib apabila kita tinggalkan maka berdosa, seperti:

• Shalat 5 waktu

• Berpuasa Ramadhān

• Haji bagi yang wajib

• Memakai hijab bagi wanita

• Dan lain-lain.

Maka ini adalah amalan-amalan yang wajib.

■ SUNAH : Adapun amalan yang sunnah apabila tidak dikerjakan seseorang tidak berdosa, seperti:

• Shalat rawatib

• Shalat dhuha

• Puasa Senin dan Kamis

• Puasa Nabi Dāwūd

• Dan juga amalan-amalan sunnah yang lain.

Kita kerjakan perintah-perintah tersebut sesuai dengan kemampuan kita

• Bila kita tidak mampu shalat wajib dengan berdiri, maka kita duduk.

• Apabila seseorang tidak mampu melaksanakan sholat berjama’ah di masjid karena sakit, maka silahkan dia melaksanakan shalat tersebut dirumahnya.

• Apabila seseorang tidak mampu berpuasa Ramadhān karena sakit atau bepergian, maka bisa dia ganti pada hari-hari yang lain.

• Orang yang tidak mampu shalat malam 11 raka’at, maka dia bisa shalat malam lebih sedikit dari itu.

• Demikian pula orang yang tidak mampu berpuasa Dāwūd ‘alayhissalām, maka bisa berpuasa dengan puasa yang lebih ringan dari itu.

                Dan Allāh ﷻ tidaklah memerintah kita dengan sebuah perintah kecuali di dalam perintah tersebut ada hikmah dan juga kebaikan bagi kita semua. Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah ke-2 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

HALAQAH – 03 MEMBAWA LARANGAN-LARANGAN DARI ALLĀH ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah “Mengenal Beliau ﷺ Sebagai Seorang Rasūl Yang Diantara Tugasnya Adalah Membawa Larangan-larangan Dari Allāh ﷻ”

                Rasūlullāh ﷺ sebagai seorang utusan membawa larangan-larangan dari Allāh ﷻ. Beliau ﷺ sampaikan larangan-larangan tersebut kepada kita semua supaya kita menjauhi. Beliau ﷺ bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ

“Apa yang aku larang maka hendaklah kalian jauhi.” (HR Muslim)

Dan larangan Allāh ﷻ ada 2 macam :

⑴ Haram

⑵ Makruh, yaitu dibenci

■ HARAM

Larangan yang haram apabila dikerjakan maka berdosa, seperti :

• Berzina

• Membunuh tanpa haq

• Riba

• Berdusta

• Ghībah (membicarakan orang lain)

• Sihir

• Perdukunan

• Minum minuman keras

• Dan lain-lain.

■ MAKRUH

Adapun larangan yang makruh, maka apabila dikerjakan perbuatan tersebut dibenci akan tetapi tidak sampai kepada dosa, seperti misalnya :

• Memakan bawang merah & bawang putih dalam keadaan masih mentah

• Makan minum dengan bersandar

• Tidur sebelum shalat ‘Isya

• Dan lain-lain.

Kita sebagai seorang Muslim dan juga Muslimah hendaklah meninggalkan larangan-larangan tersebut. Dan yakin bahwasanya Allāh ﷻ tidaklah melarang sesuatu kecuali di sana ada hikmahnya dan ada kebaikan bagi diri kita. Terkadang kita mengetahui hikmah tersebut dan terkadang kita tidak mengetahuinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-3 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

Banjarmasin 12/10/2022

Kamir.zakiyyah@gmail.com

@produksi2022

HALAQAH – 05 MEMBAWA TATA CARA BERIBADAH DARI ALLĀH ﷻ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah “Mengenal Beliau ﷺ Sebagai Utusan Yang Membawa Tata Cara Beribadah Dari Allāh ﷻ”

                Allāh ﷻ ketika mengutus seorang Rasūl untuk menyampaikan perintah beribadah, juga mengutus Rasūl tersebut untuk menyampaikan tata cara ibadah tersebut. Rasūlullāh ﷺ,

✓ Membawa perintah shalat dari Allāh ﷻ dan juga membawa tata caranya.

✓ Membawa perintah puasa dari Allāh ﷻ dan juga membawa tata caranya.

                Cara ibadah tidak diserahkan kepada akal kita masing-masing atau kepada budaya atau kepada guru kita. Akan tetapi tata cara ibadah adalah dari Allāh ﷻ melalui lisan Rasul-Nya ﷺ

                Dan Allāh ﷻ tidak menerima amal ibadah kecuali yang dilakukan sesuai dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasūlullāh ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada dalilnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imām Muslim rahimahullāh)

                Barang siapa yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ, maka hendaklah dia mencukupkan diri dengan ibadah yang sudah Beliau ﷺ ajarkan. Tidak boleh dia membuat ibadah yang baru yang tidak diajarkan oleh Rasūlullāh ﷺ. Dan tidak boleh dia beribadah, kecuali setelah yakin bahwa dalilnya shahīh.

                Alhamdulillāh, semua ibadah yang mendekatkan diri kita kepada surga telah Rasūlullāh ﷺ ajarkan. Beliau pernah mengatakan:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidaklah tersisa sesuatupun yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali sudah diterangkan kepada kalian.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Thabrāni di dalam Al Mu’jāmil Kabīr)

                Lebih baik seseorang beribadah sedikit tetapi berdasarkan dalil yang shahih, dari pada dia beribadah yang banyak akan tetapi tidak berdasarkan dalil yang shahih. Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-5 ini. Dengan demikian, kita sudah menyelesaikan Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ.

Dan in syā Allāh kita bertemu kembali pada Silsilah Ilmiyyah berikutnya yang berjudul “Mengenal Agama Islam”.

==========================================

HALAQAH – 06 MENGENAL INTI DAKWAH RASŪLULLĀH ﷺ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah tentang “Mengenal Inti Dakwah Rasūlullāh ﷺ”.

Inti dakwah Beliau ﷺ adalah sama dengan inti dakwah Nabi-nabi sebelum Beliau ﷺ

                Yaitu mengajak manusia untuk meng-Esa-kan Allāh ﷻ di dalam ibadah dan meninggalkan kesyirikan. Allāh ﷻ berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku, maka hendaklah kalian menyembah-Ku.”

 (QS Al Anbiya: 25)

Allāh ﷻ berfirman tentang Nabi Nūh, Rasul yang pertama:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Sungguh Kami telah mengutus Nūh kepada kaumnya maka dia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allāh, kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia’.” (QS Al A’rāf: 59)

Ucapan yang semakna juga diucapkan oleh Nabi-nabi setelah Beliau

⇒ Lihat Surat Al Araf: 65, 73 dan 85.

                Demikian pula Nabi ﷺ, selama 10 tahun pertama, Beliau ﷺ berdakwah kepada tauhid dan mengingatkan manusia dari kesyirikan.

Kemudian turunlah kewajiban shalat 5 waktu pada tahun ke-10 kenabian dan tidak disyariatkan kebanyakan syariat kecuali di kota Madinah.

                Ketika manusia sudah memiliki aqidah yang kuat (tauhid yang benar), seperti puasa Ramadhān, zakat, haji, adzan dan lain-lain.

Yang demikian karena amal ibadah tidak diterima oleh Allāh ﷻ kecuali bila dalam diri seseorang ada tauhid.

Oleh karena itu, wasiat Rasūlullāh ﷺ kepada Mu’ādz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman untuk berdakwah adalah:

“Hendaknya engkau mengajak kepada syahādat “لا إله إلا الله” dan syahādat “محمد رسول الله.”

(HR Bukhāri dan Muslim)

Dan sampai akhir hayat Beliau ﷺ, Beliau ﷺ berusaha menjaga tauhid dan membentengi umat dari kesyirikan.

                Lima hari sebelum Beliau ﷺ meninggal dunia, Beliau ﷺ mengingatkan umat Islam bahwa orang-orang sebelum mereka dahulu menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah atau masjid. maka Beliau ﷺ melarang menjadikan kuburan sebagai masjid. (HR Muslim)

                Yang demikian karena membangun masjid di atas kuburan adalah pintu menuju kesyirikan. Semua ini menunjukkan bahwasanya inti dakwah Rasūlullāhﷺ adalah TAUHID

                Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah berikutnya.

HALAQAH – 07 MENGENAL BELIAU ﷺ SEBAGAI RASUL TERAKHIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ adalah tentang “Mengenal Beliau sebagai Rasul Terakhir”.

                Rasūlullāh ﷺ meninggal pada tahun ke-11 Hijriah setelah menyempurnakan tugas menyampaikan risalah dari Allāh ﷻ. Beliau ﷺ meninggal dunia sebagaimana manusia yang lain yang juga meninggal dunia. Allمh ﷻ berfirman:

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ

“Setiap jiwa akan merasakan kematian.”

(QS Āli ‘Imrān: 185)

Dan Allمh ﷻ juga berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ۬ وَإِنَّہُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau akan meninggal dunia dan mereka akan meninggal dunia” (QS Az Zumār: 30 )

Beliau ﷺ adalah Rasul terakhir, tidak ada Rasul sepeninggal Beliau. Allمh ﷻ berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ۬ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ

“Bukanlah Muhammad bapak salah seorang laki-laki di antara kalian, akan tetapi Beliau adalah Rasūlullāh dan penutup para Nabi.” (QS Al Ahzab: 40)

                Dalil-dalil dari hadits Nabi ﷺ bahwasanya Beliau ﷺ adalah Nabi terakhir mencapai derajat mutawatir. Dan sebagian ulama mengatakan;

◆ Kalau seseorang tidak mengetahui bahwa Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir maka dia bukan Muslim, karena ini termasuk perkara yang diketahui secara darurat di dalam agama Islam.

                Di antara hadits yang menunjukkan bahwasanya Beliau ﷺ adalah Nabi yang terakhir adalah sabda Beliau ﷺ:

وإِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيُّ وَأَنَا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan ada di antara umatku 30 orang pendusta, semuanya mengaku menjadi Nabi dan aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd)

Dan di dalam sebuah hadits yang Mutaffaqun ’alaih, Beliau ﷺ bersabda:

وأنا العاقِبُ الَّذي ليسَ بعدَه نبيٌّ

“Dan aku adalah Al ‘Āqib (yang terakhir) yang tidak ada setelahnya Nabi.”

                Meskipun Rasūlullāh ﷺ meninggal dunia Allمh ﷻ akan menjaga agama ini dengan menjaga sumbernya yaitu Al Qurān dan juga Al Hadīts dan menyiapkan para ulama yang amanat untuk menyampaikan keduanya kepada umat. Allمh ﷻ berfirman:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُ ۥ لَحَـٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qurān dan sesungguhnya Kami akan menjaganya”

(QS Al Hijr: 9)

dan Rasūlullāh ﷺ bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ

“Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu.” (HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullāh)

                Dan ini adalah halaqah yang terakhir dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh ﷺ dan sampai bertemu kembali pada silsilah berikutnya yaitu Silsilah yang ke-4 tentang “Mengenal Agama Islam”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada silsilah berikutnya.

Banjarmasin 12/10/2022

Editor : Abu hafizh Abdurrahman Email : Kamir.zakiyyah@gmail.com

@produksi2022 Banjarmasin 12/10/2022

MENGENAL ALLAH

HSI Abdullah Roy, Mengenal Allah Halaqah 01 – 10

SILSILAH 2 MENGENAL ALLAH

HALAQAH 1 PENTINGNYA MENGENAL ALLAH

RASULULLAH, DAN AGAMA ISLAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Mengenal Allah adalah tentang Pentingnya Mengenal Allah, Mengenal Rasulullah, dan Agama Islam.

                Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setiap manusia apabila telah meninggal dunia, maka di alam kubur akan ditanya oleh 2 malaikat tentang 3 perkara :

⑴ Siapa Tuhanmu?

⑵ Siapa Nabimu? dan

⑶ Apa Agamamu?

Oleh karena itu

wajib seorang Muslim dan Muslimah untuk mempersiapkan diri terkait 3 perkara tersebut. Perlu diketahui bahwasanya untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak cukup dengan menghafal. Sebab seandainya menghafal itu cukup niscaya orang munafik pun bisa menjawab pertanyaan.

Tetapi yang dituntut adalah pemahaman dan juga pengamalan. Barangsiapa yang di dunia:

1. Mengenal Allāh dan memenuhi hakNya,

2. Mengenal Nabi Muhammad ﷺ dan memenuhi haknya, serta

3. Mengenal agama Islam dan mengamalkan isinya,

                Maka diharapkan dia bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan mendapat kenikmatan di dalam kuburnya.

Namun apabila dia:

1. Tidak mengenal siapa Allāh dan tidak memenuhi hakNya,

2. Tidak mengenal Nabi Muhammad ﷺ dan tidak memenuhi haknya, serta

3. Tidak atau kurang mengenal ajaran Islam dan tidak mengamalkannya,

                Maka ditakutkan dia tidak bisa menjawab pertanyaan sehingga akibatnya siksa kubur yang akan dia dapatkan. Semoga Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memudahkan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai untuk bisa mengenal Allāh, mengenal Nabi Muhammad ﷺ dan juga mengenal agama Islam.

HALAQAH – 02 MENGENAL ALLĀH ﷻ SEBAGAI PENCIPTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘ilmiyah Mengenal Allāh ﷻ adalah “Mengenal Allāh ﷻ Sebagai Pencipta”.

Allāh ﷻ adalah Dzat Yang Maha Pencipta, menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Dia-lah Allāh ﷻ yang telah menciptakan langit, bumi, manusia dan seluruh alam semesta. Allāh ﷻ berfirman :

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Itu adalah Allāh Rabb kalian yang telah menciptakan segala sesuatu.” (QS Ghāfir: 62)

                Dialah Allāh Al-Khāliq Yang Maha Pencipta, sedangkan selain Allah adalah makhluq yang diciptakan. Mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah oleh manusia. Allāh ﷻ berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ الله لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ.

“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan bagi kalian maka hendaklah kalian mendengarnya. Sesungguhnya segala sesembahan yang kalian sembah selain Allāh, tidak akan bisa menciptakan seekor lalat, meskipun mereka bersatu padu untuk membuat seekor lalat tersebut.” (QS Al-Hajj: 73)

⇒ Berkumpul dan bekerja sama saja mereka tidak mampu untuk mencipta, (lalu) bagaimana mencipta sendirian?

⇒ Menciptakan seekor lalat yang sedemikian sederhana susunan tubuhnya, mereka tidak mampu maka bagaimana mereka menciptakan makhluq yang lebih rumit.

                Seorang Muslim wajib meyakini bahwasanya Allāh ﷻ adalah satu-satunya Pencipta dan tidak ada yang mencipta selain Allāh ﷻ. Barangsiapa yang meyakini ada yang mencipta selain Allāh ﷻ maka sungguh telah melakukan syirik besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH – 03 MENGENAL ALLAH ﷻ SEBAGAI PEMBERI REZEKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ berjudul “Mengenal Allāh ﷻ Sebagai Pemberi Rezeki”.

Di antara nama Allāh ﷻ adalah Ar Razzāq yang artinya Yang Maha Memberi Rezeki.

Allāh ﷻ menciptakan makhluk dan memberikan rezeki kepada mereka. Bahkan Allāh ﷻ telah menulis rezeki makhluk-Nya sebelum Allāh ﷻ menciptakan mereka. Rasūlullāh ﷺ bersabda :

كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menentukan (telah menulis) takdir bagi makhluk-makhlukNya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

                Allāh ﷻ menciptakan rezeki tersebut dan menyampaikannya kepada makhluk sesuai dengan waktu yang sudah Allāh ﷻ tentukan sebelumnya.

                Dan tidak akan meninggal seseorang sampai dia mendapatkan rezeki yang terakhir, meskipun rezeki tersebut ada di puncak gunung atau bahkan ada di bawah lautan. Allāh ﷻ berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada suatu binatang yang melata yang ada di permukaan bumi ini melainkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang akan memberikan rezekinya.” (QS Hūd: 6)

Siapa sesembahan selain Allāh ﷻ yang bisa melakukan yang demikian?

Adakah selain Allāh ﷻ sesembahan yang bisa memberi makan sekali saja untuk seluruh makhluk yang ada di bumi ini mulai dari manusia, jin, hewan dan juga tumbuhan?

Allāh ﷻ berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia, hendaklah kalian mengingat nikmat Allāh atas kalian. Adakah yang mencipta selain Allāh, yang memberikan rizki kepada kalian dari langit maupun dari bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Oleh karena itu kenapa kalian dipalingkan? (QS Fāthir: 3)

HALAQAH – 04 MENGENAL ALLAH ﷻ SEBAGAI PENGATUR ALAM SEMESTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4; Mengenal Allāh ﷻ Sebagai Pengatur Alam Semesta.

Dialah Allāh ﷻ yang:

• Mengatur alam semesta ini.

• Mematikan makhluk dan menghidupkan.

• Memuliakan makhluk dan menghinakan.

• Mengganti siang menjadi malam, malam menjadi siang.

• Menerbitkan matahari dan menenggelamkan.

Allāh ﷻ berfirman:

ﻳُﺪَﺑِّﺮُ ﭐﻟۡﺄَﻣۡﺮَۖ

“Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mengatur seluruh perkara.” (QS As-Sajdah: 5)

Tidak ada yang mengatur selain Allāh ﷻ, Dialah Allāh ﷻ yang menerbitkan matahari dari timur. Dan siapa selain Allāh ﷻ yang bisa menerbitkan matahari dari barat?

Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām berkata kepada salah seorang, yang dia mengaku menjadi Tuhan selain Allāh ﷻ, beliau berkata:

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menerbitkan matahari dari timur, maka silahkan engkau kalau engkau memang Tuhan, terbitkan matahari dari barat. Maka orang kafir tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.”

Allāh ﷻ yang menjadikan siang. Dan siapa yang mengganti siang menjadi malam selain Allāh?

Tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allāh ﷻ dan tidak ada sesembahan selain Allāh ﷻ yang membantu Allāh ﷻ untuk mengatur alam semesta ini.

Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh meyakini bahwasanya ada selain Allāh ﷻ yang mencipta, memberikan rizki dan juga mengatur alam semesta, siapapun dia dan bagaimanapun kedudukannya di sisi Allāh ﷻ.

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwasanya ada selain Allāh ﷻ yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta maka dia telah menyekutukan Allāh ﷻ

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH – 05 MENGENAL ALLAH ﷻ SEBAGAI SATU SATUNYA DZAT YANG BERHAK UNTUK DISEMBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Ilmiyah Mengenal Allāh ﷻ adalah tentang Mengenal Allāh ﷻ Sebagai Satu-satunya Dzat Yang Berhak Disembah.

Apabila Allāh ﷻ adalah satu-satunya Dzat yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta, maka kita dituntut untuk tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ.

Tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allāh ﷻ semata. Allāh ﷻ berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa. Yang telah mencipta untuk kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai bangunan dan telah menurunkan air dari langit. Maka Allāh ﷻ mengeluarkan dengan air tersebut buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allāh sekutu-sekutu sedangkan kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 21-22)

⇒ Maksudnya janganlah kalian menyekutukan Allāh ﷻ (menyembah kepada selain Allāh ﷻ) sedangkan kalian mengetahui bahwa Allāh ﷻ yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta ini.

Selain Allāh ﷻ tidak berhak untuk disembah karena dia bukan pencipta, bukan pemberi rezeki dan bukan pengatur alam semesta. Apabila mereka disembah maka mereka adalah sesembahan yang bathil. Allāh ﷻ berfirman

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ

“Yang demikian itu karena Allāh ﷻ Dia-lah sesembahan yang haq yang memang berhak untuk disembah. Sedangkan apa yang mereka sembah selain Allāh adalah sesembahan yang bathil yaitu yang tidak berhak untuk disembah.” (QS Al-Hajj: 62)

                Apabila seseorang meyakini Allāh ﷻ yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta kemudian dia masih menyembah kepada selain Allāh ﷻ atau menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh ﷻ, maka dia telah berbuat syirik kepada Allāh ﷻ di dalam ibadah.

Rasūlullāh ﷺ pernah ditanya oleh salah seorang sahabat:

“Wahai Rasulullāh, apa dosa yang paling besar di sisi Allāh ﷻ?”

Maka Beliau ﷺ bersabda:

أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَك

“Dosa yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allāh ﷻ padahal Dia-lah yang telah menciptakan dirimu.” (HR Al-Bukhāri dan Muslim).

HALAQAH – 06 KEYAKINAN ALLĀH ﷻ SEBAGAI PENCIPTA, PEMBERI RIZKI & JUGA PENGATUR ALAM SEMESTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ adalah bahwasanya “Keyakinan Allāh ﷻ sebagai Pencipta, Pemberi Rizki dan juga Pengatur Alam Semesta tidaklah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama Islam.”

                Kaum muslimin meyakini bahwasanya Allāh ﷻ sebagai Pencipta, Pemberi Rizki & juga Pengatur Alam Semesta adalah sebuah kewajiban, yang tidak sah keimanan seseorang sampai meyakini yang demikian itu.

                Namun ini tidaklah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Dan belum bisa menjadi pembeda antara seorang yang Muslim dengan orang yang kāfir. Allāh ﷻ mengatakan di dalam Al-Qurān menceritakan tentang ucapan iblis.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allāh berkata (kepada iblis): “Apa yang mencegahmu untuk sujud (kepada Ādam) ketika Aku memerintahkan kepadamu?” Iblis mengatakan: “Aku lebih baik daripada dia. Engkau telah menciptakan aku dari api dan menciptakan dia dari tanah.”

(QS Al-A’rāf: 12)

Iblis mengenal bahwasanya Allāh ﷻ yang telah menciptakan dia.

Orang-orang musyrikin Quraisy ketika mereka ditanya:

“Siapa yang menciptakan?

“Siapa yang memberikan rezeki kepada mereka?”

“Siapa yang mengatur alam semesta ini?”

Mereka mengatakan: “Allah”.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ

“Dan seandainya engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka ‘Siapa yang menciptakan langit dan juga bumi?’, niscaya mereka mengatakan ‘Allāh’.” (QS Az-Zumār: 38)

Meskipun mereka meyakini hal yang demikian itu akan tetapi Rasūlullāh ﷺ memerangi mereka.

Kenapa demikian?

                Karena mereka (orang-orang musyrikin Quraisy) tidak mentauhidkan (tidak mengEsakan) Allāh ﷻ di dalam beribadah. Oleh karena itu, disini seorang Muslim perlu dia mengetahui “Apa Pengertian Ibadah Dan Macam-macamnya” sehingga dia tidak menyerahkan satu ibadah pun kepada selain Allāh.

Dan apakah yang dimaksud ibadah?

In syā Allāh akan kita bahas pada halaqah selanjutnya.

HALAQAH – 07 PENGERTIAN IBADAH DAN MACAM-MACAMNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Ibadah adalah seluruh perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allāh ﷻ, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang zhahir maupun yang bathin.

                Seseorang bisa mengetahui sesuatu dicintai oleh Allāh ﷻ dengan beberapa cara, di antaranya :

– Apabila sesuatu tersebut diperintahkan oleh Allah ﷻ

Maka kita mengetahui bahwasanya sesuatu tersebut adalah ibadah, karena Allāh ﷻ tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang Allāh ﷻ cintai. Termasuk di antaranya:

– Apabila Allah ﷻ diketahui memuji pelakunya

Maka kita mengetahui bahwasanya sesuatu tersebut adalah dicintai oleh Allāh ﷻ

– Do’a adalah ibadah, karena Allah ﷻ memerintahkan

ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdo’alah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengabulkan.” (QS Ghāfir: 60)

Rasūlullāh ﷺ bersabda di dalam sebuah hadīts :

الدُّعَاءُهُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a itu adalah ibadah.” (HR Abū Dāwūd no. 1479, At-Tirmidzi no. 2969, Ibnu Mājah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari shahābat Nu’man bin Basyīr)

Dengan demikian syirik hukumnya, (apabila) berdo’a kepada selain Allāh, baik kepada seorang Nabi, seorang malaikat, seorang jin, orang yang shalih dan lain-lain.

– Menyembelih adalah Ibadah, Allāh ﷻ berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Hendaklah engkau shalat untuk Rabb-mu dan juga menyembelih untuk Rabb-mu.” (QS Al-Kautsar: 2 )

Dan Rasūlullāh ﷺ bersabda :

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allāh.” (HR Muslim 1978, dari shahābat ‘Ali radhiyallāhu ‘anhu)

                Dengan demikian termasuk syirik hukumnya (apabila) seseorang menyembelih untuk jin, atau untuk syaikh atau untuk yang lain, selain Allāh ﷻ

                Seperti bernadzar, ber-istighatsah, bersumpah, bertawakal, rasa takut, rasa cinta, maka semua ini termasuk jenis-jenis ibadah.

                Tidak boleh sekali-kali seorang Muslim menyerahkan salah satu dari ibadah-ibadah tersebut kepada selain Allāh ﷻ

HALAQAH – 08 CONTOH KESYIRIKAN ORANG-ORANG MUSYRIKIN QURAISY

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Mengenal Allāh adalah tentang “Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy”.

Diantara bentuk kesyirikan mereka adalah:

• Berdo’a dan bertaqarrub kepada orang-orang shālih yang sudah meninggal.

• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka dengan tujuan supaya:

                Mendapatkan syafa’at orang-orang shālih tersebut disisi Allāh ﷻ. dan dengan tujuan mencari kedekatan kepada Allāh ﷻ.

                Allāh ﷻ sendiri telah menceritakan keyakinan mereka ini di dalam Al Qurān dan Allāh ﷻ mengingkarinya. Allāh ﷻ berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberi manfaat.Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh.

Katakanlah : apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?’Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (QS Yūnus :18)

                Dalam ayat ini Allāh ﷻ menamakan perbuatan mereka sebagai bentuk menyekutukan Allāh ﷻ. Dan Allāh ﷻ juga berfirman :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ketahuilah bahwa milik Allāh-lah agama yang tulus. Dan orang-orang yang menjadikan selain Allāh sekutu, (mereka mengatakan) ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh. Sesungguhnya Allāh akan menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta lagi sangat ingkar.” (QS Az Zumar: 3)

                Ayat ini menunjukan bahwa tujuan mereka menyembah orang-orang shālih tersebut adalah supaya mereka mendekatkan penyembahnya kepada Allāh ﷻ.

Dan cara meraih syafa’at di hari kiamat bukanlah demikian.

◆ Cara meraih syafa’at di hari kiamat adalah dengan memurnikan tauhid, bukan dengan kesyirikan.

◆ Dan cara dekat dengan Allāh ﷻ adalah mendekatkan diri kepadaNya dengan iman dan amal shālih, yang wajib maupun yang sunnah, sebagaimana orang-orang shālih tersebut melakukannya.

                Tidak boleh seseorang menyamakan Allāh ﷻ dengan seorang kepala negara yang sulit menyampaikan hajat kepadanya kecuali melalui perantara dan para pembantunya.

                Tidak boleh seseorang menyerupakan Allāh ﷻ dengan siapapun karena Allāh Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa.

                Sedangkan seorang kepala negara, maka dia adalah makhluq yang lemah, tidak mampu melakukan seluruh pekerjaannya kecuali dibantu oleh para pembantunya.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH- 09 MENGENAL ALLĀH ﷻ DENGAN MAKHLUK-MAKHLUKNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ adalah “Mengenal Allāh ﷻ Dengan Makhluk-Nya”.

                Allāh ﷻ telah menciptakan makhluk-makhluk supaya manusia yang berakal memikirkan makhluk-makhluk tersebut, sehingga mereka bisa mengenal Dzat yang telah menciptakan mereka.

◆ Besarnya makhluk dan luasnya (seperti langit yang tujuh & bumi, kursi Allāh dan ‘Arsy-Nya) menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ.

◆ Keteraturan gerakan dan perjalanan (seperti perjalanan matahari & bulan) menunjukkan kekuasaan dan pengawasan Allāh ﷻ yang tidak pernah berhenti.

◆ Kejelian dalam penciptaan menunjukkan hikmah-Nya dan keluasan ilmu-Nya.

⇒ Manfaat yang ada di dalam ciptaan tersebut menunjukkan:

✓ Rahmat yang luas. dan

✓ Karunia yang meliputi segala sesuatu.

Allāh ﷻ berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيامًا وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (١٩١

“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang & malam ada tanda-tanda bagi orang yang memiliki akal, yaitu orang-orang yang mengingat Allāh, baik dalam keadaan berdiri, duduk & berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. Wahai Rabb kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan bathil (sia-sia). Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari adzab neraka.” (QS Āli ‘Imrān: 190-191)

Hendaknya seorang Muslim meluangkan waktunya untuk memikirkan makhluk-makhluk Allāh ﷻ supaya dia:

✓ Semakin mengenal Allāh ﷻ penciptanya.

✓ Semakin yakin dan mantap dalam menjalankan syariat Allāh ﷻ.

✓ Merasa takut dengan adzab-Nya.

✓ Semakin dekat dengan Allāh ﷻ.

✓ Semakin meng-Esakan Dia di dalam beribadah. Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini.

HALAQAH – 10 MENGENAL ALLĀH ﷻ DENGAN NAMA-NAMA DAN SIFATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ adalah tentang “Mengenal Allāh ﷻ Dengan Nama dan Sifat-Nya”. Allāh ﷻ telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwa Allāh ﷻ memiliki nama dan sifat. Allāh ﷻ berfirman :

ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﺄَﺳۡﻤَﺎٓﺀُ ﭐﻟۡﺤُﺴۡﻨَﻰ

“Dan Allāh memiliki nama-nama yang paling baik.” (QS Al-A’rāf: 180)

Dan Allāh ﷻ berfirman :

ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﻤَﺜَﻞُ ﭐﻟۡﺄَﻋۡﻠَﻰ

“Dan Allāh memiliki sifat-sifat yang paling tinggi.” (QS An-Nahl: 60)

Kita mengenal Allāh ﷻ dengan nama dan juga sifat tersebut.

✓ Kita mengenal Allāh ﷻ sebagai Dzat Yang Maha Penyayang karena Dia adalah Ar Rahmān Ar Rahīm.

✓ Dan kita mengenal Allāh ﷻ sebagai Dzat Yang Maha Pengampun karena Dia adalah Al-Ghafūr, dan seterusnya.

✓ Dan Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwasanya di antara sifat Allāh ﷻ adalah:

• Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.

• Allāh ﷻ memiliki dua tangan.

• Allāh ﷻ berada di atas.

✓ Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya,

• Allāh ﷻ turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam yang terakhir.

✓ Dan juga sifat-sifat yang lain.

Kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah menetapkan nama & juga sifat tersebut, karena Allāh ﷻ lebih tahu tentang diri-Nya daripada kita semua. Dan Rasūlullāh ﷺ lebih tahu tentang Allāh ﷻ daripada kita. Tidak boleh seorang Muslim menolak nama-nama dan juga sifat-sifat tersebut. Dan tidak boleh dia menyerupakan, karena Allāh ﷻ berfirman:

ﻟَﻴۡﺲَ ﻛَﻤِﺜۡﻠِﻪِۦ ﺷَﻰۡﺀٌ۬ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟۡﺒَﺼِﻴﺮ

“Tidak ada yang serupa dengan Allāh dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(QS Asy-Syūrā: 11)

Jadi yang benar, yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim adalah:

◆ Menetapkan nama dan juga sifat tersebut sebagaimana datangnya, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allāh ﷻ, tanpa menyerupakan dan tanpa mentakwil nama dan juga sifat tersebut.

⇒ Mentakwil adalah menafsirkan nama dan sifat Allāh ﷻ bukan dengan maknanya yang benar.

Seperti;

• Mentakwil istiwā dengan kekuasaan.

• Mentakwil turunnya Allāh ﷻ dengan turunnya rahmat Allāh ﷻ.

• Dan lain-lain.

Ini adalah halaqah yang terakhir dari Silsilah Mengenal Allāh ﷻ.

Dan sampai bertemu kembali pada Silsilah berikutnya.

Sumber : hsi.abdullahroy.com

Banjarmasin, 11/10/2022

Editor Catatan : Abu Hafizh Abdurrahman Email : Kamir.zakiyyah@gmail.com

@Produksi2022

BELAJAR TAUHID

HSI Abdullah Roy, Belajar tauhid Halaqah 01 – 25

Catatan Abu Hafizh Abdurrahman

BELAJAR TAUHID

📘 Silsilah Ilmiyyah 1 Belajar Tauhid ﷻ

   Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

    Sumber : http://www.abdullahroy.com

بسم الله الرحمن الرحيم

HALAQAH 01 | MENGAPA KITA WAJIB BELAJAR TAUHID

👤 Ustadz DR. Abdullāh Roy, MA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 1,

Mengapa Kita Wajib Mempelajari Tauhid

Kaum muslimin yang dimulyakan oleh Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, ini adalah halaqah yang pertama dari silsilah belajar tauhid yang berjudul “Mengapa Kita Wajib Mempelajari Tauhid?

                Mempelajari tauhid merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita, karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk bertauhid yaitu meng-esakan ibadah kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍْﻹِﻧْﺲَ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥ

’’Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu’’. (Surat Adz-Dzariyaat 56)

                Oleh karena itulah Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah mengutus para Rasul kepada setiap ummat tujuannya adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ ۖ …

’’Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul yang mereka berkata kepada kaumnya, ’’Sembahlah Allāh dan jauhilah thaghut’’. (Surat AnNahl 36)

Makna thaghut adalah segala sesembahan selain

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Oleh karena itu seorang muslim yang tidak memahami tauhid, yang merupakan inti dari ajaran Islam, maka sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun dia telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang banyak.

HALAQAH 02 | TAUHID SYARAT MUTLAK MASUK SURGA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang kedua dari Silsilah Belajar Tauhid, tauhid adalah syarat mutlak masuk ke dalam surga.

                Saudaraku, orang yang menginginkan kabahagiaan di surga maka dia harus memiliki modal yang satu ini, yaitu modal BERTAUHID, tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang bertauhid meskipun terkadang dia di adzab sebelumnya ke dalam neraka karena dosa yang dia lakukan.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ الله الجَنَّةُ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

’’Barang siapa yang  bersaksi  bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan juga RasulNya dan bersaksi bahwasanya ‘Isa adalah hamba Allāh dan juga RasulNya dan kalimatNya yang Allāh tiupkan kepada Maryam dan ruh dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bersaksi bahwasanya surga adalah benar dan neraka adalah benar maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memasukan dia ke dalam surga, sesuai dengan apa yang telah dia amalkan‘’. (HR Bukhari Muslim)

Dalam hadits yang lain, Nabi  shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ الله

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengharamkan neraka, bagi orang yang mengatakan lā ilāha illallāh (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh) yang dia mengharap dengan kalimat tersebut wajah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

(HR Bukhori & Muslim)

Oleh karena itu tidak heran jika prioritas dakwah para Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah TAUHID.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 03 | BAHAYA KESYIRIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 3 yaitu Bahaya Kesyirikan

                Tauhid adalah amalan yang paling Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى cintai, sebaliknya syirik (menyekutukan Allâh dalam beribadah) adalah amalan yang sangat Allâh murkai. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memang Maha Pengampun akan tetapi bila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Maka سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.

Orang tersebut akan kekal di dalam Neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke dalam surga-Nya Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Sungguh ini adalah sebuah kerugian yang tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kerugian ini.

Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki”. (An-Nisaa : 48)

Allâh  تَعَالَى juga berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya, barang siapa yang menyekutukan Allâh, maka Allâh mengharamkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang zhalim”

(QS. Al-Maidah: 72)

Oleh karena itu hati-hatilah saudaraku dengan dosa yang satu ini. Terkadang seseorang terjerumus ke dalam dosa ini sedangkan dia tidak menyadarinya, Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu yaitu ilmu Agama, belajarlah dan berdo’alah kepada Allâh..

Berdo’alah kepada Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan sejujur-jujurnya. Semoga Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melindungi kita dan keluarga kita dari perbuatan syirik ini.

HALAQAH 04 | SYIRIK MEMBATALKAN AMAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 4 yaitu Syirik Membatalkan Amal

                Pernahkah Anda kehilangan file data berharga, hasil kerja keras Anda selama berhari-hari atau berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun? bagaimanakah perasaan Anda saat itu? sedih bukan! terkadang seseorang berani untuk membayar jutaan rupiah asal file yang berharga tersebut kembali.

Saudaraku sekalian..

Syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amalan seseorang. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu Wahai Muhammad (Nabi-nabi) dan orang-orang sebelummu bahwa “Apabila kamu berbuat syirik Maka sungguh akan batal amalanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi” Maka sembahlah Allâh saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az-Zumar: 65-66)

Dalam ayat ini, seorang Nabi pun apabila dia berbuat syirik maka batal amalannya, Oleh karena itu, saudara sekalian jagalah amalan Anda yang sudah Anda tabung bertahun-tahun, jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja hanya karena kejahilan Anda terhadap Tauhid dan juga syirik. terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa bisa menghancurkan amalan sebesar gunung dan belum tentu ada waktu lagi untuk bisa menabung kembali.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 05 | TAUBAT DARI KESYIRIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 5 yaitu Taubat dari Kesyirikan

Orang yang berbuat syirik dan dia meninggal dunia tanpa bertaubat kepada Allâh maka dosa syirik tersebut tidak akan diampuni. Namun, apabila dia bertaubat sebelum dia meninggal, maka Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengampuni dosanya bagaimanapun besar dosa tersebut. Taubat Nasuha adalah taubat yang terpenuhi di dalamnya 3 syarat :

1. Menyesal,

2. Meninggalkan perbuatan tersebut,

3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.

Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

“Katakanlah Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri yaitu dengan berbuat dosa , janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allâh.Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

(Az-Zumar 39:53)

Rasulullâh ﷺ bersabda:

إِنَّ الله يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allâh menerima taubat seorang hamba selama Ruh Belum sampai ke tenggorokan”. (HR.Tirmidzi dan juga Ibnu Majah dan dihasankan oleh syaikh Al-Albany rahimahullâh)

Para sahabat Nabi ﷺ tidak semua lahir dalam keadaan islam. Bahkan banyak diantara mereka masuk islam ketika sudah besar dan sebelumnya bergelimang dengan kesyirikan, supaya tidak terjerumus kembali ke dalam kesyirikan maka seseorang harus mempelajari tauhid dan memahaminya dengan baik, Mengetahui jenis-jenis kesyirikan sehingga dia bisa menjauhi kesyirikan tersebut.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 06 | APA ITU TAUHID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 6, Apa Itu Tauhid.

                Saudara sekalian semoga Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan pemahaman kepada kita semua, sebelum kita jauh melangkah di dalam silsilah ini tentunya kita harus benar-benar memahami apa makna Tauhid yang wajib kita pelajari dan kita amalkan.

                Tauhid secara bahasa adalah mengesakan, Apapun secara Istilah maka Tauhid adalah : mengesakan Allâh di dalam beribadah. Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehigga dia meninggalkan peribadatan kepada selain Allâh Seperti :

Berdoa kepada selain Allâh,

Bernadzar untuk selain Allâh,

Menyembelih untuk selain Allâh dll.

Apabila seseorang beribadah kepada Allâh dan menyerahkan sebagian Ibadah kepada selain Allâh, siapapun dia entah itu seorang Nabi, Malaikat atau yang lain maka inilah yang dinamakan dengan syirik ( menyekutukan Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى di dalam beribadah, Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّأ تَعْبُدُونَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي

“Dan ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada Bapaknya dan Kaumnya, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Dzat yang telah menciptakan aku”

 (QS az-Zukhruf : 26-27)

Rasûlullâh ﷺ bersabda :

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﻳُﻌْﺒَﺪُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣَﺮُﻡَ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﺩَﻣُﻪُ ﻭَ ﺣِﺴَﺎﺑُﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻠﻪِ

“Barang siapa yang mengatakan لا اله الا لله dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allâh maka haram hartanya dan darahnya ( tidak boleh diganggu) dan perhitungannya ( hisabnya) adalah atas Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى”. (HR. Muslim)

Oleh karena itu rukun kalimat tauhid لا اله الا لله ada 2 :

1. Nafi ( pengingkaran) pada kalimat لا اله Artinya : tidak ada tuhan yang berhaq disembah, maksudnya adalah mengingkari tuhan-tuhan selain Allâh.

2. Itsbat / penetapan pada kalimat الا لله artinya (kecuali Allâh) Maksudnya adalah menetapkan Allâh sebagai satu-satunya sesembahan.

HALAQAH 07 | TERMASUK SYIRIK

MEMAKAI JIMAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 7 yaitu Termasuk Syirik Memakai Jimat

        Allâh عزّوجلّ adalah Dzat yang memberi manfaat dan mudharat. Kalau Allâh menghendaki untuk memberikan manfaat kepada seseorang maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya.Demikian pula sebaliknya ketika Allâh menghendaki untuk menimpakan musibah kepada seseorang maka tidak akan ada yang bisa menolaknya.

                Keyakinan tersebut melazimkan kita sebagai seorang muslim untuk hanya bergantung kepada Allâh semata dan merasa cukup dengan Allâh dalam usaha mendapatkan manfaat dan menghindari mudharat.

                Seperti dalam mencari rezeki, mencari keselamatan, mencari kesembuhan dari penyakit dan lain-lain.

                Serta tidak bergantung sekali² kepada benda-benda yang dikeramatkan, seperti : Jimat, Wafaq, Susuk dan berbagai jenisnya.

Rasûlullâh ﷺ bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang menggantungkan tamimah (jimat) dan semisalnya maka sungguh dia telah berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad dan di shahihkan oleh Syeikh Al-Albani Rahimahullâh)

                Apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab atau perantara maka ini termasuk syirik kecil. Karena dia telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, padahal yang berhak menentukan sesuatu itu sebagai sebab atau tidak adalah Dzat yang menciptakannya yaitu Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى .

                Perlu diketahui bahwa dosa syirik kecil tidak bisa disepelekan karena dosa syirik kecil tetap lebih besar daripada dosa-dosa besar (seperti dosa zina, dosa membunuh dll).

                Apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut dengan sendirinya memberikan manfaat dan memberikan mudharat maka itu termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari islam.

                Semoga Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memudahkan kita dan juga saudara-saudara kita untuk meninggalkan perbuatan syirik yang sudah tersebar ini dan menjadikan ketergantungan hati kita dan mereka hanya kepada Allâh. حسبنا لله ونعم الوكيل

HALAQAH 08 | BERTABARRUK (MENCARI BARAKAH)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 8 yaitu Bertabarruk (mencari barokah)

                Kaum Muslimin.. Barakah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya. Allâh Subhânahu wa Ta’ala adalah Dzat yang berbarakah artinya banyak kebaikanNya. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

تبرك لله رب العالمين

”Dan Allâh adalah Dzat yang memberikan keberkahan atau kebaikan kepada sebagian makhlukNya sehingga makhluk tersebut menjadi Makhluk yang berbarakah dan banyak kebaikanya”. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang pertama yang Allâh letakkan bagi manusia untuk beribadah adalah yang ada di makkah yang berbarakah dan petunjuk bagi seluruh alam”. (QS. Ali Imron: 96)

                Ka’bah diberikan barakah oleh Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan cara mendapatkan barakahnya atau kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di sana. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam yang berbarakah, sesungguhnya kami memberikan peringatan”.(QS. Ad Dukhan : 3)

                Malam lailatul qadr adalah malam yang berbarakah dan cara mendapatkan barakahnya dan juga kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di malam tersebut.

                Seorang ulama berbarakah dengan ilmunya dan juga dakwahnya, cara mencari keberkahannya dan juga kebaikannya adalah dengan menimba ilmu dari ulama tersebut. Disana ada barakah yang sifatnya dzaatiyah yaitu dzat yang berbarakah dimana barakah seperti ini bisa berpindah, barakah jenis ini hanya Allâh berikan kepada para Nabi dan juga Rasul. Oleh karena itu, dahulu para sahabat Nabi ﷺ bertabarruk dengan bekas air wudhu Nabi ﷺ rambut beliau, keringat beliau dan lain-lain.

                Sepeninggal beliau Rasûlullâh ﷺ mereka tidak melakukan hal ini kepada Abu Bakar dan Umar dan para sahabat yang lain, dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah kekhususan para Nabi dan juga para Rasul.

                Meminta barakah hanya kepada Allâh dan dengan cara yang di syariatkan. Adapun meminta barakah dari Allâh dengan sebab yang tidak disyariatkan seperti dengan mengusap dinding mesjid tertentu, atau mengambil tanah kuburan tertentu dan lain-lain, maka ini termasuk dalam syirik kecil,

Semoga Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberkahi kita dan keluarga kita. Aamiin.

HALAQAH 09 | TERMASUK SYIRIK BESAR MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 9 yaitu Termasuk Syirik Besar Menyembelih untuk Selain Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

                Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam ini. Didalamnya ada pengagungan terhadap Allâh Rabb semesta alam dan merupakan wujud cinta dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk Allâh Seperti : Ibadah qurban di hari raya idul adha, Aqiqah, dan juga Hadyu (sembelihan) bagi sebagian jama’ah haji.

Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang mulia ini hanya untuk Allâh semata. Sebagaimana firman Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah dan menyembelihkan untuk Tuhanmu”.(QS. Al Kautsar : 2)

                Barang siapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain Allâh dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allâh sama saja kepada seorang Nabi atau kepada seorang wali, atau kepada jin dan lain² maka dia telah terjatuh kepada syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari islam, membatalkan amalannya dan terkena ancaman laknat dari Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sebagaimana sabda Rasulullâh ﷺ

لعن لله من ذبح لغير لله

“Allâh melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allâh” (HR. Muslim)

                Dan Makna dari laknat adalah dijauhkan dari Rahmat Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang muslim berkorban dan menyembelih untuk selain Allâh sedikitpun, Meskipun dengan seekor lalat, dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudharat. Kita harus yakin sebagai seorang muslim bahwa manfaat dan juga mudharat di tangan Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Dan hanya kepada-Nya lah seorang muslim bertawwakal.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 10 | TERMASUK SYIRIK BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke 10 yaitu Termasuk Syirik Bernadzar untuk Selain Allâh.

                Bernadzar untuk Allâh adalah seseorang mengatakan misalnya wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allâh , atau dengan mengatakan saya bernadzar untuk Allâh bila terlaksana hajat saya.

                Bernadzar kaum muslimin yang di muliakan oleh Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى adalah Ibadah dan sebuah bentuk pengagungan. Karenanya bernadzar ini tidak diperkenankan kecuali untuk Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata, seperti seseorang bernadzar untuk Allâh akan berpuasa satu hari jika lulus ujian, atau bernadzar untuk Allâh akan mengadakan umrah jika sembuh dari penyakit dan lain-lain. Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

ُوَمَآأَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللهَ يَعْلَمُهُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengetahuinya…” (Al-Baqarah: 270)

                Allâh تَعَالَى mengabarkan bahwasanya Allâh mengetahui nadzar para hambanya di dalam ayat ini, dan akan membalas dengan balasan yang baik. Ini menunjukkan bahwasanya nadzar adalah ibadah yang seorang muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut. Dan Menunaikan nadzar apabila dalam ketaatan hukumnya adalah wajib. Berdasarkan firman Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُم

“Dan supaya mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka”.

Dan sabda Nabi ﷺ:

من نذر ان يطيع لله فليطعه ومن نذر ان يعصيه فلا يعصه

“Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allâh maka hendaknya menaatinya, dan barang siapa bernadzar untuk memaksiati Allâh maka janganlah dia memaksiatiNya (HR. Bukhari)

                Bernadzar untuk selain Allâh termasuk syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari islam. Seperti, seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan, atau berpuasa untuk syeikh fulan dan lain-lain. Semoga Allâh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik. Aamiin.

HALAQAH 11 | AR-RUQYAH (JAMPI-JAMPI)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)”

                Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh. Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikan.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺮْﻗِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ

Dari ‘Auf bin Mālik radiyallāhu ‘anhu berkata; Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?” Rasūlullāh ﷺ bersabda : “Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan”. (HR. Abū Dāwūd, dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan seperti ruqyah dari:

• Ayat-ayat AlQur’an

• Do’a-do’a yang diajarkan Nabi ﷺ dan ini lebih utama.

• Do’a-do’a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.

                Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah SEBAB semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

                Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh, entah kepada seorang jin ataupun seorang wali sekalipun, biasanya disebutkan disitu nama-nama mereka.

                Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qurān atau dengan nama-nama Allāh atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab, tujuannya adalah satu yaitu untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu. ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh ﷺ dalam sabda Beliau :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ

’’Sesungguhnya jampi-jampi dan jimat-jimat dan juga pelet adalah syirik’’. (HR. Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh)

HALAQAH 12 | BERDO’A KEPADA SELAIN ALLAH TERMASUK SYIRIK BESAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-12 “Berdo’a Kepada Selain Allāh Adalah Syirik Besar”.

                Berdo’a kepada Allāh adalah seseorang menghadap Allāh dengan maksud supaya Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap dan takut kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.

                Berkata An-Nu’mān Ibnu Basyīrin radhiyallāhu ‘anhu, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda : ‘Do’a adalah ibadah, ’Kemudian Beliau ﷺ membaca ayat:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Dan Rabb kalian berkata, ‘Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang- orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina’.” (Ghāfir:60) (HR. Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

Dan makna “beribadah kepadaKu” adalah “berdoa kepadaKu”.

                Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh semata, maka berdo’a kepada selain Allāh dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh adalah termasuk syirik besar.

Dan termasuk jenis do’a adalah:

Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)

Isti’ādzah (meminta perlindungan)

Isti’ānah (meminta pertolongan)

                Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah ibadah, hanya diserahkan kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Dan perlu kita ketahui bahwasanya boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, beristi’ānah kepada seorang makhluk dengan 4 syarat:

⑴ Makhluk tersebut masih hidup.

⑵ Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.

⑶ Dia mampu sebagai makhluq untuk melakukannya.

⑷Tidak boleh seseorang bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakkal kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menciptakan sebab.

                Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup akan tetapi tidak berada di depan kita atau tidak mendengar ucapan kita atau meminta makhluk perkara yang tidak mungkin melakukan kecuali Allāh, maka ini termasuk syirik besar.

HALAQAH 13 | SYAFA’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-13 dari silsilah kita kali ini adalah tentang Syafā’at.

                Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat. Allâh dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat. Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

                Syafa’at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya. Dan modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan. Rasūlullāh ﷺ bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki. Allâh berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”. (Al-Anbiyaa’ 28)

Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى :

ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِۦ ٓ

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh تَعَالَى kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqarah 255)

                Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya. Seperti seseorang mengatakan dalam yang do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu.” Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.

                Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ seperti mengatakan, “Yaa Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.” Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya. Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَٰﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻨَﺒِّﺌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat & mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (Yunus 18)

HALAQAH 14 | BERLEBIHAN TERHADAP ORANG SHALEH ADALAH PINTU KESYIRIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

                Orang yang shaleh adalah orang yang baik dalam mengikuti syariat Allah baik dalam aqidah, ibadah, maupun muamalah. Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda disisi Allah. Kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk mencintai mereka. Kita juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan. Membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati kita.

                Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh agama. Namun, berlebih-lebihan terhadap orang yang sholeh seperti mendudukkan mereka diatas kedudukan manusia seperti mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allah maka itu hukumnya haram. Tidak diperbolehkan menurut agama karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allah.

                Mencintai Rasulullah melebihi cinta kepada orang tua, anak, dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits. Rasulullah bersabda :

 لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman seorang diantara kalian, hingga aku (Rasulullah lebih ia cintai dari ayahnya, anak, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari)

                Namun beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau dengan mendudukkan beliau diatas kedudukan beliau yang sebenarnya yaitu sebagai hamba Allah dan seorang Rasul.

Beliau bersabda :

 لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku seperti orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya” (HR. Al-Bukhari)

                Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah dan beliau adalah seorang Rasul mereka dan tidak boleh dicela dan diselisihi. Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah tidak diperbolehkan maka bagaimana dengan yang lain.

Dan diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang yang sholeh adalah meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu ghoib atau membangun diatas kuburan mereka atau beribadah kepada Allah di samping kuburan mereka dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka. Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

=============================

HALAQAH 15 | SIHIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Sihir bermacam-macam jenisnya dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada setan dan setan tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai yaitu kufur kepada Allah dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada setan tersebut atau menghinakan Al-Qur’an  atau dengan mencela agama dan lain-lain.

Allah berfirman :

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah : 102)

Rasulullah bersabda :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.” Dikatakan kepada beliau, “Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina.”

(HR. Al-Bukhari no. 2560 dan Muslim no. 129)

Hukuman bagi tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertobat sebagaimana telah dicontohkan oleh para sahabat. Dan yang berhak untuk melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.

                Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam. Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan haram karena Rasulullah mengabarkan :

لَيْسَ مِنَّا من تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ له أو تَكَهَّنَ أو تُكُهِّن له أو سَحَرَ أو سُحِرَ له

“Bukan dari golonganku (Rasulullah) orang yang mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya atau minta diundikan untuknya, meramal sesuatu yang ghaib (dukun) atau minta diramalkan untuknya atau melakukan sihir atau minta disihirkan untuknya”. (dinyatakan oleh Al Bazar dalam musnadnya dan dishohihkan oleh syaikh Al Albani).

                Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir diantaranya adalah dengan membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir akan tidur, mau makan, keluar rumah, masuk rumah, masuk dan keluar kamar kecil, dll.

                Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridho setan seperti jimat-jimat, music-musik, gambar makhlu bernyawa, dll. Dan apabila Qadarullah terkena sihir maka hendaknya ia bersabar, merendahkan diri kepada Allah, memohon darinya kesembuhan, dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan dan jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin baik secara langsung maupun lewat bantuan dukun, paranormal,dan semisal mereka. Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita dari segala kejelakan di dunia dan di akhirat.

HALAQAH 16 | PERDUKUNAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Dukun adalah seseorang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghoib yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia seperti mengetahui barang yang hilang, pencurinya, mengetahui ramalan nasib, dan lain-lain. Dia mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan cara-cara tertentu seperti melihat bintang, garis tangan, melihat air yang ada di mangkok, dan lain-lain.

Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia. Saudara sekalian, ketahuilah bahwa perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah perkara yang diharamkan di dalam agama Islam. Ilmu ghoib yang mereka akui  pada hakikatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan. Sedangkan cara-cara tersebut  hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seorang yang meminta bantuan jin dan juga setan.

                Kita sudah mengetahui bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersamanya ke dalam neraka. Iblis dan juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allah. Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini dan harta yang didapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

                Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar maka sebagaimana yang dikabarkan Nabi dalam hadits yang shohih bahwa para jin bekerja sama mencuri kabar dari langit, apabila mendengar sesuatu maka jin yang diatas akan mengabarkan kepada yang dibawahnya dan seterusnya hingga sampai ketelinga dukun. Terkadang ia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar tersebut dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.

                Kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah-tambahi oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak. Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia. Orang Islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan bagaimanapun susahnya keadaan dia.

Rasulullah bersabda dari Abu Hurairah dan Al Hasan:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan maka ia telah kufur kepada apa yang diturunkan oleh Nabi Muhammad” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishohihkan oleh syaikh Al Albani)

Di dalam hadits yang lain beliau bersabda :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“barangsiapa mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya sesuatu maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim).

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam namun kedua hadits diatas cukup menjadikan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun. Semoga Allah menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan menjauhkan kita dari yang haram.

HALAQAH 17 | AT-TATHAYYUR (MERASA SIAL DENGAN SESUATU)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Tathayyur”, yaitu merasa sial dengan sesuatu.

Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu, Seperti:

• Melihat tabrakan atau,

• Orang yang berkelahi atau, yang semisalnya.

                Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain. Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti, Rasūlullāh ﷺ bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik.” (Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Ahmad)

                Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan dan di ingkari oleh Rasūlullāh ﷺ, Beliau bersabda,

وَلاَ الطِّيَارَة

“Tidak ada thiyārah.” (HR Bukhari dan Muslim)

                Maksudnya, thiyārah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,. Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini. Dan hendaknya dia Memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan adalah dengan takdir Allāh semata, Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan kebaikan kecuali Allāh dan tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali Allāh. Hanya bertawakal kepada Allāh semata dan berbaik sangka kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,.

                Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya. Dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh semata.

                Adapun tafā’ul maka diperbolehkan didalam agama kita. Tafā’ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allāh karena melihat atau mendengar sesuatu. Dahulu Nabi ﷺ sering bertafā’ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah. Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata “sahl” yang artinya “yang mudah”. Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allāh bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam.

                Maka benarlah persangkaan Beliau. Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, membuka setelah itu (yaitu setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

HALAQAH 18 | MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Meramal Nasib Dengan Bintang”.

Bintang adalah makhluq yang menunjukkan kebesaran Allāh dan kebesaran Penciptanya, Allāh تَعَالَى, telah mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwa bintang ini memiliki 3 faidah:

⑴ Sebagai perhiasan langit.

⑵ Sebagai pelempar syaithān.

⑶ Sebagai petunjuk manusia, seperti :

-Mengetahui arah utara atau selatan

-Mengetahui arah daerah, arah kiblat

-Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain.

                Allāh tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di atas. Seorang salaf, Qatādah Ibn Di’āmah As-Sadūsi, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H. Beliau menjelaskan bahwa,

                “Barangsiapa yg meyakini bahwasanya bintang memiliki faidah yang lain, selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu.” (Ucapan ini dikeluarkan Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahih beliau)

                Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit dan tenggelamnya bintang atau berkumpul dan berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, dalam masalah rejeki, jodoh dan lain-lain.

                Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah. Membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haram dan termasuk dosa besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya. Ancamannya tidak diterima shalatnya selama 40 hari.

                Hendaknya kita semua takut kepada Allāh. Dan janganlah sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut. Dan jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak ‘aqidah kita dan juga keluarga kita. Karena ‘aqidah merupakan modal kita memasuki surganya Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, dengan selamat.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 19 | BERSUMPAH DENGAN SELAIN NAMA ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Belajar Tauhid kita kali ini adalah tentang “Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh”.

                Kaum Muslimīn yang dimuliakan oleh Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara. Kalau (dalam) bahasa ‘Arab maka menggunakan:

• Huruf wawu (وَ)

• Huruf ba (بَ)

• Huruf ta (تَ)

Adapun Bahasa Indonesia dengan menggunakan kata “Demi”.

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allāh semata, misalnya mengatakan:

✓ Wallāhi

✓ Demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi

✓ Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya

✓ Dan lain-lain.

Adapun makhluq, bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya, misalnya dengan mengatakan:

✘ Demi Rasūlullāh

✘ Demi Ka’bah

✘ Demi Jibrīl

✘ Demi langit dan bumi

✘ Demi bulan dan bintang

✘ Dan lain-lain.

Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluq yang terlarang, Rasūlullāh ﷺ bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allāh maka sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albāni rahimahullāh)

                Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluq disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,, yaitu pengagungan ibadah,

Seperti sumpah yang di lakukan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan:

✘ Demi Wisnu

✘ Demi Dewa Fulan

✘ Demi Lāta

✘ Dan lain-lain.

HALAQAH 20 | RIYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Riyā”.

                Ayyuhāl ikhwāh, Riyā’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji. Riyā’ hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

                Riyā’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut. Rasūlullāh ﷺ bersabda :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

“Allāh berkata: ‘Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya’.” (HR Muslim)

                Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni Allāh, artinya dia harus di adzab supaya bersih dari dosa riyā’ tersebut, berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, ;

◆ Kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung dan,

◆ Kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (QS An Nisā: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka? Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih. mereka adalah orang yang:

• ⑴ Mengajarkan Al Qurān supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca,

        seorang yang mahir membaca.

• ⑵ Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.

• ⑶ Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.

Beramal bukan karena Allāh, Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang shahih. Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal..dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga. Para salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.

Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riyā’, sum’ah, ‘ujub dan berbagai penyakit hati. dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

HALAQAH 21 | CINTA KEPADA ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang Cinta Kepada Allāh”.

Mencintai Allāh merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang Muslim merendahkan dirinya di hadapan Allāh, mengagungkan Allāh, yang akhirnya akan membawa seseorang untuk melaksanakan perintah Allāh dan juga menjauhi apa yang Allāh larang, Inilah cinta yang merupakan ibadah. Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allāh maka dia telah berbuat syirik besar. Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﺨِﺬُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﻛَﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﺷَﺪُّ ﺣُﺒًّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allāh sebagai sekutu-sekutu Allāh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allāh. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka kepada Allāh jauh lebih besar”.

 (QS Al Baqarah: 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi’at manusia, seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allāh maka dia telah melakukan dosa besar. Allāh berfirman yang artinya:

“Katakanlah; ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan juga rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, itu semua lebih kalian cintai dari pada Allāh dan Rasul-Nya dan juga berjihad di jalan Allāh, maka tunggulah sampai Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allāh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS At Taubah: 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka disini akan nampak siapa yang lebih dia cintai. Dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allāh adalah dengan:

1. Mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat Al Qurān.

2. Memikirkan tanda tanda kekuasaan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى di alam semesta.

3. Mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allāh berikan.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 22 | TAKUT KEPADA ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Takut Kepada Allāh”.

                Ayyuhal ikhwah, Di antara keyakinan seorang muslim adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Seorang Muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak bertawakal kecuali kepada Allāh.

Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

⑴ Merendahkan diri di hadapan Allāh.

⑵ MengagungkanNya.

⑶ Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

⑷ Melaksanakan perintahNya.

Bukan takut :

⑴ Yang berlebihan yang membawa kepada keputus-asaan terhadap rahmat Allāh.

⑵ Yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada keta’atan kepada Allāh .

                Takut seperti ini adalah ibadah. Tidak boleh sekali-kali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allāh.

                Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya. Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm ‘Alaihissalām ketika beliau berkata yang artinya:

“Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya.” (QS Al An’ām: 80)

                Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluq yang melebihi takutnya kepada Allāh, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar larangan Allāh, Seperti Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir Atau, tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allāh berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya itu hanyalah syaithān yang menakut-nakuti kalian, wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman”

(QS Āli ‘Imrān: 175 )

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluq yang diharamkan adalah:

⑴ Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.

⑵ Mengingat sabda Nabi ﷺ yang artinya:

“Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis, dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis.”

(HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia, seperti:

⑴ Takut kepada panasnya api.

⑵ Takut kepada binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh. Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Kamir.zakiyyah@gmail.com

HALAQAH 23 | TA’AT ULAMA DALAM KEBENARAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang “Ta’at Ulama Dalam Kebenaran”.

                Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allāh dan juga agamanya, Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Mereka adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi, Allāh telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk ta’at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan. Allāh Ta’ālā berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allāh dan ta’atlah kepada Rasul dan ulil amri kalian.” (QS An Nisā: 59)

                Dan ulil amri disini mencakup ulama dan juga umarā (pemerintah), menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta’ati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan,

            ‘ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain. Ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar.

* Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.

* Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

                Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang mena’ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran,

Rasūlullāh  ﷺ bersabda:

                “Tidak ada keta’atan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya keta’atan hanya didalam kebenaran” (Muttafaqun ‘alaih)

                Apabila seseorang menta’ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allāh, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Allāh berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله…

“Mereka (orang-orang Yahudi & Nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allāh.” (QS At Taubat: 31)

Rasūlullāh  ﷺ menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

“Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allāh haramkan, maka mereka ikut menghalalkan. Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allāh halalkan maka mereka pun ikut mengharamkan.” (Hadits ini hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

HALAQAH 24 | MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 berjudul “Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh”.

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh. Allāh berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh.” (QS An Nahl: 53)

            Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh. Seperti mengatakan:

• “Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka.”

• “Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri.”

• “Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh.”

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allāh berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya.” (QS An Nahl: 83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab. Seperti dengan mengatakan:

• “Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka.”

• “Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang.”

• “Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh.”

Karena apa? Karena Allāh-lah yang memberikan nikmat keselamatan, nikmat keamanan, nikmat kesembuhan. Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita. Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain.

                Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini. Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do’a yang baik.

                Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata. والله تعالى أعلم

HALAQAH 25 | RIDHA DENGAN HUKUM ALLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang “Ridha Dengan Hukum Allāh”.

Allāh Ta’āla sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-Rahmān Ar-Rahīm. Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syari’at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan didunia maupun akhirat.

                Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah dan juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang samar atas sebagian manusia.

                Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk, Ridha dengan hukum Allāh, dan yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allāh.

Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) :

• ‘Aqidah

• Akhlaq

• Adab

• Mu’āmalah

• Ekonomi

• Kenegaraan

• Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allāh di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhid, Allāh berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu’min dan wanita yang mu’minah apabila Allāh dan  Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.Dan barangsiapa yang mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku, Alhamdulillāh dengan izin dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

                Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini. Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup. Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri. Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

                Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini.

                Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya. Semoga Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

                Jangan berhenti sampai disini dan merasa cukup, apa yang disampaikan dalam silsilah ini hanya sebagian kecil dari ilmu Tauhid.

Sumber : hsi Abdullahroy.com

EDITOR : Abu Hafizh Abdurrahman Email : Kamir.zakiyyah@gmail.com

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU

HSI Abdullah Roy, Pengagungan terhadap Ilmu Halaqah 01 – 05

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU BAGIAN 1

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Pengagungan Terhadap Ilmu

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang pertama dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah adalah tentang Pengagungan Terhadap Ilmu Bagian yang Pertama

                Telah berkata Guru kami yang mulia Syaikh Dr. Shaleh Ibn Abdillah Ibn Hamid Al ‘Ushaimi Hafidzhahullāh didalam muqaddimah kitab beliau Khulashah Ta’dzimi ‘Ilmi, bahwa banyak sedikitnya ilmu seseorang adalah sesuai dengan pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.

                Barangsiapa yang hatinya penuh dengan pengagungan terhadap ilmu maka hati tersebut pantas menjadi tempat bagi ilmu tersebut, sebaliknya barangsiapa yang berkurang pengagungannya terhadap ilmu maka akan semakin berkurang bagiannya.

                Kemudian beliau menyebutkan 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu:

1. Membersihkan Tempat Ilmu Yaitu Hati,

Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah membersihkan tempat ilmu, apabila hati kita bersih maka ilmu akan berkenan masuk dan semakin bersih maka semakin menerima ilmu tersebut, dan hal yang mengotori hati dan menjadikan ilmu sulit masuk adalah kotoran syahwat dan kotoran syubhat.

2. Mengikhlaskan Niat

Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah mengikhlaskan niat karena Allāh ﷻ didalam menuntutnya, sesuai dengan keikhlasan seseorang maka dia akan mendapatkan ilmu dan niat yang ikhlas didalam mencari ilmu adalah apabila niatnya :

> Mengangkat kebodohan dari diri sendiri

> Mengangkat kebodohan dari orang lain

> Menghidupkan ilmu dan menjaganya supaya tidak punah

> Mengamalkan ilmu

Diantara bentuk pengagungan terhadapa ilmu adalah

3. Mengumpulkan Tekad Untuk Menuntutnya, Meminta Pertolongan Kepada Allāh ﷻ Dan Tidak Merasal Lemah

Sebagaimana dalam Hadits

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Hendaklah engkau semangat melakukan apa yang bermanfa’at untuk dirimu, dan memohonlah petolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau merasa lemah”

                Dahulu Imam Ahmad Bin Hanbal terkadang ingin keluar dari rumahnya untuk menghadiri majelis ilmu gurunya sebelum datang waktu shubuh dan sebagian mereka membaca Shahih Al Bukhari kepada gurunya dalam 3 majelis atau 3 pertemuan.

                Ini semua menunjukkan bagaimana semangat dan tekad para pendahulu kita didalam menuntut ilmu.

Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah

4. Memusatkan Semangat Untuk Mempelajari Al-Quran dan Al-Hadits,

karena inilah asal dari ilmu itu sendiri

                Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah “Pengagungan Terhadap Ilmu Bagian yang Kedua”

                Diantara bentuk pengagungan terhadap ilmu yang disebutkan oleh guru kami yang mulia syaikh Dr. Shaleh bin abdillah ibn hamid al ‘ushaimi hafdzhahullah adalah

5. Menempuh Jalan Yang Benar Di Dalam Menuntut Ilmu Agama

                orang yang salah cara didalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan keinginannya atau mendapatkan sedikit disertai rasa lelah yang sangat,

Dan cara yang benar didalam mempelajari suatu cabang ilmu

– Dengan menghafal sebuah matan kitab yang menyeluruh dan dia mengumpulkan perkara perkara yang rajih (yang dikuatkan) menurut para ulama dibidang tersebut

– Mempelajari ilmu tersebut dari serorang yang ahli yang bisa dijadikan teladan dan dia mampu mengajar

6. Mendahulukan Ilmu Yang Paling Penting, Kemudian Yang Setelahnya dan Setelahnya,

                Dan ilmu yang paling penting adalah ilmu yang berkaitan dengan ibadah seseorang kepada Allah, dan ilmu yang paling penting adalah ilmu yang berkaitan dengan ‘ubudiyyah seseorang

kepada Allah ‘azza wa jalla seperti :

lmu Aqidah,

Tata Cara Wudhu,

Tata Cara Shalat,

Dan Lain Lain

7. Bersegera Untuk Mendapatkan Ilmu Dan Memanfaatkan Waktu Muda

                karena waktu muda adalah waktu yang emas untuk mempelajari ilmu agama berkata Al Hasan Al Bashri rahimahullah

العلم في الصغر كالنقص في الحجر

“menuntut ilmu diwaktu kecil seperti mengukir dibatu”

                adapun apabila sudah tua maka kebanyakan manusia akan memiliki banyak kesibukan, pikiran dan memliki banyak koneksi, kalau dia bisa mengatasi itu semua maka In Syaa Allah dia akan mendapatkan ilmu

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam dahulu mempelajari agama dan mereka sudah berumur

8. Pelan Pelan Di Dalam Menuntut Ilmu

                karena menuntut ilmu tidak bisa dilakukan serta merta sekali jalan tetapi di ambil ilmu secara pelan pelan dengan memulai kitab kitab yang ringkas menghapal dan memahami maknanya dan jangan kita memulai menuntut ilmu dengan membaca kitab kitab yang panjang

                Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-3 dari silsilah ilmiyyah dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah “Pengagungan terhadap Ilmu Bagian yang Ketiga”

Diantara pengagungan terhadap ilmu :

9. Sabar Dalam Menuntut Ilmu Dan Menyampaikan Ilmu:

menghapal membutuhkan kesabaran,

memahami membutuhkan kesabaran,

Menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran

Demikian pula menjaga hak seorang guru membutuhkan kesabaran

Berkata Yahya Ibnu Abi Katsiirin

لا يُسْتَطَاعُ العلمَ بِرَاحَةِ الجِسْم

“Tidak didapatkan ilmu dengan badan yang berleha leha”

Demikian pula menyampaikan dan mengajarakan perlu kesabaran duduk bersama dengan para penuntut ilmu perlu kesabaran, memahamkan mereka perlu kesabaran, demikian pula menghadapi kesalahan kesalahan mereka perlu kesabaran

10. Memperhatikan Adab Adab Ilmu

Ilmu yang bermanfa’at didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab, dan adab disini mencakup terhadap diri dalam pelajaran terhadap guru dan teman dan lain lain

                Orang yang beradab didalam ilmu berarti dia mengagungkan ilmu, maka dia dipandang sebagai orang yang berhak untuk mendapatkan ilmu tersebut, adapun orang yang tidak beradab, maka dikhawatirkan ilmu akan sia sia bila disampaikan kepadanya

berkata Ibnu Sirrin

كانوا يتعلمون الهَدْيَ كما يتعلمون العلم

“Dahulu mereka mempelajari adab, sebagaimana mereka mempelajari ilmu”

                Bahkan sebagian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu dan banyak diantara para penuntut yang tidak mendapatkan ilmu, karena dia menyia-nyiakan adab

11. Menjaga Ilmu Dari Apa Yang Menjelekkannya

                Hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga wibawanya karena apabila dia melakukan sesuatu yang merusak wibawa nya sebagai seorang penuntut ilmu berarti dia telah merendahkan ilmu, seperti terlalu banyak menoleh jalan, berteman akrab dengan orang orang fasiq dan lain lain

12. Memilih Teman Yang Shaleh

Seorang penuntut ilmu perlu teman yang membantu untuk mendaptakan ilmu dan bersungguh sungguh, teman yang tidak baik akan memberi pengaruh yang tidak baik

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang berada di atas agama teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman akrab” (Hadits Hasan diriwayat Abu Daud dan Tirmidzi)

                Demikian yang kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU BAGIAN 4

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-4 dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah “Pengagungan Terhadap Ilmu”

Diantara perkara yang disebutkan Guru kami yang mulia Syaikh Dr. Shaleh bin ‘abdillah al ‘ushaimi hafdzhahullah didalam kitab beliau khulashah ta’dzimi ‘ilmi

13. Berusaha Keras Menghapal ilmu bermudzakarah dan bertanya

Belajar dari seorang guru tidak banyak manfa’atnya jika tidak menghapal, bermudzakarah, dan bertanya, menghapal berkaitan dengan diri sendiri, bermudzakarah mengulang kembali bersama teman dan bertanya maksudnya adalah bertanya kepada sang guru

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah

حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا

“Kami menghapal sedikit dan membaca banyak, maka kami mengambil manfa’at dari apa yang kami hapal lebih banyak dari apa yang kami baca dan dengan bermudzakarah akan hidup ilmu dalam jiwa dan dengan bertanya akan terbuka pembendaharaan ilmu”

14. Menghormati Ahli Ilmu

Rasulullah shallahallahu wa sallam bersabda

ليس من أمتي من لم يجلّ كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

“Bukan termasuk ummatku yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan mengetahui hak bagi seorang ‘alim” (Hadits Hasan yang di riwatkan Al Imam Ahmad didalam musnad beliau)

                Maka seorang murid harus memiliki rasa tawadhu terhadap gurunya, menghadap beliau, dan tidak menoleh menjaga adab berbicara, tidak berlebihan didalam memuji beliau, mendoakan beliau, mengucapkan terima kasih kepada beliau, atas pengajaran beliau menampakan rasa butuhnya terhadap ilmu beliau, tidak menyakiti beliau dengan ucapan dan perbuatan, serta berlemah lembut ketika mengingatkan kesalahan beliau

                Disana ada 6 perkara yang harus dia jaga apabila melihat kesalahan seorang guru:

1. Meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut keluar dari seorang guru

2. Meneliti apakah itu sebuah kesalahan (dan ini tugas ahlul ilmu)

3. Tidak mengikuti kesalahan tersebut

4. Memberikan udzur kepada sang guru dengan alasan yang benar

5. Memberikan nasihat dengan lembut dan rahasia

6. Menjaga kehormatan seorang guru dihadapan kaum muslimin yang lain

15. Mengembalikan Sebuah Permasalahan Kepada Ahlinya

Orang yang mengagungkan ilmu mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahli ilmu dan tidak memaksakan dirinya atas sesuatu yang tidak mampu, karena dikhawatirkan takut berbicara tanpa ilmu khususnya peristiwa peristiwa yang besar yang terjadi yang berkaitan dengan urusan umat dan orang banyak

                Mereka para ulama memiliki ilmu dan berpengalaman maka hendaklah kita husnudzhan kepada mereka dan apabila ulama berselisih maka lebih hati hatinya seseorang mengambil ucapan mayoritas mereka

16. Menghormati Majelis Ilmu dan kitab

Hendaklah beradab ketika bermajelis,

Melihat kepada gurunya dan tidak menoleh tanpa keperluan,

                Tidak banyak bergerak dan memainkan tangan dan kakinya,

Tidak bersandar dihadapan seorang guru, tidak bersandar dengan tangannya,

                Tidak berbicara dengan orang yang ada disampingnya,

Apabila bersin berusaha untuk merendahkan suaranya,

                Apabila menguap berusaha untuk meredamnya atau menutup dengan mulutnya

Hendaknya juga menjaga kitab dan memuliakannya

Tidak menjadikan kitab sebagai tempat simpanan barang barang,

Tidak bersandar diatas kitab,

Tidak meletakkan kitab dikakinya, dan

Apabila dia membaca kitab dihadapan seorang guru

Hendaknya dia mengangkat kitab tersebut dan tidak tidak meletekkan kitab tersebut ditanah

Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini,

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kamir.zakiyyah@gmail.com

PENGAGUNGAN TERHADAP ILMU BAGIAN 5

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Muqaddimah Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah adalah tentang “Pengagungan Terhadap Ilmu”

Yang ke-17 diantara 20 perkara yang disebutkan oleh Syaikh Al-‘ushaimi hafidzhahullah merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu adalah

17. Membela Ilmu Dan Membelanya

                Ilmu memiliki kehormatan yang mengharuskan penuntutnya dan ahlinya untuk membela dan menolongnya bila ada yang berusaha untuk merusaknya.

                Oleh karena itu para ulama membantah orang yang menyimpang bila jelas penyimpangannya dari syari’at siapapun dia. Yang demikian untuk menjaga agama dan menasehati kaum muslimin.

                Mereka memboikot seorang mubtadi’ yaitu orang yang membuat bid’ah dalam agama, tidak mengambil ilmu dari mereka kecuali dalam keadaan terpaksa dan lain-lain. Semuanya dilakukan untuk menjaga ilmu dan membelanya.

18. Berhati-hati Dalam Bertanya Kepada Para Ulama

                Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan 4 perkara didalam bertanya:

1. Bertanya untuk belajar, bukan ingin mengeyel, karena orang yang niatnya tidak baik didalam bertanya akan dijauhkan dari berkah ilmu itu sendiri.

2. Bertanya tentang sesuatu yang bermanfa’at.

3. Melihat keadaan gurunya, tidak bertanya kepada sang guru apabila guru dalam keadaan tidak kondusif untuk menjawab pertanyaan.

4. Memperbaiki cara bertanya seperti menggunakan kata-kata yang baik, mendo’akan untuk sang guru sebelum bertanya, menggunakan panggilan penghormatan, dan lain-lain.

                Yang ke-19 diantara pengagungan terhadap ilmu adalah

19. Cinta Yang Sangat Kepada Ilmu

Tidak mungkin seseorang mencapai derajat ilmu kecuali apabila kelezatan dia yang paling besar ada di dalam ilmu, dan kelezatan ilmu bisa didapatkan dengan 3 perkara:

1. Mengeluarkan segenap tenaganya dan kesungguhannya untuk belajar.

2. Kejujuran didalam belajar.

3. Keikhlasan niat.

Kemudian yang ke-20 diantara pengagungan terhadap ilmu adalah

20. Menjaga Waktu di Dalam Ilmu.

                Seorang penuntut ilmu tidak menyia-nyiakan waktunya sedikitpun menggunakan waktu untuk ibadah, dan mendahulukan yang afdhal diantara amalan-amalan.

                Sebagian salaf dahulu ada yang muridnya membaca kitab kepada beliau sedangkan beliau dalam keadaan makan, yang demikian adalah untuk menjaga waktunya jangan sampai tersia-sia dari menuntut ilmu.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber : hsi.abdullahroy.com

Banjarmasin 11/10/2022

Editor :

Kamir.zakiyyah@gmail.com

@Produksi2022

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai