HSI Abdullah Roy Silsilah Qawa’idul arba’ Halaqah 01 – 25
“BISMILLAH”
————————————————————-
HALAQAH 01 – PENGANTAR DAN PENJELASAN
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
Halaqah yang pertama penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’, karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitāb yang ringkas akan tetapi telah memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin yang dikarang oleh seorang ulamā
√ Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah (kurang lebih 300 tahun yang lalu)
√ Beliau meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyyah.
⇛Beliau adalah :
“Al Imām Adda’wat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At-tamīmiy”
⇛ Kitāb yang akan kita pelajari adalah Al Qawā’idul Arba’ (Kaidah-kaidah yang 4 (empat)/4 Kaidah).
Kitāb ini adalah Kitāb yang ringkas, telah banyak diantara ulamā dan para penuntut ilmu yang telah mengambil pelajaran dan mengambil manfaat dari kitāb yang mulia ini.
Syaikh Muhammad At-tamīmiy adalah :
√ Seorang ulamā Jazirah Arab
√ Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah
√ Beliau telah mulai menuntut ilmu semenjak beliau kecil
√ Beliau mengambil ilmu dari bapak beliau sendiri
√ Dan dari ulamā -ulamā besar dizamannya.
Diantaranya adalah :
⇛ Syaikh Muhammad Hayah As Sindi dan juga yang lain.
√ Beliau telah melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu agama pergi ke daerah-daerah yang ada di hijaz ini, ke kota Madīnah, Mekkah dan mengambil ilmu dari banyak ulamā.
Demikian pula pergi ke Bashrah dan hampir-hampir beliau pergi ke Syām, akan tetapi karena suatu halangan beliau tidak bisa kesana.
Dizaman beliau banyak kerusakan-kerusakan didalam agama, daerah beliau sendiri dan juga daerah-daerah tetangga tersebar yang dinamakan dengan kesyirikan (penyembahan terhadap selain Allāh ‘Azza wa Jalla) diantaranya :
√ Ada diantara mereka yang mengagung-agungkan kuburan para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum
√ Ada diantara mereka yang mengagung-agungkan pohon yang besar, meminta kepadanya, meminta manfaat dari pohon tersebut.
Oleh karena itu beliau rahimahullāh selama hidupnya menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan mengajak orang-orang yang ada disekitar beliau baik orang yang awam, anak kecil, orang yang sudah besar bahkan para petinggi kerajaan tidak lepas dari dakwah beliau.
Diantara usaha beliau adalah mengarang beberapa Kitāb diantaranya adalah kitāb yang akan kita pelajari dan beliau rahimahullāh memiliki banyak karangan yang sangat bermanfaat diantaranya adalah:
√ Kitābut Tauhīd
√ Kasyfusy Syubuhāt
√ Al Ushūluts Tsalātsah
√ Fadhlul Islām
√ Ushūlul Imān
√ Dan kitāb lain yang kaum muslimin sudah mengambil manfaat dari beliau
⇛ Beliau meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyyah
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima amal ibadah beliau, keta’atan beliau dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dari apa yang sudah beliau sampaikan.
Kitāb ini (Al Qawā’idul Arba’) berisi tentang 4 (empat) kaidah supaya seseorang bisa memahami apa itu tauhīd, mungkin ada diantara kita atau banyak diantara kita sudah mendengar dan pernah mendengar apa itu tauhīd dan apa itu As syirik.
Dan didalam kitāb ini beliau berusaha untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang tauhīd dan syirik dengan kalimat-kalimat yang ringkas dan beliau meringkas nya menjadi 4 (empat) kaidah.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
“Aku Mencintaimu Karna Allah”
@Produksi2022
HALAQAH 02 – PENJELASAN KALIMAT
بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyah Al Qawā’idul Arba’ yang dikarang oleh seorang ulamā Al Imām Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-Tamimiy
Beliau mengatakan بسم اللّه الرحمن الرحيم mengawali kitāb beliau dengan basmallāh mengikuti apa yang Allāh lakukan didalam Al Qurān.
Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai kitābNya (Al-Qur’ānul Karīm) dengan basmallāh.
Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau mengirim risalah ke sebagian para penguasa yang ada dizaman beliau, beliau memulai risalahnya (suratnya) yang isinya adalah dakwah kepada Islām, Tauhīd , dengan basmallāh.
Diantaranya ketika beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengirim surat kepada Heraclus, beliau memulai suratnya dengan basmallāh (بسم اللّه الرحمن الرحيم )
Dan disini Syaikh Muhammad At-tamimiy memulai risalah beliau (memulai kitāb beliau) dengan basmallāh.
Dan basmallāh, bi disini adalah(ب) isti’ānah yaitu (ب) yang fungsinya adalah memohon pertolongan.
Orang yang mengatakan (بسم اللّه الرحمن الرحيم ) maka maknanya “Aku memohon pertolongan kepada Allāh Ar-rahmān Ar-rahīm”
Orang yang mengucapkan basmallāh maka pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Isim artinya adalah nama, Ismillāh artinya nama Allāh.
Dan sebuah kalimat yang mufrad apabila disandarkan maka ini maknanya adalah umum, sehingga makna Bismillāh adalah seluruh nama Allāh jadi bukan hanya satu nama akan tetapi mencakup seluruh nama Allāh.
⇛ Bismillāh dengan nama Allāh maksudnya adalah dengan nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki al Asmā-ul husnā.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki nama-nama yang Husnā, maka hendaklah kalian berdo’a dengannya”
(QS Al-A’rāf : 180)
⇛ Orang yang mengatakan Bismillāh, berarti telah beristi’ānah (memohon pertolongan dengan seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla)
Allāh adalah lafdzul Jalalah diambil dari kata Al uluhah yang artinya adalah Al ma’luh, Al ma’bud yang disembah dan lafdzul Jalallah adalah nama Allāh yang paling agung, disandarkan nama-nama yang lain kepada nama ini.
Seseorang mengatakan,
√ Ar-rahmān adalah diantara nama Allāh
√ Ar-rahīm adalah diantara nama Allāh
√ Al-Azīz adalah diantara nama Allāh
Nama-nama yang lain kembalinya kepada lafdzul Jalalah yang artinya adalah Al ma’bud, Al ma’luh yang disembah.
Ar-rahmān adalah salah satu diantara nama-nama Allāh yang berasal dari Ar-rahmah yang artinya yang Maha Penyayang.
Ar-rahīm juga demikian berasal Ar-rahmah yang artinya Maha Penyayang.
· Perbedaan Ar-rahmān dan Ar-rahīm
Perbedaan antara Ar-rahmān dan Ar-rahīm disebutkan oleh para ulamā, diantaranya bahwasanya :
⑴ Ar-rahmān adalah Allāh Maha Penyayang dan kasih sayang disini mencakup seluruh makhluk, baik yang mukmin maupun yang kāfir, baik ta’at kepada Allāh maupun yang berbuat maksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Semuanya mendapatkan rahmat dari Allāh.
Orang Kāfir meskipun dia adalah orang yang kāfir mendapatkan rejeki dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mendapatkan makanan, minuman, diberikan kesempatan hidup dan ini adalah bagian dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⑵ Ar-rahīm maka rahmatnya disini adalah rahmat untuk orang-orang yang beriman, tidak diberikan kepada orang-orang kāfir.
Dan diantara rahmat yang Allāh berikan kepada orang-orang yang beriman adalah :
⑴ Imān itu sendiri
⑵ Hidayah kepada agama Islām
⑶ Dibuka hatinya untuk berimān dan percaya kepada Allāh, Rasūl Nya, Malāikat-malāikat, kitāb-kitāb, taqdir.
Dan ini adalah bagian dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Allāh khususkan untuk orang-orang yang berimān.
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat yang sangat penyayang kepada orang-orang yang berimān”
(QS Al-Ahzāb : 43)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 03 – PENJELASAN KALIMAT
أسأل الله
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-3 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh, beliau mengatakan :
ٲَسْٲَلُ اللَّهَ الكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Beliau mengatakan :
Aku berdo’a kepada Allāh, Al Karīm yang Maha Pemurah, Rabbal ‘Arsyil adzim, Rabb yang memiliki/menguasai ‘Arsy yang besar, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjagamu di dunia dan juga di ākhirat.
Setelah beliau mengucapkan basmallāh, beliau mendoakan untuk (kita) setiap yang membaca kitāb beliau dengan beberapa do’a diantara nya adalah :
ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjagamu,menolongmu didunia dan juga di ākhirat.
Dan ini adalah adab yang sangat baik, seorang yang mengajari orang lain, mendo’akan muridnya dengan do’a-do’a yang baik.
Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalam Al Qurān diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk :
⑴ Mendo’akan orang lain.
⑵ Mendo’akan para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ
“Dan hendaklah engkau Muhammad mendo’akan mereka, karena sesungguhnya do’a yang engkau panjatkan, yang engkau tunjukan, yang engkau berikan kepada mereka ini adalah ( سَكَنٌ لَهُمْ ) memberikan ketenangan kepada mereka.”
(QS At-Tawbah :103)
Do’a nya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam do’a yang berupa kebaikan untuk para shahābat beliau, menjadikan ketenangan didalam hati para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.
Oleh karena itu disini beliau rahimahullāh mendo’akan kepada setiap yang mendengar dan mendo’akan kepada setiap yang membaca kitāb beliau ini, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menolong menjaga di dunia maupun di ākhirat.
Dan ini adalah do’a yang agung, seseorang dijaga didunia baik agamanya maupun dunianya, dijaga dari musibah, dijaga dari kecelakaan.
Demikian pula didalam agamanya dijaga dari kesesatan dari kerancuan-kerancuan, dari keraguan-keraguan.
Dan dijaga di ākhirat semenjak seseorang meninggal dunia, dijaga dari adzāb kubur, dijaga dari kegagalan didalam menjawab pertanyaan malāikat, dijaga ketika dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika manusia dalam keadaan takut menghadapi dan melihat kejadian-kejadian besar pada hari kiamat. Dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari ketakutan tersebut.
Dan seterusnya dijaga ketika melewati ashirāt, dijaga dari neraka.
Maka ini adalah do’a yang sangat agung, beliau mengatakan :
ٲَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 04 – PENJELASAN DOA PENGARANG
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-4 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh, beliau mengatakan :
ِ وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ
Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau wahai pembaca, wahai pendengar, (mubārakan) menjadi orang berbārakah dimanapun engkau berada, dan ini juga do’a yang sangat agung.
Beliau mendo’akan untuk kita, supaya kita menjadi orang yang berbārakah.
Berbārakah artinya adalah :
√ Banyak kebaikan
√ Bisa memberikan manfaat
√ Memiliki banyak kebaikan
√ Kebaikan tersebut langgeng dan terus menerus bersama kita.
Orang yang berbārakah maka ini adalah orang yang banyak kebaikannya, memberikan kebaikan tersebut kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Ketika dia memiliki ilmu dan dia adalah orang yang berbārakah, bermanfaat ilmu yang dia miliki, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keluasan didalam masalah rejeki, bermanfaat rejeki tersebut untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada disekitarnya.
Apabila dia seorang penguasa (seorang pejabat) bermanfaat kekuasaannya, jabatannya untuk dirinya dan juga untuk orang lain yang ada disekitarnya.
Dia memiliki kebaikan yang banyak dan kebaikan tersebut adalah kebaikan yang langgeng.
Beliau mengatakan:
ِ وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ،
Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau berbārakah dimanapun engkau berada.
Baik didalam rumah, ketika keluar rumah, baik ketika bersama keluarga maupun bersama orang lain, baik bersama bawahannya maupun dengan teman-temannya.
Menjadikan seseorang menjadi orang yang berbārakah, tidak ada orang yang duduk dengannya (dekat dengannya) kecuali dia mengambil faedah dari dirinya ِ(وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ)
Kemudian beliau mengatakan :
وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ
Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan engkau termasuk orang yang apabila di beri maka dia bersyukur.
وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ
Dan apabila diberikan ujian, menjadi orang yang bersabar.
وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ
Dan apabila dia berdosa maka dia beristighfār.
فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ
Karena sesungguhnya 3 (tiga) perkara ini adalah termasuk tanda-tanda kebahagiaan.
Ini adalah do’a yang lain, yang beliau panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk kita.
Beliau berdo’a supaya kita termasuk orang yang apabila diberi bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Diberikan kenikmatan, diberikan karunia, sekecil apapun kenikmatan tersebut.
Beliau berdo’a kepada Allāh, supaya kita termasuk orang-orang yang bersyukur apabila diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan beliau berdo’a supaya,
√ Apabila kita terkena musibah maka kita termasuk orang yang bersabar.
√ Apabila kita berdosa atau melakukan maksiat kepada Allāh (melakukan dosa) maka kita termasuk orang-orang yang beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Beliau menyebutkan 3 (tiga) perkara dan tidak terlepas keadaan kita dari salah satu diantara 3 (tiga) perkara ini.
Seorang manusia di dalam kehidupannya terkadang mendapatkan kenikmatan, maka kewajiban dia saat itu adalah bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Seorang yang tidak bersyukur, maka cepat atau lambat Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengambil kenikmatan tersebut.
Tapi orang yang bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menambah kenikmatan diatas kenikmatan.
Allāh berfirman :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Apabila engkau bersyukur, mengakui bahwasanya kenikmatan ini dari Allāh bersyukur dengan lisannya, menggunakan kenikmatan ini, didalam perkara yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh menjanjikan akan menambah kenikmatan tersebut.
(QS Ibrāhim : 07)
Ditambah kenikmatan diatas kenikmatan.
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan apabila engkau kufur kepada Allāh, mendapatkan kenikmatan akan tetapi mengingkari bahwasanya itu dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menganggap bahwasanya kenikmatan itu berasal dari dirinya, dari ilmu yang dia miliki, dari usaha yang dia kerjakan, lupa bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kenikmatan tersebut dan memudahkan dia untuk mendapatkan kenikmatan tersebut.
Wa lain kafartum (وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ) apabila engkau kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka ketahuilah bahwasanya adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah adzab yang sangat pedih.
Ini adalah akibat dari orang yang kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Seseorang ketika diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan maka kewajibam dia adalah bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan apabila mendapatkan musibah maka hendaklah dia bersabar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Seseorang tidak lepas didalam kehidupannya terkadang mendapatkan kenikmatan dan terkadang dia mendapatkan musibah, maka kewajiban dia ketika mendapatkan musibah adalah bersabar.
Berimān bahwasanya ini semua adalah takdir dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahkan sudah sejak lama, 50 ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi.
Langit dan bumi telah diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam waktu yang sudah cukup lama dan ditulisnya takdir sebelum diciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun.
Telah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kenikmatan yang akan diterima oleh seseorang, umurnya, rejekinya termasuk diantaranya adalah musibah.
Dan tidak mungkin apa yang sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla luput dari seseorang.
Oleh karena itu seseorang ketika ditimpa musibah baik didalam dirinya, hartanya, keluarganya maupun yang lain, maka hendaknya ingat dan beriman bahwasanya ini semua sudah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan harus terjadi.
Dan barangsiapa yang beriman kepada Allāh, beriman dengan takdir, dan mengetahui bahwasanya ini adalah termasuk takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla ketika terjadi musibah maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah.
Memberikan hidayah kepada hatinya, memberikan ketenangan didalam menghadapi musibah tersebut, bagaimanapun besarnya musibah tersebut.
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan hidayah (petunjuk) kepada hatinya”.
(QS At-Taghābun :11)
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
============================================
HALAQAH 05 – MAKNA ISTIGHFAR DAN KETAATAN
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-5 Penjelasan kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb Sulaimān At-tamīmiy rahimahullāh.
Beliau mengatakan :
وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ
Dan apabila dia berdosa maka dia beristighfār.
Beristighfār kepada Allāh memohon ampun kapada Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas dosa yang telah dilakukan.
Makna istighfār mengandung dua perkara :
⑴ Memohon kepada Allāh supaya, ditutupi dosa tersebut.
Karena istighfāra berasal dari kata (غفر) yang artinya adalah menutupi.
Ketika seseorang mengatakan ‘Astaghfirullāh’ berarti dia telah memohon kepada Allāh, supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menutupi dosanya.
Ditutupi kemaksiatan yang dia lakukan dari mata manusia sehingga tidak diketahui, sehingga tidak terbongkar kemaksiatan tersebut.
Seseorang yang mengatakan astaghfirullāh maka dia telah memohon kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya dosa nya ditutupi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⑵ Memohon supaya dosanya dihapus.
Sehingga dosa yang telah ditulis oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta supaya catatan tersebut dihapus dari catatan amalnya.
Sehingga kelak dihari kiamat tidak akan diadzab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan sebab dosanya.
فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ
Karena sesungguhnya 3 (tiga) perkara ini adalah alamat/ciri-ciri dari kebahagiaan.
Orang yang bahagia adalah :
“Orang yang apabila diberi bersyukur dan apabila mendapatkan musibah dia bersabar dan apabila dia berdosa dia beristighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.
Kemudian beliau mengatakan :
اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِه
“Ketahuilah semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepadamu, kepada keta’atan”
Beliau (Semoga Allāh merahmati beliau) kembali mendo’akan kepada kita :
Supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan petunjuk kepada kita, kepada keta’atan’ (yaitu) mengilmui kebenaran dan mengamalkan kebenaran tersebut.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 06 – MAKNA AL HANIFIAH DAN TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-6 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.
Kemudian beliau mengatakan :
أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،
Ketahuilah kata beliau:
Wahai pembaca, wahai pendengar bahwasanya Al Hanīfīyyah agamanya Nabi Ibrāhīm adalah engkau menyembah Allāh semata, mengikhlāskan untuknya agama ini.
Beliau ingin memberikan pengertian kepada kita tentang makna Al Hanīfīyyah (agamanya Nabi Ibrāhīm) kenapa demikian, karena didalam Al-Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang millāhnya Nabi Ibrāhīm dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mewajibkan semua manusia baik orang Yahūdi maupun Nashrāni, kaum muslimin untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām.
Mengikuti agamanya Nabi Ibrāhīm, karena millah maknanya adalah agama.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِين
“Kemudian kami wahyukan kepadamu wahai Muhammad (أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا) supaya engkau mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang hanīf”
(QS An Nahl: 123)
Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mewahyukan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan diantara wahyunya adalah supaya beliau mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm.
Orang-orang Yahūdi dan Nashrāni mengatakan,
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Orang-orang Yahūdi mendakwahi orang lain supaya ikut masuk didalam agamanya,
كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا
“Hendaklah kalian menjadi orang Yahūdi atau menjadi orang Nashrāni niscaya kalian mendapatkan petunjuk”
(QS Al Baqarah : 135)
Kemudian Allāh mengatakan:
قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
“Katakanlah wahai Muhammad justru/bahkan kami mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang hanīf”
Menunjukan kepada kita bahwasanya kita diperintahkan untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrāhīm yang dinamakan dengan Al Hanīfīyyah.
Al Hanīfīyyah berasal dari Al Hanīf yang artinya adalah Mustaqīm (lurus).
Artinya agama Al Hanīfīyyah adalah agama yang lurus hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla berpaling dari selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Beliau mengatakan:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،
Yang dimaksud dengan millahnya Ibrāhīm, yang kita diperintahkan untuk mengikuti millahnya ini adalah engkau beribadah kepada Allāh ( وَحْدَهُ) hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla ( مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ) mengikhlāskan agama ini hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak ada yang lain.
Jadi kita diperintahkan untuk mengikuti milahnya Nabi Ibrāhīm (artinya) menjadi orang yang hanya mengikhlāskan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menyerahkan setitikpun/sedikitpun dari ibadah-ibadah yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Siapapun dia, baik itu orang yang agung, orang yang rendah, seorang nabi seorang malāikat, seorang wali selain Allāh adalah makhluk dan ibadah adalah hak istimewa hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian beliau mengatakan :
وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيعَ النَّاسِ، وَخَلَقَهُم لَهَا
Dan dengan hal ini pula Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia, dengan ibadah ini (yaitu) dengan mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan manusia.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”
(QS Al Baqarah : 21)
Ini adalah perintah pertama didalam Al Qurān yang disebutkan didalam surat Al Baqarah.
Perintah pertama didalam Al Qurān yang Allāh sebutkan adalah perintah untuk bertauhīd, menyembah Allāh semata, menyerahkan ibadah hanya kepada Allāh semata ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ)
Wahai manusia hendaklah kalian menyembah kepada Rabb kalian.
Siapakah Rabb kalian?
Yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian, dialah Rabb yang berhak untuk disembah.
Kemudian beliau mengatakan:
وَخَلَقَهُم لَهَا
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan mereka untuk ibadah ini.
Manusia dan juga jin diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksudnya bukan diciptakan begitu saja tanpa ada maksud, tanpa ada hikmah.
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menyebutkan hikmahnya.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾
“Dan tidaklah aku ciptakan jinn dan juga manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.
(QS Adz dzariāt: 56)
Ini adalah hikmah diciptakan jinn dan manusia tidak lain dan bukan kecuali untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
============================================
HALAQAH 07 – TIDAK DINAMAKAN IBADAH KECUALI DENGAN TAUHID
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-7 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.
Kemudian beliau mengatakan :
فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ
Beliau mengatakan:
Apabila engkau wahai pembaca, wahai pendengar mengetahui bahwasanya Allāh menciptakan dirimu untuk beribadah kepada Nya ( فَاعْلَمْ) maka ketahuilah kata beliau bahwasanya ibadah tidak dinamakan ibadah kecuali dengan tauhīd.
Seseorang tidak dinamakan beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kecuali apabila dia mentauhīdkan Allāh, mengesakan Allāh didalam ibadah tersebut.
Apabila seseorang mengaku beribadah kepada Allāh tetapi dia tidak mengEsakan Allāh didalam ibadah tersebut (artinya) selain dia beribadah kepada Allāh juga menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh ‘Azza wa Jalla maka ini tidak dinamakan dengan ibadah.
Oleh karena itu beliau mengatakan,
Ibadah dinamakan ibadah apabila kita bertauhīd hanya mengEsakan Allāh didalam beribadah.
Kemudian beliau mengatakan :
كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلَاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ
Sebagaimana shalāt tidak dinamakan shalāt kecuali apabila ada thahārah (bersuci).
Apabila seseorang apabila misalnya melakukan shalāt, ruku, sujud, berdiri, tetapi dia tidak melakukan thahārah, apakah ini dinamakan shalāt?
Secara dzahir orang menyangka bahwasanya dia shalāt tapi karena tidak melakukan thahārah, tidak bersuci, melalukan shalāt tersebut dalam keadaan tidak suci maka ini tidak dinamakan dengan shalāt.
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menerima shalāt salah seorang diantara kalian apabila di berhadats sampai dia berwudhu.”
Berthahārah adalah termasuk syarat syahnya shalāt, orang yang shalāt tanpa berthahārah maka tidak dinamakan melakukan shalāt.
Ini adalah perumpamaan yang beliau bawakan untuk kita supaya kita mudah memahami ucapan beliau.
Demikian pula ibadah apabila seseorang tidak bertauhīd didalam ibadah tersebut maka ini tidak dinamakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sebagaimana shalāt apabila tidak berthahārah (bersuci) maka tidak dinamakan dengan shalāt.
Kemudian beliau mengatakan:
فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ
“Maka apabila kesyirikan masuk didalam sebuah ibadah, ibadah tersebut akan menjadi rusak.”
كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِةِ
Sebagaimana hadats kecil maupun besar apabila masuk didalam thahārah maka akan merusak thahārah tersebut.
Orang yang dalam keadaan suci apabila ada hadats baik yang kecil maupun yang besar maka kesucian dia menjadi rusak.
Syirik apabila masuk didalam ibadah seseorang, ibadah tersebut akan menjadi rusak akan menjadi gugur.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُون
“Tidaklah orang-orang musyrikin mereka memakmurkan masjid-masjid Allāh dalam keadaan mereka bersaksi bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kāfir, mereka lah orang-orang yang gugur dan terhapus amalan-amalan mereka dan mereka akan kekal didalam neraka.”
(QS At-Tawbah : 17)
Orang-orang musyrikin (Quraysh) yang ada dizaman nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka mengaku bahwasanya mereka memakmurkan masjidil Harām, memakmurkan ka’bah, menghormati orang-orang yang datang kesana, memberikan minum kepada jama’ah haji yang datang kesana, ini adalah pengakuan orang-orang musyrikin.
Allāh mengatakan tidaklah orang-orang musyrikin mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allāh sedangkan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri, bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kufur.
Dan Allāh mengabarkan bahwasanya amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan-amalan yang batal (terhapus)
أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُون
Mereka adalah orang-orang yang batal amalan-amalannya dan mereka kekal didalam neraka.
Kenapa batal ? Padahal mereka melakukan amalan yang besar, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang datang untuk beribadah kesana.
Karena Ibadah haji ini sudah ada semenjak zaman dahulu bahkan sebelum datangnya Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ibadah haji termasuk peninggalan dari nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām yang merupakan nenek moyang dari orang-orang Quraysh itu sendiri, meskipun sudah dirubah caranya oleh orang-orang Quraysh.
Jadi mereka mengaku memakmurkan masjid-masjid Allāh akan tetapi mereka orang-orang yang kufur sehingga Allāh batalkan amalan-amalan mereka.
Menunjukan bahwasanya kesyirikan dan kekufuran bisa membatalkan amalan sebagaimana hadats ini bisa membatalkan thahārah seseorang.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
============================================
HALAQAH 08 – SYIRIK BERCAMPUR IBADAH AKAN MERUSAK IBADAH
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-8 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.
Beliau mengatakan :
فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةَ أَفْسَدَهَا، وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ، وَصَارَ صَاحِبُهُ، مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ؛ عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ
Kalau engkau sudah tahu bahwasanya syirik apabila bercampur dengan ibadah maka akan merusak ibadah tersebut dan akan membatalkan amalan dan menjadikan pemiliknya termasuk orang-orang yang kekal didalam neraka.
Beliau mengatakan, “maka engkau tahu sekarang bahwasanya perkara yang paling wajib engkau lakukan adalah mengetahui apa itu syirik.”
Kalau kita sudah tahu tentang bahaya syirik dan demikian bahayanya sampai membatalkan amalan.
Orang yang melakukan amalan sebesar apapun apabila dia melakukan kesyirikan (al Syirku Akbar) yang besar maka ini bisa membatalkan amalan dia dari awal sampai akhir.
Seandainya seseorang beribadah semenjak dia baligh (shalātnya, puasanya, bersadaqah, bersilaturahim) kemudian ketika dia berumur 50 tahun melakukan sebuah syirik besar maka amalan yang sudah dia kumpulkan sedikit demi sedikit meskipun sebesar gunung seluas lautan maka akan dihapuskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menjadi debu yang berterbangan tidak dianggap oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sebagaimana firman Allāh :
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Seandainya engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu”
وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi”.
(QS Az Zummar : 65)
Bagaimana selama puluhan tahun dengan capek yang sangat dengan lelah yang sangat kemudian dibatalkan amalan tersebut dengan sebuah syirik besar.
Dan ini adalah sebuah bahaya, bahaya yang besar bagi seorang muslim didalam agamanya.
Kemudian beliau mengatakan :
وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ
Dan orang yang berbuat syirik bahayanya adalah apabila dia meninggal dunia maka dia termasuk orang yang kekal didalam neraka.
Sekejab didalam neraka adalah musibah, bagaimana seseorang kekal didalam neraka dan tidak keluar dari neraka tersebut.
Syirik ini adalah perkara yang sangat bahaya, oleh karena itu beliau mengatakan,
“Sekarang engkau tahu bahwasanya perkara yang paling penting yang hendaklah engkau pelajari adalah tentang mengetahui apa itu kesyirikan”
لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla (kata beliau) melepaskan dirimu dari jaringan ini
وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ
Yaitu kesyirikan kepada Allāh
وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ
Dan untuk mengetahui apa itu kesyirikan maka caranya adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al-Qurān.
Kemudian setelah itu beliau mengucapkan 4 kaidah yang in syā Allāh akan kita pelajari satu persatu.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
HALAQAH 09 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 1
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-9 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh.
Beliau rahimahullāh mengatakan :
القَاعِدَةُ الأُولَي
Kaidah yang pertama :
أَنْ تَعلَمَ : أَنَّ الكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمْ رَسُولُ اللّهِ
Beliau mengatakan :
مُقِرُّونَ أَنَّ اللّهَ هُوَ الخَالِقُ الرَّازِقُ، المُحيِي المُمِيتُ، المُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ،
Beliau mengatakan, kaidah yang pertama :
Engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka menyatakan, mereka menyakini, mengakui, bahwasanya Allāh dia lah.
√ Al Khāliq (Maha pencipta)
√ Ar rāziq (Yang Maha memberikan Rejeki)
√ Al Muhyī Al Mumīt (Yang menghidupkan dan mematikan)
√ Al Muddabbiru Lijamī’il umūr ( Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mengatur seluruh perkara ini)
Ini adalah kaidah yang pertama, yang ingin beliau sampaikan kepada kita semua.
Apa itu?
Hendaknya kita mengetahui sebagai seorang muslim bahwasanya orang-orang kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Siapa mereka?
Yaitu orang-orang musyrikin dizaman beliau diantaranya adalah orang-orang Quraysh (kaum beliau sendiri).
Engkau mengetahui bahwasanya mereka yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersama para shahābat perlu diketahui bahwasanya mereka (orang-orang musyrikin tersebut) muqiṝun ( مُقِرُّونَ) mereka menyatakan, mereka mengakui, mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Dialah yang menciptakan. Ini diyakini oleh orang-orang Quraysh (orang-orang musyrikin)
Ar rāziqu dan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla dialah yang memberikan rejeki.
Kemudian beliau mengatakan :
المُحيِي المُمِيت
Mereka meyakini bahwasanya yang menghidupkan dan mematikan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
ُالمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ
Yang mengatur seluruh perkara ini, yang mengatur alam semesta
ُالمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الأُمُورِ
Yang mengatur seluruh perkara ini.
Orang-orang Quraysh juga meyakini dan mengakui bahwasanya yang mengatur alam semesta ini tidak ada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian beliau mengatakan
وَلَمْ يُدخِلْهُم ذَلِكَ فِي الإسلَامِ
Akan tetapi keyakinan dan aqidah orang-orang musyrikin Quraysh yang mereka meyakini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta menghidupkan dan mematikan ternyata ini kata beliau tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.
Keyakinan tersebut tidak memasukan mereka kedalam agama Islām, seandainya keyakinan ini memasukan mereka kedalam agama Islām tentunya tidak akan di perangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Seandainya keyakinan bahwasanya Allāh itu mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan ini memasukan mereka kedalam agama Islām.
Menjadikan mereka Islām seperti yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentunya tidak akan diperangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para shahābat, namun ternyata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para shahābat tetap memerangi mereka menunjukan bahwasanya keyakinan ini tidak memasukan mereka kedalam agama Islām dan ini pengetahuan yang tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita.
Mereka mendengar dari gurunya, mendengar dari orang tuanya bahwasanya orang-orang Quraysh, mereka adalah orang yang menyembah berhala, menyembah ini dan itu seakan-akan mereka tidak mengenal siapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Oleh karena itu disini beliau ingin memberikan nasehat, memberikan pengetahuan kepada kita yang mungkin tidak kita ketahui.
Ketahuilah bahwasanya orang-orang musyrikin ternyata mereka juga mengakui bahwasanya Allāh yang menciptakan seperti kita dan bahwasanya Allāh yang memberikan rejeki dan bahwasanya Allāh yang mengatur alam semesta namun yang demikian tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.
Berarti disana harus ada sesuatu yang memasukan mereka kedalam agama Islām ternyata keyakinan ini tidak cukup untuk memasukan mereka kedalam agama Islām, lalu apa yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari mereka nanti, in syā Allāh akan kita sebutkan.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
HALAQAH 10 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 2
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-10 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Beliau mengatakan dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
قُل مَن يَرْزُقُكُم مِنَ اُلسَّمَآءِ وَاُلأَرض
“Katakanlah wahai Muhammad, Katakanlah wahai Muhammad, sebagai seorang rasūl, katakan kepada mereka, tanyakan kepada mereka, (kaummu).”
مَن يَرْزُقُكُم مِنَ اُلسَّمَآءِ وَاُلأَرض
Wahai kaumku(orang-orang Quraysh) siapakah yang menciptakan? siapakah yang memberikan rejeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi?
Siapa yang memberikan rejeki kepada kalian, menurunkan hujan? memberikan rejeki kepada kalian dengan perdagangan? dan juga memberikan rejeki kepada kalian dari bumi berupa tanam-tanaman? siapakah yang memberikan rejeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi?
أَمَّنَ يَملِكُ اُلسَّمْعَ وَ اُلْأَبْصَرَ
Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan juga penglihatan? siapakah yang telah memberikan kalian pendengaran dan juga penglihatan sehingga kalian bisa mendengar, sehingga kalian bisa melihat?
وَمَنْ يُخْرُِ اُلحَىَّ مِنَ اُلمَيِّتِ
Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati?
و يُخْرِجُ المَيِّتِ من الحَىِّ
Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, tanyakan kepada kaummu, siapa kah yang menghidupkan mereka dan siapakah yang mematikan mereka?
و من يُدَبِّرُ الأَمْرَ
Dan tanyakan kepada mereka siapakah yang telah mengatur alam semesta? Yang menggerakan matahari,membuat siang? membuat malam?
فَسَيَقُولُوا اللّهُ
Niscaya mereka akan mengatakan Allāh.
Ini adalah jawaban dari orang-orang Quraysh.
Seandainya kaummu wahai Muhammad ditanya tentang beberapa pertanyaan ini, niscaya mereka akan menjawab dengan satu jawaban dan tidak ada diantara mereka yang menjawab dengan jawaban lain, semuanya akan mengatakan Allāh.
√ Allāh yang telah memberikan rejeki kepada kami.
√ Allah yang telah menciptakan kami.
√ Allāh telah menghidupkan kami dan mematikan orang-orang yang sudah mati dan telah mengatur alam semesta.
Ini adalah jawaban orang-orang Quraysh.
Mereka tidak mengatakan yang telah menciptakan kami adalah Latta, salah satu sesembahan mereka atau mengatakan yang menciptakan kami adalah Udza, salah satu sesembahan mereka, atau mengatakan bahwasanya yang memberikan rejeki kepada kami adalah Hubbal, mereka memiliki sesembahan-sesembahan yang banyak tetapi tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya yang menciptakan mereka adalah sesembahan-sesembahan tersebut.
Menunjukan kepada kita kebenaran apa yang dikatakan oleh pengarang disini.
Beliau mengatakan, engkau mengetahui bahwasanya orang-orang Kāfir yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka meyakini bahwasanya Allāh yang mencipta memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta.
Apa yang beliau ucapkan memiliki dasar (dalīl) didalam Al Qurān bahkan dalam hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Maka katakanlah wahai Muhammad, apakah kalian tidak bertaqwa? wahai kaumku seandainya kalian mengakui ini semua Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki, mengatur alam semesta ( أَفَلَا تَتَّقُونَ ) kenapa kalian tidak takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
kenapa kalian masih berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, menunjukan bahwasanya keyakinan mereka ini tidak menjaga mereka dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena disini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan ( أَفَلَا تَتَّقُونَ ) kenapa kalian tidak menjaga diri kalian dari adzab Allāh? Menunjukan bahwasanya keyakinan mereka bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, mengatur alam semesta, ini tidak bisa menjaga mereka dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini adalah kaidah yang pertama yang beliau sampaikan dan ini adalah kaidah yang sangat bermanfaaat.
Dengan kaidah ini, kita bisa memahami banyak perkara, banyak fakta yang bisa kita pahami dari kaidah ini, karena sebagian kita, sekali lagi meyakini bahwasanya orang-orang musyrikin yang ada dizaman nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu, mereka tidak mengenal Allāh sama sekali, seakan-akan mereka meyakini yang menciptakan mereka adalah berhala mereka, patung yang mereka sembah, pohon yang mereka sembah, jin yang mereka sembah.
Ternyata didalam masalah ini, masalah penciptaan,masalah pengatur alam semesta, masalah rejeki, keyakinan mereka sama dengan keyakinan kita yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang melakukan ini semua.
Jadi ini kata beliau, “Tidak memasukan mereka kedalam agama islam”.
Oleh karena itu, ketika kita melihat dizaman kita apabila kita melihat orang musyrik ternyata dia juga mengenal Allāh maka ini bukan sesuatu yang menakjubkan dan bukan sesuatu yang mengherankan kalau ada seorang musyrik ternyata dia juga mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meyakini bahwasanya Allāh yang telah menciptakan mereka dan ini bisa kita buktikan ketika kita melihat orang-orang disekitar kita yang mereka mungkin adalah orang-orang yang tidak menisbatkan dirinya kepada agama Islām, tetapi ternyata dia ketika ditanya siapa yang menciptakan dia, dia akan menjawab yang telah menciptakan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla (atau) terkadang memberikan isyarat mengatakan yang menciptakan saya adalah yang diatas atau dengan kalimat-kalimat yang lain yang intinya dia mengakui yang menciptakan dia adalah Allāh.
Padahal dalam kehidupan dia sehari-hari, dia banyak mengagungkan selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Bermuamalah dengan Jin, menyembah kepada Jin meyakini selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi ketika ditanya tentang siapa yang mengatur alam semesta, siapa yang memberikan rejeki ternyata mereka juga mengakui bahwasanya itu adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan ini tidak memasukan mereka kedalam agama Islām.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
============================================
HALAQAH 11 – QA’IDAH PERTAMA BAGIAN 3
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-11 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
√ Apa yang memasukan seseorang kedalam agama Islām?
√ Apa yang membedakan antara orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut?
Apabila dalam masalah penciptaan, masalah pengaturan rejeki sama antara kita dengan mereka, lalu apa yang membedakan antara diri kita dengan mereka.
Apa yang diinginkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari orang-orang musyrikin tersebut.
Yang beliau inginkan bukan hanya mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tetapi yang di inginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dari orang-orang musyrikin tersebut (adalah) supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya.
Allāh dan Rasūl Nya menginginkan dari orang-orang musyrikin tersebut selain mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, mengatur alam semesta dan memberikan rejeki,yang diinginkan dari mereka supaya mereka mengesakan ibadah hanya untuk Allāh.
Orang-orang musyrikin tidak mengEsakan Allāh didalam ibadahnya, inilah yang membedakan antara kita dengan mereka, terkadang mereka melakukan ibadah untuk Allāh seperti ketika hajian karena ibadah haji ini sudah ada sejak zaman nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām kemudian dilanjutkan nabi Ismāil dan seterusnya dan orang-orang Quraysh mereka adalah keturunan nabi Ismāil ibnu Ibrāhīm.
Ibadah haji masih mereka pegang sampai dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam oleh karena itu setiap tahun mereka senantiasa melakukan ibadah haji dan ini dilakukan untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita membaca didalam kitāb-kitāb sirah tentang perjanjian ‘Aqabah yang pertama maupun yang kedua, bai’at antara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan kaum Anshār.
Kapan terjadi, ketika musim-musim haji, ketika orang-orang Arab (orang-orang Quraysh) dan orang-orang Arab yang ada disekitarnya mereka melakukan ibadah haji menuju ke Mekkah.
Disanalah pertemuan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan orang-orang Anshār, terkadang mereka beribadah kepada Allāh dan terkadang mereka beribadah kepada selain Allāh, sehingga ketika terjadi musibah misalnya :
↝Diantara mereka ada sebagian yang datang kepada Jin, atau
↝Ada diantara mereka ketika ingin berperang dan ingin menang menaruh senjata-senjata mereka digantungkan disebuah pohon tertentu dengan keyakinan bahwa senjata itu akan membawakan barakah.
↝Terkadang mereka menyembah kepada Allāh, beribadah kepada Allāh semata dan
↝Terkadang mereka serahkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allāh.
Inilah yang membedakan antara diri kita orang Islām dengan orang-orang musyrikin tersebut.
Kalau meyakini bahwasanya;
√Allāh yang mencipta satu-satunya,
√ Memberikan rejeki satu-satunya,
√ Mengatur alam semesta satu-satunya.
Seharusnya keyakinan ini menjadikan mereka hanya menyembah kepada Allāh.
√ Bagaimana kita menyembah sesuatu yang tidak mencipta?
√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak memberikan rejeki baik, dari langit maupun dari bumi sedikitpun?
√ Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak mengatur alam semesta?
Bahkan mereka diciptakan, mereka diberikan rejeki, mereka diatur oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kenapa mereka tidak menyembah saja dzat yang telah menciptakan benda-benda tersebut yang telah menciptakan makhluk-makhluk tersebut.
Oleh karena itu Allāh mengatakan,
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُون
“Lalu katakan kepada mereka, kenapa mereka tidak takut dan taqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Yūnus : 31)
Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasūl Nya dan ini ditolak dan di ingkari oleh orang-orang Quraysh, ketika mereka di dakwahi ” ‘Lā ilāha illallāh ” tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh.
Mereka semuanya memahami bahwasanya makna kalimat ini berarti saya harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allāh yang selama ini aku sembah dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Orang-orang kāfir Quraysh (orang-orang musyrikin) mereka semua memahami kalimat ini karena mereka adalah orang-orang Arab dan sangat mengenal makna kalimat ‘Lā ilāha illallāh ada diantara mereka yang menerima dan langsung masuk Islām dan ada diantara mereka yang menolak dan tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh bahkan mereka sombong.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُون * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون
“Sesungguhnya mereka, kata Allāh, apabila dikatakan kepada mereka, diajak untuk mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh( يَسْتَكْبِرُون ) mereka sombong (menolak kebenaran) tidak mau mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh karena mereka tahu tentang tuntutan dari kalimat ini.
(QS As Shaffat : 35-36 )
Kalau saya mengucapkan kalimat ini berarti saya harus masuk Islām, sesembahan yang begitu banyak aku tinggalkan dan hanya menyembah kepada Allāh yang satu.
Tidak boleh lagi aku berdo’a kepada selain Allāh dan tidak boleh aku beristi’ānah /beristiqhasah kepada selain Allāh.
Oleh karena itu mereka (يَسْتَكْبِرُون) sombong dan tidak mau mengucapkan kalimat ini( وَيَقُولُونَ ) dan mereka mengatakan,
َ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون
“Apakah kami harus meninggalkan ( آلِهَتِنَا ) sesembahan- sesembahan kami hanya karena seorang tukang syair yang gila”.
(QS As Shaffat : 36 )
Selain mereka menolak mereka juga menghina Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tukang syair padahal beliau adalah orang yang tidak mengetahui tentang syair dan mengatakan bahwasanya beliau adalah seorang yang gila.
Semuanya ini adalah menunjukan Kesombongan mereka, selain menolak dakwah beliau mereka juga berusaha untuk merendahkan beliau supaya manusia tidak mengikuti dakwah beliau.
Didalam ayat yang lain mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini hanya menjadi tuhan yang satu. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan (kata mereka)”.
(QS Shād : 5)
Ini adalah kesombongan orang-orang Quraysh (orang-orang musyrikin Quraysh) mereka tidak mau mengucapkan kalimat ‘Lā ilāha illallāh karena ini lah yang akan memasukan mereka kedalam agama islam.
Inti dari kaidah yang sudah kita sampaikan ini bahwasanya :
⑴ Orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sama dengan kita mengakui bahwasanya Allāh yang telah menciptakan mereka, memberikan rejeki kepada mereka, mengatur alam semesta ini dan sesungguhnya ini tidak memasukan mereka kedalam agama islam.
⑵ Apa sebenarnya yang memasukan seseorang kedalam agama Islām yaitu apabila seseorang hanya mengesakan Allāh didalam beribadah, hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh adapun seseorang hanya meyakini Allāh yang mencipta, Allāh yang memberi rejeki, Allāh yang mengatur alam semesta, maka ini belum membedakan antara dia dengan orang musyrikin.
⑶ Hendaknya seseorang didalam berdakwah atau mendakwahi manusia kedalam agama Islām tidak mencukupkan diri hanya mengenalkan mereka bahwa Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki dan juga mengatur alam semesta.
Karena ini tidak membedakan antara kita dengan yang lain karena sebagian ketika berdakwah dan mengajak orang kepada Islām hanya mengingatkan tentang perkara-perkara ini padahal disana ada sesuatu yang lebih penting dari itu atau yang setelahnya yang harus disampaikan.
Bukan hanya menyampaikan tentang rubūbiyyah (keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki, dan juga mengatur alam semesta tapi juga harus disampaikan bahwasanya keyakinan ini menuntut kita, mengharuskan kita hanya untuk mengesakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.
Dan in syā Allāh kaidah ini akan diperjelas pada kaidah-kaidah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
HALAQAH 12 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 1
🎙Ustadz dr. Abdullah Roy, MA
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
Damai, Rahmat dan Berkat Tuhan
segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.
Halaqah yang ke-12 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
set kedua
mereka berkata: Mereka tidak mengundang kami dan kami mendatangi mereka, kecuali untuk meminta kibble.
Kaidah yang ke-2
beliau berkata,
set kedua
Kaidah yang ke-2
Mereka berkata: Mereka tidak mengundang kami dan kami berpaling kepada mereka, kecuali untuk meminta kurban dan syafaat.
Mereka (orang-orang musyrikin/orang-orang musyrik) dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mereka berkata, diantara ucapan mereka:
Kami tidak menyeru mereka, tidak pula kami menghadap mereka, kecuali untuk meminta kurban dan syafaat.
Kami (kata mereka) kami memuji sesembahan-sesembahan kami seperti Lāta, ‘Uzzā, Manāh, Hūbal dan juga sesembahan-sesembahan yang lain.
Mereka berkata kepada mereka kami berdo’a kepada mereka sesembahan-sesembahan tersebut (Dan Kami menghadapkan mereka) dan kami menghadapkan peribadatan kepada kami (kecuali) panjang kecu
Tujuan adlah untuk mencari :
Al-Qurbah/ kekeluargaan
As-Syafā’ah/ syafaat
Tujuan mereka didalam berdo’a kepada sesembahan-sesembahan mereka adalah untuk dua tujuan ini yaitu :
Al-Qurbah | Mereka ingin dekat dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla
Bagaimana mereka dekat dengan Allāh, bahwasanya orang-orang Musyrikin mereka juga mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Didalam kaidah yang pertama dan bahwasanya mereka yakin :
Allāh yang menciptakan mereka
Allāh yang memberikan rejeki kepada mereka
Allāh yang mengatur alam semesta
Allāh yang menghidupkan dan juga mematikan
Yang menunjukan bahwasanya orang-orang musyrikin mereka juga mengenal Allāh akan tetapi terbatas :
Allāh yang mencipta
Allāh memberikan rejeki dan
Allāh mengatur alam semesta
Dan disini beliau mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin diantara ucapan mereka “Tidaklah kami berdo’a kepada patung-patung tersebut (sesembahan-sesembahan tersebut) kecuali untuk dekat dekat”.
Mereka merasa dirinya adalah :
Orang yang jauh dari Allāh
Terlalu banyak kemaksiatan
Terlalu banyak dosa yang dilakukan
Oleh karena itu banyak mereka mendekat untuk mendekatkan mereka kepada Allāh dengan cara sebagian ibadah kepada sembahan-sesembahan tersebut adalah orang-orang yang shālih agar sembahan-sesembahan tersebut mendekat diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
. As-Syafa’ah | Ingin mendapatkan Syafā’at dari sesembahan-sesembahan tersebut.
Syafa’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ucapan beliau rahimahullāh disini, ini adalah ucapan yang berdasarkan dalīl.
Dan setelah ini beliau akan menyebutkan dalīl nya.
Dan semoga shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya , dan semoga shalawat
, salam, dan rahmat Allah tercurah atas Anda.
============================================
CATATAN :
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
HALAQAH 13 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 2
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-13 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Beliau mengatakan :
فَدَلِيلُ القُربَةِ
Dalīl yang menunjukan bahwasanya orang-orang musyrikin mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah supaya mendekatkan diri mereka kepada Allāh.
Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Dan sesungguhnya orang-orang yang telah menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan maksudnya (orang-orang kāfir Quraysh/orang-orang musyrikin Quraysh) dan sesungguhnya orang-orang yang menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan.
Mereka mengatakan,
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Tidaklah kami menyembah mereka, tidaklah kami menyembah sesembahan-sesembahan tersebut kecuali (لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ ) supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh dengan sebenar-benar pendekatan.
Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh mengabarkan kepada kita tentang sebagian ucapan orang-orang musyrikin Quraysh.
Apa ucapan mereka?
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Tidaklah kami menyembah mereka, Memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut kecuali tujuannya baik.
Apa tujuan mereka?
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Supaya orang-orang tersebut/makhluk-makhluk tersebut mendekatkan diri kami kepada Allāh.
Ucapan mereka ( إِلَى اللَّهِ) menunjukan bahwasanya mereka mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini jelas menunjukan kepada kita tentang tujuan orang-orang musyrikin tersebut beribadah kepada berhala-berhala tersebut yaitu untuk mendekatkan diri mereka kepada Allāh.
Kemudian Allāh mengatakan :
ٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
Sesungguhnya Allāh akan menghukumi mereka, mengadili diantara mereka didalam apa yang mereka perselisihkan pada hari kiamat.
Apakah benar ucapan orang-orang musyrikin tersebut. Apakah ucapan mereka (مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى) ini adalah ucapan yang haq atau hanya sekedar persangkaan dari mereka.
Maka nanti di hari kiamat Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghukumi dan mengadili diantara mereka.
Siapa diantara mereka yang benar, apakah orang-orang musyrikin tersebut ataukah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada setiap orang yang berdusta dan dia sangat kufur.
Ini menunjukan bahwasanya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin tersebut.
Yang pertama adalah kedustaan
Allāh mengatakan (إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ) Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta.
Kemudian Allāh mengatakan ( كَفَّارٌ) yang sangat kufur, kaffār adalah shighah mubalaghah dari kāfir.
Kāfir artinya orang yang kāfir tapi orang kaffār berarti orang yang sangat kāfir.
Menunjukan bahwasanya apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin tersebut ini adalah perbuatan yang sangat kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Selain kedustaan itu adalah sangat kufur disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Jadi ayat ini (QS Az-Zumar : 3) adalah dalīl yang jelas bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin didalam menyembah sesembahan-sesembahan mereka diantaranya mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Bukan meyakini bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut yang memberikan rejeki kepada mereka atau menciptakan mereka atau mengatur alam semesta, tidak! dan sudah disebutkan dalīl mereka apabila ditanya siapa yang memberikan rejeki kepada mereka? Mereka mengatakan Allāh.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 14 – QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 3
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-14 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Kemudian beliau mengatakan :
ودَلِيلُ الشَّفَاعَةِ
Dalīl bahwasanya mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut tujuannya adalah untuk mencari Syafā’at.
Apa dalīl nya?
Dalīlnya firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Yūnus :18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ,مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka (orang-orang Quraysh) menyembah kepada selain Allāh,( مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ) sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat. Dan mereka menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka, dan juga tidak memberikan manfaat.
Seharusnya seseorang apabila ingin menyembah, menyembah sesuatu yang memberikan manfaat dan memberikan mudharat yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ditangannyalah manfaat dan juga mudharat namun orang-orang musyrikin menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang sama sekali tidak memberikan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudharat.
Dan mereka mengatakan:
هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Ketika mereka ditanya kenapa mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka mengatakan (هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا)
Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafā’at kepada kami disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini adalah tujuan kedua mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, supaya sesembahan-sesembahan tersebut memberikan syafā’at kepada mereka disisi Allāh.
Menunjukan sekali lagi bahwasanya mereka mengenal Allāh dan bahwasanya tujuan mereka adalah tujuan yang baik, akan tetapi apakah cara yang dilakukan oleh mereka adalah cara yang di ridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dengarkanlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelahnya
قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ
Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka
( أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ) apakah kalian, wahai orang-orang musyrikin. mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui dilangit maupun dibumi.
Artinya apa yang dia katakan oleh orang-orang musyrikin adalah sesuatu yang tidak berdasar, seakan-akan mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang tidak Allāh ketahui dilangit maupun dibumi.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak pernah mengabarkan yang demikian, dari mana mereka tahu bahwasanya orang-orang shālih yang sudah meninggal tersebut yang mereka sembah memberikan syafā’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka.
Apakah mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui dilangit maupun dibumi.
Kemudian Allāh mengatakan:
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.
Disini Allāh mengatakan ( عَمَّا يُشْرِكُونَ) dari apa yang mereka sekutukan, menunjukan bahwasanya apa yang mereka perbuat, apa yang mereka lakukan adalah termasuk jenis kesyirikan.
Oleh karena itu Allāh mengatakan:
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan, perbuatan mereka menyembah kepada selain Allāh menyerahkan ibadah kepada selain Allāh dengan tujuan supaya selain Allāh tersebut memberikan syafā’at disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka maka ini adalah termasuk bagian dari kesyirikan.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 15 – QA’IDAH YANG KEDUA
BAGIAN 4
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-15 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Muallif (pengarang) ingin menunjukan kepada kita tentang ucapan beliau di awal bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin menyembah berhala-berhala mereka adalah untuk meminta kedekatan kepada Allāh dan juga meminta syafā’at.
Dan ini bukan berarti bahwasanya muallif (pengarang) meningkari apa yang dinamakan dengan syafā’at.
Syafā’at dihari kiamat adalah haq dan kewajiban bagi seorang mukmin maupun mukminah yang laki-laki maupun wanita untuk berimān dengan adanya syafā’at.
Berdasarkan dalīl-dalīl didalam Al Qurān maupun didalam As Sunnah wajib bagi seorang muslim untuk berimān dengan adanya syafā’at dihari kiamat.
Syafā’at dihari kiamat bermacam-macam,ada diantara syafā’at tersebut yang merupakan kekhususan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Diantaranya adalah Syafā’atul ‘Udzma, syafā’at yang paling besar yang terjadi di padang mashyar dan diantara syafā’at yang khusus bagi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah syafā’at untuk masuk kedalam surga.
Dibukanya pintu surga,demikian pula syafā’at beliau kepada paman beliau abū Thālib dan disana ada syafā’at yang umum dimiliki oleh beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) demikian pula dilakukan oleh yang lain seperti malāikat, para nabi, orang-orang yang berimān, seperti syafā’at bagi orang-orang yang berdosa diantara orang-orang yang berimān yang mereka diadzāb oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam neraka.
Dan disana ada syafā’at mengangkat derajat didalam surga dan ini semua berdasarkan dalīl-dalīl yang shahīh bukan berarti apa yang beliau ucapkan disini bahwasanya beliau mengingkari syafā’at-syafā’at tersebut. Tidak !
Beliau menjelaskan setelahnya bahwasanya syafā’at yang ada didalam Al-Qurān maupun hadīts ini ada 2 (dua) macam.
Beliau mengatakan :
وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ
Syafā’at itu ada dua :
⑴ Syafā’atun Manfīyyah (شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّة)
⑵ Syafā’atun Musybatah( وَشَفَاعَةٌ مُشْبَتَةٌ)
· Syafā’atun Manfīyyah
Syafā’atun Manfīyyah adalah syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
· Syafā’atun Musybatah
Syafā’atun Musybatah dalah syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Disana ada syafā’at yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla berdasarkan dalīl-dalīl didalam Al-Qurān dan disana ada syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Kemudian beliau mengatakan :
فَا الشَّفَاعَةُ المَنْفِيَّةُ : مَا كَانَتْ تُطْلَبُ من غَيْرِ اللّهِ فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيهِ إِلَّا اللّهُ
Apa yang dimaksud dengan syafā’at yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
Yang dimaksud dengan syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah syafā’at yang diminta dari selain Allāh, didalam perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allāh.
Apabila syafā’at ini diminta dari selain Allāh maka inilah yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dihari kiamat.
Tidak akan bermanfaat yang seperti ini (contohnya) yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh karena mereka meminta syafā’at bukan dari Allāh tetapi meminta syafā’at dari sesembahan-sesembahan selain Allāh.
Oleh karena nya itu tadi mereka mengatakan
هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Mereka mengharap kepada sesembahan-sesembahan tersebut, takut kepada sesembahan-sesembahan tersebut, berdo’a kepada sesembahan-sesembahan tersebut, tujuannya supaya mereka memberikan syafā’at bagi mereka disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat.
Apabila syafā’at diminta dari selain Allāh maka inilah yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 16 – QA’IDAH YANG KEDUA
BAGIAN 5
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-16 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Kemudian beliau mengatakan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
(QS Al-Baqarah : 254)
Beliau mengatakan dan dalīl nya firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dalīl apa?
Dalīl bahwasanya dihari kiamat, ada syafā’at yang tidak bermanfaat dan ada Syafā’at yang diingkari
Allāh berfirman yang artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, (yang mengaku berimān kepada Allāh kepada Rasūl Nya, kepada hari akhir, kepada Malāikat, kepada takdir).
Wahai orang-orang yang berimān, infāqkanlah dari apa yang telah kami rejekikan kepada kalian, infāqkanlah (bershadaqahlah) dari sebagian apa yang telah kami rejekikan kepada kalian.
Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla bagi orang-orang yang beriman untuk berinfāq, bukan dengan seluruh hartanya tapi dari sebagian apa yang Allāh berikan kepada mereka.
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ
Sebelum datang suatu hari (kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dimana hari tersebut tidak ada perdagangan disana, tidak ada jual beli disana demikian pula tidak ada kekasih dan juga tidak ada Syafā’at.
Kita diperintahkan untuk berinfāq, bershadaqah dari apa yang Allāh diberikan kepada kita sebelum datang suatu hari dimana disana tidak ada jual beli, tidak ada menjual barang, tidak ada membeli barang dan juga tidak ada kekasih, tidak bermanfaat adanya kasih sayang disana, seorang bapak mengurusi dirinya sendiri, seorang anak mengurusi dirinya sendiri, seorang teman tidak menanyakan teman yang lain, masing-masing memperhatikan dirinya, dan juga tidak ada syafā’at kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh mengatakan, “Tidak ada syafā’at dihari kiamat”, disini Allāh mengingkari adanya syafā’at dihari kiamat.
Apa yang Allāh ingkari ? Syafā’at yang diminta dari selain Allāh.
Tadi kita sebutkan bahwasanya Syafā’at dihari kiamat ada, tapi disini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan “Tidak ada syafā’at ” yang dimaksud “Tidak ada syafā’at yang diminta dari selain Allāh”.
⇒ Contohnya seperti yang dilakukan orang-orang Musyrikin.
Ini yang di ingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan orang-orang yang kāfir, mereka lah orang-orang yang zhālim .
Ini adalah termasuk ayat yang menunjukan tentang bahwasanya dihari kiamat ada syafā’at yang di ingkari dan tidak bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
CATATAN :
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
HALAQAH 17 – QA’IDAH YANG KEDUA
BAGIAN 6
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-17 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Dan ayat yang lain contohnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al-Muddatsir : 48 :
فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
“Maka tidak akan bermanfaat pada hari itu syafā’at orang-orang yang memberikan syafā’at.”
Siapa mereka?
Mereka adalah orang-orang yang didunianya meminta syafā’at kepada selain Allāh.
Maka syafā’at dihari kiamat saat itu bagi mereka adalah syafā’at yang diingkari.
Tidak ada syafā’at bagi mereka, dan didalam ayat yang lain Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerangkan tentang bagaimana keadaan orang-orang yang dahulu didunia mencari syafā’at dari selain dari Allāh dan bagaimana akhir nasib mereka dihari kiamat.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al-An’ām : 94
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
“Dan sungguh kalian sekarang telah datang kepada Kami dalam keadaan sendiri-sendiri (pada hari kiamat)
Sebagaimana kami telah ciptakan kalian pada saat pertama kali (yaitu ketika pertama mereka lahir) datang dalam keadaan sendiri.
Dan kalian telah meninggalkan dunia yang dahulu kami berikan kepada kalian dibelakang kalian, kalian tinggalkan harta kalian kemudian kalian datang pada hari ini dalam keadaan sendiri-sendiri.
Dan kami tidak melihat bersama kalian orang-orang atau makhluk-makhluk yang akan memberikan syafā’at bagi kalian.
Syufa’ā- syufa’ā yang kalian menyangka bahwasanya mereka adalah syurakā (sekutu-sekutu) bagi kalian.
Allāh mengatakan, kami tidak melihat mereka bersama kalian mana makhluk-makhluk sesembahan-sesembahan yang dahulu kalian anggap mereka adalah orang-orang yang akan memberikan syafā’at bagi kalian di sisi kami (yaitu) disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan sungguh telah terputus diantara kalian, sekarang tidak ada hubungan antara kalian dengan mereka kalian adalah makhluk, mereka adalah makhluk dan masing-masing dari kalian akan mempertanggung jawabkannya amalannya disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Terputus antara diri kalian dengan orang-orang tersebut.
Dan telah tersesat, telah hilang dari kalian apa yang dahulunya kalian sangka.”.
Ini adalah nasib dihari kiamat bagi orang-orang yang didunianya mencari syafā’at bukan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dari selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan inilah yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Jadi beliau (rahimahullāh) menerangkan tentang kaidah ini bukan berarti beliau mengingkari syafā’at secara keseluruhan dihari kiamat.
Tapi beliau ingin menerangkan bahwasanya disana ada syafā’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan disana ada syafā’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini adalah ilmu yang sangat penting yang hendaknya diketahui oleh seorang muslim, karena apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin ternyata itu bukan hilang begitu saja dan masih dipraktekan oleh sebagian manusia setelah mereka.
Sebagian meminta syafā’at kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta kedekatan kepada Allāh dengan cara menyembah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Meskipun namanya berbeda dengan yang disembah oleh orang-orang musyrikin. Mereka meminta syafā’at kepada orang yang shālih yang sudah meninggal dunia, berharap kepada mereka, berdo’a kepada mereka dan ketika ditanya, mengatakan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang memberikan syafā’at kepada kami disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan ini adalah sesuatu yang perlu diluruskan dan apa yang dilakukan ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh dizaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
============================================
HALAQAH 18 –` QA’IDAH YANG KEDUA BAGIAN 7
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-18 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Perlu diketahui bahwasanya Lāta, salah satu sesembahan orang-orang Quraysh, ini dahulunya adalah orang yang shālih.
Dan diantara amalannya dahulu sering apabila datang musim haji memberi makan kepada para jama’ah haji, setelah dia meninggal dunia (karena dia adalah orang yang shālih) oleh orang-orang Quraysh disembah dan diminta syafā’atnya di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Demikian pula apa yang diceritakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā di dalam surat Nūh 23 dan 24, bagaimana kesyirikan pertama kali terjadi di permukaan bumi.
Siapa yang disembah oleh orang-orang (kaumnya) Nabi Nūh ‘alayhissalām?
Yang disembah, tidak lain kecuali orang-orang yang shālih.
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّاوَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا…
Mereka (kaumnya nabi Nūh) berkata: “Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian…”
Ketika nabi Nūh ‘alayhissalām mengajak mereka untuk bertauhīd menyembah kepada Allāh semata, mereka mengatakan:
“Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, bersabarlah, jangan mengikuti dakwahnya Nabi Nūh”.
(QS Nūh : 23-24)
(Mereka) saling berwasiat untuk berpegang teguh dengan kebathilan.
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّاوَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا…
Mereka menyebutkan 5 nama:
⑴ Wadd
⑵ Suwā’
⑶ Yaghūts
⑷ Ya’ūq
⑸ Nasr
Ini adalah 5 nama orang-orang yang shālih yang ada di zaman Nabi Nūh ‘alayhissalām, sebagaimana dikabarkan oleh ‘Abdullāh bin ‘Abbās (anak dari paman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau adalah mufassirnya para shahābat radhiyallāhu ‘anhum).
Beliau (‘Abdullāh bin ‘Abbās) mengatakan ketika menafsirkan ayat ini:
هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح
“Ini adalah nama-nama dari orang-orang yang shālih yang ada di zaman nabi Nūh ‘alayhissalām.”
فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي يجلسون فيها أنصابا وسموها بأسمائهم
“Ketika mereka (orang-orang shālih) tersebut meninggal dunia, datanglah syaithān kepada kaum nabi Nūh ‘alayhissalām, dan mewahyukan kepada mereka supaya mereka membuat gambar-gambar (patung-patung) yang merupakan simbol bagi mereka dan dipasang patung-patung tersebut di majelis-majelis kalian kemudian kalian namai patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka;
√ Ini adalah patung Suwā’
√ Ini adalah patung Wadd
√ Ini adalah patung Yaghūts
√ Ini adalah patung Ya’ūq
√ Ini adalah patung Nasr
Tujuannya adalah supaya ketika suatu saat mereka lemah/malas di dalam beribadah kemudian mereka melihat patung-patung tersebut dan ingat tentang giatnya orang-orang shālih tersebut di dalam beribadah, maka ini diharapkan bisa menambah semangat mereka untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Ini adalah termasuk langkah syaithān menyesatkan manusia.
Kemudian beliau (‘Abdullah Ibnu ‘Abbās) mengatakan:
فلم تعبد فلما هلك أولئك ونسي العلم عبدت
“Tetapi saat itu belum disembah, ketika generasi itu meninggal dunia kemudian ilmu dilupakan, maka setelah itu baru sesembahan-sesembahan tersebut disembah.”
Ketika generasi tersebut meninggal dunia semuanya datang syaithān dan mengatakan bahwasanya “Bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini adalah untuk disembah (dimintai syafā’at).”
Baru setelah itu عُبِدَتْ (disembahlah) patung-patung tersebut.
Ini dilakukan oleh kaumnya nabi Nūh ‘alayhissalām dan dilakukan oleh orang-orang Quraysh sebagaimana yang disampaikan oleh para ulamā; orang-orang musyrikin membuat patung-patung tersebut baik dari kayu maupun dari batu, bukanlah tujuannya untuk menyembah batu atau kayu tersebut tapi kayu dan batu tersebut adalah simbol dari apa yang mereka sembah.
Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nashrāni yang mereka membuat salib dan menyembahnya. Ini adalah simbol dari Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, yang menurut keyakinan mereka adalah mati dalam keadaan disalib.
Mereka sebenarnya adalah menyembah nabi ‘Īsā ‘alayhissalām, adapun salib yang mereka sembah itu adalah hanyalah sekedar simbol.
Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraysh, patung yang mereka buat itu adalah sekedar simbol dari sesuatu yang mereka sembah.
Mereka juga menyembah orang-orang shālih sebagaimana kaum nabi Nūh ‘alayhissalām mereka juga menyembah orang-orang shālih yang sudah meninggal dunia.
Oleh karena itu hal ini perlu diwaspadai karena apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraysh bukan berarti sudah mati dan tidak ada, tetapi masih dilakukan oleh sebagian manusia.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
HALAQAH 19 – QA’IDAH YANG KEDUA
BAGIAN 8
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-19 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Kemudian beliau mengatakan:
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللهِ
Adapun syafā’at yang ada yang ditetapkan, yang akan bermanfaat di hari kiamat adalah syafā’at yang diminta dari Allāh.
Seseorang di dunia mengatakan:
“Yā Allāh, aku meminta syafā’at para malāikat di hari kiamat.”
Atau mengatakan:
“Yā Allāh, aku meminta syafā’at Nabi Muhammad di hari kiamat.”
Berarti dia telah meminta syafā’at dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Berbeda dengan sebagian, yang dia datang, misalnya ke sebuah kuburan seorang wali atau Nabi,
kemudian dia mengatakan:
“Wahai Nabi, aku meminta syafā’atmu di hari kiamat.”
Atau mengatakan:
“Berilah aku syafā’atmu pada hari kiamat.”
Lain antara yang pertama tadi dengan yang kedua.
• Yang pertama | memohon kepada Allāh. “Ya Allāh, aku meminta syafā’at NabiMu pada hari kiamat”.
• Adapun yang kedua | dia mengatakan “Wahai Nabi, aku meminta syafā’atmu pada hari kiamat”.
✓Yang pertama meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan ini cara yang benar dan ini syafā’at yang bermanfaat pada hari kiamat.
Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengatakan:
قُلْ لِّلَّـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah wahai Muhammad, bahwasanya syafā’at semuanya hanya milik Allāh.”
(QS Az-Zumār: 44)
Apabila syafā’at semuanya adalah milik Allāh maka seseorang tidak meminta syafā’at tersebut kecuali kepada yang memiliki yaitu Allāh, adapun selain Allāh, maka tidak memiliki.
أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ
“Apakah mereka menjadikan selain Allāh sebagai pemberi syafā’at-pemberi syafā’at? Katakanlah: ‘Apakah kalian tetap meminta syafā’at kepada mereka padahal mereka tidak memiliki sesuatu dan mereka tidak berakal’.”
(QS Az-Zumār : 43)
Kita meminta syafā’at dari dzat yang memiliki.
قُلْ لِّلَّـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah bahwasanya syafā’at semuanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”
Maka inilah syafā’at yang akan bermanfaat di hari kiamat (yaitu) orang yang di dunia meminta syafā’atnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Kemudian beliau mengatakan:
وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ
“Orang yang memberikan syafā’at di hari kiamat berarti dia telah diutamakan/dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dengan syafā’at tersebut.”
Allāh Subhānahu wa Ta’ālā pada hari kiamat mampu untuk mengeluarkan seseorang yang berdosa dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga tanpa adanya orang atau Malāikat atau Nabi atau orang shālih yang memberikan syafā’at.
Namun kenapa Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjadikan adanya syafā’at di hari kiamat?
Di sini beliau mengatakan:
وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ
Karena tujuannya adalah untuk memuliakan orang yang memberikan syafā’at tersebut, ingin menunjukkan kemuliaan dia di sisi Allāh di hadapan makhluk-Nya.
Bagaimana keutamaan para Nabi, kemuliaan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemuliaan orang-orang yang berimān, Allāh ingin menunjukkan keutamaan dan kemuliaan mereka di sisi makhluk-Nya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
HALAQAH 20 – QA’IDAH YANG KEDUA
BAGIAN 9
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-20 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Kemudian beliau mengatakan:
وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ
Siapakah yang berhak untuk mendapatkan syafā’at di hari kiamat?
Mereka adalah, (kata beliau):
مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ
Orang yang Allāh ridhāi amalannya dan juga ucapannya.
Inilah orang yang akan mendapatkan syafā’at di hari kiamat.
Adapun orang yang tidak Allāh ridhāi ucapan dan amalannya maka Allāh tidak akan mengizinkan siapapun untuk memberikan syafā’at kepada dirinya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla meridhāi dari diri kita tauhīd dan Allāh tidak ridhā kesyirikan, (artinya) orang yang akan mendapatkan syafā’at di hari kiamat adalah orang yang bertauhīd, yang mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam ibadahnya, tidak menyerahkan ibadah sedikitpun kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Inilah orang yang akan mendapatkan ridhā Allāh dan merekalah yang berhak untuk mendapatkan syafā’at.
Suatu hari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya oleh Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang siapa yang paling berbahagia mendapatkan syafā’at dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di hari kiamat.
Abū Hurairah berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟
“Yā Rasūlullāh, siapa orang yang paling berbahagia mendapatkan syafā’atmu di hari kiamat?”
Maka beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:
مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَبْلِهِ
“Barangsiapa yang mengatakan, ‘Lā ilāha illallāh’ ikhlash dari hatinya.”
Orang yang mengatakan ‘Lā ilāha illallāh berarti dia telah berikrar tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh dan di amalkan di dalam kehidupan dia.
خَالِصًا مِنْ قَبْلِهِ
Ikhlās dari hatinya, bukan karena dipaksa, bukan karena sebagai seorang munāfiq yang hanya mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ di lisannya, bukan dengan hatinya, (tetapi) dia yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ ikhlash dari hatinya dan diamalkan di dalam kehidupan dia sehari-hari.
√ Tidak berdo’a kecuali kepada Allāh,
√ Tidak menyembelih kecuali hanya untuk Allāh,
√ Tidak bernadzar kecuali untuk Allāh,
√ Tidak beristighātsah, isti’ānah, isti’ādzah kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
√ Dan seluruh ibadah, satupun ibadah tidak ada yang diserahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Inilah orang yang akan berbahagia dengan syafā’atnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dalam hadīts yang lain, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
لكل نبي دعوة مستجابة فتعجل كل نبي دعوته ، وإني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي إلى يوم القامة
“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki dakwah yang mustajab (do’a yang mustajab dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dan masing-masing Nabi telah menyegerakan do’anya (yaitu di dunia). Dan sesungguhnya aku telah menyembunyikan (mengakhirkan) do’aku pada hari kiamat sebagai syafā’at dariku untuk umatku.”
Jadi do’a mustajab yang beliau miliki yang Allāh karuniakan kepada beliau, beliau simpan dan ditunda sampai hari kiamat dengan maksud sebagai syafā’at bagi umatnya pada hari kiamat.
Kemudian beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
فهي نائلة إن شاء الله من مات من أمتي لا يشرك بالله شيئا
“Syafā’atku ini akan di terima/didapatkan in syā Allāh oleh setiap yang meninggal di antara umatku, yang dia meninggal tanpa menyekutukan Allāh sedikitpun.”
Menunjukkan bahwasanya orang yang berhak untuk mendapatkan syafā’at Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, syafā’at malāikat dan juga syafā’at yang lain pada hari kiamat adalah orang yang tidak menyekutukan Allāh.
Inilah orang yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Kemudian beliau mengatakan: بَعۡدَ الۡإِذۡنِ
“Setelah diizinkan (oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla).”
Para Nabi, para malāikat, para syuhadā dan orang-orang yang beriman pada hari kiamat mereka tidak akan bisa memberikan syafā’at kepada oranglain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Kalau Allāh mengizinkan maka mereka memberikan syafā’at, tapi kalau Allāh tidak mengizinkan maka mereka tidak bisa memberikan syafā’at (dan) tidak mungkin mereka bisa memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan dan dibolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :
“Dan tidak ada yang memberikan syafā’at di sisiNya (Allāh) kecuali dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla .”
(QS Al-Baqarah : 255)
Menunjukkan bahwa syafā’at di hari kiamat berbeda dengan syafā’at di dunia.
Di hari kiamat seorang Nabi tidak mungkin memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى
“Berapa banyak malāikat di langit yang tidak akan bermanfaat syafā’at mereka di sisi Allāh kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS An-Najm : 26)
Menunjukkan bahwasanya malāikatpun tidak bisa memberikan syafā’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Oleh karena itu, sekali lagi, seorang Muslim apabila ingin mendapatkan syafā’at di hari kiamat maka:
✓Hendaklah dia meminta kepada Allāh, dzat yang akan mengizinkan syafā’at tersebut dan dialah yang memiliki syafā’at tersebut.
Dan hendaklah dia menghindari cara mendapatkan syafā’at yang tidak dibenarkan dan ini adalah cara orang-orang musyrikin yang ada di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, demikian pula cara yang dilakukan orang-orang musyrikin di zaman nabi Nūh ‘alayhissalām, yaitu mereka mencari syafā’at dengan cara meminta kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
==========================================
HALAQAH 21 – QA’IDAH YANG KETIGA
BAGIAN 1
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-21 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Beliau berkata :
القا عدة الثالثة
Kaidah yang ketiga :
أنّ النبي – صلى اللّه عليه و سلم -ظَهَرَ عَلَى أُنًّاسٍ مُتَفَرِّقِين فِي عِبَادَاتِهم
Kaidah yang ketiga kata beliau, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam muncul dan diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda didalam ibadahnya.
Artinya bukan satu, bukan satu sesembahan.
Beliau mengatakan:
مِنهُم مَن يَعْبُدُ الشَّمسَ والقَمَر
Diantara orang-orang musyrikin ada yang menyembah matahari dan juga bulan.
Ada sebagian manusia dizaman beliau yang menyembah matahari dan juga bulan
ومنهم من يعبُد الملاءكة،
Dan diantara mereka ada yang menyembah malāikat.
ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين،
Dan ada diantara mereka yang menyembah para nabi dan juga orang-orang shālih.
ومنهم من يعبدالأحجار والأشجار،
Dan ada diantara mereka yang menyembah pohon-pohonan demikian pula batu-batuan.
Ini semua nya termasuk orang-orang musyrikin.
Menyembah kepada selain Allāh namun apa yang disembah selain Allāh tersebut adalah sesuatu yang berbeda-beda.
Ada diantara mereka yang menyembah matahari, bulan, nabi, orang shālih, pohon, batu.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang berbeda didalam ibadahnya.
Kemudian beliau mengatakan :
وقاتلهم رسول الله – صلى اللّه عليه و سلم
Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerangi mereka.
ولم يفرِّق بينهم،
Dan beliau tidak membedakan diantara mereka.
Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang musyrikin tersebut mengajak mereka bertauhīd (mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dan beliau memerangi mereka semuanya tidak membedakan satu dengan yang lain.
Bahkan diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk memerangi semua orang musyrikin dengan berbagai jenisnya.
Dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Anfāl : 39 :
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ,وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka (orang-orang musyrikin) sampai kapan? حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ sehingga tidak terjadi fitnah dipermukaan bumi”
Yang dimaksud dengan fitnah disini adalah kesyirikan.
Perangilah mereka sampai tidak terjadi kesyirikan dipermukaan bumi ini.
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
Dan sehingga agama ini semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para shahābat radhiyallāhu ‘anhum untuk memerangi orang-orang musyrikin yang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksud supaya tidak lagi terjadi fitnah (tidak terjadi kesyirikan) dibumi ini.
Sehingga agama ini /ibadah ini, semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan untuk memerangi mereka semua tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 22 – QA’IDAH YANG KETIGA
BAGIAN 2
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-22 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
▪ Dalīl Menyembah Matahari dan Bulan
Kemudian beliau mengatakan :
وَدَلِيلُ الشَّمْسِ والقَمَرِ
Dan dalīl bahwasanya dizaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada orang yang menyembah matahari dan bulan.
قَولُهُ تَعَالَى
Adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Fushshilat : 37
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dalīl yang menunjukan bahwasanya dizaman nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada yang menyembah matahari dan bulan adalah firman Allāh yang artinya:
” Dan di antara ayat-ayat Allāh yang menunjukan kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah malam siang dan matahari dan juga bulan (ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh )
Menunjukan tentang kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menjadikan malam, yang menjadikan siang tidak ada yang menjadikan itu semua kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Tidak ada selain Allāh yang bisa merubah malam menjadi siang, atau merubah siang menjadi malam.
Demikian pula termasuk matahari dan juga bulan, ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian Allāh mengatakan,
لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ
“Janganlah kalian bersujud Kepada matahari dan juga bulan”
Karena matahari dan bulan adalah termasuk makhluk dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh.
Allāh mengatakan لَا تَسْجُدُوا janganlah kalian bersujud kepada matahari dan juga bulan.
Larangan Allāh supaya manusia jangan bersujud kepada matahari dan bulan, menunjukan bahwasanya pada saat itu ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah matahari dan juga bulan.
Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang mengatakan لَا تَسْجُدُوا Janganlah kalian bersujud, menunjukan bahwasanya pada saat itu ada diantara manusia yang ada dizaman nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menyembah kepada matahari dan bulan.
Dan didalam Al Qurān beberapa kisah yang menunjukan bahwasanya disana ada sebagian manusia yang menyembah matahari dan juga bulan.
⇒ Seperti Ratu Sabā yang didakwahi oleh Nabi Sulaimān ‘alayhissalām.
Dan dizaman sekarang ada orang yang menyembah matahari menunjukan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau diutus bukan hanya memerangi orang-orang yang menyembah berhala (patung) tapi beliau juga diutus untuk memerangi semua orang-orang musyrikin dengan berbagai jenis peribadatan mereka.
Termasuk diantaranya yang menyembah matahari maupun bulan.
وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan hendaklah kalian bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan mereka semua, kalau kalian benar-benar beribadah dan menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”
Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
√ Melarang bersujud kepada matahari dan bulan, bagaimanapun dia memberikan manfaat bagi manusia, bagaimanapun besarnya dimata manusia.
√ Kemudian Allāh menyuruh kita untuk bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan matahari dan bulan dan semua makhluk.
⇒ Yang menciptakan makhluk-makhluk tersebutlah yang berhak untuk disembah.
▪ Dalīl Menyembah Malāikat
Kemudian beliau mengatakan :
وَدَلِيلُ المَلَإِكَةِ قَولُهُ تَعَالَى
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا. يَعْبُدُونَ
قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
Dalīl yang menunjukan bahwasanya dizaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada orang-orang musyrikin yang menyembah para malāikat.
Dalīl nya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla surat Sabā 40-41 yang artinya :
“Dan pada hari ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengumpulkan mereka semua (dipadang mahsyar) dikumpulkan manusia dari awal sampai akhir, dikumpulkan para Jinn dari awal sampai akhir dan dikumpulkan para malāikat, bahkan dikumpulkan hewan-hewan pada hari dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengumpulkan mereka semua.
ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ
Kemudian Allāh berkata kepada para malāikat (disana ada manusia baik yang mukmin maupun yang kāfir, yang musyrik, yang munāfiq, ada jinn dan disana ada malāikat)
Maka Allāh berkata kepada para malāikat.
أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ
“Apakah mereka dahulu menyembah kalian?”
Allāh berkata kepada para malāikat yang sebagian manusia telah menyembah mereka.
Maka Allāh saat itu bertanya kepada para malāikat, “Apakah mereka dahulu mereka menyembah kalian, wahai para malāikat ?”
Pertanyaan ini menunjukan bahwasanya memang didunia ada diantara manusia yang menyembah kepada malāikat.
Para malāikat menjawab :
قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
“Maha Suci Engkau Yā Allāh, Engkau adalah wali kami selain mereka, bahkan mereka menyembah para Jin, sebagian besar mereka beriman dengan Jinn -jinn tersebut”.
Ayat ini menunjukan kepada kita ada diantara manusia yang menyembah kepada malāikat dan ada diantara mereka yang menyembah kepada Jinn.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
=============================================
HALAQAH 23 – QA’IDAH YANG KETIGA
BAGIAN 3
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-23 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
▪Dalīl Menyembah Para Nabi
Kemudian beliau mengatakan,
وَدَلِيلُ الأَنْبِيَاء قوله تعالى:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Maidāh ayat 116
Dan ketika Allāh berkata kepada Īsā ibnu Maryam (dan ini juga terjadi dipadang mahsyar)
√ Allāh akan bertanya kepada Malāikat (hamba-hamba Allāh yang shālih, yang diagungkan dan disembah oleh sebagian manusia)
√ Allāh akan bertanya kepada nabi Īsā ‘alayhissalām (yang disembah dan diagungkan oleh sebagian manusia)
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Wahai Īsā ibnu Maryam, “Apakah engkau dahulu ketika didunia berkata kepada manusia,
اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Apakah engkau dahulu berkata kepada mereka wahai manusia jadikanlah aku dan juga ibuku sebagai dua sesembahan selain Allāh?
Apakah engkau dahulu ketika didunia pernah mengajak mereka (mendorong mereka, memerintahkan mereka) untuk menjadikan kamu sebagai seorang Tuhan dan juga menjadikan ibumu sebagai seorang Tuhan?
Pertanyaan ini kelak akan ditanyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada nabi Īsā ‘alayhissalām.
Apa jawaban beliau (nabi Īsā ‘alayhissalām)
قَالَ سُبْحَانَكَ
Maha Suci Engkau Yā Allāh, sebagaimana para malāikat tadi ketika ditanya mereka juga mengatakan سُبْحَانَكَ.
Kemudian beliau mengatakan,
مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
Tidak pantas bagiku, tidak boleh bagiku untuk mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak untuk mengatakannya. Aku adalah seorang hamba, seorang manusia, seorang makhluk tidak pantas bagiku untuk mengatakan kepada manusia, “Wahai manusia jadikanlah aku sebagai Tuhan”.
Artinya pada hari itu nabi Īsā ‘alayhissalām berlepas diri dari apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembah beliau di dunia.
Dan ini menunjukan kepada kita bahwasanya ada diantara manusia yang mereka menyembah para nabi, diantaranya adalah nabi Īsā ‘alayhissalām,
Dan ini juga diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau memerangi orang-orang yang menyembah atau mengaku menyembah nabi Īsā ‘alayhissalām, meskipun yang disembah adalah seorang nabi sekalipun, seorang yang paling shālih sekalipun tapi karena dia menyembah kepada selain Allāh dan ini adalah bentuk kesyirikan maka diperangi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau tidak mengatakan apabila menyembah seorang nabi maka tidak masalah akan tetapi beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetap memerangi mereka meskipun mereka menyembah para nabi dan tidak membedakan antara orang yang menyembah berhala, yang menyembah matahari maupun para nabi.
▪Dalīl Menyembah Orang Shālih
Kemudian beliau mengatakan :
وَدَلِيلُ الصَالِحِين قوله تعالى
Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Isrā’ ayat 56 -57
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
Katakanlah wahai Muhammad, berdo’a lah kalian kepada orang-orang yang kalian sangka sebagai Tuhan (selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla)
فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
Niscaya mereka tidak akan mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian dan tidak bisa memindahkan kesusahan tersebut kepada yang lain.
Ini adalah ancaman bagi mereka, silahkan kalian berdo’a kepada orang-orang yang kalian sangka itu adalah tuhan-tuhan selain Allāh, niscaya mereka tidak akan mampu memiliki, tidak akan mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian.
Kalau Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghendaki kesusahan bagi kalian maka tidak akan ada yang bisa menghilangkan kesusahan tersebut kecuali dia.
Sekalipun segala sesuatu yang disembah selain Allāh menginginkannya tapi kalau Allāh ingin menghilangkan kesusahan tersebut niscaya akan terjadi.
Kemudian Allāh mengatakan :
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
Mereka orang-orang yang mereka berdo’a kepadanya maksudnya adalah orang-orang shālih.
Orang-orang shālih yang mereka beribadah kepada orang shālih tersebut
يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
Ternyata mereka juga mencari wasīlah kepada Allāh.
Yang dimaksud dengan wasīlah dalam ayat ini adalah Al Qurbah (kalau kita melihat buku-buku atau kamus-kamus bahasa Arab dan kita mencari makna Al Wasīlah didalam bahasa Arab) kita akan mendapatkan bahwasanya maknanya adalah Al Qurbah.
Allāh mengabarkan didalam ayat ini bahwasanya orang-orang shālih tersebut yang diagung-agungkan dan disembah oleh orang-orang musyrikin ternyata mereka pun sendiri berusaha untuk mencari Wasīlah kepada Allāh.
Mereka sendiri ingin mencari kedekatan kepada Allāh.
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ
Siapa diantara mereka yang lebih dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Orang-orang yang menyembah mereka menyangka apabila menyembah orang-orang shālih tersebut maka orang-orang shālih tersebut akan mendekatkan diri mereka kepada Allāh.
Padahal disini Allāh menyebutkan mereka sendiri (orang-orang shālih tersebut sebenarnya juga mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Siapa diantara mereka yang lebih dekat dengan Allāh?
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
Dan mereka mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan takut dari adzab Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Mereka sendiri juga keadaannya demikian dalam keadaan mengharap dan dalam keadaan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Mengatakan:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Dan sesungguhnya adzab Rabb mu adalah sesuatu yang harus diwaspadai.
Ayat ini menunjukan bahwasanya ada diantara orang-orang musyrikin yang mereka mengagung-agungkan orang-orang yang shālih.
Padahal orang-orang shālih tersebut saling berlomba untuk mendekatkan dirinya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Mereka juga takut dengan adzab Allāh dan mereka juga mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 24 – QA’IDAH YANG KETIGA
BAGIAN 4
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-24 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
▪Dalīl Menyembah Pohon dan Batu
Dan dalīl bahwasanya disana ada yang menyembah pohon dan batu adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat An-Najm 19-20 :
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ * وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
Apa pendapat kalian tentang,
⑴. Al Lāta
⑵. Al’Uzzā
⑶. Manāh
Ini adalah 3 diantara sesembahan-sesembahan-sesembahan orang-orang Musyrikin Quraysh.
① Al Lāta
Al Lāta adalah orang yang shālih yang dahulu diantara amalan shālihnya adalah memberi makan orang-orang yang sedang berhaji.
Ketika dia meninggal dunia maka diagung-agungkan oleh orang-orang Musyrikin Quraysh.
② Al’Uzzā
Al’Uzzā bentuknya adalah sebuah pohon.
Sebuah pohon yang besar yang diagung-agungkan oleh orang-orang Quraysh.
③. Manāh
Manāh adalah sebuah batu besar
Menunjukan bahwasanya disana ada yang mengagungkan pohon demikian pula batu.
Ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah :
√ Orang shālih
√ Menyembah batu dan pohon
Diantara dalīlnya adalah dari Abī Wāqid Al laytsiy Radhiyallāhu ‘anhu :
وَحَدِثُ أَبِي وَاقِد اللَيثِي رضي الله عنه قَال :
خَرَجْنَا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حُنَين و نحنُ حُدَثَا ءَ عِهدٍ بِكُفرِ, وَ لِلْمُشِّكِينَ سِدْرَةٌ
Kami keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kearah Hunain dan ini terjadi setelah dibuka nya kota Mekkah pada tahun 8 Hijriyyah, banyak diantara orang-orang musyrikin Quraysh yang mereka masuk kedalam agama Islām.
Yang sebelumnya musyrik ketika dibuka kota Mekkah mereka masuk kedalam agama Islām.
Setelah dibukanya kota Mekkah maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menuju ke kota Hunain dan bersama beliau orang-orang Islām,baik yang lama maupun yang baru dan disini Abū Wāqid Al laytsiy dia menceritakan (kami keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke arah Hunain)
و نحنُ حُدَثَا ءَ عِهدٍ بِكُفرِ
Dan kami baru saja masuk kedalam agama Islām artinya bekas-bekas Jāhilīyah (bekas kesyirikan) sebagian masih ada di dalam diri mereka.
وَ لِلْمُشِّكِينَ سِدْرَةٌ
Dan orang-orang musyrikin memiliki sebuah pohon.
يَعْكُفُونَ عِندَهَا و يَنُوطُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُم
Yang mereka ber ‘itiqaf disekitar pohon tersebut dan menaruh senjata-senjata mereka dipohon tersebut.
Abū Wāqid menceritakan bahwasanya orang-orang musyrikin dahulu mereka memiliki sebuah pohon yang mereka sering ber ‘itiqaf di pohon tersebut (berdiam diri disana) mengagungkan pohon tersebut, mengagungkan selain Allāh disamping itu mereka juga menaruh senjata-senjata mereka dipohon tersebut.
Tujuannya mencari bārakah supaya senjata-senjata tersebut ketika digunakan untuk berperang membawa bārakah dan kemenangan, dan ini menunjukan bahwasanya perilaku seperti ini adalah termasuk perilaku orang-orang musyrikin.
Kemudian beliau mengatakan :
يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاطٍ
Pohon tersebut dinamakan Dzātu Anwāth dikenal dikalangan orang-orang musyrikin dengan nama Dzātu Anwāth.
فَمَرْرَنَا بِسِدْرَةٍ
Maka ketika kami menuju Hunain menemui sebuah pohon
فَقُلْنَا يا رسلو الله اِجعَل لنَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ كما لهم ذَاتُ
أَنْوَاطٍ
Yā Rasūlullāh, buatkanlah untuk kami sebuah Dzātu Anwāthin sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki Dzātu Anwāth.
Mereka meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya dibuatkan pohon dijadikan sebuah pohon yang disitu mereka ber’itiqaf dan mereka menaruh dan meletakan senjata-senjata mereka disitu.
Ucapan ini diucapkan oleh mereka karena mereka baru saja masuk kedalam agama Islām.
Tentunya lain antara orang yang sudah lama masuk dan belajar agama Islām dengan orang yang baru saja masuk kedalam agama Islām.
Oleh karena itu tidak heran apabila disini sebagian shahābat yang baru saja masuk Islām mereka meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya dibuatkan Dzātu Anwāth.
Kemudian beliau mengatakan:
وَقَالُ رَسُول الله ﷺ الله أكبر
Allāh Maha Besar, Allāh Maha Besar dari apa yang kalian ucapkan, kalian telah mengucapkan sesuatu yang besar syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kemudian beliau mengatakan :
إِنَهَا السُنَّن قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ كما قَالَتْ بَنُو إِسرَاءِيل لِمُوسَى, اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ
Ini adalah jalan-jalan orang-orang sebelum kalian
Kemudian beliau mengatakan:
قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ
Kalian telah mengatakan Demi Allāh, yang jiwaku ada ditangannya, kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Banu Isrāil kepada Mūsā ‘alayhissalām.
Ucapan kalian ini persis dengan yang dikatakan oleh Bani Isrāil kepada Mūsā dalam surat Al-A’rāf 138
Apa yang mereka katakan?
اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ
Bani Isrāil ketika diselamatkan oleh nabi Mūsā ‘alayhissalām dari cengkraman Fir’aun dan tentaranya, dikeluarkan dari Mesir dan Allāh menyelamatkan mereka dari laut setelah menyeberang lautan, mereka mengatakan
اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ
Wahai Mūsā buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.
Mereka ingin memiliki sesembahan yang bisa dilihat, yang bisa mereka sentuh sebagaimana mereka melihat ini diantara orang-orang musyrikin.
Orang-orang Bani Isrāil tinggal bersama orang-orang Musyrikin, melihat orang-orang musyrikin yang mereka menyembah sesuatu yang bisa dilihat sehingga mereka disini meminta kepada nabi Mūsā untuk membuatkan tuhan yang mereka akan sembah sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki tuhan.
اجعَلْ لَنَا إِلَهًا كما لهُم أَلِهَةٌ
Jadikanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana mereka orang-orang musyrikin memiliki Tuhan.
Persis dengan yang dikatakan oleh Bani Isrāil kepada nabi Mūsā ‘alayhissalām oleh karena itu Mūsā mengatakan
الله أكبر إِنَهَا السُنَّن قُلْتُم والذي نَفْسِي بِيَدِهِ
كما قَالَتْ بَنُو إِسرَاءِيل لِمُوسَى
Demi Allāh, Apa yang kalian katakan sama dengan yang dikatakan oleh bani Isrāil kepada nabi Mūsā.
Hadīts ini menunjukan kepada kita bahwasanya ada diantara orang-orang musyrikin yang mereka menyembah kepada pohon.
Sehingga dengan ini kita mengetahui apa yang dikatakan oleh Al Mualif/pengarang ( Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh) semuanya berdasarkan dalīl.
Ketika beliau mengatakan.
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمۡ
Bahwasanya nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam muncul dan diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda didalam ibadahnya.
Kenapa hal ini beliau kemukakan kepada kita?
Supaya kita tahu bahwasanya seseorang yang menyembah orang shālih sekalipun maka ini termasuk kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini termasuk kesyirikan karena sebagian menganggap yang dilarang adalah apabila kita menyembah berhala atau menyembah batu, matahari tapi kalau kita berdo’a kepada orang-orang shālih /menyembah orang shālih maka ini tidak masalah.
Kita katakan ucapan ini adalah ucapan yang tidak benar dan bertentangan dengan dalīl dari Al Qurān dan juga sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
HALAQAH 25 – QA’IDAH YANG KEEMPAT
🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
📗 Silsilah Qawa’idul Arba’
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-25 Penjelasan Kitāb Al Qawā’idul Arba’ karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At-tamīmiy rahimahullāh
Kaidah yang keempat (terakhir) dari 4 kaidah yang dengannya kita bisa memahami apa itu kesyirikan.
Beliau mengatakan:
الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ
Ketahuilah (kata beliau) bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita ini (dan beliau hidup 200 tahun yang lalu) أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِين lebih keras/lebih dahsyat kesyirikannya daripada orang-orang musyrikin zaman dahulu.
Kata beliau orang-orang musyirikin dizaman sekarang(zaman beliau) itu lebih dahsyat lebih keras kesyirikannya lebih besar kesyirikannya daripada orang-orang musyikin zaman dahulu. Ini ucapan beliau pada kaidah yang ke-4
Apa kata beliau?
لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشَّدَّةِ
Kenapa demikian?
Kata beliau:
Karena orang-orang musyrikin yang terdahulu mereka menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang/bahagia/tenteram tetapi ketika mereka susah, mereka mengikhlāskan ibadah kepada Allāh.
Ini adalah sifat orang-orang musyrikin zaman dahulu, ketika mereka senang/bahagia mereka menyekutukan Allāh tetapi ketika mereka susah/terkena musibah mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ
“Adapun orang-orang musyrikin di zaman kita kesyirikan mereka senantiasa dan selalu, baik ketika mereka dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.”
Adapun orang-orang musyrikin yang dahulu mereka menyekutukan (Allāh) hanya keadaan senang tetapi dalam keadaan susah mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Tentunya, orang yang melakukan kesyirikan baik dalam keadaan susah maupun senang ini lebih keras, lebih dahsyat dan lebih besar daripada orang yang menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang dan tidak dalam keadaan susah.
Oleh karena itu beliau mengatakan orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat kesyirikannya, susah senang mereka berbuat syirik.
Adapun zaman dahulu melihat keadaan :
√ Keadaan senang menyekutukan Allāh.
√ Keadaan susah baru mereka ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Dalīlnya apa?
Beliau mengatakan:
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ
“Kata Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dalam firmanNya: ‘Apabila mereka berada di dalam kapal (artinya mereka sedang dalam perjalanan di laut) mereka berdo’a kepada Allāh dalam keadaan mengikhlāskan agama ini hanya kepada Allāh.”
(QS Al-Ankabut : 65)
Ini yang mengabarkan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, mengabarkan tentang keadaan orang-orang musyrikin ketika mereka melakukan berpergian memakai kapal, di tengah-tengah lautan, Allāh mengabarkan:
دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Mereka berdo’a kepada Allāh dalam keadaan mengikhlaskan agamanya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”
Kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā tentang keadaan orang-orang musyrikin saat itu, kita tidak pernah mendengar tidak pernah melihat apa yang mereka lakukan di tengah lautan, tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’ālā melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan.
Allāh mengabarkan ternyata mereka mengikhlāskan ibadahnya hanya untuk Allāh.
Di dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan ketika mereka berada di tengah lautan kemudian datang angin yang keras dan ombak yang sangat besar, mereka mengikhlāskan ibadahnya kepada Allāh dan mengatakan:
لَئِنْ أَنجَيْتَنَ مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Yā Allāh, seandainya Engkau menyelamatkan kami dari ini semua niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”
(QS Yūnus: 22)
Berjanji kepada Allāh di tengah lautan apabila mereka selamat sampai ke daratan dan diselamatkan oleh Allāh niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur.
Lupa mereka dengan Lāta, ‘Uzzā, Manāh dan sesembahan-sesembahan lain selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Yang mereka ingat saat itu adalah Allāh, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā yang hanya bisa menyelamatkan mereka dari kesusahan saat itu.
Oleh karena itu Allāh mengatakan:
دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dalam keadaan susah tersebut mereka mengikhlāskan ibadahnya karena Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Tapi apa kata Allāh?
فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ
“Ketika Allāh menyelamatkan mereka ke daratan tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.”
Lupa dengan apa yang sudah dikatakan oleh mereka ketika mereka berada di tengah lautan, yaitu tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Ayat ini adalah dalīl , sebagaimana disebutkan oleh pengarang bahwasanya orang-orang musyrikin mereka mengikhlāskan ibadahnya ketika susah dan menyekutukan Allāh ketika mereka dalam keadaan senang.
Adapun orang-orang musyrikin di zaman beliau dan ini juga masih ada di zaman kita dalam keadaan susah dan senang mereka tetap menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Tidak jarang di antara mereka ketika datang musibah, bukan kembali dan meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, akan tetapi justru meminta kepada selain Allāh.
Ketika gunung merapi akan meletus atau ketika terjadi tsunami, kembalinya bukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan meminta perlindungan dan penjagaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, akan tetapi kembali kepada benda-benda, menaruh ini dan itu di rumah atau datang kepada orang yang dinamakan dengan paranormal atau orang yang sakti dengan harapan mereka bisa menyelamatkan dari musibah-musibah tersebut.
Dalam keadaan susahpun mereka masih bergantung kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, dalam keadaan senang juga.
Oleh karena itu apa yang dikatakan beliau pada kaidah yang keempat ini adalah sesuatu yang berdasar dan bukan sesuatu yang mengada-ada, bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat daripada orang musyrikin yang ada di zaman dahulu.
@Produksi2022
Kemudian beliau mengatakan:
وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā lebih mengetahui.”
Dengan demikian kita sudah menyelesaikan sebuah kitāb yang sangat bermanfaat yang ringkas yang dikarang oleh Syaikh Muhammad At-Tamīmiy dan beliau adalah ulama besar yang meninggal pada tahun 1206 H dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā memberikan manfaat dari apa yang kita baca.
Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat.
وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
CATATAN :
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
01 Agusus 2022
