BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

HSI Abdullah Roy Beriman Kepada Hari Akhir, Halaqah 51 – 75

HALAQAH – 51 KEADAAN ORANG-ORANG KAFIR DI DALAM NERAKA

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

📗 Beriman Kepada Hari Akhir

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir

“Keadaan Orang-orang Kafir Ketika Digiring dan Dikumpulkan ke Neraka”

• Pertama | Mereka akan digiring dengan kasar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَـٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِى كُنتُم بِہَا تُكَذِّبُونَ (١٤)

“Pada hari mereka akan didorong ke neraka jahannam dengan keras

Dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang dahulu kalian dustakan.”

(QS Ath-Thūr: 13-14)

Kedua | Mereka akan digiring secara berkelompok dan akan disambut oleh para malāikat penjaga neraka, di ambang pintu neraka dengan penuh penghinaan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Orang-orang kāfir akan digiring ke neraka jahannam secara berkelompok-kelompok, sehingga apabila mereka telah sampai ke ambang neraka dibukalah pintu-pintunya.

Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka:

“Bukankah telah datang kepada kalian, Rasūl-rasūl yang berasal dari kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Rabb kalian, dan mengingatkan kalian pertemuan dengan hari ini?”.

Mereka menjawab: “Benar telah datang”.

Namun telah tetap adzab bagi orang-orang kāfir.

Dikatakan kepada mereka: “Masuklah kalian melalui pintu-pintu neraka jahannam tersebut, sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.

(QS Az-Zumar: 71-72)

Ketiga | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan di atas wajah-wajah mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ٱلَّذِينَ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ شَرٌّ۬ مَّكَانً۬ا وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬

“Orang-orang yang dikumpulkan ke neraka jahanam dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka, mereka itulah orang-orang yang paling jelek kedudukan mereka dan paling sesat jalan mereka.”

(QS Al-Furqān: 34)

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

“Wahai Nabi Allāh, bagaimana orang kafir dikumpulkan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Bukankah yang telah menjadikan dia berjalan di atas kedua kakinya mampu untuk menjadikan dia berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Keempat | Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.”

(QS Al-Isrā’: 97)

Ada sebagian ulamā yang mengatakan bahwasanya mereka buta, bisu dan tuli tidak dalam semua keadaan.

Kelima | Mereka akan dikumpulkan bersama teman-teman mereka dan sesembahan-sesembahan mereka.

Dan akan saling menyalahkan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam neraka.

( Lihat QS Ash-Shāffāt: 22-32)

Keenam | Sebelum mereka sampai ke neraka, mereka akan mendengar suara neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٍ۬ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظً۬ا وَزَفِيرً۬ا

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara neraka yang bergemuruh karena marah.”

(QS Al-Furqān: 12)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjauhkan kita dan keluarga kita dari neraka jahanam dan memasukkan kita ke dalam surganya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 52 TINGGALNYA ORANG-ORANG BERIMAN DAN ORANG MUNAFIQ

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Tinggalnya Orang-orang Berimān Dan Orang-orang Munāfiq”

                Di dalam hadīts Abū Said Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhāri dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kāfir baik musyrikin maupun ahlul kitāb digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allāh, yang shālih maupun yang fajir.

Dikatakan kepada mereka:

“Apa yang menghalangi kalian untuk pergi, sedangkan manusia sudah pergi?

Dalam riwayat Muslim,

“Apa yang kalian tunggu?

Mereka berkata:

“Kami berbeda dengan mereka di dunia. Padahal kami dahulu butuh dengan mereka.”

⇒Maksudnya dahulu mereka bertauhīd tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kāfir. Meskipun mereka membutuhkan orang-orang kāfir tersebut dalam beberapa hal.

Mereka berkata:

“Sungguh kami telah mendengar penyeru menyeru supaya setiap kaum mengikuti apa yang dia sembah. Dan kami sekarang sedang menunggu Rabb kami.

Maka datanglah Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam bentuk yang berbeda dengan bentuk yang mereka lihat pertama kali.

⇒Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang berimān akan melihat Allāh di Padang Mahsyar.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allāh darimu. Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” Mereka mengatakan perkataan ini dua atau tiga kali.

⇒Maksudnya Allāh akan menguji mereka dengan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang lain.

Ketika mereka melihat Allāh dalam bentuk yang lain, maka mereka berlindung kepada Allāh , supaya tidak terfitnah di dalam ujian ini.

Dan ucapan mereka, “Kami tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” menunjukkan tentang keutamaan tauhīd.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka tidak berbicara kepada Allāh saat itu kecuali para Nabi.”

Maka Allāh berkata:

“Apakah kalian memiliki tanda sehingga kalian mengetahui bahwa Dia adalah Rabb kalian?

Mereka berkata, “Betis”

Maka disingkaplah betis Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

                Para ulamā mengatakan bahwasanya ini adalah termasuk hadīts yang berisi sifat Allāh, Kewajibah kita berimān bahwasanya Allāh memiliki betis sesuai dengan keagungan-Nya.

                Tidak boleh kita ingkari, tidak boleh kita serupakan dengan mahluk, tidak boleh kita takwil, dan tidak boleh kita bertanya tentang bagaimananya.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka sujudlah setiap mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Tidak tersisa orang yang dahulu sujud untuk Allāh , ikhlās dari dirinya kecuali Allāh akan mengijinkan dia bersujud. Kemudian tidaklah tersisa orang yang dahulu sujud karena hanya ingin melindungi diri dan riya’ kecuali Allāh akan menjadikan punggungnya menjadi rata.

Setiap akan sujud dia jatuh tersungkur di atas tengkuknya.

                Maksudnya dia tidak bisa sujud karena punggungnya yang semula memiliki beberapa ruas tulang yang memudahkan dia untuk membungkuk, menjadi hanya memiliki satu ruas tulang yang rata.

                Demikianlah keadaan orang-orang yang dahulu menipu Allāh dan orang-orang yang berimān di dunia

Maka Allāh menipu mereka.

                Mereka mengira bahwasanya mereka akan selamat dengan tinggalnya mereka saat itu bersama orang-orang yang berimān.

Namun ternyata perkiraan mereka adalah perkiraan yang salah.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian orang-orang yang berimān mengangkat kepala mereka dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah kembali kepada bentuk-Nya yang semula.

Kemudian Allāh berkata:

“Aku adalah Rabb kalian”.

Mereka pun berkata:“Engkau adalah Rabb kami”.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini

والسلم عليكم ورحمة الّ وبركاته

HALAQAH – 53 PERPISAHAN ORANG-ORANG BERIMAN DAN ORANG MUNAFIK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”

                Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.

                Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”

√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.

√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.

Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.

Dan apabila padam, dia berdiri.

⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.

Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .

⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

                Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.

                Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.

                Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).

                Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.

                Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

                Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .

                Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.

                Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

                Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.

Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”

( QS At-Tahrim : 8)

Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

                Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 54 ASH-SHIRAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 54 dari silsilah ‘ilmiyah berimān kepada hari akhir adalah tentang”as shirath”

                Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath

(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)

                Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.

⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.

                Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”

(QS Maryam: 71-72)

Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.

⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.

Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.

“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”

Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:

√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,

√ Ada yang seperti kilat,

√ Ada yang secepat angin,

√ Ada yang secepat burung,

√ Ada yang secepat larinya kuda,

√ Ada yang secepat larinya unta,

√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)

⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.

⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.

⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.

                Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”

Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”

Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,

Beliau berkata:

“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”

⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.

⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.

⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.

(Hadīts riwayat Muslim)

Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”

(Hadīts Riwayat Muslim)

                Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.

Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.

Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.

                Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.

                Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. Āmīn

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH – 55 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”

                Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.

⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”

(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)

Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.

                Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.

                Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.

(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.

                Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.

                Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.

                Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:

⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.

⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd

⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl

⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama

⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.

Dantara cirinya:

√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.

√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.

√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.

                Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.

                Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.

                Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.

Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.

                Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.

                Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.

                Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

============================================

HALAQAH – 56 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang ” Beberapa Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang kedalam Neraka Bagian ke-2″

                Di antara dosa yang membahayakan seseorang yang berimān dan bisa menjadi penyebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka ketika melewati sirāth adalah berdusta atas nama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia menyiapkan tempatnya di dalam neraka.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Hendaknya seseorang berhati-hati di dalam menyampaikan hadīts dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menjauhi hadīts-hadīts dhaif dan palsu, baik dalam masalah aqidah, fadhail’amal, maupun masalah yang lain.

Dan bagi yang tidak mampu menghukumi sebuah hadīts, maka hendaknya dia taqlid dengan ulamā atau ustadz yang ia anggap paling ahli di dalam hadīts.

⇒Di antara dosa tersebut adalah “dosa lisan dan kemaluan”

Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia di dalam neraka.

Maka beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ

“Mulut dan kemaluan”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah).

Dosa yang dilakukan mulut seperti:

√ Dusta

√ Membicarakan kejelekan orang lain

√ Mengadu domba

√ Berfatwa tanpa ilmu

√ Menuduh tanpa hak

√ Makan dan minum yang haram dan lain-lain.

Dosa yang dilakukan kemaluan seperti:

√ Berzina,

√ Liwath, dan lain-lain.

⇒Dan di antara dosa tersebut adalah sombong.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrahpun dari kesombongan”

Seorang laki-laki bertanya:

Sesungguhnya seseorang senang apabila bajunya bagus dan sandalnya bagus.

                Maka beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Sesungguhnya Allāh adalah indah dan mencintai keindahan.”

⇒ Yang dimaksud dengan kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (Hadīts Riwayat Muslim)

                Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak akan masuk surga adalah ancaman bagi pelakunya, bahwasanya dia bukan termasuk orang-orang yang pertama-tama masuk surga. Dan balasan kesombongan dia adalah masuk neraka terlebih dahulu.

                Marilah kita belajar menerima kebenaran dari manapun datangnya. Karena pada hakikatnya kebenaran adalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla .

                Dan janganlah kita meremehkan orang lain, karena ilmu, harta, jabatan atau gelar yang kita miliki, Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan tersebut, mampu untuk memberikan kepada orang lain yang semisal atau yang lebih baik kapan Allāh kehendaki.

Semakin seseorang rendah hati karena Allāh , maka Allāh akan semakin mengangkat derajatnya.

Di antara dosa tersebut adalah dosa memakan makanan yang haram.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah tumbuh daging dari makanan yang haram, kecuali neraka lebih pantas bagi daging tersebut”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

Seorang muslim hendaknya sangat berhati-hati di dalam mencari rezeki untuk diri-sendiri dan keluarga.

                Tidak memakan dan memberi makan, kecuali setelah yakin itu halal.

                Hendaknya dia menjauhi riba, memakan harta orang lain tanpa hak, menjauhi uang suap, menjauhi kurang dalam menimbang dan segala jenis harta haram lainnya.

                Dan di antara dosa yang dapat menjadi sebab jatuhnya seseorang ke dalam neraka adalah “tidak ikhlās di dalam menuntut ilmu” (Ilmu agama)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang menuntut ilmu, yang sebenarnya digunakan untuk mencari ridhā Allāh, Dia tidak menuntut ilmu tersebut kecuali untuk mencari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat”

(hadīts Riwayat Abū Dāwūd)

Di dalam hadīts yang lain beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Barangsiapa yang menuntut ilmu hanya untuk menyombongkan diri di hadapan para ulamā atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, maka ancamannya adalah neraka”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ibnu Mājah)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 57 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-57 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian ketiga”

Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah:

⑴ Dosa bunuh diri

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melempar dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya, maka dia berada di dalam neraka jahannam. Dilempar didalamnya kekal selamanya. Dan barang siapa meneguk racun untuk membunuh dirinya, maka di dalam neraka jahannam dia akan meletakan racun di tangannya, dia meneguknya selamanya di neraka. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besi tersebut di tangannya dia menusuk dengan besi tersebut perutnya di neraka jahannam kekal selamanya”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒Bunuh diri bukanlah cara untuk lepas dari masalah, namun justru akan mendatangkan masalah yang lebih besar.

Dan barang siapa yang berimān kepada Allāh,maka Allāh akan memberikan hidayah kepada hatinya.

⑵ Membunuh tanpa hak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنً۬ا مُّتَعَمِّدً۬ا فَجَزَآؤُهُ ۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدً۬ا فِيہَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ ۥ وَأَعَدَّ لَهُ ۥ عَذَابًا عَظِيمً۬ا

“Dan barang siapa yang membunuh orang yang berimān karena sengaja, maka balasannya adalah jahannam dia kekal di dalamnya. Allāh akan marah kepadanya dan melaknatnya, dan Allāh akan siapkan untuknya adzab yang besar.”

(QS An-Nissā’: 93)

                Para ulamā menjelaskan bahwasanya maksud kekal di neraka bagi orang yang membunuh orang yang berimān tanpa hak atau bunuh diri yaitu pada asalnya inilah balasan bagi orang tersebut.

                Namun dalīl lain menerangkan bahwasanya orang yang berimān sekecil apapun imānnya dan sebesar apapun dosanya dia akan keluar dari neraka baik dengan ampunan Allāh atau dengan Syafā’at.

⑶ Memakan riba.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَـٰفً۬ا مُّضَـٰعَفَةً۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (١٣٠) وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ (١٣١)

“Wahai orang-orang yang berimān, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda. Dan bertakwalah kalian kepada Allāh, supaya kalian beruntung. Dan takutlah dengan api neraka yang disediakan untuk orang-orang kāfir.”

(QS Āli-‘Imrān: 130-131)

Dan betapa banyak praktek riba di zaman sekarang, seseorang yang akan melakukan sebuah transaksi hendaknya mengetahui ilmunya.

Dan janganlah dia menganggap mudah perkara riba ini.

Dan barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allāh , maka Allāh akan mengganti dengan yang lebih baik.

⑷ Menggambar mahluk yang bernyawa.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di sisi Allāh pada hari kiamat adalah para penggambar.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Dan maksud dari penggambar di sini adalah penggambar mahluk bernyawa, masuk di dalamnya orang yang membuat patung mahluk bernyawa dan orang yang melukis mahluk bernyawa.

                Banyak para ulamā yang memasukkan gambar fotografi didalam larangan ini.

                Tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan darurat seperti untuk surat-surat penting dan lain-lain.

                Perbedaan pendapat di antara para ulamā dan banyaknya manusia yang melakukan, janganlah menjadi alasan bagi seseorang untuk bermudah-mudahan di dalam gambar fotografi ini.

⑸ Dosa wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka, sebuah kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka gunakan untuk memukul manusia. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Berjalan lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian”

⇒Dan makna berpakaian tapi telanjang ada yang mengatakan menutupi sebagian aurat dan membuka sebagian yang lain untuk menampakkan keindahan. Atau memakai pakaian tetapi tidak sempurna seperti memakai pakaian yang tipis atau membentuk badan.

Seorang muslimah hendaknya bersungguh-sungguh di dalam menjaga hijabnya dan ikhlās karena Allāh .

Semoga kesabaran seorang muslimah atas rasa gerah, risih dan ribet yang mungkin dirasakan oleh sebagian.

Dan juga kesabaran menghadapi gunjingan orang lain, menjadi sebab selamatnya dia dari ancaman neraka.

                Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 58 CONTOH DOSA PENYEBAB SESEORANG MASUK NERAKA BAGIAN 4

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”

                Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah dosa wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

                Diperlihatkan kepadaku bahwa sebagian besar penduduk neraka adalah wanita. Mereka telah ingkar.

Dikatakan kepada beliau:

Apakah mereka ingkar kepada Allāh ?

Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suami-suami mereka, Mengingkari kebaikan-kebaikan mereka, Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sekian lama, kemudian dia melihat darimu sesuatu yang tidak membuat dia senang, maka wanita tersebut akan berkata, “Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Seorang wanita yang shālihah hendaklah bersyukur kepada Allāh , kemudian bersyukur kepada suaminya, karena dengan sebabnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla

√ Menjaga dia sebagai seorang istri.

√ Menutupi kekurangannya.

√ Menunaikan hajatnya dan lain-lain.

                Dan secara umum, bersyukur kepada orang lain yang pernah berbuat baik kepada kita diperintahkan dalam agama Islām.

                Apabila seseorang tidak bisa membalas maka hendaknya dia mendo’akan dengan kebaikan, baik di hadapan orang tersebut maupun tidak di hadapannya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah. Kalau kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka do’akanlah dengan kebaikan sampai kalian merasa bahwasanya kalian telah membalas kebaikannya”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan An-Nasā’i)

                Dan di antara dosa yang membahayakan kehidupan seorang hamba di akhirat adalah tiga dosa yang tercantum didalam sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

◆ Tiga orang yang Allāh harāmkan masuk surga:

⑴ Pecandu khamr (minuman keras)

⑵ Anak yang durhaka

⑶ Dayyuts (laki-laki yang membiarkan kejelekan di dalam keluarganya)

(Hadīts Hasan Riwayat Imām Ahmad di dalam Musnadnya)

Seorang kepala keluarga yang membiarkan kemaksiatan di dalam keluarganya dan memfasilitasi, dikhawatirkan terkena ancaman ini.

Seorang kepala keluarga dituntut untuk tegas dan lembut dengan keluarganya.

Rasa sayang bukan berarti harus memberi semua yang diminta, Dan mendidik mereka untuk taat tidak identik denga kekerasan, Istri dan anak adalah ujian dan titipan Allāh.

                Kewajiban kita adalah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka, dan hidayah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla

⇒Dan di antara dosa yang membahayakan adalah durhaka terhadap kedua orang tua.

Dan di antara bentuk durhaka adalah menyakiti orang tua dengan lisan, dengan sikap ataupun dengan tangan.

                Seorang muslim dan muslimah diperintah untuk berlemah-lembut kepada orang tua. Merendahkan diri di hadapan mereka, dan menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.

                Dan di antara bentuk bakti yang paling berharga kepada orang tua kita adalah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan menuju cahaya Tauhīd, Sunnah dan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

                Dan di antara dosa yang membahayakan adalah dosa seorang pejabat yang menipu bawahan atau rakyatnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba, Allāh berikan jabatan kemudian dia mati dalam keadaan menipu bawahan atau rakyatnya kecuali Allāh akan mengharamkan dia masuk ke dalam surga”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di antara bentuk menipu kepada rakyat adalah tidak menasehati mereka demi keselamatan dunia dan akhirat mereka, tidak memenuhi hak-hak mereka, tidak berbuat adil di antara mereka dan lain-lain(diharamkan masuk surga di sini bahwasanya pelakunya tidak bisa masuk surga secara langsung, namun dia berhak untuk diadzab di dalam neraka terlebih dahulu apabila Allāh menghendaki)

Ini adalah beberapa contoh dosa-dosa besar dan para ulama telah mengarang buku khusus tentang dosa-dosa besar, kita pelajari supaya kita bisa menjauhi.

                Keyakinan ahlusunnah bahwasanya pelaku dosa besar di bawah kehendak Allāh, Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengampuni, dan kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengadzabnya terlebih dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam surga.

                Dan adzab neraka bagi pelaku dosa besar, meski tidak selamanya namun bukan sesuatu yang ringan.

Satu menit dibakar dengan api dunia adalah perkara yang berat. Maka bagaimana dibakar dalam waktu yang lama dengan api akhirat yang jauh lebih panas.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari neraka jahanam”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

                Kesabaran di dalam menahan hawa nafsu di dunia, bagi seorang muslim jauh lebih ringan dan lebih mudah dari pada kesabaran di dalam menghadapi adzab neraka di akhirat.

                Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dan keluarga kita dari api neraka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=======================================

HALAQAH – 59 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”

                Setelah sebagian orang-orang yang beriman selamat melewati neraka, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan izin kepada mereka, untuk memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka, orang-orang yang beriman yang terjatuh ke dalam neraka.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda didalam hadīts Abū Said Al-Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim,

◆Ketika orang-orang yang beriman selamat dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada yang lebih gigih di dalam memohon kepada Allāh , hak saudara-saudara mereka yang jatuh ke dalam neraka dari pada orang-orang yang beriman di hari kiamat.

Mereka berkata, Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu mereka shalāt bersama kami, berpuasa bersama kami dan haji bersama kami.

◆ Ini menunjukkan tentang keutamaan berteman dengan orang-orang shālih dan melakukan ibadah-ibadah tersebut bersama mereka.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

                Maka Allāh berkata, “Keluarkanlah oleh kalian orang-orang yang kalian kenal. Maka diharamkanlah wajah-wajah mereka atas neraka (Maksudnya orang-orang yang beriman yang melakukan dosa besar dan disiksa di dalam neraka akan dilindungi wajah-wajah mereka dari api neraka, sehingga bisa dikenal)

                Mereka pun mengeluarkan banyak orang. Ada di antaranya yang api neraka sudah membakar sampai pertengahan kedua betisnya. Dan ada yang sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan?

Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dinar, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan”

Maka Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat setengah dinar, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan.

Maka Allāh berkata,

Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dzarrah, maka keluarkanlah.

Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang.

Yang dimaksud dengan dzarroh adalah atom (bagian terkecil dari satu unsur, yang tidak bisa dibelah lagi)

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan di dalam neraka seorangpun yang memiliki kebaikan”

Allāh berkata,

Para malāikat telah memberikan syafā’at, para nabi telah memberikan syafā’at dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafā’at . Dan tidak tersisa, kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.

Kemudian Allāh menggenggam satu genggaman dari neraka, dan mengeluarkan kaum yang tidak pernah beramal sedikitpun.

Keadaan mereka telah menjadi arang.

Kemudian mereka dilempar ke dalam sungai yang berada di mulut-mulut surga (yang dinamakan dengan sungai kehidupan).

Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya benih di dalam lumpur sisa banjir (Maksudnya akan dengan cepat tumbuh, karena benih yang berada di dalam lumpur sisa banjir akan lebih cepat tumbuh disebabkan banyaknya faktor yang mendukung, seperti tanah yang lembut, air yang memadai dan adanya unsur-unsur yang bermanfaat. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli)

Kemudian Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Apakah kalian pernah melihat benih yang tumbuh, ketika dekat dengan batu atau pohon? bagian yang dekat dengan matahari akan berwarna kuning dan hijau. Dan yang lebih dekat dengan bayangan maka akan berwarna putih.

Maksudnya ada yang mengatakan bahwasanya bagian badan yang terbakar yang lebih dekat dengan surga akan lebih cepat sempurna dari pada bagian badan yang lebih dekat dengan neraka.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemudian mereka akan keluar seperti mutiara. Dan di leher-leher mereka ada khawatim, yang dikenal oleh para penduduk surga.”

Sebagian mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan

khawatim (beberapa barang yang terbuat dari emas yang dikalungkan di leher mereka)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Maka berkatalah para penduduk surga, “Mereka adalah orang-orang yang Allāh bebaskan”Allāh telah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa sebab amalan yang mereka amalkan dan tanpa sebab kebaikan yang mereka lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 60 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafa’at untuk umatnya, para pelaku dosa besar yang disiksa di dalam neraka.

                Di dalam hadīts Anas bin Mālik Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, bahwasanya Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan meminta izin kepada Allāh untuk memberi syafā’at dan beliau diizinkan.

                Maka Allāh akan mengilhamkan kepada beliau pujian-pujian yang sebelumnya tidak pernah diajarkan kepada beliau di dunia.

                Dan beliau bersujud, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. engkau akan didengar perkataanmu,

Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang didalam hatinya ada iman sebesar biji gandum.

                Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan sujud kepada-Nya, maka dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah……. maka akan didengar perkataanmu.

Mintalah….. maka kamu akan diberi. Dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah engkau dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman sebesar dzarrah atau qardalah yaitu biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian beliau kembali lagi dan kembali memuji Allāh dan sujud kepada-Nya, dikatakan kepada beliau,

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, Berkatalah….. niscaya akan didengar perkataanmu.

Mintalah…… niscaya akan diberi permintaanmu dan berikanlah syafā’at, maka akan diterima syafā’atmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, umatku… umatku….”

Dikatakan kepada beliau,

Pergilah kamu dan keluarkanlah dari neraka orang yang di hatinya ada iman yang lebih kecil dan lebih kecil dari sebuah biji sawi.

Maka beliau pergi dan melakukannya, Kemudian keempat kalinya beliau datang dan kembali memuji dan sujud kepada Allāh, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu” Berkatalah…….. niscaya akan didengar perkataanmu.

Mintalah……. maka kamu akan diberi, dan berikanlah syafaat, niscaya akan diterima syafaatmu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Wahai Rabb-ku, izinkan aku untuk memberikan syafā’at kepada setiap orang yang mengatakan

 ” لا إله إلّا الله “.

Maka Allāh berkata:

Demi keperkasaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, dan kemuliaan-Ku sungguh aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengatakan ” لا إله إلّا الله “.

Maksudnya adalah orang yang mengatakan لا إله إلّا الله ikhlās dari hatinya dan tidak membatalkannya dengan kesyirikan.

Di dalam shahīh Bukhāri disebutkan bahwasanya di antara amalan yang bisa menjadi sebab kita mendapatkan syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam di akhirat adalah membaca doa setelah mendengar ādzān, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّة وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Dan di antara amalan tersebut adalah bersabar atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh, kemudian meninggal di dalamnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

“Tidaklah bersabar seseorang atas kesusahan dan kesempitan hidup di Kota Madināh kemudian dia meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafā’at untuknya atau pemberi saksi untuknya di hari kiamat, apabila dia adalah orang islam.”

(Hadīts Riwayat Muslim )

Ada dua golongan dari umat Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang tidak akan mendapatkan syafā’at beliau

Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Beliau bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ

“Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafa’atku, pemimpin yang dzalim dan setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam agama”

(Hadīts Hasan Riwayat At-Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabiir ).

Kita memohon kepada Allāh semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima syafā’at Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk kita semua.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

=========================================

HALAQAH – 61 SYAFAAT BAGI PARA PELAKU DOSA BESAR BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang”

(Hadīts Shahīh Riwayat Al-Bazzar)

⇒Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang yang mati syahīd akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd)

Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberi syafa’at untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan.

Ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Taamim dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku,

Dikatakan kepada beliau,

“Yā Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”

Beliau menjawab:

“Iya, dia adalah orang lain selain diriku.”

(Hadīts Riwayat At-Tirmidzi)

⇒Bani Taamim adalah kabilah yang terkenal besar di zaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam

Semakin besar imān seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain.

Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberikan syafa’at di hari kiamat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Anak-anak orang yang berimān yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Anak-anak kecil dari orang-orang yang berimān akan menjadi daanish surga”

⇒Arti daanish adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.

Maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan pernah meninggalkannya.

Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini, Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa.

Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba” Puasa berkata,

Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Al Qurān berkata:

Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, Maka terimalah syafa’atku untuknya.

Maka diterimalah syafa’at keduanya.”

(Hadīts Shahīh Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau).

                Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. Dan dorongan untuk membaca Al Qurān karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.

                Orang-orang yang bertauhīd sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.

Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ

“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”

(QS Al-Mudatsir : 48)

                Orang-orang yang berdo’a kepada nabi atau malāikat atau Orang-orang yang shālih dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan imān mereka dengan menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 62 AL-QONTOROH DAN QISOS ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke- 62 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Qantharah Dan Qishāsh Diantara Orang-orang Yang Berimān”

◆ Secara bahasa

Al-Qantharah secara bahasa adalah jembatan.

◆ Secara syar’iat

Al-Qontoroh adalah jembatan lain setelah sirāth yang terletak antara neraka dan surga (tempat berkumpulnya orang-orang yang berimān setelah melewati neraka sebelum masuk ke dalam surga).

⇒Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya Al-Qantarah ini.

Tempat akan dibersihkan hati-hati orang yang berimān dengan di qishāsh di antara mereka.

⇒Dan ini menunjukkan keadilah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

“Orang-orang yang berimān yang selamat dari neraka, mereka akan ditahan di Al-Qantharah (antara surga dan neraka) Kemudian di qishāsh kezhāliman-kezhāliman yang terjadi di antara mereka di dunia.

Sehingga apabila sudah dibersihkan dan disucikan, mereka akan diizinkan untuk masuk surga.

Dan demi dzat Yang Jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri)

Yang akan dibersihkan di sini adalah ghill yang ada di dalam hati orang-orang yang berimān (hasad, dendam, kebencian dan lain-lain) yang kadang terjadi di antara mereka.

                Semakin bersih hati seseorang di dunia dari ghill maka akan semakin sebentar qishāsh-nya dan akan semakin cepat dia masuk ke dalam surga.

                Sebaliknya, semakin banyak ghill (hasad, dendam dan kebencian kepada sesama orang yang berimān) maka akan semakin lama qishāshnya dan semakin lama dia masuk ke dalam surga.

⇒Qishāsh di Al-Qantharah ini terjadi di antara orang-orang berimān saja, dengan maksud pembersihan hati.

                Adapun qishāsh di Padang Mahsyar, maka untuk semua makhluk (kāfir maupun yang mukmin) Yang mencakup qishāsh karena kezhāliman harta, fisik maupun kehormatan.

Apabila sudah bersih dari ghill barulah mereka bisa masuk surga, Karena tidak masuk surga kecuali orang yang sudah benar-benar bersih dan baik keadaannya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَنَزَعۡنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٲنًا عَلَىٰ سُرُرٍ۬ مُّتَقَـٰبِلِينَ

“Dan Kami akan hilangkan ghill dari dada-dada mereka”.

(QS Al-Hijr : 47)

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla membersihkan hati kita dan saudara-saudara kita dari hasad, dendam dan kebencian yang tidak dibenarkan dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mudah untuk memaafkan orang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

===========================================

HALAQAH – 63 MASUKNYA ORANG-ORANG YANG BERIMAN KE DALAM SURGA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimā Kepada Hari Akhir adalah tentang “Masuknya Orang-orang Yang Berimān Ke Dalam Surga Bagian Pertama”

                Setelah dibersihkan hatinya, maka orang-orang yang berimān akan digiring menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan.

                Allāh akan kembali memuliakan Nabi-Nya di hadapan orang-orang yang berimān.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) akan diizinkan untuk memberikan syafa’at bagi calon penduduk surga, supaya dibukakan pintu surga.

Syafa’at ini juga termasuk syafa’at khusus bagi beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Beliaulah (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Dan akulah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) juga bersabda:

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat, Kemudian aku minta untuk dibuka.

Berkatalah penjaga surga, siapa kamu?

Aku menjawab, “Muhammad”

Penjaga pintu surga berkata:

“Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu.”

(Hadīts Riwayat Muslim)

Dibukalah pintu surga dan masuklah penduduk surga dengan disambut oleh para malāikat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka akan digiring ke surga secara berombongan, Sehingga apabila mereka sampai ke surga, dan pintu-pintunya telah dibuka, dan berkatalah penjaga-penjaga pintu surga kepada mereka,”Salam atas kalian”.

Kalian telah baik, maka masuklah kalian ke dalam surga, sedang kalian kekal di dalamnya.

Dan mereka mengucapkan:

“Segala puji bagi Allāh yang telah memenuhi janjinya untuk kami dan telah memberi kami tempat ini, Kami diperkenankan menempati tempat di dalam surga dimana saja kami kehendaki, Maka surga itulah sebaik-baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal.”

(QS Az-Zumar: 73-74)

Umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, merekalah yang pertama kali masuk surga sebelum umat yang lain.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Kita adalah umat terakhir tapi akan menjadi yang pertama di hari kiamat. Dan kita yang pertama kali akan masuk surga.”

(Hadīts riwayat Bukhāri Muslim)

Rombongan pertama dari umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan masuk surga, wajah-wajah mereka terang seperti bulan di malam bulan purnama

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu )

Di dalam hadīts Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan masuk surga dari umatku 70.000 atau 700.000 (keraguan dari perawi hadīts), Mereka saling bergandengan tangan di antara mereka sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga, Wajah-wajah mereka seperti cahaya bulan di malam bulan purnama. Ada yang mengatakan merekalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisāb dan tanpa azab.

Dan sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

⇒Sehingga masuklah awal mereka dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya mereka akan masuk ke dalam surga dalam keadaan satu shaf secara serentak, Dan ini menunjukkan sangat besarnya pintu surga.

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya orang-orang faqīr muhajirin akan lebih dahulu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya muhajirin.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

===========================================

HALAQAH – 64 MASUKNYA ORANG-ORANG YANG BERIMAN KE DALAM SURGA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” Masuknya orang-orang Yang Berimān Kedalam Surga Bagian Kedua”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyebutkan di dalam hadīts Abdullah bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim tentang orang yang terakhir masuk surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan paling terakhir masuk ke dalam surga. Seorang laki-laki keluar dari neraka dalam keadaan merayap.

Maka berkata kepadanya:

“Pergilah dan masuklah ke dalam surga”

Diapun mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka dia mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata:

“Wahai Rabb-ku, aku mendapatkan surga sudah penuh”

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah”

Maka sungguh untukmu semisal dengan dunia dan sepuluh kali lipat dari dunia, Atau bagimu sepuluh kali lipat dari dunia.

Maka hamba tersebut berkata,

Apakah Engkau mengejekku? Atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja?

Berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu:

“Sungguh aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.”

Dikatakan bahwa orang ini adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.

⇒Pintu-pintu surga ada delapan

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ

“Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya sebuah pintu yang bernama arrayyan, tidak memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dari Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu )

⇒Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama dari pintu-pintu surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang menginfāqkan dua unta di jalan Allāh , maka akan dipanggil dari Pintu-pintu surga, Wahai ‘Abdullāh ini adalah baik, Maka barang siapa yang termasuk ahli shalāt, dia akan dipanggil dari pintu shalāt. Dan barang siapa yang termasuk ahli jihād , maka akan dipanggil dari pintu jihād. Dan barang siapa yang termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu arrayyan, Dan barang siapa yang termasuk ahli shadaqah, maka akan dipanggil dari pintu shadaqah”

Berkata Abū Bakar Radhiyallāhu ‘anhu:

Tebusanku bapak dan ibuku ya Rasūlullāh, Tidak ada yang rugi dipanggil dari pintu manapun. Apakah ada yang dipanggil dari semua pintu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, Iya….. dan aku berharap engkau termasuk mereka.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Orang yang memperbaiki wudhunya kemudian membaca dua kalimat syahadat, maka akan dibuka untuknya 8 pintu surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya kemudian berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Kecuali akan dibuka untuknya 8 pintu surga, silakan dia memasuki dari mana saja yang ia kehendaki”

(Hadīts Riwayat Musim)

⇒Delapan pintu surga ini dibuka setiap tahun di bulan Ramadhān.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhān, maka akan dibuka Pintu-pintu surga dan akan ditutup pintu-pintu Jahanam dan akan dibelenggu syaithān-syaithān.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepi seperti jarak antara kota Mekkah dan kota Busra atau kota Mekkah dan kota Hajar.

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim )

⇒Hajar adalah kota masyhur di Bahrain.

⇒Busra adalah kota masyhur di Suria.

Apabila diukur maka jarak antara kota Mekkah dengan kedua kota tersebut kurang lebih 1200 km.

Di dalam hadits yang lain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepinya 40 tahun perjalanan.

(Hadīts Riwayat Muslim )

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan jalan kita menuju surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 65 DERAJAT-DERAJAT AL-JANNAH ATAU SURGA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Derajat-derajat Al Jannah atau Surga”

Al-Jannah memiliki derajat yang banyak dan para penduduknya memiliki derajat yang berbeda, sesuai dengan kadar imān dan taqwa mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنً۬ا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَـٰتُ ٱلۡعُلَىٰ

“Dan barang siapa yang datang kepada Allāh dalam keadaan berimān dan telah mengamalkan amal-amal yang shālih, maka merekalah yang akan mendapatkan derajat-derajat yang paling tinggi.”

(QS Thāhā : 75)

Dan yang paling tinggi derajatnya adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila kalian mendengar muādzin, maka katakan seperti yang ia katakan, kemudian bershalawatlah untukku, karena barang siapa bershalawat untukku sekali, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan bershalawat untuknya sepuluh kali.

Kemudian mintalah kepada Allāh untukku Al-wasilah, Karena sesungguhnya Al-wasilah adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak pantas kecuali untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh.

Dan aku berharap akulah hamba tersebut.

Maka barang siapa yang memintakan untukku Al-Wasilah, dia berhak untuk mendapatkan syafa’at.”

(Hadīts riwayat Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan bagaimana ketinggian derajat sebagian orang-orang yang beriman, dibandingkan penduduk surga yang lain.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

▪ Sesungguhnya penduduk surga akan melihat Ahlul Ghurf (penduduk surga yang memiliki kedudukan paling tinggi) yang ada di atas mereka seperti kalian melihat bintang yang masih tersisa di ufuk timur maupun barat.

Yang demikian karena jauhnya perbedaan kedudukan di antara mereka.

Mereka berkata, “Yā Rasūlullāh, bukankah itu adalah kedudukan para Nabi yang tidak dicapai oleh yang lain?”

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Iya….. demi dzat Yang Jiwaku ada di tangan-Nya mereka adalah orang-orang yang berimān dan membenarkan para Rasūl.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di antara orang-orang yang berimān yang akan mendapatkan kedudukan yang paling tinggi adalah Abū Bakar dan ‘Umar Radhiyallāhu ‘anhumā

                Sesungguhnya orang-orang yang memiliki derajat (kedudukan) yang paling tinggi akan dilihat oleh orang-orang yang ada di bawah mereka seperti kalian melihat bintang yang baru terbit di ufuk langit.

                Dan sesungguhnya Abū Bakar dan ‘Umar termasuk mereka, dan mereka berdua akan mendapatkan nikmat.”

(Hadīts riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishāhihkan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh).

Para mujahidin fī sabilillāh, mereka termasuk orang-orang yang akan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam surga.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

▪Sesungguhnya di dalam surga ada seratus derajat yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang berjihād di jalan Allāh, Setiap dua derajat seperti antara langit dan bumi, Maka apabila kalian meminta kepada Allāh mintalah Al-Firdaus. Karena sesungguhnya Al-Firdaus adalah surga yang paling afdhāl dan surga yang paling tinggi.

Di atasnya ada arsyurrahman, Dan dari sanalah terpancar sungai-sungai surga (Hadits riwayat Bukhāri )

                Orang yang memberikan nafkah kepada janda dan orang miskin, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang berjihad di jalan Allāh atau seperti orang yang berpuasa di siang hari dan shalāt di malam hari, Sebagaimana di dalam hadīts yang riwayat Bukhāri dan Muslim.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang memberi nafkah dua orang anak wanita sampai dia bāligh, maka dia akan datang pada hari kiamat, aku dan dia (kemudian) beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggenggam jari-jari beliau”

(Hadīts riwayat Muslim)

Menunjukkan ketinggian derajat orang tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Orang yang menanggung anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia di surga seperti dua jari ini” (Hadīts riwayat Muslim).

Dan ini menunjukkan ketinggian derajat orang tersebut, Karena yang dimaksud dengan dua jari di sini adalah jari telunjuk dan jari tengah.

Dan dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya termasuk orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekatku majelisnya denganku dihari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian”

⇒Orang tua bisa ditinggikan derajatnya di dalam surga karena sebab istighfār anaknya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sungguh seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka dia berkata,

Dari mana ini?

Dikatakan kepadanya,

Ini semua karena istighfār anakmu untukmu”

(Hadīts shahīh riwayat Ibnu Mājah)

Ini adalah dorongan bagi orang tua untuk mendidik anaknya dengan baik.

Dan penghuni surga yang paling rendah derajatnya telah kita sebutkan didalam halaqah sebelumnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

Halaqah – 66 Al-Jannah dan Kenikmatannya Bagian 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Al Jannah dan Kenikmatannya bagian pertama”

◆ Secara bahasa

Al Jannah adalah kebun.

◆ Secara syari’at

Al Jannah adalah negeri di akhirat yang penuh dengan kenikmatan yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Kenikmatan yang tidak pernah terbetik didalam hati manusia, Bagaimanapun besar kenikmatan didunia, maka tidak akan menyamai kenikmatan didalam surga.

Dan bagaimanapun kita berusaha mengkhayal sebuah kenikmatan, maka tidak akan setara dengan kenikmatan didalam surga.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ۬ مَّآ أُخۡفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ۬ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang tersimpan untuknya, berupa kenikmatan yang menyejukkan mata. Sebagai balasan atas apa yang sudah mereka amalkan.”

(QS As-Sajdah : 17)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّه: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيْ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allāh Ta’āla berkata, Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shālih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengabarkan kepada kita sebagian dari kenikmatan surga.

                Nama-nama kenikmatan di dalam surga yang Allāh kabarkan kepada kita sama dengan nama-nama kenikmatan yang ada di dunia.

                Namun memiliki sifat yang berbeda. Rumah di surga lain dengan rumah di dunia, meskipun namanya sama-sama rumah.

Demikian pula buah-buahan di surga jauh lebih nikmat dari pada buah-buahan di dunia, meski sama namanya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ

“Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari surga mereka berkata,

Inilah rezeki yang telah diberikan kepada kami dahulu di dunia.

Mereka diberi buah-buahan yang serupa”.

(QS. Al-Baqarah : 25)

Ada yang mengatakan serupa warna, bentuk dan namanya. Namun berbeda rasa dan kelezatannya.

Orang yang masuk surga dan merasakan sedikit dari kenikmatan surga akan merasa bahwa dia tidak pernah susah di dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Dan akan didatangkan seorang penduduk surga yang paling susah di dunia. Kemudian dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanya, “Wahai anak Adam, pernahkah engkau merasakan kesengsaraan? Apakah pernah engkau tertimpa kesusahan?”

Dia menjawab, “Tidak pernah, demi Allāh Wahai Rabb-ku tidak pernah aku sengsara dan tidak pernah aku melihat kesusahan.”    (Hadīts riwayat Muslim)

Dan di antara kesempurnaan kenikmatan surga, bahwa apa yang kita inginkan akan diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَّهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خَـٰلِدِينَ‌ۚ

“Bagi merekalah apa yang mereka inginkan, di dalam surga mereka kekal di dalamnya.”

(QS Al-Furqan : 16)

Oleh karena itu, di antara nama-nama surga adalah Jannatun Na’im (Jannah yang penuh dengan kenikmatan) ⇒ Lihat Surat Luqmān:8

                Dan di antara nama-nama surga adalah Darussalam (Negeri yang selamat) Maksudnya selamat dari semua kekurangan dan kejelekan (Lihat Surat Al-An’am:127)

                Dan di antara nama surga adalah Maqam Amiin (Tempat tinggal yang aman) Yaitu aman dari segala musibah dan kejelekan (Lihat Surat Ad-Dukhan:51)

Dan di antara nama-nama surga adalah Daarul Muqamah (Negeri yang terus menerus ditempati) (Lihat Surat Faathir :35)

                Demikianlah kesempurnaan kenikmatan di dalam surga, negeri yang penuh dengan kenikmatan, selamat dari semua kekurangan, aman dari segala musibah dan kekal selama-lamanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 67 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-67 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatan nya Bagian Kedua”

Luas surga adalah seluas langit dan bumi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ

“Dan hendaklah kalian berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian. Dan berlomba untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

(QS Āli-‘Imrān : 133)

⇒Para penduduk surga akan mendapatkan rumah-rumah yang mewah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَـٰكِنِ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّہُمۡ لَهُمۡ غُرَفٌ۬ مِّن فَوۡقِهَا غُرَفٌ۬ مَّبۡنِيَّةٌ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡہَـٰرُ‌ۖ

“Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Allāh, bagi mereka kamar-kamar di dalam surga, yang di atasnya ada kamar-kamar yang dibangun”.

(QS Az-Zumar : 20)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan tentang bangunan dan tanah di surga.

Ketika beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh para shahābat tentang bangunan surga, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkata:

“Batu bata dari perak dan batu bata dari emas, lumpurnya berbau wangi kasturi yang sangat harum. Kerikilnya mutiara dan batu mulia. Tanahnya elok seperti warna za’faran”.

(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi)

Di dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan, “bahwasanya orang yang shalāt 12 raka’at setiap hari, maka akan dibangunkan rumah di surga”. (Hadīts Riwayat Muslim)

⇒Maksud dari 12 raka’at adalah shalāt rawatib yang terdiri dari:

√ 4 raka’at sebelum Dhuhur,

√ 2 raka’at setelah Dhuhur,

√ 2 raka’at setelah Maghrib,

√ 2 raka’at setelah Isya’ dan

√ 2 raka’at sebelum Shubuh.

⇒Di dalam surga juga ada kemah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kemah didalam surga terbuat dari mutiara-mutiara yang berongga di dalamnya, tinggi kemah tersebut 30 mil ke atas”

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan dalam Surat Al-Baqarah : 25 dan juga ayat-ayat yang lain bahwasanya surga di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan dalam ayat yang lain bahwa di dalam surga,

√ Ada sungai dari air yang tidak akan payau,

√ Ada sungai-sungai dari susu yang tidak akan berubah rasanya,

√ Ada sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya.

√ Ada sungai-sungai dari madu yang tersaring lagi bersih (Lihat Surat Muhammad:15)

Dan di antara sungai-sungai yang ada adalah Al-Kautsar, sungai yang Allāh berikan untuk Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ

“Sungguh Aku telah memberimu wahai Muhammad, Al-Kautsar”

(QS Al-Kautsar : 1)

⇒Di dalam surga juga ada mata air-mata air yang mengalir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam kebun-kebun dan mata air-mata air yang mengalir.”

(QS Adz-Dzariyat : 15)

⇒Dan di antara nama mata air surga adalah salsabil (Lihat Al-Insan : 18).

⇒Di dalam surga juga ada pohon-pohon.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan di dalam sebuah hadīts:

“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan menuruti bayangannya, yaitu bayangan pohon tersebut, niscaya 100 tahun dia tidak akan selesai”.

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Dan di antara pohon surga adalah Sidratul Muntaha yang Allāh sebutkan dalam Surat An-Najm : 14.

Adapun bau wanginya maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan di dalam sebuah hadits yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ

“Sungguh bau wangi surga tercium dari jarak perjalanan 70 tahun.”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 68 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Ketiga”

Di antara makanan penduduk surga adalah daging burung dan buah-buahan.

Mereka akan meminum arak di dalam surga yang tidak memabukkan dan tidak membuat pening kepala.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَطُوفُ عَلَيۡہِمۡ وِلۡدَٲنٌ۬ مُّخَلَّدُونَ (١٧) بِأَكۡوَابٍ۬ وَأَبَارِيقَ وَكَأۡسٍ۬ مِّن مَّعِينٍ۬ (١٨) لَّا يُصَدَّعُونَ عَنۡہَا وَلَا يُنزِفُونَ (١٩) وَفَـٰكِهَةٍ۬ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ (٢٠) وَلَحۡمِ طَيۡرٍ۬ مِّمَّا يَشۡتَہُونَ (٢١) وَ

“Mereka akan dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan seloki atau piala yang berisi arak yang diambil dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.

(QS Al-Wāqi’ah:17-21)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Di dalam surga ada burung yang lehernya seperti leher unta, Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

Yang memakannya lebih baik dari padanya”

(Hadīts hasan riwayat Tirmidzi)

Makanan pertama penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus (Hadīts riwayat Bukhāri ).

⇒Maksudnya adalah sepotong daging yang menggantung pada hati ikan paus dan dia adalah bagian yang paling lezat dari hati ikan paus.

Di dalam hadīts Tsauban Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh seorang ulamā Yahūdi, Apa yang mereka makan setelah itu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Akan disembelih bagi mereka sapi jantan dari surga yang akan dimakan oleh semua penduduk surga”

Ulamā Yahūdi tersebut berkata,

Apa yang mereka minum setelahnya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Mereka akan minum dari mata air di dalam surga yang dinamakan salsabil”

Para penduduk surga makan bukan karena lapar, dan minum bukan karena haus. Dan mereka tidak mengeluarkan kotoran.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum, dan tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak membuang ingus.

Mereka bertanya, Lalu ke mana makanannya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Menjadi sendawa dan keringat, seperti keringat minyak kasturi”

(Hadīts riwayat Muslim)

⇒Bejana-bejana mereka seperti piring, cangkir, gelas dan teko terbuat dari emas dan perak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Dua surga terbuat dari perak, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya. Dan Dua surga terbuat dari emas, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒Pakaian penduduk surga terbuat dari sutra, memakai perhiasan dari emas, perak dan mutiara.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ۬ وَلُؤۡلُؤً۬ا‌ۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٌ۬

“Mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan perhiasan mutiara, dan pakaian mereka dari sutra”

(QS Al-Hajj : 23)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

عَـٰلِيَہُمۡ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضۡرٌ۬ وَإِسۡتَبۡرَقٌ۬‌ۖ وَحُلُّوٓاْ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ۬ وَسَقَٮٰهُمۡ رَبُّہُمۡ شَرَابً۬ا طَهُورًا

“Mereka akan memakai pakaian dalam dari sutra halus yang berwarna hijau dan memakai pakaian luar dari sutra tebal dan dihiasi dengan gelang dari perak dan Rabb mereka memberi minum kepada mereka dengan air yang sangat bersih.

(QS Al-Insān : 21)

Mereka akan bersandar di atas permadani yang dalamnya terbuat dari sutra tebal

(Lihat Ar-Rahman:54)

Dan akan bersandar di atas sofa yang tersusun (Lihat At-Thur:20)

Para penduduk surga akan saling bertemu dan bertegur sapa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَقۡبَلَ بَعۡضُہُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ يَتَسَآءَلُونَ (٢٥) قَالُوٓاْ إِنَّا ڪُنَّا قَبۡلُ فِىٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ (٢٦) فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَوَقَٮٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ (٢٧) إِنَّا ڪُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُ‌ۖ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ (٢٨)

“Dan mereka akan saling berhadapan dan saling bertanya. Mereka berkata,

Sesungguhnya kita dahulu di dunia sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kita merasa takut dengan adzab. Maka Allāh memberikan karunia kepada kita. Dan memelihara kita dari adzab neraka. Sesungguhnya kita dahulu menyembahnya sejak dahulu dan Dia-lah yang Maha Melimpahkan Kebaikan dan Maha Penyayang.

(QS At-Thur :25-28)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================================

HALAQAH – 69 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 4

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-69 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Keempat”

Para penduduk surga akan masuk ke dalam surga seperti manusia yang berumur 33 tahun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ

“Penduduk surga akan masuk ke dalam surga dalam keadaan kulit tidak berambut, tidak berjenggot, bercelak matanya seperti manusia yang berumur tiga puluh atau tiga puluh tiga tahun”

(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)

⇒Tiga puluh atau tiga puluh tiga adalah keraguan dari rawi.

Dan di dalam hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya:

“Mereka akan masuk surga dalam keadaan kulit berwarna putih, berumur tiga puluh tiga tahun dengan tinggi enam puluh hasta”

⇒Satu hasta adalah dari satu siku ke ujung jari.

Allāh akan menikahkan para laki-laki penduduk surga dengan

bidadari yang sempurna kecantikannya.

Allāh berfirman:

وَزَوَّجۡنَـٰهُم بِحُورٍ عِينٍ۬

“Dan Kami akan menikahkan mereka dengan bidadari-bidadari”

(QS Ath-Thūr : 20)

Dan yang dimaksud dengan Khūr adalah ‘wanita-wanita yang putih matanya sangat putih, Dan bagian hitam matanya sangat hitam’.

Dan ‘Iin adalah ‘wanita-wanita yang lebar matanya’.

Allāh menyebutkan bahwasanya bidadari-bidadari tersebut besar payudaranya dan sebaya umurnya (QS An-Naba’:33)

                Mereka diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla secara langsung dalam keadaan perawan dan penuh rasa cinta kepada suaminya ⇛(QS Al-Waqi’ah:35-37)

                Sangat cantik seperti mutiara yang tersimpan, yang tidak berubah warnanya ⇛(QS Al-Wāqi’ah : 23)

                Dan ada yang seperti batu mulia dan mereka menjaga pandangan mereka hanya untuk suaminya⇛ (QS Ar-Rahman:56-58)

Para bidadari tersebut tidak pernah haid dan mereka bersih dari segala kotoran⇛(QS Al-Baqarah : 25)

                Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasanya seandainya salah seorang bidadari muncul dan melihat ke bumi, niscaya dia akan menyinari apa yang ada di antara surga dan bumi.

Dan niscaya akan memenuhi antara surga dan bumi dengan bau wangi.

Dan sungguh khimar atau kerudung seorang bidadari lebih baik dari pada dunia dan seisinya (Hadīts Riwayat Bukhāri)

                Para bidadari tersebut akan cemburu bila suaminya yang sedang di dunia disakiti oleh istrinya di dunia, sebagaimana tersebut dalam hadīts yang shahīh riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

Lelaki penduduk surga akan diberi kekuatan seratus kali lipat dalam makan, minum, syahwat dan mendatangi istrinya.

(Hadīts Shahīh Riwayat Ath-Thabrani didalam Al-Mu’jamul Kabiir).

Istri di dunia akan menjadi istri di akhirat apabila istri tersebut berimān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

جَنَّـٰتُ عَدۡنٍ۬ يَدۡخُلُونَہَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآٮِٕہِمۡ وَأَزۡوَٲجِهِمۡ وَذُرِّيَّـٰتِہِمۡ‌ۖ

“Surga-surga yang mereka akan masuk ke dalamnya dan juga orang-orang yang shālih dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka”.

(QS Ar-Ra’ad: 23)

Para penduduk surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang Allāh ciptakan di dalam surga, mereka akan sangat indah dipandang dan banyak seperti mutiara-mutiara yang bertebaran ⇛(Lihat QS Al-Wāqi’ah:17 dan QS Al-Insān:19)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 70 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA BAGIAN 5

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-70 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al Jannah Dan Kenikmatannya Bagian Kelima”

Sebagian besar penduduk surga adalah orang-orang lemah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ

“Maka sebagian besar orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama penduduk surga, di antaranya; Abū Bakr, Umar, Utsman, ‘Āli Radhiyallāhu ‘anhum

Sebagaimana di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Kenikmatan paling besar bagi penduduk surga di atas segala kenikmatan surga yang mereka rasakan adalah memandang wajah Allāh yang mulia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila penduduk surga masuk ke dalam surga maka Allāh Tābaraka wa Ta’āla akan berkata:

“Apakah kalian menginginkan aku tambah kenikmatan kepada kalian?”

Mereka berkata:

“Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga? Dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Allāh pun menyingkap hijab, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Rabb mereka ‘Azza wa jalla”

(Hadīts riwayat Muslim)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik adalah surga dan tambahan”

(QS Yūnus : 26)

⇒Tambahan didalam ayat di atas adalah memandang wajah Allāh.

Sebagaimana datang tafsirnya dari para shahābat seperti Abū Bakr, Abū Mūsā Al-Asy’ari dan Hudzaifah Radhiyallāhu ‘anhum.

                Para penduduk surga akan sangat berbahagia dan wajah mereka berseri-seri ketika melihat Allāh ‘Azza wa jalla, Dzat yang selama di dunia mereka imani dan mereka sembah, padahal mereka tidak pernah melihat-Nya.

                Mereka taati perintah-Nya, mereka jauhi larangan-Nya, mereka benarkan kabar-kabar-Nya, bersabar atas ujian-Nya, mereka baca dan dengarkan firman-Nya, mereka ikuti Nabi-Nya, menyeru kepada jalan-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya, Meskipun dengan segala kekurangan yang mereka miliki.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وُجُوهٌ۬ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ نَّاضِرَةٌ (٢٢) إِلَىٰ رَبِّہَا نَاظِرَةٌ۬ (٢٣)

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Rabb mereka”

(QS Al-Qiyāma :22-23)

Saudaraku, jalan ke surga adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Tidak sampai ke sana kecuali orang yang bersabar.

Ada perintah yang harus dikerjakan, ada larangan yang harus dijauhi, dan ada ujian yang harus kita sabar menghadapinya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi perkara-perkara yang dibenci dan neraka dikelilingi perkara-perkara yang menyenangkan”

(Hadīts riwayat Muslim).

Kesenangan dunia adalah kesenangan yang sedikit, Sebentar dan banyak kekurangan.

Sedangkan kesenangan akhirat adalah kesenangan yang sangat banyak, kekal selamanya dan tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (١٦) وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰٓ (١٧)

“Akan tetapi kalian mendahulukan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”

(QS Al-A’lā : 16-17)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

“Ketahuilah, bahwasanya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, saling memperbanyak harta dan juga anak-anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian melihat warnanya menjadi kuning kemudian hancur. Dan di akhirat ada adzab yang keras dan ampunan dari Allāh serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

(QS Al-Hadīd : 20)

Untuk mendapatkan surga bukan berarti seseorang harus meninggalkan seluruh kesenangan dunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan dunia dan kenikmatannya supaya kita manfaatkan dengan baik untuk mencari ridha Allāh dan surga-Nya.

Orang yang tercela adalah orang yang menjadikan kebahagiaan di dunia sebagai tujuan dan melupakan kebahagiaan akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 71 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-71 dari Silsilah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Naar (Neraka) Dan Adzabnya Bagian pertama”

An-Nār secara bahasa adalah api, Secara syariat, An-nār adalah negeri di akhirat yang penuh dengan adzab, yang Allāh sediakan bagi orang-orang kāfir.

Adzab yang sangat pedih dan menghinakan.

Bagaimanapun pedihnya manusia menyiksa manusia yang lain di dunia, maka adzab Allāh di neraka lebih pedih.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَيَوۡمَٮِٕذٍ۬ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ ۥۤ أَحَدٌ۬

“Maka pada hari itu, tidak ada yang mengadzab seperti adzab Allāh”

(QS Al-Fajr : 25)

Orang yang masuk ke dalam neraka akan lupa dengan segala kenikmatan dunia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Akan didatangkan seorang penghuni neraka yang paling banyak mendapat kenikmatan di dunia pada hari kiamat.

Kemudian dicelupkan sekali celupan di dalam neraka, Kemudian ditanya, “Wahai anak Ādam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Apakah engkau pernah mendapatkan kenikmatan?

Dia menjawab, “Tidak demi Allāh wahai Rabb-ku”.”

(Hadīts riwayat Muslim)

Karena sangat pedihnya, mereka akan menebus adzab di neraka dengan orang-orang yang sangat mereka cintai di dunia dan seluruh manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ۚ يَوَدُّ ٱلۡمُجۡرِمُ لَوۡ يَفۡتَدِى مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِٮِٕذِۭ بِبَنِيهِ (١١)وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَأَخِيهِ (١٢) وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـٔۡوِيهِ (١٣) وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّ يُنجِيهِ

“Orang kāfir berangan-angan seandainya bisa menebus adzab saat itu dengan anak-anak laki-lakinya, istrinya dan saudara laki-lakinya dan keluarganya yang menaunginya. Dan semua yang ada di permukaan bumi, kemudian tebusan itu bisa menyelamatkan dia”

(QS Al-Ma’ārij : 11-14)

Di dunia seseorang rela berkorban demi keselamatan orang-orang yang dia cintai.

Namun di neraka justru dia akan mengorbankan orang-orang yang dia cintai demi keselamatan dirinya.

Di antara nama-nama neraka adalah Hāwiyyah yang artinya jurang yang dalam (Al-Qāri’ah : 9)

Di antara namanya adalah Al-Khutamah yang artinya yang menghancurkan apa yang ada di dalamnya (Al-Humazah : 4)

Dan di antara namanya adalah Jahīm yaitu api yang menyala-nyala (Al-Infithār :14)

Dan di antara namanya adalah Saqar yang artinya yang menghanguskan (Al-Mudatsir: 26)

Penjaga neraka adalah 19 malāikat yang keras dan kejam, yang mereka menyiksa sesuai dengan perintah Allāh (At-Tahrim: 6 dan Al-Mudatsir:30).

Penduduk neraka sangat banyak jumlahnya.

Setiap 1000 orang, satu orang akan masuk surga, 999 orang akan masuk kedalam neraka.

Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Imām Al-Bukhāri , Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada Nabi Ādam:

“Keluarkanlah dari setiap seribu, 999 orang”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda di dalam hadīts ini, “Bergembiralah kalian, sesungguhnya dari kalian 1 orang dan dari Ya’juj dan Ma’juj 1000 orang”

Orang-orang kāfir yang jumlahnya sangat banyak tersebut badannya akan dibuat besar.

Satu gigi geraham akan sebesar gunung Uhud. Dan jarak antara dua ujung pundak salah seorang di antara mereka sejauh tiga hari perjalanan bagi pengendara cepat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Antara dua ujung pundak orang kāfir di dalam neraka perjalanan orang yang naik kendaraan dengan cepat selama tiga hari”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim).

Dan (beliau) Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

“Sesungguhnya tebal kulit orang kafir 42 hasta dan satu gigi geraham dia seperti gunung Uhud, Dan sesungguhnya tempat duduk dia di jahannam seperti antara Mekkah dan Madināh”

(Hadīts Shahīh Riwayat Tirmidzi)

⇒Empat puluh dua hasta kurang lebih 19 meter.

⇒Tinggi gunung uhud kurang lebih 128 meter.

⇒Dan jarak Mekkah dan Madināh kurang lebih 450 km.

Jumlah penghuni neraka yang

sangat banyak dengan ukuran tubuh masing-masing yang sangat besar, menunjukkan tentang sangat besarnya neraka.

Meskipun demikian masih ada tempat yang tersisa di dalam neraka.

Dan neraka masih akan terus bertanya,

Apakah masih ada tambahan?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٍ۬

“Pada hari di mana Kami berkata kepada jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dan jahannam berkata, Apakah masih ada tambahan?”

(QS Qāf :30)

Di dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Senantiasa jahannam berkata,

“Apakah masih ada tambahan?”

Sampai Rabbul ‘izzah (Allāh) meletakkan telapak kakinya di neraka, kemudian barulah neraka berkata, “Cukup, cukup, demi keperkasaan-Mu”

Maka neraka-pun saling melipat sebagian ke sebagian yang lain.

(Hadīts riwayat Bukhāri )

Di antara yang menunjukkan besarnya neraka suatu hari para sahabat Radhiyallāhu ‘anhum sedang bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tiba-tiba mereka mendengar suara sesuatu yang jatuh.

Maka Nabi bertanya:

“Tahukah kalian apa ini?”

Mereka menjawab:

“Allāh dan Rasul-Nya lebih tahu.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Ini adalah batu yang telah dilempar ke dalam neraka semenjak 70 tahun yang lalu. Maka dia jatuh melesat ke dalam neraka sehingga sekarang sampai di dasarnya”

(Hadīts riwayat Muslim)

Dan di antara yang menunjukkan besarnya neraka, bahwa 4,9 miliar malāikat akan menyeret neraka jahannam pada hari kiamat, sebagaimana telah berlalu hadītsnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 72 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Nār (Neraka) Dan Adzabnya Bagian kedua”

Neraka akan dinyalakan dihari kiamat dan apabila sudah dinyalakan dia tidak akan padam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ

“Dan apabila neraka dinyalakan”

(QS At-Takwīrr : 12)

Dan Allāh berfirman,

ڪُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَـٰهُمۡ سَعِيرً۬ا

“Setiap kali neraka akan padam, maka Kami akan menambah nyala apinya”.

(QS Al-Isrā’ :97)

⇒Neraka bisa melihat, mendengar dan berbicara.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Akan keluar potongan dari neraka yang berbentuk leher pada hari kiamat, Dia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar dan lisan yang berbicara.

Dia berkata: “Aku diberi tugas untuk mengadzab tiga golongan”

⇒Setiap orang yang sombong dan keras kepala (maksudnya dalam menentang kebenaran)

⇒Orang yang berdo’a kepada selain Allāh bersama Allāh

⇒Dan orang-orang yang menggambar (Yaitu menggambar mahluk hidup yang bernyawa)

(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi).

⇒Pintu-pintu neraka ada tujuh

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٲبٍ۬ لِّكُلِّ بَابٍ۬ مِّنۡہُمۡ جُزۡءٌ۬ مَّقۡسُومٌ

“Neraka memiliki tujuh pintu. Setiap pintu ada bagiannya”

(QS Al-Hijr : 44)

⇒Maksudnya, akan dimasuki penghuni neraka sesuai dengan amalannya.

Pintu-pintu tersebut akan dibuka langsung ketika penduduk neraka sampai di depan pintu neraka tanpa adanya syafa’at (Lihat Az-Zummar : 71).

Di bulan Ramadhān, tujuh pintu ini akan ditutup (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Setelah masuk orang-orang kāfir ke dalam neraka, maka pintu-pintu tersebut tidak akan dibuka untuk mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

عَلَيۡہِمۡ نَارٌ۬ مُّؤۡصَدَةُۢ

“Bagi mereka neraka yang tertutup”.

(QS Al-Balad : 20)

Neraka memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan kedahsyatan adzabnya.

⇒Orang-orang munāfiq berada di tingkat paling bawah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munāfiq berada di tingkat paling bawah dari neraka”

(QS An-Nisā :145)

Dan orang yang paling ringan adzabnya adalah yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan adzabnya adalah orang yang memakai dua sandal dan dua tali sandal dari api, Akan mendidih otaknya oleh sebab keduanya. Seperti mendidihnya periuk, Dia tidak melihat ada orang yang lebih keras adzabnya dari pada dia, Padahal sesungguhnya dialah orang yang paling ringan adzabnya”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Bahan bakar neraka adalah orang-orang kāfir, batu dan segala sesuatu yang disembah selain Allāh dan dia ridhā.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ

“Maka hendaklah kalian takut dengan neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kāfir ”

(QS Al-Baqarah : 24)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّڪُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٲرِدُونَ

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allāh adalah bahan bakar jahannam. Kalian akan memasukinya”

(QS Al-Anbiyā : 98)

⇒Api neraka adalah api yang sangat panas.

Dan telah berlalu bahwasanya api di dunia adalah satu dari tujuh puluh bagian api neraka.

Tidak ada kesejukan sama sekali di dalam neraka. Benda-benda sekitar yang diharapkan memiliki kesejukan, ternyata merupakan adzab tersendiri bagi penghuninya.

Angin yang sangat panas, air yang mendidih dan teduhan atau naungan dari asap yang hitam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَصۡحَـٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلشِّمَالِ (٤١) فِى سَمُومٍ۬ وَحَمِيمٍ۬ (٤٢) وَظِلٍّ۬ مِّن يَحۡمُومٍ۬ (٤٣) لَّا بَارِدٍ۬ وَلَا كَرِيمٍ (٤٤) إِ

“Dan golongan kiri, betapa sengsaranya golongan kiri, Di dalam siksaan angin yang sangat panas, air yang mendidih dan teduhan asap yang hitam, Teduhan yang tidak dingin dan tidak menyenangkan untuk dipandang”

(QS Al-Wāqi’ah :41-44)

Dan Allāh berfirman yang artinya,

“Pergilah kalian kepada teduhan yang memiliki tiga cabang, Yang tidak menaungi dan tidak melindungi dari api neraka, Sungguh neraka akan melemparkan percikan api sebesar istana (Maksudnya tinggi dan besar) Percikan api tersebut seperti unta-unta hitam yang condong ke warna kuning”.

(QS Al-Mursalāt :30-33)

Penghuni neraka adalah orang-orang kafir yang terdiri dari orang-orang musyrik, ahlul kitāb (Yahūdi dan Nashrāni) dan orang-orang munāfiq.

Allāh berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ‌ۚ

“Sesungguhnya orang-orang kāfir dari ahlul kitāb dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka jahannam, kekal di dalamnya”.

(QS Al-Bayyinah : 6)

Dan Allāh berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ وَٱلۡكَـٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Sesungguhnya Allāh akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kāfir di dalam jahannam semuanya”.

(QS An-Nisā :140)

Di antara penghuni neraka adalah Fir’aun yang ada di zaman Nabi Musa (Lihat Surat Hūd : 98)

Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth (At-Tahrim : 10)

Serta Abū Lahab dan istrinya (Lihat Surat Al-Massad :1-5)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 73 AN-NAAR (NERAKA) DAN ADZABNYA BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-73 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang ” An Nār (Neraka) Dan Adzabnya Bagian ketiga”

Di antara makanan penduduk neraka adalah dzarī’.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ۬ (٦) لَّا يُسۡمِنُ وَلَا يُغۡنِى مِن جُوعٍ۬ (٧)

 “Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dzarī’ yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar”.

(QS Al-Ghāsiyah : 6-7)

Ada yang mengatakan dzarī’ adalah nama tumbuhan berduri.

Dan di antara makanan mereka adalah buah dari pohon zaqqūm.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ (٤٣) طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ (٤٤) كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِى فِى ٱلۡبُطُونِ (٤٥) كَغَلۡىِ ٱلۡحَمِيمِ (٤٦)

“Sesungguhnya pohon zaqqūm adalah makanan orang yang sangat berdosa. Dia seperti cairan logam yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas”

(QS Ad-Dukhān : 43-46)

Dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan bahwasanya zaqqūm adalah pohon yang keluar dari dasar neraka.

Mayangnya seperti kepala-kepala syaithān dan para penghuni neraka akan memakannya dan memenuhi perutnya dengan buah tersebut (Lihat As-Sāffāt: 62-66)

                Allāh juga menyebutkan bahwasanya setelah penuh perut mereka dengan buah zaqqūm,

maka mereka akan meminum dari air yang mendidih seperti unta yang sangat kehausan (Lihat Al-Wāqi’ah : 51- 55)

Di dalam surat Al-Kahfi : 29, disebutkan bahwasanya setiap kali mereka meminta air minum, maka mereka akan diberi air minum seperti cairan logam yang mendidih yang akan menghanguskan wajah-wajah mereka, (Maksudnya) ketika air tersebut mendekat ke mulut mereka.

Dan ketika meminumnya, maka air panas tersebut akan memotong-motong usus mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمً۬ا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ

“Dan mereka akan diberi air minum yang sangat panas, maka air panas tersebut akan memotong-motong usus-usus mereka”

(QS Muhammad : 15)

Dan di antara makanan penghuni neraka adalah ghislīn, yaitu nanah penduduk neraka yang sangat busuk baunya dan sangat tidak enak rasanya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَـٰهُنَا حَمِيمٌ۬ (٣٥) وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٍ۬ (٣٦) لَّا يَأۡكُلُهُ ۥۤ إِلَّا ٱلۡخَـٰطِـُٔونَ (٣٧)

“Maka tidak ada baginya pada hari ini teman dekat di sini. Dan tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari ghislin. Tidak memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”

(QS Al-Hāqqah : 35-37)

⇒Pakaian mereka dari api dan tembaga panas.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٌ۬ مِّن نَّارٍ۬

“Maka orang-orang kāfir akan dipotongkan bagi mereka pakaian-pakaian dari api”

(QS Al-Hajj :19)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٍ۬ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ

“Pakaian mereka dari tembaga panas dan api akan menutupi wajah-wajah mereka”

(QS Ibrāhīm: 50)

⇒Kulit penghuni neraka yang begitu tebal akan matang.

Namun setiap matang Allāh akan mengembalikan seperti semula, supaya dia merasakan adzab kembali (Lihat Surat An-Nisā :56)

Isi perut mereka akan meleleh dan kulit mereka akan hancur setelah disiram dengan air panas.

Dan mereka akan dipukul dengan palu-palu dari besi setiap kali mereka berusaha untuk keluar dari siksa (Lihat Surat Al-Hajj :19-22)

Di dalam neraka mereka akan diseret di atas wajah-wajah mereka.

Allāh berfirman,

يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِى ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ

“Pada hari di mana mereka akan diseret di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka”

(QS Al-Qamar :48)

Wajah mereka akan menjadi hitam (Lihat Surat Āli-Imrān : 106)

Leher mereka akan dibelenggu dan kaki mereka akan dirantai kemudian diseret di dalam air yang mendidih dan dibakar dengan api (Lihat Surat Ghāfir : 71-72)

Demikianlah pedihnya adzab bagi penghuni neraka.

Mereka berteriak meminta kepada Allāh supaya dikeluarkan dari neraka dan beramal shalih.

Allāh berfirman:

وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيہَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِى ڪُنَّا نَعۡمَلُۚ

“Dan mereka berteriak dari dalam neraka, Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami maka kami akan beramal shalih, amalan yang lain dari apa yang sudah kami amalkan”

(QS Fāthir : 37)

Namun permintaan mereka tidak berarti. Mereka juga meminta kepada para penjaga neraka supaya mereka berdo’a kepada Allāh agar meringankan adzab bagi mereka, meskipun hanya satu hari, supaya mereka bisa istirahat (Lihat Surat Ghāfir : 49)

                Namun permintaan mereka tidak membawa hasil. Mereka juga berkata kepada malāikat Mālik, malāikat penjaga neraka, supaya Allāh mematikan mereka saja.

Allāh berfirman:

وَنَادَوۡاْ يَـٰمَـٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَ‌ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّـٰكِثُونَ

Dan mereka memanggil, Wahai Mālik hendaklah Rabb-mu mematikan kami. Malik berkata, “Sesungguhnya kalian akan terus tinggal di neraka”

(QS Az-Zukhruf : 77)

Mereka tidak akan keluar dari neraka, tidak akan diringankan adzabnya dan tidak akan dimatikan.

Balasan bagi orang-orang yang kāfir kepada Allāh Rabbul’alāmin.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

HALAQAH – 74 PERCAKAPAN PENGHUNI SURGA DAN PENGHUNI NERAKA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-74 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Percakapan Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka”

Akan terjadi percakapan antara penghuni surga, penghuni neraka dan Ashabul A’rāf, mereka adalah orang-orang yang berada di sebuah tempat yang tinggi antara surga dan neraka.

                Yang Dinamakan dengan Al A’rāf dan mereka adalah orang-orang yang timbangan kebaikan dan kejelekannya sama.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya,

                Dan para penghuni surga memanggil para penghuni neraka dengan mengatakan Sesungguhnya kami telah memperoleh apa yang Rabb kami janjikan kepada kami dengan hak, apakah kalian telah memperoleh apa yang Rabb kalian janjikan kepada kalian dengan hak? “Maka para penghuni neraka menjawab” betul.

Kemudian seorang penyeru, menyeru diantara kedua golongan itu seraya mengatakan laknat Allāh atas orang-orang yang zhalim (orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allāh dan menginginkan agar jalan tersebut menjadi bengkok dan mereka mengingkari kehidupan akhirat)

                Dan diantara keduanya (antara penghuni surga dan penghuni neraka) ada batas dan diatas Al A’rāf, ada orang-orang yang mereka mengenal masing-masing dari dua golongan tersebut dengan tanda-tanda mereka (maksudnya) mengenal penghuni surga dan penghuni neraka dengan tanda -tanda mereka.

                Dan para Ashabul A’rāf menyeru penghuni surga seraya mengatakan salamun ‘alaikum (keselamatan atas kalian) mereka belum memasuki surga sedang mereka ingin segera memasukinya.

Dan apa bila pandangan mereka dipalingkan kearah penghuni neraka mereka berkata, “Yaa Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama-sama dengan orang-orang yang zhalim”.

Kemudian Ashabul A’rāf memanggil beberapa pemuka orang kafir yang mereka kenal dengan tanda-tanda mereka, seraya mengatakan harta yang kalian kumpulkan dan apa yang kalian sombongkan tidaklah bermanfaat bagi kalian.

Apakah mereka ini (para penghuni surga) adalah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwasanya mereka tidak akan mendapat rahmat Allāh? Maka dikatakan kepada ashabul A’rāf masuklah kalian kedalam surga tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih.

                Kemudian penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami air atau makanan yang telah Allāh berikan kepada kalian ” Para penghuni surga menjawab,” Sesungguhnya Allāh telah mengharamkan keduanya atas orang-orang kafir (orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan sebagai senda gurau dan kehidupan dunia telah menipu mereka).

Maka pada hari ini kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu telah melupakan pertemuan mereka dengan hari ini.

Mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.”

(QS Al A’rāf: 44 – 51)

Dan akan didatangkan al maut (kematian).

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Akan didatangkan kematian (al maut) dalam bentuk domba jantan yang amlah (maksudnya) yang berwarna putih dan hitam, dan warna putihnya lebih banyak.

                Maka menyerulah penyeru, “Wahai para penghuni surga, para penghuni surgapun menjulurkan leher-leher mereka dan melihat, kemudian penyeru tersebut berkata, “apakah kalian mengenal ini?” Mereka berkata iyaa, ini adalah kematian dan mereka semua nya sebelumnya sudah pernah melihat kematian.

Kemudian penyeru berkata, ” Wahai penghuni neraka, maka para penghuni neraka menjulurkan leher-leher mereka dan melihat kemudian penyeru berkata, apakah kalian mengenal ini?” Mereka menjawab iyaa , ini adalah kematian dan mereka semua sebelumnya sudah pernah melihat kematian tersebut.

                Maka disembelihlah kematian, berkatalah penyeru tersebut, “Wahai penghuni surga kekekalan dan tidak ada kematian dan wahai penghuni neraka kekekalan dan tidak ada kematian”.

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Para penghuni surga akan bergembira karena merekaakan kekal didalam kenikmatan dan tidak akan meninggal dunia .

                Adapun para penghuni neraka maka mereka akan bersedih karena mereka akan kekal didalam adzab dan tidak akan meninggal dunia.

Ketika penghuni surga telah masuk kedalam surga dan penghuni neraka telah masuk kedalam neraka, maka syaithān yang telah menyesatkan para penghuni neraka akan berlepas diri dari mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman yang artinya:

Dan berkatalah syaithān tatkala perkara telah diselesaikan, sesungguhnya Allāh telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar dan aku telah menjanjikan kepada kalian akan tetapi aku menyalahinya.

Sekali-kali aku tidak memiliki kekuasaan atas kalian,melainkan sekedar aku mengajak kalian lalu kalian mematuhi seruan ku.

Oleh sebab itu, janganlah kalian mencelaku akan tetapi cela lah diri kalian sendiri.

Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku.

Sesungguhnya aku mengingkari perbuatan kalian,ketika sebelumnya kalian mempersekutukan aku dengan Allāh.

Sesungguhnya orang-orang yang zhalim akan mendapatkan siksaan yang pedih.

(QS Ibrāhīm : 22)

Demikianlah akhir yang buruk bagi syaithān dan para pengikut mereka mereka akan kekal didalam neraka selama-lamanya.

Dan demikian lah akhir yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, mereka akan kekal selama-lamanya didalam surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

==========================================

HALAQAH – 75 MANFAAT MEMPELAJARI IMAN KEPADA HARI AKHIR

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-75 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Percakapan Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka” Manfaat Mempelajari Imān Kepada Hari Akhir ”

Berimān kepada hari akhir memiliki manfaat yang banyak dan pengaruh yang baik bagi seorang muslim.

Diantaranya,

⑴ Mengingatkan seorang Muslim bahwa dunia hanyalah sebentar,dan bahwasanya hari kiamat dan hisāb mereka sudah dekat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat bagi manusia hisāb mereka sedang mereka dalam kelalaian berpaling”

(QS Al Anbiyā : 1)

⑵ Mengingatkan seorang muslim supaya tidak tertipu dengan kenikmatan dunia.

Dan kenikmatan yang telah Allāh berikan kepada orang-orang kāfir didunia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu tertipu dengan kegiatan orang-orang kāfir dinegeri-negeri. Kesenangan yang sedikit kemudian tempat kembali mereka adalah jahannam, dan jahannam adalah sejelek-jelek alas”

(QS Āl Imrān:196-197)

⑶ Mengingatkan seorang muslim bahwa kesuksesan yang sebenarnya adalah kesuksesan di akhirat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga maka sungguh dia telah beruntung dan tidaklah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu”

(QS Āl Imrān:185)

⑷ Mengingatkan seorang muslim bahwa kehinaan dan kerugian yang sebenarnya adalah apabila seseorang masuk kedalam neraka.

Allāh berfirman menceritakan ucapan orang-orang yang berimān:

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Wahai Rabb kami Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukan kedalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zhālim”

(QS Āl Imrān:192)

⑸ Menguatkan kesabaran seorang muslim didalam menghadapi musibah-musibah dunia yang menimpanya.

Dia menyadari bahwasanya dirinya dan apa yang dia miliki adalah milik Allāh,dan akan kembali kepada Allāh.

⑹ Berimān kepada hari akhir mendidik seorang muslim supaya senantiasa ikhlās dalam beramal karena dia menyadari bahwasanya amalan yang ikhlās lah yang dapat bermanfaat dihari kiamat.

⑺ Mengingatkan seorang muslim tentang pentingnya bersegera dalam bertaubat dan beristighfār dari dosa.

Karena dosa adalah sebab bencana di akhirat.

⑻ Mengingatkan seorang muslim untuk senantiasa bersabar diatas ketaatan kepada Allāh dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.

Dan semua itu jauh lebih ringan daripada adzab di akhirat.

⑼ Mengingatkan seorang muslim akan besarnya nikmat islām dan imān yang Allāh berikan kepadanya

Karena dengan sebab itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan kebahagiaan kepadanya didunia dan di akhirat.

⑽ Mengingatkan seorang muslim akan bahaya nya kekāfiran, kesyirikan, dan kemunāfiqkan.

Dimana ketiganya adalah penyebab kekekalan didalam neraka

⑾ Mendorong seorang muslim untuk semanggat berdakwah dijalan Allāh, mengajak saudara seislām untuk berpegang teguh dengan agamanya dan mengajak orang kāfir untuk masuk islām, supaya terhindar dari adzab yang kekal.

⑿ Menginggatkan kita tentang pentingnya berdo’a kepada Allāh, meminta kebahagiaan akhirat.

Diantara do’a didalam Al Qurān adalah:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami,berikanlah kepada kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari adzab neraka”

(QS Al Baqarah : 201)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berdo’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَل

“Yā Allāh aku meminta kepadamu surga dan apa mendekatkan kepada surga, baik ucapan ataupun perbuatan,dan aku berlindung kepadamu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepada neraka, baik ucapan ataupun perbuatan”

(Hadīts Shahīh riwayat Ibnu Mājah)

Akhirnya kita berdo’a kepada Allāh, Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menetapkan hati kita diatas agamanya, mengumpulkan kita semua didalam surga dan menjaga kita semua dari api neraka, Āmīn

Dan sampai bertemu kembali pada silsilah yang lain

وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Diterbitkan oleh Engineer Kamir Nawang

Berbagi ilmu tenteng Mesin, cara kerja mesin, dan cara perawatannya. Yuk share, Like dan bagikan ya.. Terimakasih

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai